
Usai mendatangi Aksara dan Arsyilla, terlihat Ravendra yang kembali duduk dengan Mamanya. Pemuda berwajah tampan itu tampak menghela nafas panjang sebelum akhirnya mengambil tempat duduk di depan Mamanya.
“Bukannya wanita itu dulu pacarmu?” tanya Mama Sandra kepada Ravendra.
Setidaknya Mama Sandra tahu siapa Arsyilla, karena dulu Ravendra pernah mengenalkan Arsyilla kepada Mamanya dan Papanya. Tampak Ravendra yang menganggukkan kepalanya perlahan.
“Dulu Ma … sudah mantan,” jawab Ravendra pada akhirnya.
“Pria itu Aksara kan? Mantanmu menjadi kekasih Aksara sekarang?” tanya Mama Sandra lagi.
“Bukan kekasih Ma … tetapi mereka berdua sudah menikah,” cerita Ravendra pada akhirnya.
Mama Sandra yang hendak meminum Jeruk Hangat yang dia pesan, tiba-tiba menaruh gelas berisi Jeruk Hangat itu kembali ke atas meja. Kemudian Mama Sandra menatap Ravendra.
“Jadi … mereka berdua sudah menikah?” Mama Sandra seakan ingin bertanya kepada putranya itu.
“Iya … sudah Ma,” jawab Ravendra.
“Lalu, untuk apa tadi kamu menghampiri mereka berdua?” Seakan Mama Sandra meminta jawaban untuk alasan apa putranya itu harus menghampiri dan menyapa wanita yang pernah menjadi mantan pacarnya dan Aksara, yang tak lain adalah putra dari Kanaya dan Bisma.
Tampak Ravendra tersenyum dan kemudian menatap Mamanya itu, “Ravendra cuma menyapa Ma … sekaligus meminta maaf untuk kesalahan Vendra dulu,” jawabnya kini.
Mungkin memang terasa aneh. Mengingat dulu betapa Ravendra membenci Arsyilla. Bahkan Ravendra pernah melakukan tindak kekerasan kepada Arsyilla. Akan tetapi, sekarang pemuda itu justru berkata dirinya datang untuk menyapa dan meminta maaf.
Dari jauh tampak Mama Sandra yang menatap Aksara dan Arsyilla. Keduanya terlihat saling mencintai satu sama lain. Aksara pun terlihat seperti Dokter Bisma yang merupakan pria baik hati dan begitu menyayangi Kanaya, istrinya. Pandangan mata Mama Sandra kini beralih kepada putranya sendiri.
__ADS_1
“Kamu yakin?” tanya Mama Sandra lagi.
“Yakin Ma … lagipula untuk apa menyimpan dendam yang tidak ada ujungnya. Ravendra tidak ingin hidup seperti Papa yang terus-menerus menggenggam dendam dan luka masa lalunya. Ravendra ingin memilih jalan hidup yang berbeda dari Papa,” jawab Ravendra.
Pemuda itu seakan tengah dihadapkan dengan realita dan hidup Papanya yang sudah menginjak usia paruh baya tetapi masih menyimpan dendam dengan keluarga Aksara. Seakan dendam di dalam hati Papa Darren selalu berkobar dan tidak pernah padam. Ravendra seakan menyadari bahwa menyimpan dendam justru merugikan dirinya sendiri.
Mama Sandra pun mencoba menyelami perkataan putranya itu, kemudian ada senyuman yang tersungging di sudut bibir Mama Sandra.
“Jikalau kamu benar-benar melakukannya, Mama sangat senang. Lagipula, di masa lalu Mama juga pernah meminta maaf kepada orang tuanya Aksara. Saat itu, justru Tante Kanaya yang datang ke Rumah Sakit dan mengunjungi Mama yang pasca melahirkanmu. Saat itu, Mama melahirkanmu sendirian hanya Nenekmu yang menunggu di luar. Saat Dokter datang dan menanyakan di mana suami Mama, jujur saja saat itu Mama tidak bisa menjawabnya. Saat itu, Papanya mendekam di jeruji besi untuk kejahatan yang dia lakukan. Hati Mama sangat hancur. Saat Mama berjuang di antara hidup dan mati, Mama sangat berharap bahwa Papamu bisa datang. Akan tetapi, semuanya sia-sia. Di ranjang kesakitan itu, Mama berjuang sendiri. Selang sehari, Tante Kanaya datang untuk menjengukmu. Hati Mama terasa sesak mengingatnya,” cerita Mama Sandra kepada putranya saat itu.
Sebenarnya jika berbicara mengenai pahit dan getirnya hidup, Sandra juga sudah merasakannya. Kehamilan karena kecelakaan, pernikahan yang harus dilangsungkan di Lembaga Permasyarakatan, hingga menjalani kehamilan dan melahirkan seorang diri. Semua kesusahan dalam hidup sudah Sandra rasakan. Akan tetapi, Sandra pun bisa menyadari bahwa kesalahan Kanaya. Semua yang terjadi dalam hidupnya memang karena pilihannya yang salah dan sikap tidak bertanggung jawab dari mantan suaminya dulu.
Tampak Ravendra tersenyum dan menggenggam tangan Mamanya itu. “Maafkan Papa untuk semua masa lalu Papa yang membuat Mama kesusahan dan merasakan semua rasa pahit di dalam hidup. Sekarang Ravendra ingin berjanji di hadapan Mama bahwa Ravendra ingin menempuh jalan hidup Ravendra sendiri. Ravendra tidak ingin menyimpan dendam yang justru merugikan diri Ravendra sendiri. Sudah cukup di masa lalu, Ravendra mendekam di penjara. Satu tahun dua bulan sudah cukup memberikan pelajaran berharga bagi pemuda itu. Ravendra tidak ingin membiarkan dendam menyulut emosi dan pertikaian yang tidak ada habisnya.
