
Beberapa pekan pun telah berlalu. Usia kehamilan Arsyilla juga sudah bertambah usianya. Perut Arsyilla juga terlihat lebih menyembul. Rasanya Arsyilla begitu bersyukur untuk kehamilannya kali ini. Terlepas dari rasa pening yang tiba-tiba datang, tetapi semua kegiatan Arsyilla bisa berjalan dengan baik.
Sementara sore ini, Arsyilla akan bersama Aksara untuk memeriksakan kembali kandungannya. Keduanya pun berharap bahwa minggu ini keduanya bisa melihat jenis kelamin bayinya yang kedua.
"Kak, nanti sore kembali ke Rumah Sakit yah. Anterin aku periksa," ucap Arsyilla.
"Iya Honey… seperti biasa yah, kalian berdua sudah bersiap yah. Jadi, biar enggak kemalaman nanti pulangnya," jawab Aksara sembari menikmati sarapan buatan istrinya itu.
"Iya Ayah, siap. Aku bakalan bersiap kok sama Ara. Jadi biar enggak kemalaman nanti," balas Arsyilla.
Menjalani hari di rumah bersama Ara karena memang Arsyilla tidak ada jadwal mengajar. Lagipula, untuk anak yang berusia satu tahun lebih kemampuan eksplorasinya belum seberapa. Ara masih senang bermain sendiri, sembari membuka-buka buku, atau bernyanyi saja bersama Arsyilla. Sehingga untuk pengasuhan Ara memang tidak membuat Arsyilla kecapekan.
Menjelang sore tiba, Arsyilla segera bersiap. Dia juga memandikan Ara, sehingga saat suaminya sudah pulang nanti semuanya sudah siap dan tinggal menuju ke Rumah Sakit untuk memeriksakan kehamilannya.
“Ma ana Nda? (Mau kemana Bunda?)” tanya Ara kecil yang sudah berdiri di depan Bundanya yang sedang memasukkan buku pemeriksaan ke dalam tas.
“Mau ke Rumah Sakit, Ara … mau periksakan dedek bayi,” balas Arsyilla.
“Ke Opa … akit (Mau ke tempatnya Opa? Di Rumah Sakit?)” tanya Ara lagi.
Ara begitu menggemaskan, sekecil itu sudah tahu bahwa ke Rumah Sakit akan tempat Opanya yang adalah seorang Dokter dan bekerja di Rumah Sakit. Arsyilla sampai tersenyum melihat Ara yang sudah bisa berpikir bahwa Opanya bekerja di Rumah Sakit.
“Iya, ke Rumah Sakit … cuma enggak ketemu Opa. Opa di Poli Anak, sementara kita di Poli Kandungan. Bunda mau memeriksakan Adiknya Ara,” jelas Arsyilla kepada putrinya.
Tidak berselang lama, mobil Aksara sudah memasuki rumah. Aksara meminta izin kepada Arsyilla untuk mandi terlebih dahulu sebentar, dan setelahnya baru ke Rumah Sakit.
“Yuk, berangkat sekarang Honey … biar nanti tidak kemalaman. Buku catatan pemeriksaannya jangan lupa dibawa Honey,” ucap Aksara mengingatkan istrinya itu.
“Sudah kok Ayah … tolong gendongkan Ara sampai ke dalam mobil ya Ayah,” pinta Arsyilla kepada suaminya.
“Sini … Ara ikut Ayah yah … kita lihat kondisi Dedek Bayi lagi yah,” balasnya.
__ADS_1
Aksara segera menggendong putri kecilnya itu. Sembari satu tangannya menggandeng istrinya menuruni anak tangga.
"Hati-hati Honey," ucap Aksara memperingatkan Arsyilla untuk berhati-hati saat menuruni anak tangga.
"Makasih Ayah," balas Arsyilla dengan tersenyum dan terus mengikuti langkah kaki suaminya itu.
Begitu sampai di mobil, Ara duduk sendiri di carseat. Sementara Arsyilla duduk di samping Ara di kursi belakang. Sementara hanya Aksara yang duduk di depan, di kursi kemudi.
"Ayah kayak Driver yah, semuanya di belakang," gumam pria itu sembari melirik istri dan anaknya yang duduk di belakang.
"Kasihan Ara kalau duduk di belakang sendiri Ayah," balas Arsyilla.
"Nanti kalau udah punya Adik, semua penumpang di belakang yah. Wah, harus berapa tahun nih Ayah jadi Driver," balasnya lagi dengan tertawa.
Candaan dan obrolan ringan menemani mereka menuju Rumah Sakit. Sampai akhirnya mereka pun sampai di Rumah Sakit.
"Akit na Opa, (Rumah Sakit tempanya Opa)" teriak Ara dengan menunjuk-nunjuk dengan tangannya.
