Aksara Untuk Arsyilla

Aksara Untuk Arsyilla
Satu Kamar


__ADS_3

Rupanya Aksara tidak segan-segan untuk mengubah kamarnya, sore ini usai menjemput Arsyilla di kampus, pria itu berniat untuk mengajak Arsyilla ke salah satu homeware, tentunya untuk membelikan sprei dan bed cover untuk istrinya itu. Demi bisa satu kamar dengan Arsyilla, apa pun akan dilakukan oleh Aksara.


“Kita mampir ke Homeware dulu ya?” ajak Aksara kali ini.


“Mau beli apa?” tanya Arsyilla.


Aksara lantas tersenyum, “Keliatannya tadi pagi ada yang request buat mengganti sprei dan selimut di kamarku deh,” ucapnya dengan mengangkat naik satu alisnya.


Melihat Aksara, Arsyilla justru tertawa, “Kamu semangat 45 banget sih, Kak,” ucapnya. Rupanya kali ini, Arsyilla masih memanggil pria itu sebagai Kakak. Rasanya menyenangkan juga, lagipula memang Aksara secara usia lebih tua darinya.


“Iya, Syilla Sayang … buatmu aku akan selalu semangat 45,” gurau Aksara kali itu.


Di dalam satu mobil itu, keduanya tertawa hingga terbahak bersama. Tidak menyangka, mengingat dua bulan yang lalu di mana rasanya ada tembok es tebal yang memisahkan keduanya. Perlahan, es itu telah mencair. Kini, seolah terlihat bahwa Arsyilla dan Aksara saling nyaman dan menikmati kebersamaan mereka.


Hingga tidak membutuhkan waktu lama, Aksara telah memarkirkan mobilnya di salah satu mall yang ada di Ibukota dan tujuan mereka adalah ke Homeware yang berada di dalam mall tersebut. Sebelum turun dari mobil, Arsyilla memilih mengenakan masker terlebih dahulu.


“Kenapa kamu pakai masker?” tanya Aksara dengan heran.


“Cuma berjaga-jaga kalau sampai ketemu mahasiswa atau rekan dosen lainnya. Kalau pakai masker kan tidak keliatan wajahku,” ucapnya.


Aksara lantas menggelengkan kepalanya, “Ya ampun, segitunya yah? Padahal sudah di luar kampus juga.”


“Iya, soalnya kan aku jalan sama mahasiswaku ini. Jadi ya main aman saja,” jawab Arsyilla.


Pria itu akhirnya hanya mengangguk dan langsung menggandeng tangan Arsyilla. Menggenggamnya dengan erat, dan menyesuaikan langkah kakinya dengan langkah kaki Arsyilla. Keduanya berjalan menelusuri mall itu dan langsung menuju ke salah satu Homeware. Terlihat bagaimana Arsyilla tertarik melihat berbagai sprei dengan motif bunga-bunga di sana.


“Kamu suka warna apa, Kak?” tanyanya kali ini.


“Biru,” sahut Aksara dengan cepat.


Kemudian, Arsyilla tampak mengambil sebuah sprei berwarna biru laut yang bersih dengan gambar bunga-bunga di sana. “Menurutmu ini bagus enggak Kak?” tanyanya.


“Ya, menurutku sih bagus. Cowok kan tidak bisa milih-milih yang kayak ginian, Sayang … tahunya ya tempat tidur bersih dan rapi aja,” ucapnya.


Arsyilla lantas mengernyitkan keningnya, “Kan setidaknya matching enggak dengan kamarnya kamu, catnya, desainnya,” jawab Arsyilla.


Aksara lantas tertawa, “Kamu kan bicara sama tukang gambar yang bisanya menggambar saja, Sayang … kalau bagian dekorasi kan ada desain interior nanti,” jawabnya dengan tertawa.

__ADS_1


“Aku suka yang biru ini, tetapi pengen yang pink itu juga,” ucap Arsyilla sembari menunjuk sebuah sprei dan bedcover yang berwarna pink pastel yang lembut.


“Beli dua saja Sayang,” ucap Aksara.


“Boleh beli dua?” tanyanya sembari menatap Aksara.


Pria itu kemudian mengangguk, “Kamu mau sepuluh juga aku beliin,” ucap Aksara dengan enteng.


Arsyilla lantas menggelengkan kepalanya, “Kebanyakan dong kalau beli sepuluh. Emang gaji Arsitek banyak yah? Kalau banyak apa aku ganti profesi saja menjadi Arsitek ya?” sahut Arsyilla dengan tertawa.


“Ya enggak banyak, standar aja gajinya. Akan tetapi, kalau buat kamu semuanya aku beliin deh,” jawab Aksara lagi.


“Enggak, beli dua saja cukup. Yuk, aku mau lihat-lihat yang lainnya mumpung baru di Homeware,” ajak Arsyilla kini.


“Sini, biar aku yang bawakan, kamu mau lihat apa lagi?” tanya Aksara kini.


Arsyilla kemudian melihat ke beberapa mug dan peralatan memasak, “Lucu-lucu banget sih,” ucapnya sembari memegang mug yang terlihat couple.


