
Agaknya Arsyilla masih betah berlama-lama melingkari pinggang suaminya itu. Duduk bersama di headboard, dengan kepala yang bersandar penuh di bahu Aksara, dan tangan yang melingkari pinggang suaminya itu. Beberapa kali Arsyilla terlihat memejamkan matanya dan menikmati waktu berdua dengan suaminya.
“Kamu kenapa? Jangan berpikiran yang aneh-aneh,” pinta Aksara kali ini kepada Arsyilla.
Hal itu dikarenakan Arsyilla yang tengah hamil muda. Sehingga Aksara meminta kepada istrinya itu untuk tidak memikirkan hal yang aneh-aneh. Ibu hamil tidak boleh terlalu banyak pikiran yang mengakibatkan stress.
“Enggak kok … aku cuma berpikir. Aku kangen banget sama kamu,” balas Arsyilla.
Tidak dipungkiri bahwa dua hari di rawat di Rumah Sakit membuat ruang gerak Arsyilla begitu terbatas. Terlebih dengan selang infus di tangannya membuat Arsyilla tak bisa bebas bergerak. Akan tetapi, sekarang … bisa memeluk Aksara dan dekat dengan suaminya itu membuat Arsyilla begitu nyaman dan bahagia tentunya.
Aksara tersenyum dan mengusapi puncak kepala istrinya itu. “Aku juga kangen kamu … banget,” balas Aksara.
“Benarkah?” tanya Arsyilla.
“Iya … aku kangen kamu. Cuma, sebatas ini saja dulu kangennya karena kamu masih sakit,” balas Aksara.
Ada rasa untuk bisa melepaskan kerinduan dengan menyatu sepenuhnya, tetapi semua itu harus ditunda karena kondisi Arsyilla yang masih lemah. Sehingga Aksara cukup dengan memeluk dan menghujani kening istrinya itu dengan kecupan penuh kasih sayang.
Arsyilla lantas tersenyum dan menengadahkan wajahnya guna melihat wajah suaminya itu. “Kamu ini … nakal banget sih,” sahut Arsyilla sembari memukul dada suaminya itu.
“Bukan nakal, Honey … cuma nakal alamiah saja kalau sama kamu,” balasnya.
Lantas Aksara menatap ke wajah Arsyilla, dengan beberapa luka yang terlihat di wajah cantik istrinya itu.
“Aku akan buat perhitungan untuk semua luka yang kamu alami ini. Aku akan menuntut Tiara dan Bagas dengan tuntutan yang memberatkannya,” balas Aksara. “Kenapa mereka berdua bisa bersama-sama Honey?” tanya Aksara yang terlihat sanksi mengapa Tiara bisa bersama dengan Bagas.
“Mereka sepupuan Kak … katanya Bagas sudah lama naksir sama aku, hanya saja aku jual mahal. Aku dituduh kalau aku lebih suka menggoda mahasiswaku sendiri,” balas Arsyilla dengan jujur.
Setelahnya ada helaan nafas yang berat dari bibir Arsyilla. “Bagaimana pun hubungan dosen dan mahasiswanya terlalu berisiko Kak … sekalipun kamu sudah lulus dan menjadi alumnus. Orang tetap akan mengingatku sebagai dosen yang menikahi mahasiswanya,” jelas Arsyilla kali ini kepada Aksara.
“Namun, tidak ada yang salah dalam cinta, Honey … karena aku sudah menyayangimu dan mencintaimu sejak lama,” balas Aksara.
__ADS_1
Pada kenyataannya rasa sayang dan cinta itu sudah dirasakan Aksara sejak lama. Tidak menyangka juga bahwa Aksara akan menyayangi dan mencintai gadis kecil yang menemani hari-harinya di Panti Asuhan dulu. Gadis kecil yang dia anggap sebagai adik kecilnya, yang justru berhasil mencuri hatinya.
“Benar Kak … hanya saja … di kemudian hari anak kita nanti, kuharap tidak akan jatuh cinta kepada guru atau dosennya,” sahut Arsyilla dengan tertawa.
Sama halnya dengan Aksara yang juga tertawa, “Kamu mikirnya terlalu jauh, Honey … bayi kita masih embrio. Tidak perlu memikirkan yang aneh-aneh. Ya sudah, mau tidur sekarang?” tanya Aksara kepada istrinya itu.
“Iya … sekarang saja. Minum obat dulu dong Kak … katanya masih ada obat yang harus kuminum sampai habis. Aku minum obatnya dulu baru tidur,” sahut Arsyilla.
Aksara pun mengurai pelukannya sejenak dan mulai mengambilkan obat yang harus diminum oleh Arsyilla. Tiga buah obat dan segelas air putih, Aksara berikan kepada Arsyilla sekarang ini. Setelahnya, Aksara membantu Arsyilla untuk berbaring, mematikan lampu di kamar itu dan menggantinya dengan lampu tidur, kemudian Aksara menarik selimut untuk menyelimuti Arsyilla.
“Met bobok Honey … aku akan memelukmu sepanjang malam ini,” balas Aksara.
Aksara segera menelisipkan tangannya di bawah kepala Arsyilla, memeluk wanita itu dengan begitu erat. Sungguh, rasanya Aksara ingin selalu dekat bahkan menempel dengan istrinya itu. Ini adalah kejadian kedua yang dialami Arsyilla. Setelah tahun lalu Arsyilla mengalami peristiwa serupa dan Ravendra yang menjadi pelakunya. Sekarang, justru Tiara dan Bagas yang bersekongkol dan mencelakai Arsyilla.