Beberapa saat mereka menunggu, sampai akhirnya mereka pun tiba waktunya untuk pemeriksaan.
"Silakan Bu Arsyilla dan Pak Aksara, ada Aurora juga ... apa kabar?" sapa Dokter Rinta dengan ramah kepada mereka.
"Baik Dokter," balas mereka dengan tersenyum.
Dokter Rinta lantas melihat buku catatan pemeriksaan Arsyilla sebelumnya, dan mencatatkan tanggal pemeriksaan di sana.
"Sudah 18 minggu seharusnya ya Bu Arsyilla ... nanti kalau posisi debaynya bagus, kita bisa lihat jenis kelaminnya nih Bu. Mau tahu jenis kelaminnya baby apa enggak?" tanya Dokter Rinta kepada Arsyilla.
"Boleh Dok ... penasaran juga sih," jawab Aksara yang sudah penasaran dengan jenis kelamin bayinya nanti.
"Wah, Pak Aksara yang penasaran. Coba nanti kita lihat ya Pak ... sekarang, kita lakukan pemeriksaan dengan USG yah," balas Dokter Rinta.
__ADS_1
Seorang perawat membantu Arsyilla untuk naik ke brankar, dan kemudian mengangkat sedikit kemeja yang dikenakan Arsyilla, lantas USG Gell mulai dioleskan di permukaan perut Arsyilla. Dokter Rinta pun sudah bersiap dengan transducer di tangannya.
"Ya, usia kehamilan benar ya Bu Arsyilla ... 18-19 minggu. Janin Ibu sekarang kira-kira sudah sebesar lobak dengan berat kurang lebih 150 gram dan panjangnya kira-kira 12 centimeter. Di kehamilan ini, tempurung bayi berkembang dengan baik ya Bu. Tulang rawan dan tempurungnya kian mengeras. Selain itu, plasentanya berkembang dengan pesat juga. Plasenta janin sudah berkembang pesat dengan ribuan pembuluh darah yang dapat membantu mengoptimalkan fungsinya untuk menyalurkan nutrisi dan oksigen ke janin dan membuat zat sisa janin. Tali pusatnya pun sudah menjadi lebih kuat dan tebal," jelas Dokter Rinta.
Arsyilla pun mendengarkan semua penjelasan dari Dokter Rinta. Salah satu yang Arsyilla sukai saat hamil adalah dia mendapatkan informasi edukatif dari Dokter Rinta seputar kehamilan. Rasanya semua pengetahuan yang dia dapatkan sekarang ini sangat bermanfaat.
"Mau sekalian melihat jenis kelaminnya?" tanya Dokter Rinta kepada Arsyilla dan Aksara lagi.
"Ya, boleh sekalian, Dok." Lagi-lagi Aksara yang menjawab, karena Aksara ingin mengetahui jenis kelamin anak keduanya.
Kembali Dokter Rinta menekan-nekan transducer di perut Arsyilla, mengarahkannya ke posisi jenis kelamin bayi. Sedikit berputra, sedikit menekan, hingga terlihatlah tampilan di layar monitor yang saat itu juga direkam oleh Aksara dengan handphonenya.
"Bu Arsyilla dan suami inginnya dedeknya apa nih?" tanya Dokter Rinta dengan sedikit tertawa.
"Apa saja, tidak masalah sih Dok," balas Arsyilla.
"Benar, cewek atau cowok tidak masalah," balas Aksara.
"Jadi, kalau cewek lagi tidak apa-apa ya?" tanya Dokter Rinta lagi.
Arsyilla pun tertawa, "Wah, kalau cewek lagi Ayahnya bakalan jadi paling cakep di rumah," balasnya.
Mendengar jawaban Arsyilla, Dokter Rinta pun tertawa. "Adiknya Aurora, princess lagi nih ... jadi, cewek lagi ya Bu," jelas Dokter Rinta.
Lagi-lagi Aksara dan Arsyilla pun tertawa, tidak mengira jenis kelamin anak kedua mereka lagi cewek lagi. Itu berarti Ara akan memiliki adik perempuan.
"Nama princess kan lucu-lucu tuh Bu Arsyilla ... yang pertama Aurora kan ya? Yang kedua bisa Bella, Ariell, atau Cinderella," ucap Dokter Rinta dengan tertawa.
"Iya, nanti dicari nama yang bagus buat si Little Princess," balas Arsyilla.
Aksara dan Arsyilla sama-sama tersenyum. Sebab, perihal jenis kelamin bayi keduanya sama-sama tidak mempermasalahkan. Mau laki-laki atau perempuan keduanya sama. Seorang bayi adalah anugerah dari Allah. Oleh karena itu, Aksara dan Arsyilla mensyukuri apa pun jenis kelamin bayinya itu.
__ADS_1