
Pekatnya malam dilalui pasangan suami istri yang baru menikah itu tanpa beradu di satu ranjang yang sama. Keduanya memilih menghabiskan malam pertama pernikahan mereka dengan tidur di kamar masing-masing. Ranjang pengantin di malam pertama itu pun terasa dingin, tidak ada buaian cinta, tindakan nikmatnya mereguk puncak asmara, yang ada hanya tidur meringkuk membiarkan sebuah guling dan selimut tebal yang menemani keduanya.
Sementara pagi itu, Arsyilla bangun pagi. Wanita itu segera membersihkan badannya terlebih dahulu. Setelahnya dia duduk di tepian tempat tidurnya sembari mengeringkan rambutnya basah usai keramas dengan menggunakan handuk kecil.
Biasanya, sepagi ini sudah tercium aroma Teh yang diseduh oleh Mama.
Papa yang sering kali membaca berita di tabletnya sembari menunggu Mama di dapur.
Roti bakar dengan margarine yang dilelehkan, dan omelette kesukaan Papa yang selalu tersaji di meja makan. Sekarang, suasana pagi itu tidak ada lagi …
Tiba-tiba saja setitik air mata jatuh begitu saja dan membasahi wajah Arsyilla. Kemudian dia menaruh handuknya, merapikan rambutnya yang setengah basah dengan sisir, kemudian berniat keluar dari kamarnya menuju dapur, sapa tau ada sesuatu yang bisa dia makan.
Dengan langkah gontai, Arsyilla pun berjalan menuju dapur. Tempat pertama yang dia buka adalah lemari es dua pintu dengan ukuran cukup tinggi itu, berharap saat pintu kulkas terbuka, dia bisa menemukan sesuatu untuk dimakan. Sayangnya, harapannya sia-sia karena di lemari itu yang ada hanyalah air putih yang didinginkan. Sama sekali tidak ada makanan. Arsyilla pun menghela nafas, perutnya sudah lapar, tetapi tidak ada sesuatu untuk dimakan.
Namun, Arsyilla tidak menyerah, dia kemudian membuka kitchen cabinet. Sedikit berjinjit, guna menjangkau bagian dalam kitchen cabinet itu.
“Kamu mencari apa?” tanya Aksara yang tiba-tiba bersuara dengan suara seraknya khas orang baru tidur.
“Mie instans.” Arsyilla menjawab dengan cepat, kali saja dia bisa menemukan mie instans di dapur itu.
Aksara kemudian berjalan menuju dapur, berdiri di belakang Arsyilla, hingga dadanya mengenai punggung Arsyilla.
“Tidak ada apa-apa di sini,” jawab Aksara sembari tangannya turut bergerak meraih apa yang ada di dalam kitchen cabinet miliknya itu.
Kaki Arsyilla yang semula berjinjit, akhirnya turun sempurna menginjak lantai. Harapannya untuk menemukan makanan sia-sia, karena di dapur apartemen mewah itu tidak ada apa-apa.
“Kamu lapar? Biar aku belikan sarapan di bawah,” ucap Aksara yang menawarkan untuk membelikan sarapan bagi Arsyilla.
Lagipula, di apartemennya dia memang tinggal sendirian. Oleh karena itu, dia tidak menyimpan makanan di lemari es dan di dapur. Pikirnya cukup membeli makanan di luar dan barulah pulang ke apartemennya untuk tidur.
“Kamu suka makanan apa? Biar aku belikan, itu di bawah apartemen ini banyak penjual sarapan,” ucap Aksara lagi.
Kendati demikian Arsyilla masih diam, semua menu sarapan yang dia makan biasanya adalah makanan olahan rumah yang dibuat oleh Mamanya. Sekarang, harus membeli sarapan rasanya begitu aneh.
__ADS_1
Namun, belum sempat Arsyilla menjawab, terdengar bel pintu apartemen Aksara yang berbunyi.
Ting Tong …
“Sebentar aku buka pintunya dulu,” ucap Aksara yang kemudian beranjak untuk membukakan pintu apartemennya yang berbunyi.
“Halo … pagi Aksa,” sapa dari Bunda Kanaya yang ternyata pagi itu datang ke apartemen anaknya.
“Halo Daddy,” sapa dari Thania yang ternyata bersama dengan Bunda Kanaya untuk menemui Aksara.
“Eh, hai … halo Thania Sayang,” sahut Aksara dan langsung menggendong Thania, dan mencium pipi Thania.
Pemandangan bagaimana Aksara yang menggendong Thania dan juga terlihat menyayangi Thania, justru membuat hatinya bagai teremas di dalam sana. Bagaimana pun kasih sayang seorang Daddy kepada putrinya sendiri memang sebesar itu, terlepas dari tragedi pernikahan yang mungkin saja sudah terjadi.
“Hai, Arsyilla,” sapa Bunda Kanaya sembari memeluk menantunya itu.
Arsyilla pun mengangguk dan balas memeluk ibu mertuanya itu, “Pagi Bunda,” sapanya dengan suara yang lembut.
