Aksara Untuk Arsyilla

Aksara Untuk Arsyilla
Kabar Baik dari Kampus


__ADS_3

Rupanya surat resign dari Arsyilla benar-benar dipertimbangkan oleh pihak kampus. Tanpa sepengetahuan Arsyilla rupanya ada beberapa mahasiswa yang menyampaikan dan meminta supaya Arsyilla bisa tetap menjabat sebagi Dosen di Fakultas Teknik Arsitektur.


Siang ini, rupanya Pak Sutoyo kembali memanggil Arsyilla untuk menghadap di ruangannya.


“Selamat siang Pak,” sapa Arsyilla begitu memasuki ruangan Pak Sutoyo.


“Iya … silakan masuk dan duduk dulu Bu Arsyilla,” sahut Pak Sutoyo.


Arsyilla pun lantas memilih duduk di sofa dan menunggu apa yang sebenarnya hendak disampaikan oleh Pak Sutoyo kepadanya. Kendati demikian, Arsyilla sudah menyiapkan hatinya. Ya, Arsyilla akan menerima apa pun yang diputuskan oleh pihak fakultas kepadanya.


“Begini Bu Arsyilla … kami sudah menimbang terkait masalah yang menimpa Bu Arsyilla dan juga surat pengunduran diri Bu Arsyilla. Rupanya ada surat kaleng yang datang kepada pihak Komisi Disiplin itu dilatarbelakangi oleh dendam pribadi antara pengirim surat pribadi dengan Bu Arsyilla. Hal ini dipertegas dengan seorang kenalan dan sekaligus mitra kampus ini yang memberikan bukti-bukti valid bahwa Bu Arsyilla memang tidak menyalahgunakan wewenangnya sebagai seorang dosen,” jelas Pak Sutoyo.


Dari sisi ini, Arsyilla merasa lega karena ternyata motif pengirim surat kaleng itu karena dendam pribadi kepadanya. Sejauh ini, pikiran Arsyilla langsung terkoneksi dengan Om Darren. Selain pria itu, siapa lagi yang memiliki dendam dengannya.


Pak Sutoyo tampak menaruh sebuah map berwarna biru dengan logo univeristas itu di atas meja. Kemudian kembali berbicara kepada Arsyilla.


“Jadi, begini Bu Arsyilla … setelah mempertimbangkan semuanya. Kami menolak surat pengunduran diri dari Bu Arsyilla dan Anda bisa terus mengabdi sebagai pengajar di kampus ini.” Pak Sutoyo mengatakannya dengan tenang dan menatap Arsyilla.


Mendengar ucapan Pak Sutoyo, refleks kedua mata Arsyilla terpejam dengan sendirinya. Tidak mengira bahwa surat pengunduran dirinya ditolak. Itu artinya dirinya masih bisa menggenggam mimpinya menjadi seorang dosen bukan?


“Bu Arsyilla akan tetap menjadi dosen di Fakultas Teknik Arsitektur. Mengenai hubungan Bu Arsyilla dengan mahasiswa itu mengingat bahwa dia akan lulus juga, jadi tidak masalah. Ke depannya mohon lapor ke saya atau yang lain jika ada hubungan pribadi dengan mahasiswa supaya tidak menimbulkan masalah yang serupa,” ucap Pak Sutoyo lagi.


“Baik Pak … terima kasih. Maafkan saya juga karena belum melapor perihal pernikahan saya yang sudah terjadi. Maaf,” aku Arsyilla.

__ADS_1


Tidak dipungkiri bahwa Arsyilla pun merasa tidak enak. Akan tetapi, memang dirinya dan keluarga tidak mempublikasikan pernikahannya dengan Aksara yang kala itu memang dilakukan secara mendadak dan tiba-tiba.


“Tidak apa-apa Bu Arsyilla … jadikan ini sebagai pembelajaran. Sebab, sebagai dosen dan berada di lingkungan belajar, ada hukum dan kode etik yang berlaku,” sahut Pak Sutoyo.


Lantaran tengah berbicara dengan Pak Sutoyo, Arsyilla agaknya ingin menyampaikan sekaligus perihal rencananya bersama Aksara. Apalagi keinginan mereka berdua untuk memiliki momongan. Jadi, lebih baik Arsyilla meminta kelonggaran jam mengajar.


“Pak, sebelumnya saya meminta maaf … tetapi, tahun depan apakah bisa jika saya meminta kelonggaran jam mengajar? Misalkan hanya mengajar dua hari saja yang dipadatkan. Selebihnya saya bisa berada di rumah. Sebab, saya dan suami ingin serius melakukan program hamil,” cerita Arsyilla kini.


“Nanti bisa saya sampaikan ke Biro Akademik terkait dengan penjadwalan mata kuliah semester depan. Baiklah Bu Arsyilla … demikian saja, dan kita bisa terus bekerja sama untuk mencerdaskan civitas akademika di kampus ini,” ucap Pak Sutoyo lagi.


