Aksara Untuk Arsyilla

Aksara Untuk Arsyilla
Cerita Aksara


__ADS_3

Menjelang petang, Aksara dan Arysilla memilih untuk menyantap makan malam mereka terlebih dahulu. Mengisi perutnya yang kosong, sebelum Arysilla benar-benar menagih bahwa dirinya akan meminta Aksara untuk menceritakan masa kecil keduanya. Sekali pun sebenarnya, Arysilla pun tidak yakin akan mengingat semua cerita itu. Hanya saja, dia memang ingin mendengarkan cerita itu langsung dari mulut Aksara sendiri.


Begitu selesai makan dan membersihkan peralatan makan, Arysilla memilih untuk duduk di atas karpet yang berada di depan ruang keluarga. Wanita itu duduk dengan menyelonjorkan kakinya, dan bahunya bersandar di sofa. Posisi enak untuk duduk-duduk, sembari mendengarkan Aksara bercerita.


"Sini, ayo cerita... sebelum malam dan aku akan mengantuk," ucap Arysilla yang seolah ingin Aksara untuk segera bergabung dengannya dan mulai bercerita.


Pria itu mengutas senyumannya, sembari duduk di samping Arysilla. "Kenapa duduk di bawah?" tanyanya.


"Iya, baru pengen duduk di bawah saja. Posisi enak sambil dengerin kamu cerita," jawabnya dengan melemparkan senyumannya kepada Aksara. "So, kapan cerita akan dimulai?" tanya Arysilla sekarang ini.


"Kamu tidak sabar mendengarkan ceritaku?" tanya Aksara kepada wanita yang sudah menanti-nantikan ceritanya itu.


Arysilla pun mengangguk, "Iya," jawabnya singkat.


Lantas Aksara pun tersenyum, pria itu mulai sedikit beringsut memposisikan dirinya dengan senyaman mungkin, dan barulah dia bercerita.


"Aku dulu terpisah dari Ayah dan Bundaku. Hingga membuatku berada di Panti Asuhan Kasih Bunda. Suatu hari ada pasangan muda yang pada saat itu berbagi kasih untuk merayakan syukur atas kelahiran putri mereka, dan pasangan itu adalah ...." cerita Aksara menggantung begitu saja, karena Arysilla yang telah terlebih dahulu menyahutnya.


"Papa Radit dan Mama Khaira," sahutnya dengan cepat.


Aksara kemudian mengangguk, "Ya, benar sekali ... saat itu Papa dan Mama datang dengan membawa berbagai bahan makanan, susu, diapers, pakaian, dan juga buku untuk anak-anak di panti asuhan. Bu Lisa, saat itu yang menjadi pemimpin Panti Asuhan menyambut baik kedatangan Papa dan Mama. Di acara berbagi kasih itu, Mama Khaira membacakan sebuah dongeng favoritku yang berjudul 'Itik Kecil Buruk Rupa', waktu itu aku merasakan diriku seperti Itik kecil yang tidak mempunyai keluarga. Tidak ada yang menerimaku, hingga membuatku berakhir di Panti Asuhan. Akan tetapi, Mama Khaira yang saat itu aku meminta izin untuk memanggil beliau Ibu justru merasa hatinya tergerak, hingga beliau menyekolahkanku. Ibu dan Ayah menganggapku sebagai putranya sendiri. Mulai saat itu, aku merasakan keluarga yang utuh. Sekali pun aku masih tinggal di Panti Asuhan, tetapi Ayah dan Ibu selalu mengunjungiku hampir setiap bulan."


Kali ini, Aksara benar-benar menceritakan semuanya secara gamblang. Berharap benang kusut itu terurai dan Arysilla bisa mendapatkan gambaran tentang kisah hidupnya.

__ADS_1


Sementara Arysilla sendiri mendengarkan cerita dari Aksara itu sebaik mungkin. "Lalu, bagaimana?" respons Arysilla selanjutnya.


"Sejak saat itu, hubunganku dengan keluargamu kian dekat. Hingga tahun-tahun berganti, aku sering bermain bersamamu di Panti Asuhan di awal bulan. Aku seperti seorang anak yang menunggu-nunggu kapan awal bulan itu tiba, karena di hari itulah aku akan bahagia karena ada keluarga yang menengokku. Juga, ada kamu yang bisa aku ajakin bermain dan membaca buku. Bahkan aku memberikan padamu, buku dongeng yang tersimpan di kamarmu itu. Buku dongeng Putri Aurora itu dariku," ucapnya kali ini.


Rasanya Arysilla begitu mengerjap, tidak menyangka dirinya memiliki memori seperti itu. Sayangnya, dirinya memang tidak mengingatnya. Dirinya masih terlalu kecil saat itu. Ingatannya belum setia. Sama seperti sebuah penelitian yang mengungkapkan bahwa daya ingat anak-anak sifatnya parsial (sementara). Dirinya masih berusia 3 tahun waktu itu, sehingga memang tidak mengingat semua peristiwa itu. Pun, penelitian menyampaikan bahwa daya ingat anak mulai setia itu ketika anak-anak mencapai usia 7 tahun.