“Kamu sedang ngapain di dapur?” tanya Bunda Kanaya kepada Arsyilla.
Bunda Kanaya pun justru tertawa, “Makanya Aksa, kemarin itu pulang dulu aja ke rumah Bunda. Atau bermalam dulu di rumah Mama Khaira dan Papa Radit, pasti tidak masalah loh. Kasihan menantu Bunda pagi-pagi sudah kelaparan,” ucap Bunda Kanaya sembari tersenyum menatap Arsyilla dan juga melirik Aksara.
Kemudian, Bunda Kanaya mengeluarkan sesuatu dari paper bagnya. Nasi kuning lengkap dengan lauknya berupa tempe orek, telur dadar yang diiris tipis-tipis, kentang, dan juga ayam goreng serundeng.
“Sudah, sarapan ini dulu, Nak … isi perut kamu yang kosong. Suamimu itu memang enggak bertanggung jawab. Aksa, hari ini masih libur kan? Belanja sana ajak istrinya, dapurnya sekarang dipenuhi dengan bahan makanan. Sekarang kamu tidak tinggal sendirian,” nasihat sang Bunda kepada putranya itu.
Aksara pun mengangguk, “Iya Bunda, nanti aku belanja ke supermarket sama Istri,” jawabnya dengan melirik Arsyilla.
“Onty, Onty sudah menjadi istrinya Daddy yah?” tanya Thania yang tiba-tiba bertanya kepada Arsyilla.
Arsyilla hanya diam, sebenarnya enggan untuk menjawab pertanyaan itu. Akan tetapi, dia hanya mengangguk.
“Thania, kita pulang dulu yuk. Biar Daddy kamu dan Onty sarapan dulu, kita mampir ke tempat praktiknya Opa ya,” ajak Bunda Kanaya kepada Thania.
__ADS_1
Lagi, Arsyilla bergumam dalam hatinya.
Thania memanggil Ayah Bisma kan Opa, berarti jelas dong gadis kecil itu anaknya Aksara, dan cucunya Bunda Kanaya dan Ayah Bisma. Sebenarnya, siapa sih pria di hadapanku ini. Haruskah aku bertanya sekarang? Kenapa semua menjadi terasa membingungkan.
“Sudah yah, Bunda dan Thania pulang. Kalian baik-baik ya berdua,” pamit dari Bunda Kanaya.
Akan tetapi, baru beberapa langkah Bunda Kanaya berjalan, wanita paruh baya itu kembali menghentikkan langkah kakinya dan berbalik menatap Aksara dan Arsyilla.
“Ah, iya … Bunda hampir lupa, ini hadiah bulan madu dari Bunda dan Ayah. Keinginanmu ingin menikmati suasana laut yang tenang kan Aksa? Ajak istrinya pergi berbulan madu, dan pulang segera membawa kabar baik untuk Ayah dan Bunda,” ucapnya sembari menyerahkan sebuah amplop berwarna putih.
Aksara pun tersenyum dan mengangguk, “Makasih Bunda,” jawabnya dengan menerima amplop itu.
“Nikmati bulan madu kalian sekali pun hanya di dalam negeri, setidaknya bisa sekadar jalan-jalan dan saling mengenal satu sama lain. Lagipula, kamu juga tidak mengambil cuti dari kampus kan, Arsyilla? Akhir pekan ini, jalan-jalanlah sama suamimu,” ucap Bunda Kanaya yang layaknya adalah perintah bagi Arsyilla.
“Ya Bunda,” jawab Arsyilla sembari mengangguk.
***
Sepeninggal Bunda Kanaya dan Thania …
Aksara dan Arsyilla sama-sama duduk dan menikmati sarapan mereka yang dibawakan oleh Bunda Kanaya. Keduanya sama-sama diam.
“Habis ini kita belanja bahan makanan ya?” ajak Aksara kepada istrinya yang duduk di hadapannya itu.
“Hmm,” sahut Arsyilla dengan cepat.
“Beli sayuran dan buah-buahan juga,” ucap Aksara lagi.
“Hmm,” sahutnya lagi.
“Minggu depan kita bulan madu ya?” Aksara lagi-lagi berbicara. Untuk ucapan kali ini, tidak ada jawaban dari Arsyilla. Wanita itu justru tampak kesusahan menelan nasi kuning yang masih dikunyahnya.
Melihat tingkah lucu Arsyilla, Aksara justru tersenyum dan menyerahkan segelas air putih kepada Arsyilla, “Minum dulu, harusnya kamu juga jawab ‘hmm,’ biar kamu tidak kesusahan menelannya.” Aksara berbicara dengan menggelengkan kepalanya, dia tersenyum melihat sosok Arsyilla itu.
__ADS_1
“Ah, indahnya pengantin baru … pekan depan bulan madu,” ucap pria itu sembari menyorot wajah merah padam istrinya.
Membiarkan istrinya yang mungkin saja emosi, tetapi dia justru bahagia karena setidaknya di apartemennya ini sekarang dia tidak sendiri, ada orang yang bisa dia usili di apartemennya ini.