Aksara lantas mendekati Arsyilla, “Kamu mau? Beli saja, couple sama aku,” jawabnya.


“Kamu enggak ingin jalan-jalan sekalian mumpung di Mall? Kan, biasanya cewek-cewek suka tuh jalan-jalan ke Mall,” ucap Aksara.


“Enggak, aku ke Mall cuma beli yang dibutuhkan saja sih, sehabis itu langsung pulang. Aku dulu lebih suka di rumah, memasak gitu sama Mama, atau kalau malam minggu lihat Liga Inggris sama Mama dan Papa, sementara Shaka kan di Singapura, jadi aku banyak menghabiskan waktu sama Mama dan Papa di rumah,” cerita Arsyilla kini.


“O … kirain kamu mau sekalian shopping, aku temenin,” sahut Aksara.


“Langsung pulang saja ya Kak, capek aku,” keluhnya kali ini.


Kemudian Aksara membawa belanjaan mereka ke kasir dan membayarnya. Saat Arsyilla mengeluarkan kartu debit yang diberikan Aksara untuk membayar semua itu, nyatanya Aksara justru sudah mengeluarkan kartunya terlebih dahulu dan membayar semuanya.


“Sudah, tidak ingin beli yang lainnya?” tanya Aksara lagi.


Arsyilla pun menggelengkan kepalanya, “Enggak, itu dulu saja. Nanti uangnya mug aku ganti yah,” ucap Arsyilla yang merasa tidak enak.


“Enggak usah, kayak sama siapa saja. Suami sama istri tidak boleh hitung-hitungan,” jawabnya.


Arsyilla lantas menghela nafasnya, “Rasanya aneh, kayak dibayarin gitu sama mahasiswanya,” gerutunya kali ini lirih.

__ADS_1


“Kan aku bilang, aku ini pria dewasa yang sudah bekerja. So, ya biar aku yang membayarnya. Kamu tenang aja. Mahasiswanya saja malahan seneng kok belanjain dosennya,” sahutnya dengan berbisik lirih.


***


Sesampainya di rumah, rupanya setelah makan malam, Aksara bersemangat untuk mengganti sprei dan bed cover di kamarnya. Tentu pria itu hanya memiliki satu tujuan, yaitu supaya mereka tidak perlu pisah kamar lagi. Setidaknya tidur bersama dulu, sedangkan untuk barang-barang Arsyilla bisa mereka pindahkan waktu weekend nanti.


Arsyilla hanya tertawa-tawa saja melihat Aksara yang mengganti sprei lamanya dengan yang baru, tetapi Arsyilla tetap membantu suaminya itu untuk mengganti sprei.


“Cuma demi kamu loh, aku rela tidur beralaskan motif floral kayak gini,” ucap Aksara sembari mengangkat sisi bednya.


“Kan enggak diganti enggak apa-apa, toh di sini juga ada dua kamar kan, jadi ya bisa pisah kamar,” sahutnya dengan tertawa.


Aksara lantas mendesah pelan, “Ah, lama-lama aku frustasi, punya Istri tetapi tidur sendiri. Suami kesepian aku ini,” keluhnya saat ini.


Nyatanya ucapan Aksara justru membuat Arsyilla tertawa, bagaimana bisa pria itu mengaku dirinya sebagai suami kesepian. Ya, sekali pun kasihan, rasanya tetap saja lucu. Hingga Arsyilla pun mengangkat satu bantal dan memukulkannya kepada Aksara.


Buuukkk ….


Bantal itu mengenai dadanya.


“Kamu mukul aku?” tanya Aksara.


Arsyilla justru tertawa, “Iya, kalau bicara itu yah … bikin ketawa. Kak Aksara sang suami kesepian,” guraunya kali ini.


Merasa Arsyilla sedang ingin bermain-main dengannya, Aksara lantas mengejar Arsyilla ingin menggelitik wanita itu yang sudah berani-beraninya menimpuknya dengan bantal.


“Hei, sini Syilla … jangan lari. Awas ya nanti kalau ketangkep,” teriaknya sembari mengejar Arsyilla.


Alhasil pasangan suami istri tampak berlari-lari mengitari tempat tidur itu, tetapi lantaran kelelahan, Aksara pun bisa menangkap Arsyilla. Jari telunjuknya siap menggelitik pinggang Arsyilla.


“Kak, Kak … jangan dong. Aku nangis nih,” ucap Arsyilla yang sudah tampak berkaca-kaca.


“Siapa yang mulai duluan?” tanya Aksara kini.


“Ya, aku yang mulai. Maaf deh, jangan gelitikin, geli tahu,” ucap Arsyilla yang masih berusaha menghindar.


Akan tetapi, karena kakinya goyah, Arsyilla justru terjatuh di atas kasur dan Aksara menindih tubuhnya begitu saja. Wajah keduanya sama-sama memerah lantaran bercanda cukup lama, tetapi kali ini tawa di wajah keduanya sirna. Menyisakan jantung yang berdetak melebihi ambangnya, dan dua mata yang beradu satu sama lain.

__ADS_1


__ADS_2