Aksara Untuk Arsyilla

Aksara Untuk Arsyilla
Istrinya Aksara


__ADS_3

Memilih sejenak meninggalkan Tiara yang tampak tak percaya dengan apa yang dia dengar sekarang ini. Wanita itu mengeluh seakan tiada henti. Bagaimana mungkin kakak kelasnya yang sudah lama dia sukai, nyatanya telah beristri.


Istrinya? 


Enggak salah kan. 


Emang apa bagusnya wanita itu. 


Wajah juga standar, body juga standar. 


Cantikan gue kemana-mana. Bagaimana mungkin, dia bisa menjadi istrinya Kak Aksara. 


Tiara merasa bahwa Arsyilla tidak pantas bersanding dengan Aksara. Itu semua tentu didasari dengan sikap cemburunya. Di mata Tiara sekarang ini, sangat tidak mungkin wanita itu adalah istri Aksara, lagipula jikalau pria itu telah menikah, mengapa tidak pernah terdengar kabar pernikahannya.


Sementara itu, Aksara mengajak Arsyilla room tour ke kelasnya dulu. Kelas XII IPA 2 adalah kelas Aksara dulu.


"Ini kelasku dulu, Syilla," ucap pria itu ketika membawa Arsyilla memasuki ruang kelas itu.


Sudah sekian tahun berlalu, tetapi seolah tidak ada yang berubah. Penataan meja dan kursi siswa, penempatan papan tulis, bahkan meja guru. Seolah semua masih berada pada tempatnya.


"Kamu duduk di mana dulu Kak?" tanya Arsyilla kepada suaminya itu.


Aksara lantas sedikit berjalan, menuju sebuah bangku dan kursi yang berada di dekat jendela. Bangku ketiga dari belakang, ya itu adalah tempat duduk Aksara.


"Di sini," jawabnya.


"Kamu ini, enggak SMA enggak kuliah, sukanya duduk di belakang deh," cibir Arsyilla kepada suaminya itu.


Itu semua karena sejak awal bertemu dengan Aksara dalam kelas dan hingga sekarang suaminya itu selalu duduk di deretan paling belakang. Tidak pernah sekali pun Aksara duduk di deretan tengah atau belakang.


"Kamu mau aku duduk di paling depan?" tanya pria itu.


"Terserah kamu aja kok Kak, penting hasil kuis dan nilai kamu," sahut Arsyilla.


Aksara kemudian tersenyum, "Tempat duduk di SMA dulu itu menentukan prestasi. Dulu yang pinter-pinter biasanya duduk di deretan depan, yang kurang pinter duduk di tengah, yang malas sekolah duduk di paling belakang," ucapnya.

__ADS_1


"Kamu kan pinter, lalu kenapa duduk di belakang?" tanya Arsyilla lagi.


"Aku enggak mau terlihat menonjol aja sih Syilla. Di SMA dan kuliah, aku duduk di belakang. Cuma kalau masalah mendapatkan hatimu, aku jadi orang yang ada di barisan terdepan," sahut Aksara dengan sepenuh hati.


Memang pada kenyataannya begitulah Aksara. Bahkan hanya sekadar melihat sosok Arsyilla di pesta kala itu, seolah Aksara mencari cara untuk bisa memiliki gadis itu. Bahkan dia bisa melakukan prank tergila, pertaruhan yang besar untuk bisa mendapatkan Arsyilla.


"Gombal … yakin kamu akan berada di baris terdepan?" tanya Arsyilla.


"Iya, yakin," sahut Aksara dengan cepat.


Setelahnya Aksara mengajak Arsyilla kembali ke aula. Melihat band yang sudah mulai dimainkan. Beberapa undangan juga sudah mengerumuni aula itu.


"Pegangan tangan aku, Sayang … jangan dilepas, ini ramai sekali," pinta Aksara kepada sang istri.


Arsyilla mengangguk, dia melingkarkan satu tangannya di lengan suaminya. Berjalan sedikit di belakang punggung suaminya itu. Langkah kaki Aksara terhenti, saat mendapati ada beberapa temannya saat SMA dulu yang memanggilnya.


“Hei, Aksa … loe datang juga yah?”


Aksara pun mengangguk, dan menyapa teman-temannya yang juga hadir di reuni malam itu. Ada Anthony, Richard, dan beberapa teman-teman yang lainnya.


Pria itu menyapa teman-temannya dengan salam tos, saling mengepalkan tangan membuat gerakan layaknya meninju untuk menyapa teman-temannya.


