
Keesokan harinya, di Jaya Corp, Aksara tampak mengerjakan tugasnya sebagai seorang Arsitek sembari memanfaatkan waktu luang untuk mengerjakan Skripsinya. Lagipula, di Jaya Corp, Aksara memiliki ruangan sendiri, jadi di waktu luang di mana pekerjaannya tidak begitu banyak, Aksara memilih mengerjakan Bab 2 Skripsinya.
Untuk lebih memahami apa isi Bab 2, Aksara kemudian mengirimkan pesan kepada istrinya dan meminta penjelasan singkat kepada sang Istri. Agaknya kali ini, Aksara benar-benar akan memanfaatkan posisi istrinya sebagai seorang Dosen.
[To: Honey]
[Honey, ini aku sambil ngerjain Bab 2.]
[Landasan Teori itu diambil dari buku kan?]
Pesan-pesan itu terkirim begitu cepatnya. Aksara hanya ingin memastikan bahwa pemikirannya saat ini benar bahwa landasan teori yang terdapat di Bab 2 adalah diambil dari berbagai sumber pustaka.
Tidak berselang lama, rupanya Arsyilla pun membalas pesan-pesan dari suaminya itu.
[To: A]
[Emangnya enggak kerja Kak?]
[Iya, landasan teori harus dari buku. Kenapa demikian? Karena kita tidak bisa membuat teori sendiri. Teori dibuat oleh para ahli sebelumnya.]
[Semangat Kak!]
Membaca pesan-pesan dari istrinya, agaknya Aksara sudah memiliki gambaran bagaimana dia akan mengerjakan Bab 2. Mulailah pria itu membuat apa saja yang ingin masukkan sebagai landasan teori mengenai Konsep Ekologis dan Arsitektur. Aksara mencoba menyusun berdasar poin-poin yang akan dia jabarkan.
Ternyata memanfaatkan waktu bekerja untuk mengerjakan skripsi, cukup lumayan faktanya sekarang Aksara bisa mengetik beberapa halaman untuk bagian Bab 2. Jika dia bisa memanfaatkan waktu-waktu luang seperti ini sudah pasti skripsinya akan lebih cepat selesai. Hingga saat Aksara fokus dengan skripsinya, rupanya Bunda Kanaya memasuki ruangan putranya itu.
“Kamu baru ngapain Aksara? Serius sekali?” tanya Bunda Kanaya.
__ADS_1
“Bunda, ini Aksara sambil mengerjakan skripsi,” balasnya.
Aksara lantas beralih dari Macbook yang sedari tadi dia gunakan untuk mengerjakan skripsi, sekarang beralih untuk memperhatikan Bundanya terlebih dulu.
“Ada apa Bunda?” tanya Bunda Kanaya.
“Tidak, Bunda jalan ke tempat kamu saja. Sama ada projek pembangunan sebuah hotel di Nusa Dua, Bali. Bunda dengar ada teman kamu yang merekomendasikan supaya kamu yang akan menggambar desain untuk hotel tersebut. Namanya Tiara. Benar dia teman kamu?” tanya Bunda Kanaya.
Perlahan Aksara pun menganggukkan kepalanya, “Iya, dia adik kelas Aksara dulu di SMA,” balasnya.
“Jadi, gimana … kamu mau menerima projek ini?” tanya Bunda Kanaya.
Aksara pun tampak menimbang-nimbang karena sekarang ada sebuah projek besar menyangkut masa depannya yang harus segera dia selesaikan. Lagipula, hidup memang selalu tentang pilihan. Aksara harus memprioritaskan salah satunya bukan?
“Bagaimana jika diarsiteki orang lain dulu Bunda? Maaf, tetapi Aksara sedang fokus untuk mengerjakan skripsi,” balas Aksara.
“Jadi, kamu tidak mau terlibat dalam projek ini?” tanya Bunda Kanaya lagi.
“Iya Bunda, Aksara ingin segera lulus dan wisuda. Banyak janji yang harus Aksara penuhi untuk Arsyilla. Dia ingin Aksara segera lulus, jadi boleh tidak Aksara tidak terlibat dalam projek kali ini dulu?” tanya Aksara kepada Bundanya.
Bagaimana pun juga Aksara juga sering kali mempertimbangkan berbagai pekerjaan di Jaya Corp dengan Bundanya. Dengan demikian, Bundanya bisa memahami apa yang tengah diprioritaskan olehnya sekarang ini.
Mendengar jawaban putranya, Bunda Kanaya justru tertawa. Tidak mengira bahwa putranya itu justru lebih memprioritaskan untuk memenuhi janjinya kepada Arsyilla. Tentu Bunda Kanaya teringat pada suaminya saat masih muda dulu. Ayah Bisma juga orang yang begitu sibuk, tetapi Ayah Bisma selalu berusaha memprioritaskan istri dan keluarganya. Terlebih usai kehilangan Aksara, Ayah Bisma kian berusaha untuk memenuhi janjinya kepada keluarganya.
