Aksara Untuk Arsyilla

Aksara Untuk Arsyilla
Momen Romantis di Kereta Api


__ADS_3

Keesokan harinya, kurang lebih jam 07.00 rombongan dari kampus Arsyilla sudah tiba di Stasiun Balapan yang merupakan salah satu stasiun terbesar di Kota Solo. Stasiun ini menghubungkan kereta api dari jalur utara dan jalur selatan. Rombongan berjumlah 50 orang itu sudah berada di ruang tunggu dan menunggu untuk masuk ke dalam gerbong kereta.


Jika saat berangkat, seluruh rombongan memilih untuk menaiki kereta api eksekutif dari Jakarta menuju Jogjakarta. Sekarang ini, mereka akan menaiki kereta api eksekutif dari Solo menuju Jakarta. Perjalanan pun nyaris sama sekitar 8 jam perjalanan, dan melintasi jalur selatan.


“Semalam tidak keluar makan malam ya Bu Arsyilla?” tanya Bu Nila kepada rekan dosennya itu.


“Tidak Bu … saya semalam kecapekan, jadinya langsung tidur,” balas Arsyilla.


Wanita itu tampak menggigit bibir bagian dalamnya, karena merasa tidak enak lantaran tidak bergabung dengan rombongan untuk makan malam di Angkringan bersama rekan dosen, staf, dan mahasiswa.


“Wah, Bu Arsyilla sibuk sekali sih. Padahal bisa menikmati angin malam sembari duduk-duduk di Angkringan,” balas Bu Nila lagi.


“Maaf Bu … mungkin lain kali jika Field Trip, saya bisa ikutan,” balas Arsyilla. Tentu saja, Arsyilla merasa tidak enak hati. Akan tetapi, semua sudah dia putuskan bahwa Arsyilla memilih berdiam di kamar bersama dengan suaminya.


Menjelang 15 menit, terdengar panggilan bahwa penumpang bisa memasuki kereta. Arsyilla pun mendorong koper berukuran kecil miliknya dan menuju gerbong yang tertera di tiket digitalnya. Rasanya aneh, tetapi justru kali ini Arsyilla ingin duduk satu bangku dengan suaminya lagi. Semoga saja, kali ini Aksara bisa duduk di sampingnya.


Gerbong 7 - Tempat duduk 10 A


Arsyilla pun menuju gerbong 7 dan tempat duduk 10A miliknya, berharap yang akan duduk di kursi 10 B adalah Aksara. Perlahan Arsyilla menaiki gerbong 7, mengurutkan tempat duduk dan mencari tempat duduknya itu, wanita itu tersenyum saat melihat Aksara yang sudah duduk di kursi 10 B.


“Duduk di sini?” tanya Arsyilla dengan lirih.


Pria itu tersenyum seraya berdiri, mengangkatkan koper milik Arsyilla dan menaruhnya di atas kabin.


“Iya, aku duduk di sini,” jawabnya.


Setelah itu, Aksara keluar dari tempat duduknya, dan mempersilakan Arsyilla untuk duduk di kursi yang dekat dengan jendela. Sebab, Aksara cukup tahu bahwa istrinya itu lebih suka duduk di dekat jendela.

__ADS_1


“Duduk sama istriku,” bisik Aksara dengan lirih di sisi telinga Arsyilla. Membuat wanita itu menunduk dan tersenyum malu-malu.


“Ada enggak yang segerbong dengan kita?” tanya Aksara kemudian.


“Aku kurang tahu sih Kak, coba aku lihat di grup kelas yah,” balas Arsyilla.


Wanita itu seketika mengambil handphone di sling bagnya, dan melihat pesan di grup chat kelas. Rupanya hampir separuh mahasiswa berada di gerbong 8, dan rekan dosennya berada di gerbong 5. Aneh sekali, Arsyilla dan Aksara bisa berada di satu gerbong berdua.


“Aman kok Kak … mereka di gerbong 8 dan gerbong 5. Namun, tetap jaga jarak ya Kak … takut kenapa-napa,” ucapnya lagi.


“Iya-iya … cuma duduk berdua saja kok. Kalau mau pegang tangan nanti aku taruh jaketku di sini,” balas Aksara.