***
Keesokan paginya …
Kali ini Arsyilla membuktikan ucapannya untuk melaporkan Bagas ke bagian kampusnya. Sebab, ada peraturan menteri yang mengatur Pencegahan dan Penanganan Tindakan Kekerasan Seksual di kampus. Dalam hal ini, kekerasan yang dialami Arsyilla memang tidak terjadi di kampus. Akan tetapi, pelakunya adalah pihak dari internalnya kampusnya sendiri yaitu Bagas, salah satu rekan dosen Arsyilla. Untuk itu, Arsyilla akan mengadukan kejadian buruk yang dialaminya ke Satuan Tugas (Satgas) Penanganan dan Pencegahan Tindakan Kekerasan Seksual di kampusnya.
“Selamat siang,” sapa Arsyilla memasuki ruangan Satgas yang khusus memproses laporan tindakan kekerasan dan pelecehan seksual di kampusnya itu.
“Ya, selamat siang Bu Arsyilla. Ada yang bisa kami bantu?” sahut petugas di ruangan itu.
Petugas itu mempersilakan Arsyilla dan Aksara untuk duduk terlebih dahulu, kemudian memberikan waktu untuk alasan kedatangan mereka ke kantor Satgas tersebut.
“Begini Bu … saya ingin melaporkan kejadian buruk dan tidak mengenakan yang baru saja saya alami,” ucap Arsyilla.
Melihat raut wajah Arsyilla dan beberapa bekas luka di wajahnya, agaknya petugas itu bisa mengetahui ke mana arah tujuan pembicaraan Arsyilla pagi itu.
“Silakan Bu Arsyilla,” sahut petugas tersebut.
__ADS_1
“Dua hari lalu saya mendapatkan tindakan tidak menyenangkan mengarah ke pelecehan seksual yang dilakukan oleh Pak Bagas,” cerita Arsyilla pada akhirnya.
Bukan sekadar laporan, tetapi Arsyilla memberikan bukti berupa beberapa foto, dan video yang diambil oleh suaminya itu. Bahkan video dari pihak kepolisian di mana memperlihatkan Bagas yang melucuti pakaiannya dan mengarahkan inti tubuhnya ke Arsyilla. Itu akan menjadi bukti yang valid dan akan mengakhiri karier Bagas di kampus itu.
“Bagaimana bisa Bu Arsyilla?” tanya petugas tersebut.
“Kejadiannya waktu saya berada di salah satu pusat perbelanjaan di Ibukota. Wanita itu adalah sepupu Pak Bagas dan mereka berdua bersekongkol untuk mencelakai saya,” balas Arsyilla.
Sampai pada akhirnya laporan dari Arsyilla sudah diterima oleh pihak Satgas Penanganan dan Pencegahan Tindak Kekerasan Seksual itu. Selain itu, Arsyilla juga akan mengadukan laporan ke Kementrian Pendidikan, supaya memberikan efek jera untuk Bagas.
Usai dari kantor Satgas. Arsyilla sekaligus mengurus izin satu pekan untuk memulihkan dirinya sepenuhnya. Ya, Arsyilla masih membutuhkan waktu untuk pulih. Selain itu, dia harus memenangkan pikirannya sendiri. Tidak dipungkiri mengalami kejadian buruk dan dilecehkan membuat Arsyilla merasa trauma.
Setelah dari kampus, Arsyilla memilih untuk kembali ke unit apartemennya terlebih dahulu.
“Kak, aku kecapekan dan agak pusing. Aku pulang ke unit dulu yah,” pinta Arsyilla kali ini.
“Iya … jangan terlalu kecapekan. Ingat saat ini aku tengah hamil,” ucap Aksara yang mengingatkan kondisi Arsyilla yang tengah berbadan dua.
“Hu-um Kak … makanya aku ingin pulang dulu,” jawab Arsyilla.
“Ya sudah … aku antar balik ke unit yah. Jangan terlalu stress. Ibu hamil tidak boleh stress,” balas Aksara.
Sembari mengemudikan mobilnya, Aksara sesekali menggenggam tangan Arsyilla, mengusapi punggung tangan wanita itu.
“Kamu kapan ingin periksa baby kita ke Dokter?” tanya Aksara kini kepada istrinya.
“Dua hari ya Kak … dua hari lagi kita periksa,” sahut Arsyilla.
“Baiklah … tetapi janji, jangan berpikiran berat dulu. Kamu tidak perlu ke Kantor Polisi. Besok aku sendiri saja yang ke sana,” balas Aksara.
Ya, tuntutan untuk Tiara dan Bagas tetap dilanjutkan. Aksara tidak akan main-main kali ini. Hanya saja Aksara ingin ke kantor polisi sendirian dan memberikan waktu bagi istrinya itu untuk beristirahat dan memulihkan kondisinya.
__ADS_1
Info:
Aturan khusus yang mengatur tindakan kekerasan dan pelecehan seksual yang terjadi di kampus atau pihak internal kampus sepenuhnya di atur dalam Peraturan Mendikbud Ristek Nomor 30 Tahun 2021 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Perguruan Tinggi. Selain itu Satuan Tugas harus menjaga anonimitas korban dan pelaku pelecehan seksual. Selain itu, korban bisa langsung melaporkan secara langsung di situs portal Kemendikbud. Mengalami pelecehan dan tindakan kekerasan segera laporkan yah. Jangan takut dan berani untuk menghadapi.