"O ... jadi, demikian," respons Arysilla.


"Ya, dari situlah semuanya berawal," jawab Aksara.


Setelah itu, Aksara mengambil dompetnya di saku celananya. Mengeluarkan foto yang selama belasan tahun dia simpan dalam dompetnya itu.


"Ini lihatlah ... beliau adalah Ayah Radit, Ibu Khaira, dan bayi ini adalah kamu," ucapnya.


"Iya, itu aku," jawab Aksara.


Rasanya begitu lega saat dirinya bisa membuka cerita lamanya kepada Arysilla sekarang ini. Cerita yang dia simpan sekian lamanya, akhirnya bisa dia ceritanya secara detail kepada Arysilla.


"Jadi, kamu mencintaiku sejak aku kecil?" tanya Arysilla kini.


"Sejak kamu kecil, aku menyayangimu... layaknya sayang Kakak kepada adiknya. Hanya saja setelah Ayah dan Bunda menemukanku, aku keluar dari Panti Asuhan dengan rasa sedih. Satu hal yang paling aku takutkan saat itu adalah aku takut membuatmu menangis. Sebab, aku pergi tanpa berpamitan denganmu," cerita Aksara dengan wajah yang memerah. Pria itu seolah menahan luka karena ketakutannya saat keluar dari Panti Asuhan tanpa berpamitan dengan Arysilla.


"Di hari-hariku yang sulit, aku sering kali meminta kepada Ayah Bisma dan Bunda Naya untuk membawaku ke Panti Asuhan. Bahkan aku sengaja datang di awal bulan dengan harapan aku bisa bertemu denganmu. Nyatanya sia-sia, kita tidak pernah lagi bertemu," kenangnya saat itu.

__ADS_1


"Sampai, aku memiliki keinginan untuk bisa menjadi pria yang berhasil, pria yang bisa melindungimu. Hingga satu hari pun datang, aku menemukanmu. Kamu tahu, betapa gugup sekaligus senangnya aku kali pertama melihatmu. Ya, di pesta malam itu. Ada Ravendra yang menyebut namamu 'Arysilla Kirana Putri Raditya', bagaimana bisa aku melupakan nama itu. Nama yang selalu kuucapkan siang dan malam. Nama yang selalu ingin kucari di mana sosoknya berada, hingga aku bisa bertemu denganmu malam itu," kenang Aksara lagi.


"Tidak kukira kamu mengingat semua itu," ucap Arysilla setelah mendengar semua cerita dari Aksara.


Wanita itu tampak melihat wajah Aksara, rasanya Arysilla yakin bahwa pria itu tengah berkata jujur kali ini. Tidak ada rekayasa. Sayangnya, memang Arysilla tidak mengingatnya.


"Maaf, sayangnya aku justru tidak mengingatnya," ucap Arysilla lagi yang merasa tidak enak dengan Aksara.


Pria itu lantas menggelengkan kepalanya, "Tidak masalah. Bagiku, tidak perlu aku mencoba mengingatku di masa lalu, cukup ingatlah aku di masa kini, hingga masa yang akan datang," sahut Aksara dengan lembut.


"Benarkah tidak masalah?" tanya Arysilla kali ini.


"Ya, tidak masalah. Hanya saja bukalah hatimu, terimalah aku sebagai suamimu seutuhnya dan sepenuhnya. Percayai aku sebagai lelakimu yang akan selalu melindungi dan menghujanimu dengan cinta," ucapnya dengan sungguh-sungguh.


Rasa-rasanya dada Arysilla kembali berdesir mendengar ucapan Aksara. Wanita itu kemudian tersenyum. "Oke, lalu dulu, aku memanggilmu apa?" tanya Arysilla kini.


"Kak Aksara ... itulah caramu memanggilku," balasnya.


Arysilla lantas menggerakkan tangannya, meraih tangan Aksara dan menggenggamnya erat, "Terima kasih untuk ceritanya Kak Aksara," ucap Arysilla kali ini.


Wah, rasanya jantung Aksara berdegup dengan begitu kencangnya saat Arysilla memanggilnya dengan panggilan 'Kak Aksara'. Rasa dalam hatinya benar-benar membuncah, penuh kebahagiaan.


Lantas, Aksara pun tersenyum menatap wajah Arysilla. Pria itu sedikit beringsut dan mendaratkan kecupan sejenak di bibir Arysilla. "I Love U, Syilla ... di masa lalu, masa sekarang, dan masa yang akan datang, aku selalu mencintamu."

__ADS_1


__ADS_2