Hingga tepat jam 08.00, kereta api berjalan perlahan meninggalkan Stasiun Balapan. Tampak Arsyilla yang mengamati pemandangan di Kota Solo itu.


“Kotanya ini enggak begitu besar, tetapi padat juga ya Kak,” sahut Arsyilla.


“Iya, mau jalan-jalan ke kota Solo? Kita bisa eksplor daerah di sekitar Solo kalau kamu mau,” balas Aksara.


Aksara pun terkekeh perlahan, tidak mengira bahwa istrinya memiliki keinginan untuk keliling kota-kota di Indonesia bersama dengan dirinya. Mungkin saat orang lain menginginkan bisa berkeliling dunia, justru Arsyilla menginginkan untuk mengeliling kota-kota di Indonesia.


“Bisa Sayang … kamu mau kemana? Nanti kita bisa ke sana berdua,” sahut Aksara.


“Next time, ke Malang aja yuk Kak … ke Bromo,” sahut Arsyilla.


Pria itu dengan cepat mengangguk, “Iya … nanti ke Malang. Lihat Sunrise di Gunung Bromo,” balas Aksara.


“Jadi ingat lihat Sunrise di Lombok sama kamu,” balas Arsyilla.

__ADS_1


Jika banyak orang lebih suka menikmati momen pergantian sore menuju malam yang biasa disebut senja. Justru Aksara dan Arsyilla lebih menyukai menyambut Sunrise bersama. Biasnya yang rona kemunir, hangatnya saat menyapa bumi, semua justru terlihat indah saat keduanya menatap surya yang terbit di ufuk Timur bersama-sama.


“Aku juga jadi ingin lihat Sunrise di kapal sama kamu,” sahut Aksara. Pria itu lantas mendekatkan wajahnya, dan berbisik lirih di telinga Arsyilla, “Kamu itu my first kiss,” ucap Aksara dengan lirih.


“Serius?” tanya Arsyilla seakan tidak percaya dengan pengakuan suaminya itu.


Aksara pun menganggukkan kepalanya perlahan, “Iya … kamu selalu serba pertama buatku,” jawab Aksara lagi.


Mendengar pengakuan Aksara ini, benar-benar membuat hati Arsyilla menghangat. Tidak terasa pula kereta api sudah keluar dari kota Solo dan menuju ke kota-kota selanjutnya. Kota Solo yang hangat, di tengah perjalanan justru turun hujan di tambah AC di kereta nyatanya justru membuat gerbong itu terasa lebih dingin.


“Hujan … romantis sih, naik kereta api dan lihat hujan seperti ini,” ucap Arsyilla.


Telapak tangannya bergerak seakan membelai jendela kaca kereta api itu.


“Tambah romantis karena sama kamu, Sayang,” balas Aksara.


“Gombal,” sahutnya dengan cepat.


“Serius, tambah romantis … tambah syahdu karena sama kamu. Mau aku pesankan teh hangat?” tawar Aksara kepada istrinya itu.


“Iya boleh,” sahut Arsyilla.


Pria itu meninggalkan tempat duduknya perlahan dan memesan Teh hangat untuk mereka berdua. Agaknya enak menikmati hujan dari kereta yang terus berjalan sembari menikmati teh hangat.


Hingga tidak berselang lama, petugas dari kereta api mengantarkan dua cup teh hangat dan roti untuk Aksara dan Arsyilla.


“Terima kasih,” ucap keduanya nyaris bersamaan.

__ADS_1


“Ini bakalan jadi kenangan terindah sih. Baru kali ini aku naik kereta api jarak jauh dan hujan. Terus duduknya sama kamu. Syahdu banget,” balas Arsyilla.


Aksara pun mengembangkan senyuman di wajahnya, tidak mengira bahwa sekadar menikmati hujan yang turun dari gerbong kereta api yang terus berjalan dan duduk bersama dengan dirinya saja membuat Arsyilla begitu bahagia dan menikmati momen ini. Aksara pun bahagia. Setiap orang merasakan keromantisan itu sendiri-sendiri, sementara Arsyilla justru merasakan hal sederhana seperti itu justru terasa romantis dan syahdu bagi istrinya itu.


__ADS_2