“Jadi kamu sudah sakit hati kan melihat pasangan muda yang harmonis itu?” tanya Mama Sandra sembari tertawa. Wanita itu tampak melirik ke arah Aksara yang kini tampak tengah menyuapi istrinya itu.
Ravendra pun melirik sekilas ke arah Aksara dan Arsyilla. Pemuda itu akhirnya tertawa, “Tidak apa-apa Ma … Ravendra ikhlas. Ya, sepenuhnya ikhlas. Doakan saja Ma, semoga Ravendra bisa mendapatkan wanita yang baik seperti Arsyilla,” gurauan dari seorang Ravendra.
Ravendra memang terlihat bergurau dengan Mamanya, tetapi di dalam hatinya tidak dipungkiri bahwa Arsyilla adalah seorang yang baik. Wanita yang lemah lembut, pandai, dan juga baik hati. Seakan wanita dengan karakter seperti Arsyilla yang begitu disukai Ravendra sekarang ini.
“Amin … Mama akan mendoakan yang terbaik untuk putra Mama ini. Mama sangat senang karena kamu memilih jalanmu sendiri. Mama sepenuhnya bahagia karena putra Mama ini memilih hal yang baik dan benar,” sahut Mama Sandra.
Sementara di seberang sana, Aksara dan Arsyilla memang sedang makan bersama. Bahkan pria itu sesekali tampak menyuapi istrinya. Justru Aksara senang melihat Arsyilla yang makan dengan begitu lahapnya. Bahkan jari-jemari Aksara tidak segan untuk menyeka sisa makanan yang berada di sudut bibir Arsyilla.
“Bumilku, makannya sampai belepotan sih,” ucap Aksara kini.
__ADS_1
“Kamu yang suapin kena bibir aku,” jawab Arsyilla yang seakan tidak ingin kalah.
Keseruan mereka terhenti karena Ravendra dan Mama Sandra yang berjalan keluar dari restoran tersebut dan menyapa keduanya.
“Ayo Aksara dan Arsyilla, Tante duluan yah,” sapa Mama Sandra yang akhirnya menyapa keduanya terlebih dahulu.
“Oh, iya … mari Tante,” sahut Arsyilla.
Terlihat Mama Sandra menghentikan langkah kakinya dan menatap sejenak ke Arsyilla, “Tante doakan kamu dan Aksara bahagia selalu yah,” sahut Tante Sandra kali ini.
Arsyilla terlihat menganggukkan kepalanya dan tersenyum kepada Tante Sandra, “Terima kasih banyak Tante … Syilla juga berdoa yang terbaik untuk Tante.”
Lantas Ravendra menatap Aksara dan Arsyilla bergantian, “Duluan yah,” pamitnya kepada Aksara dan Arsyilla.
“Ya Ven … thanks yah,” balas Aksara kepada pemuda itu.
“Hati-hati Vendra,” ucap Arsyilla kali ini kepada pemuda yang dulu pernah menghiasi hari-harinya. Sekalipun hanya satu tahun, tetap saja Ravendra pernah mengisi harinya.
“Ya sudah … kami duluan yah,” pamit Mama Sandra sembari menganggukkan kepalanya.
Begitu keluar dari restoran itu, tampak Mama Sandra menepuki bahu putranya perlahan. “Berbesar hatilah Vendra … tidak masalah melepaskan orang yang dulu pernah singgah di dalam hatinya. Sebab, Mama pun pernah melakukannya. Secinta apa Mama kepada Papanya, tetapi pada akhirnya Mama memilih melepaskannya. Melepaskan Papamu untuk mendapatkan kebahagiaan dalam hidup. Jadi, kamu berharap bahwa kamu tidak menyesal dengan keputusanmu sekarang ini. Berbahagialah, jangan membebani dirimu sendiri dengan dendam dan luka di masa lalu. Sekalipun masa lalu tidak bisa dilupakan, tetapi kamu bisa berdamai dengan masa lalumu,” nasihat Mama Sandra kepada putranya itu.
Mengingat bagaimana dulu Sandra begitu mencintai Darren, tetapi pada akhirnya Sandra memilih melepaskan Darren. Sandra memilih hidup sendiri dan membesarkan Ravendra. Mengisi tahun-tahun pertumbuhan Ravendra dengan kasih sayangnya sebagai Ibu tunggal bagi putranya itu. Jika dulu, kehidupannya begitu pahit, tetapi Sandra bisa berdamai dengan dirinya sendiri dan juga melepaskan pria yang sudah begitu dicintainya.
Sementara Ravendra tampak menerima dengan baik dengan nasihat yang diberikan Mamanya itu. Ravendra sudah pada kesimpulan yang bisa dia ambil yaitu dirinya sudah sepenuhnya ikhlas. Dia akan melepaskan Arsyilla dengan ikhlas, membiarkan wanita itu untuk bersanding selamanya dengan Aksara. Selain itu, Ravendra yakin jika memang bukan Arsyilla, sudah pasti sang Pemilik Semesta akan menyediakan seorang gadis yang mau mencintainya dan menerima masa lalunya, bahkan termasuk bisa menerima masa lalu Ravendra yang pernah menjadi penghuni hotel Prodeo. Semoga saja, Tuhan akan kirimkan gadis itu untuknya.
__ADS_1