Aksara Untuk Arsyilla

Aksara Untuk Arsyilla
Pantai Goa Cemara


__ADS_3

Pasangan yang baru saja mereguk manisnya cinta itu, sama-sama tersenyum cerah. Keduanya bak tak bisa terpisahkan satu sama lain. Layaknya amplop dengan perangko yang menempel satu sama lain, tanpa bisa terpisahkan.


“Kak, aku jadi laper deh,” ucap Arsyilla yang mengusapi perutnya yang merasa lapar.


Bahkan perutnya yang buncit itu pun berbunyi, sebagai tanda dirinya membutuhkan makanan untuk mengenyangkan dirinya lagi.


“Habis yang hot-hot pop, kamu jadi laper ya Honey,” goda Aksara sembari tertawa melihat istrinya itu.


"Kan semalam makan juga cuma sedikit Kak, aku jadinya udah laper deh," balas Arsyilla.


Bukan lantaran kegiatan panas berbalut kenikmatan di pagi hari yang membuat Arsyilla kelaparan. Namun, semalam memang dia makan belum terlalu banyak.


"Ya sudah, keringkan rambut dulu yah. Habis ini, kita ke restoran buat sarapan," balas Aksara.


Pria itu kemudian mengambil hair dryer dari atas nakas, dan dengan inisiatifnya sendiri mengeringkan rambut Arsyilla yang basah. Jari-jari tangannya bergerak seolah menyisir rambut Arsyilla yang masih setengah basah. Arsyilla yang duduk di depan cermin itu sesekali tersenyum mengamati tindakan suaminya itu. Arsyilla senang karena Aksara memperlakukannya dengan sangat baik. Bentuk perhatian seorang suami terhadap istri yang benar-benar tulus. Wajah Aksara tampak serius dan terus berusaha mengeringkan rambut istrinya itu.


“Rambut kamu kayak aroma vanilla deh, Honey,” ucap Aksara sembari menundukkan wajahnya guna mencium aroma vanilla yang keluar dari helai demi helai rambut Arsyilla itu.


“Ulah kamu sih Kak,” balas Arsyilla.


Tentu saja rambutnya menjadi beraroma vanilla karena rambutnya basah saat berendam di bath up dengan bath bomb beraroma vanilla. Aksara terkekeh geli, pria itu kemudian mengambil sisir dan menyisiri rambut Arsyilla.


“Jadi pengen lagi,” ucap Aksara dengan tiba-tiba. Celetukkan yang membuat Arsyilla membolakan kedua matanya. Baru saja pergumulan mereka usai, dan sekarang Aksara sudah menginginkan lagi. Sudah pasti, di usia kehamilan yang memasuki Trimester Dua, tentu Arsyilla tidak akan mampu lagi.


“Capek Kak … nanti Dedek Bayi pusing dapat lava pijar dari Ayahnya terus,” balas Arsyilla.


Tawa keduanya kembali pecah. Tahun pernikahan mereka justru membuat keharmonisan di antara keduanya kian erat.


“Sudah selesai … sudah cantik. Sekarang sarapan yuk … aku enggak mau kamu pingsan karena kelaparan,” balas Aksara.


Pria itu berdiri dan menggandeng tangan Arsyilla menuju ke restoran. Rupanya di restoran itu, para orang tuanya sudah berkumpul terlebih dahulu.


“Pagi semuanya,” sapa Arsyilla yang mengambil duduk di samping Papa Radit itu.

__ADS_1


“Pagi,” sahut keluarga Raditya dan keluarga Pradhana bersamaan.


“Capek tidak Syilla?” tanya Bunda Kanaya kepada menantunya itu.


“Tidak Bunda … Dedek Bayinya baik banget, aku justru tidak capek sama sekali,” balas Arsyilla sembari mengusapi perutnya itu.


“Cucunya Eyang pinter ya berarti. Diajak jalan-jalan enggak rewel,” sahut Mama Khaira.


“Kita hari ini ke Pantai Goa Cemara ya Syilla,” ucap Papa Radit yang sudah memiliki agenda untuk mengajak Aksara dan Arsyilla mengunjungi sebuah pantai yang berada di Bantul, Jogjakarta itu.


“Iya Pa,” balas Arsyilla.


Seluruh keluarga itu menikmati sarapan sembari berbagi cerita. Ada yang mengisahkan pengalaman di Jogja, ada yang menanyakan kondisi Arsyilla, dan juga sekadar obrolan untuk mempererat kekeluarga antara kedua keluarga besan itu.


Menjelang siang hari, Aksara kembali mengemudikan mobil yang berisikan rombongan keluarganya menuju ke Pantai Goa Cemara. Pria itu membawa mobilnya dalam kecepatan sedang karena memperhitungkan Arsyilla yang sedang hamil. Perjalanan kurang lebih satu jam ditempuh Aksara. Kini mereka hampir sampai di Pantai Goa Cemara, birunya pantai yang menyatu dengan Laut Selatan itu seolah menyuguhkan pemandangan indah yang membuat mereka semua ingin menikmati lautan di pesisir selatan Jogjakarta itu.


Begitu telah tiba, deretan Pohon Cemara menyapa mereka. Menyajikan sensasi berbeda untuk berwisata ke pantai. Jika biasanya, pohon Cemara identik dengan pegunungan dan dataran tinggi. Di pantai ini, jumlah berdiri sejumlah pohon Cemara yang begitu indah.


“Iya Honey, justru kayak di pegunungan yah?” balas Aksara. “Hati-hati Honey, sini jalannya deket ke aku. Jangan sampai kaki kamu terantuk akar pepohonan ini,” ucap Aksara yang memperingatkan istrinya itu.