Keluar dari ruangan Pak Sutoyo, Arsyilla berjalan kembali menuju ruangan dosen miliknya. Agaknya kali ini, Arsyilla ingin segera bercerita dengan suaminya terkait kabar baik yang baru saja dia terima kali ini. Oleh karena itu, Arsyilla segera menghubungi nomor suaminya melalui handphonenya. Arsyilla harus segera berbagi kabar baik ini dengan suaminya.


“Halo Kak Aksara, baru sibuk tidak?” tanya Arsyilla begitu sambungan telepon itu sudah terhubung.


“Boleh cerita sebentar?” tanya Arsyilla sebelum dia mulai bercerita. Setidaknya dia menunggu apakah waktunya untuk bercerita sekarang ini tepat.


“Tentu boleh dong, Honey. Ada apa?” tanya Aksara.


“Euhm, begini Kak … jadinya, aku tidak jadi resign karena pihak kampus menolak surat pengunduran diriku,” cerita Arsyilla kini.


Rasanya begitu lega saat Arsyilla bisa mengatakan kabar ini kepada suaminya. Sekalipun hanya melalui panggilan seluler, tetapi Arsyilla sudah merasa begitu lega.


“Kabar bagus, Honey. Sebab, aku juga tidak rela jika kamu resign. Hanya saja, kamu memiliki talenta mengajar yang bagus. Aku tidak rela jika kamu melepaskan mimpi dan cita-citamu begitu saja,” balas Aksara kini.

__ADS_1


“Iya Kak … terima kasih, tetapi aku tadi minta ke pihak kampus untuk mengurangi jamku mengajar Kak,” ucap Arsyilla kini sembari mengubah handphonenya yang selalu di telinga kanan dan kini dia ubah di telinga kiri.


“Kenapa Sayang?” tanya Aksara dengan cepat.


“Lah … katanya mau punya baby. Kalau kita sama-sama sibuk, bagaimana Kak? Biar aku yang mengalah kali ini. Asalkan bisa tetap mengajar walaupun sepekan hanya satu atau dua hari saja,” balas Arsyilla.


Ah, barulah Aksara teringat dengan perencanaannya dengan Arsyilla terkait memiliki baby. Di sana Aksara pun tersenyum sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. Tidak mengira bahwa istrinya sudah memikirkan dan merencanakan hingga jauh ke depan. Rupanya istrinya itu memang tipe orang yang merencanakan sejak jauh-jauh hari sebelumnya. Mempersiapkan semuanya secara matang.


“Ah, iya … sorry, aku tidak memikirkan itu,” balas Aksara.


“Kamu kalau kayak gitu tidak terpikirkan, kalau jatah inget terus,” jawab Arsyilla dengan spontans.


Terdengar tawa Aksara melalui sambungan telepon itu. Tidak mengira Arsyilla akan melakukan skakmat kepadanya.


“Enggak gitu juga Sayang … sorry, aku kelupaan. Namun, terima kasih yah … terima kasih karena sudah merencanakan untuk si baby dari jauh-jauh hari. Ya sudah, mau ada yang diceritakan lagi?” tanya Aksara.


Arsyilla menggelengkan kepalanya seolah-olah dengan berbicara dan berhadap-hadapan dengan Aksara kali ini. “Enggak Kak … sudah. Terima kasih sudah mau mendengarkan ceritaku. Lega rasanya … ya sudah, sampai ketemu nanti sore lagi ya Kak. Jangan lupa jemput aku tepat waktu, I Love U,” balas Arsyilla.


Ya, usai bisa menceritakan semuanya Arsyilla merasa lega. Kini ada tempat baginya untuk berbagi dan berkeluh kesah. Sebenarnya bisa saja Arsyilla bercerita menunggu nanti di unit apartemen. Akan tetapi, kabar ini harus segera dia sampaikan kepada suaminya.


“Pasti Honey … nanti aku akan menjemput kamu. I Love U too,” balas Aksara.


Sambungan telepon keduanya pun lantas terputus. Arsyilla bernafas lega. Melepaskan profesi dan cita-citanya sebagai seorang dosen memang tidak mudah. Mengambil keputusan itu saja, rasanya Arsyilla hingga insomnia berhari-hari dan juga sampai sakit. Akan tetapi, Arsyilla tetap tidak keberatan melepas profesinya untuk suaminya. Sebab, Arsyilla tahu bahwa Aksara, suaminya adalah tempatnya berlabuh, tidak ada lagi pria yang bisa mencintainya sebesar itu selain Aksara. Untuk itu, Arsyilla rela melepas profesi dan jabatannya untuk suaminya.

__ADS_1


__ADS_2