
Akhir pekan ini menjadi hari yang menyenangkan bagi Aksara dan Arsyilla. Sebab, di akhir pekan ini seluruh keluarganya baik dari keluarga Mama Khaira dan Bunda Kanaya semua berkumpul menjadi satu di kediaman Aksara. Turut serta Arshaka, Rangga, dan juga Thania. Sehingga rumah itu terasa semarak dengan kehadiran seluruh anggota keluarganya.
“Sini Baby Ara biar ikut Eyang,” ucap Mama Khaira yang ingin menggendong si kecil Ara.
Arsyilla pun menyerahkan si Baby ke dalam gendongan Mamanya itu. “Ikut Eyang ya Ara … Mama mau bikinkan minum dulu,” ucapnya.
Merasa ada Mama Khaira yang menggendong Ara, maka Arsyilla pun membuatkan minuman untuk anggota keluarga. Tidak membutuhkan waktu lama, Arsyilla keluar dengan membawa nampan yang berisi aneka minuman. Ada minuman hangat, ada juga minuman dingin, tidak lupa ada susu hangat dengan rasa vanilla untuk Thania.
“Silakan diminum,” ucap Arsyilla yang mempersilakan keluarganya untuk minum.
“Tidak usah repot-repot, Syilla … nanti kami bikin minuman sendiri tidak apa-apa kok,” sahut Bunda Kanaya.
Akan tetapi, Arsyilla tersenyum dan menggelengkan kepalanya, “Sekadar membuat minuman tidak repot kok Bunda … makasih banyak ya Bunda malahan dibawain lauk segini banyak,” ucap Khaira yang menerima aneka lauk dan sayuran dari Bundanya itu.
“Sama-sama … itu Bunda masakkan sayur daun katuk buat kamu, biar ASI-nya lancar,” balas Bunda Kanaya sembari menunjuk sebuah kotak sayur berwarna hijau.
“Wah, makasih banyak Bunda … Ara nanti dapat ASI yang penuh nutrisi,” balasnya.
Daun katuk sendiri memang mengandung steroid dan polifenol yang dapat meningkatkan kadar prolaktin atau hormon pelancar ASI. Itulah sebabnya, para Ibu yang usai melahirkan didorong untuk mengonsumsi Daun Katuk supaya produksi ASI kian meningkat. Bunda Kanaya pun memasakkan sayur daun katuk khusus untuk Arsyilla supaya produksi ASI menantunya itu lancar dan bisa memberikan ASI untuk Ara secara cukup.
Di lain tempat, ada Aksara yang duduk-duduk bersama Rangga di serambi rumah. Kali ini rupanya ada yang dibicarakan oleh keduanya.
“Masih lihat sepakbola Mas?” tanya Rangga kepada Kakaknya itu.
“Masih, Liga Inggris saja,” balas Aksara.
“Main Fantasy Premier League enggak Mas? Joint yuk ke ligaku,” ajaknya kali ini kepada Kakaknya itu.
“Boleh, minta kodenya,” balas Aksara.
__ADS_1
Rangga pun menganggukka kepalanya, “Aku kirim ke WA ya Mas … nanti bisa langsung di klik saja dan dimasukkan kodenya,” balas Rangga.
“Oke … cuma sekarang Liga Inggris gila-gilaan sih. Akhir musim nanti paling Manchester City juaranya, dia lebih stabil,” balas Aksara.
“Kalau Chelsea baru bapuk tuh, Mas,” sahut Rangga. “Shot on targetnya mentah terus,” lanjut Rangga.
Aksara pun tertawa mendengar komentar dari adiknya itu. Seakan mereka kembali ke masa di mana dulu saat mereka sering membicarakan Liga Inggris bersama. Mengomentari pertandingan, melihat highlights, dan juga melihat pertandingan langsung di rumah saat akhir pekan tiba. Seolah ada rasa ingin kembali di mana hubungan keduanya belum sama-sama renggang.
“Sekarang praktik di mana?” tanya Aksara.
“Di Rumah Sakit tempat Ayah bekerja, Mas … masih koas. Aku rencana mau ambil Spesialis Anak, cuma nanti aja. Memberi waktu dekat sama Thania dulu,” balasnya.