“Tidak apa-apa, Aksara … emang apa saja janji kamu kepada istrimu itu?” tanya Bunda Kanaya.
“Aksara ingin segera lulus dan melangsungkan resepsi pernikahan kami. Setelahnya Aksara ingin memiliki buah hati bersama Syilla. Usia Aksara akan semakin bertambah Bunda, tidak mungkin Aksara akan terus-menerus menunda. Aksara ingin menimang buah hati dan buah cinta Aksara bersama dengan Syilla,” jawab Aksara dengan yakin.
__ADS_1
“Kamu ini bisa saja … salah sendiri, dulu kamu Kuliah Kedokteran keluar, pindah ke Arsitektur malahan hiatus. Sekarang dikejar-kejar kan karena belum lulus,” ucap Bunda Kanaya.
Aksara pun kemudian menganggukkan kepalanya, “Iya Bunda … tetapi mengulur waktu jika akhirnya bertemu dengan Syilla, sungguh Aksara tidak pernah menyesalinya,” balas pria itu dengan yakin.
Bunda Kanaya pun tertawa hingga menggelengkan kepalanya, “Kamu bisa saja … ya sudah, jadi projek ini biar diarsiteki oleh staf yang lain yah? Kamu fokus dulu skripsinya. Manfaatkan waktu yang tersisa. Ya sudah, Bunda kembali dulu yah,” pamit Bunda Kanaya.
Setelah Bunda Kanaya keluar dari ruangannya, Aksara lantas mulai kembali mengerjakan skripsinya. Setidaknya Aksara harus fokus biar bisa cepat lulus. Aksara lantas mengecek terlebih dahulu handphonenya dan melihat obrolan di grup chat Mahasiswa angkatannya. Rupanya ada banyak mahasiswa juga yang masih harus merevisi Bab 1 nya. Akan tetapi, banyak juga mahasiswa yang lanjut untuk bisa mengerjakan Bab 2. Aksara men-scroll obrolan tersebut, hingga menemukan sebuah chat yang berisi mereka yang dibimbing oleh Arsyilla benar-benar enak dan terbantu. Sebab, Arsyilla membimbing dengan bagus dan tidak killer seperti dosen pada umumnya. Tidak menyangka, Aksara pun tersenyum. Arsyilla tampaknya dosen yang cukup diidolakan oleh mahasiswa teknik arsitektur.
Puas melihat grup chat satu angkatan, Aksara lantas kembali bekerja dan menunggu waktu untuk menjemput istrinya nanti sore. Jam pun berganti jam, hingga akhirnya tiba waktunya untuk pulang dari kantor dan menjemput sang istri tercinta.
Dengan mengendarai mobil miliknya, Aksara pun menuju ke universitas tempatnya belajar itu. Tentu tujuannya sekarang adalah untuk menjemput sang Istri tercinta yang mengajar di sana. Hanya membutuhkan waktu kurang lebih 20 menit, Aksara sudah memarkirkan mobilnya di parkiran Fakultas Teknik. Wanita yang dia jemput, rupanya sudah keluar dari gedung fakultas dan berjalan ke arah mobilnya.
Dengan cepat Arsyilla sedikit berlari dan memasuki mobil milik suaminya itu.
“Kakak,” sapanya begitu memasuki mobil Aksara.
“Kamu ngapain kok tergesa-gesa banget sih?” tanya Aksara.
“Takut ketahuan Kak, tadi beberapa teman dosen nanyain calonku itu yang mana. Aduh, mati kutu aku,” balas Arsyilla.
Lantas Aksara pun tertawa mendengar jawaban istrinya itu, “Kenapa mati kutu, nanti kan ya mereka bakalan tahu,” ucap Aksara.
“Iya, cuma jangan sekarang ketahuannya. Minimal kamu selesai skripsi dulu. Jadi ke rumah Mama?” tanya Arsyilla.
“Jadi dong … biar aku bisa cepet-cepet selesaikan Bab 2. Biar bisa lanjut ke Bab 3,” balas Aksara dengan semangat.
“Ya sudah yuk … aku seneng banget kalau kamu semangat kayak gini,” balas Arsyilla.
__ADS_1
Hingga akhirnya, Aksara pun melajukan mobilnya menuju kediaman mertuanya. Kali ini dia datang untuk meminjam buku-buku kuliah Arsyilla yang tentu akan dia gunakan untuk mengerjakan Bab 2 skripsi. Harus lebih bersemangat, karena Aksara ingin mewujudkan setiap harapannya bersama sang Istri di masa depan.