“Baik-baik … datang sama siapa nih? Wah, murid penyendiri di kelas sekarang datang sama cewek cantik. Itu gitu couple-an juga,” sahut Anthony yang rupanya mengamati outfit yang Aksara kenakan sore itu.


“Oh iya lupa … kenalin. Dia Arsyilla … istri gue,” ucap Aksara dengan tenang.


Kepada teman-teman SMA-nya, Aksara memperkenalkan Arsyilla sebagai istrinya. Tentu Arsyilla senang karena suaminya mengenalkannya sebagai seorang istri. Perasaan hati sebagai seorang wanita tentu merasa bahwa Aksara mengakui keberadaannya sebagai seorang istri.


Anthony dan beberapa teman yang lain pun tidak percaya, bagaimana mungkin Aksara telah menikah. Padahal di grup Whatsapp SMA saja, Aksara tidak pernah menyampai bahwa dirinya telah menikah.


“Serius? Loe udah nikah?” tanya Anthony lagi.


Dengan yakin Aksara menganggukkan kepalanya, “Iya … dia istri gue,” jawab Aksara yang seakan kembali menegaskan bahwa Arsyilla adalah istrinya.


Arsyilla pun hanya sekadar tersenyum dan dia terus berdiri di samping suaminya. Sebab, tidak ada yang dia kenal di acara kali itu. Sehingga, Arsyilla memilih untuk terus berdiri di samping suaminya.

__ADS_1


“Kenapa enggak undang-undang?” Kali ini giliran Richard yang bertanya kepada Aksara.


“Baru Akad sih, nanti kalau Resepsi, gue bakalan sebar undangan,” jawab Aksara.


“Kerja ya Kak?” tanya Anthony lagi, tetapi kali ini pria itu bertanya kepada Arsyilla.


Arsyilla pun mengangguk, “Iya Kak … kerja,” sahutnya.


“Di mana?” tanya Anthony lagi. “Di Jaya Corps? Sama kayak Aksa?” tambahnya lagi.


“Enggak … aku mengajar, Kak,” sahut Arsyilla.


Merasa bahwa Anthony seakan penasaran dengan Arsyilla, Aksara pun segera menyahut temannya itu.


“Dia bukan dari kalangan bisnis. Istri gue ini Dosen,” jawab Aksara.


“Wah, hebat loe Bro … bisa nikahin Dosen. Bagaimana bisa loe nikah kalau pacaran aja enggak pernah?” tanya Anthony lagi.


Sepengetahuan Anthony, Aksara memang tidak pernah berpacaran. Sehingga saat pria itu datang dan membawa Arsyilla, kemudian mengenalkan wanita itu sebagai istrinya tentu membuat Anthony dan teman-teman yang lain merasa kaget.


“Taaruf yah?” sahut Richard yang bertanya kepada Aksara.


Dengan cepat Aksara menggelengkan kepalanya, “Dia cinta pertama gue saat dulu banget. Ibarat kata dia adalah takdir gue,” sahut Aksara.


Mendengar jawaban Aksara, rasanya hati Arsyilla berdesir. Benarkah bahwa dirinya adalah cinta pertama bagi Aksara? Mungkinkah pria itu bisa merasakan debaran cinta pertama padahal mereka sama sekali tidak pernah bertemu untuk waktu yang sangat lama. Mungkinkah sebatas kenangan di waktu kecil begitu membekas hingga membuat pria itu mengakui dengan begitu yakin bahwa Arsyilla adalah cinta pertamanya?


Setelahnya, Aksara berkumpul dengan teman-temannya itu sembari mendengarkan pertunjukkan band. Semua alumni bisa naik ke panggung dan menyumbangkan lagu, band pengiring akan setia mengiringi bagi para alumnus yang menyumbangkan lagu.


“Loe gak nyanyi Aksa? Dulu waktu SMA pas kelas Meeting loe pernah nyanyi kan?” tanya Anthony.


Pria itu menggelengkan kepalanya perlahan, “Enggak … di sini aja nemenin istri,” sahutnya.


“Bucin loe, gak bakalan hilang juga,” sahut Anthony lagi.


“Biarin, bucin sama istri sendiri kan enggak salah.” Aksara menjawab dan seakan menegaskan bahwa tidak salah jika dirinya bucin dengan istrinya sendiri. Sikap yang lucu, tetapi rasanya semua itu terasa manis bagi Arsyilla.

__ADS_1


__ADS_2