Airlangga rupanya bekerja sebagai Koas di Rumah Sakit tempat Ayah Bisma juga praktik. Sebenarnya Rangga ingin mengambil Spesialis Anak, tetapi jika melanjutkan untuk studi Spesialis kurang lebih 3 tahun, yang dikhawatirkan justru hubungannya dan Thania akan terus-menerus memburuk.
“Menurut gimana Mas?” tanya Rangga kali ini kepada Kakaknya.
“Spesialis yang program intensif apa tidak ada? Di Jakarta saja, tidak harus ke luar negeri. Thania butuh juga sosok Papanya,” sahut Aksara.
Kali ini Aksara mengatakan bahwa Thania juga membutuhkan sosok Papanya. Seorang Papa yang ada untuknya, menggenggam tangannya di saat dia berjalan, menunjukkan dunia kepadanya. Walau Thania tak bisa menyampaikannya, tetapi Thania yakin bahwa Thania membutuhkan Ayahnya.
“Benar Mas … nanti aku pikir-pikir lagi. Makasih banyak buat sarannya ya Mas,” balas Rangga.
Kemudian ada Ayah Bisma dan Papa Radit, serta Arshaka yang pada akhirnya turut bergabung dengan Rangga dan Aksara di serambi rumah itu.
“Teduh ya di sini,” ucap Ayah Bisma.
“Iya Ayah … sengaja Aksara tanamin pohon-pohon biar agak adem. Kalau siang gini biar enggak terlalu panas,” jawabnya.
“Kalian ngobrol apa seru banget?” tanya Papa Radit kemudian.
__ADS_1
“Ini Pa, bahas sepakbola sama Rangga,” jawab Aksara.
“Aku juga suka sepakbola loh, Mas … yuk, kapan-kapan main futsal, Mas,” ajak Arshaka kali ini kepada Kakak Iparnya itu.
Aksara hanya diam dan perlahan menggelengkan kepalanya, “Stop main futsal, enggak boleh sama Nyonya,” jawabnya.
Tentu saja para pria yang ada di situ tertawa mendengar jawaban dari Aksara itu. Tidak mengira bahwa Aksara akan menyebut Arsyilla sebagai Nyonya.
“Main sesekali kan gak apa-apa, Mas,” sahut Arshaka yang seakan ingin bermain futsal dengan Kakak Iparnya.
“Dulu Papa sama Mama kalau malam minggu nonton sepakbola bersama. Bahkan pernah sekali waktu kami bertemu di tempat nobar (nonton bareng),” kenang Papa Radit.
“Serius Pa?” tanya Aksara.
“Iya … Papa dan Mama itu sama-sama United Army. Bahkan dulu, kami bertemu kembali di Old Trafford Stadium, waktu Mama kamu kuliah di University of Manchester,” jawab Papa Radit.
Ayah Bisma turut mendengarkan cerita besannya itu. Tidak mengira bahwa besannya itu bisa menyaksikan pertandingan secara langsung di kandang klub berjuluk Setan Merah dari Manchester itu.
“Apa sekarang masih suka sepakbola, Pak Radit?” tanya Ayah Bisma.
“Masih, kadang di akhir pekan kami nonton bareng di rumah. Dulu ada Syilla yang menemani nonton, kemudian sekarang terkadang Shaka yang menemani nonton,” balas Papa Radit.
“Mas Shaka enggak ngedate yah? Belum punya pacar?” tanya Rangga secara to the point.
Arshaka hanya tertawa, dan menggelengkan kepalanya, “Belum … belum kepikiran ke sana,” balasnya.
“Mulai dipikirkan Shaka, nabung dulu dari sekarang,” sahut Aksara dengan tiba-tiba.
“Itu kan Mas Aksa aja, dari SMA udah nabung buat nikahin Mbak Arsyilla. Waktu itu ketemu aja belum, tapi udah percaya diri banget mau nikahin Mbak Arsyilla,” celetuk Rangga dengan tiba-tiba.
__ADS_1
Sontak saja seluruh keluarga tertawa mendengar pengakuan mengejutkan dari Rangga itu. Aksara turut tertawa, dan menganggukkan kepalanya secara samar. Ya, dari dulu bahkan Aksara sudah menabung dengan harapan untuk menikahi Arsyilla. Bersyukur dengan persiapan finansial yang matang, Aksara bisa mewujudkan setiap impiannya bersama Arsyilla.