“Makasih Ayah, baik banget sih,” balas Arsyilla yang memang merasakan suaminya yang begitu perhatian kepadanya.


Sementara Mama Khaira dan Papa Radit juga berjalan-jalan berdua. Tampak Papa Radit yang juga setia menggandeng tangan istrinya itu.


“Hati-hati, Ma,” ucap Papa Radit yang seolah menuntun Mama Khaira untuk mengikuti langkah kakinya itu.


“Iya Mas,” sahut Mama Khaira.


“Kamu manggil aku, Mas? Tumben sih, sudah puluhan tahun biasanya kamu manggil aku Papa?” tanya Papa Radit kepada istrinya itu.


Dulu, saat awal menikah Mama Khaira memang memanggil suaminya itu dengan panggilan ‘Mas’, tentu itu juga karena usia suaminya yang beberapa tahun lebih tua darinya. Akan tetapi, setelah memiliki Arsyilla dan Arshaka, panggilan itu berubah menjadi ‘Papa’, karena Mama Khaira juga ingin memberikan contoh kepada kedua anaknya untuk memanggil orang tuanya.


“Keceplosan Papa,” sahut Mama Khaira sembari tertawa. Memang dirinya keceplosan. Merasa kembali muda, sampai memanggil suaminya dengan panggilan ‘Mas’.

__ADS_1


“Panggil sekali lagi dong, Ma … kangen juga dipanggil ‘Mas Radit’ sama Mama,” ucapnya kali ini.


“Tuh jadi kesenengan kan. Mas Raditnya Khaira,” ucap Mama Khaira yang tersenyum menatap wajah suaminya itu.


Usia memang sudah tidak lagi muda, tetapi lihatlah bagaimana keduanya masih bisa bersikap hangat di usianya. Membagi kasih yang seolah tidak pernah habis.


Di satu sisi, Bunda Kanaya dan Ayah Bisma memilih duduk dan melihat ombak yang bergulung-gulung, birunya lautan dan ombaknya adalah pemandangan yang dinikmati Bunda Kanaya dan Ayah Bisma.


“Ombaknya kenceng ya Yah,” ucap Bunda Kanaya kepada suaminya itu.


“Iya Bunda … kalau mencari ombak yang tenang, di Batam ya Bun … pengen deh jalan-jalan ke Batam lagi. Ajakin kamu jalan-jalan sore di Taman Tepi Laut,” ucap Ayah Bisma.


Rupanya Ayah Bisma pun memiliki kenangan tersendiri. Dulu, saat dirinya masih tinggal di Batam dan bekerja di salah satu Rumah Sakit Swasta di kota itu, Ayah Bisma pernah bertemu dengan Bunda Kanaya di Taman Tepi Laut yang berada di Harbour Bay, Batam. Pelabuhan yang tenang dan berpapasan langsung dengan Negara Singapura. Salah satu tempat untuk melihat sunset di Pulau Batam.


“Ke Barelang dan Pantai Elyora itu juga indah, Yah,” balas Bunda Kanaya.


Satu per satu tempat indah yang pernah mereka kunjungi bersama di Batam pun seolah kembali muncul dalam ingatan mereka. Megahnya jembatan Barelang yang menghubungkan pulau Batam, Rempang, dan Galang. Ada juga Pantai Elyora dengan pasir putihnya, dan lautan yang tenang menjadi daya tarik tersendiri bagi Bunda Kanaya dan Ayah Bisma.


“Benar Bunda … sudah puluhan tahun berlalu. Jadi, kangen tempat yang dulu kita kunjungi. Kangen juga enggak dengan Laut Bosphorus di Turki?” tanya Ayah Bisma kepada istrinya.


Mengingat Laut Bosphorus, wajah Bunda Kanaya tertunduk malu. Teringat bagaimana suaminya yang mengira dirinya adalah janda, rupanya di kala itu barulah Ayah Bisma mengetahui bahwa Bunda Kanaya masih perawan. Di saat Ayah Bisma mau dan rela menerima Bunda Kanaya termasuk dengan statusnya yang adalah janda, tetapi justru Ayah Bisma mendapatkan jackpot merasakan indahnya mereguk nektar cinta.


“Kangen Ayah … hanya saja, sekarang sudah tidak mungkin untuk ke sana lagi,” balas Bunda Kanaya.


“Bisa saja Bunda … nanti kalau Ayah udah pensiun, kita bisa punya waktu luang untuk jalan-jalan berdua. Kita bisa keliling dunia,” jawab Ayah Bisma.


Ayah Bisma yang berprofesi sebagai seorang Dokter juga masih produktif, Bunda Kanaya juga masih menjadi CEO Jaya Corp. Ketika keduanya sudah sama-sama pensiun nanti, bisa menikmati hari tua bersama.


“Kita juga harus mengasuh cucu kita, Ayah,” balas Bunda Kanaya.


“Benar Bunda … menikmati hari senja dengan menjadi Opa dan Oma. Bermain dengan Thania dan cucu dari Arsyilla dan Aksara nanti,” balas Ayah Bisma.


Di Pantai Goa Cemara itu justru banyak kisah yang dibagikan ketiga pasangan itu. Kisah penuh cinta yang terus membingkai ketiganya. Pahit dan manis, susah dan sedih, seakan membersamai kisah cinta mereka bertiga. Pesona pantai laut selatan dengan keelokannya menjadi tempat bagi tiga pasangan berbeda-beda generasi itu membagi kisah dan cerita mereka.

__ADS_1


__ADS_2