
Tidak terasa, perjalanan kurang lebih 8 jam telah di lalui. Seluruh rombongan dari kampus Arsyilla pun kini telah kembali tiba di Jakarta. Setelah tiga hari berlalu, berpindah dari Jogjakarta menuju Solo, hingga akhirnya rombongan tersebut telah kembali tiba di Ibukota. Kendati perjalanan dengan kereta api terbilang lama dibandingkan dengan pesawat udara, nyatanya para mahasiswa justru terlihat senang-senang saja. Wajah mereka sama sekali tidak menunjukkan kelelahan yang ada justru mereka ingin wisata bersama dengan menaiki kereta api lagi.
“Oke teman-teman semua. Kita sudah di penghujung acara Field Trip yah. Bersyukur sekarang kita sudah tiba di Jakarta kembali. Kita akan kembali bertemu di kelas pekan depan ya. Kalian bisa pulang dan beristirahat,” ucap Arsyilla yang membubarkan rombongan sore itu.
Setelahnya, beberapa mahasiswa datang dan berpamitan. Lega rasanya Field Trip kali ini bisa berjalan dengan lancar. Arsyilla tinggal mengecek setiap laporan yang disusun para mahasiswa di Drive penyimpanannya.
“Bu Arsyilla mau langsung pulang?” tanya Pak Bagas dengan tiba-tiba.
Pria itu tampak berdiri di hadapan Arsyilla dan menanyakan apakah rekan dosennya itu akan langsung pulang.
“Iya Pak … mau langsung pulang saja,” sahut Arsyilla.
Jujur saja, dengan sikap Pak Bagas seolah terus mendekatinya dan memberikan pertanyaan-pertanyaan seperti itu membuat Arsyilla merasa tidak nyaman. Kendati demikian, lantara rekan sejawat, maka dia tetap harus berlaku dengan sopan.
“Mau saya antar?” tawar Pak Bagas dengan tiba-tiba.
Dengan cepat Arsyilla pun menggelengkan kepalanya, “Tidak Pak Bagas … tidak perlu repot-repot. Lagipula, Papa saya sudah datang dan akan menjemput saya,” balasnya.
Mendengar jawaban dari Arsyilla, nyatanya Pak Bagas justru tersenyum geli. Pria itu tidak mengira jika Arsyilla justru akan dijemput oleh Papanya. Wanita dewasa dan berprofesi sebagai dosen itu nyatanya justru akan dijemput oleh Papanya.
Untuk kali ini, Arsyilla tidak mengada-ada. Memang Papa Radit dan Mama Khaira yang akan menjemputnya. Sebab, malam ini adalah ulang tahun Arshaka. Sehingga Mama Khaira dan Papa Radit meminta Arsyilla dan Aksara untuk menginap di rumahnya. Sekaligus Papa Radit yang ingin menjemput putrinya itu.
“Kenapa tidak dijemput pacarnya, Bu Arsyilla?” tanya Pak Bagas. Seakan pria itu tidak ingin pergi begitu saja dari hadapan Arsyilla.
“Oh, sebenarnya dia yang mau menjemput. Akan tetapi, Papa saya yang bersikeras untuk menjemput saya,” balas Arsyilla.
Dalam hatinya, Arsyilla berharap Papa Radit segera datang dan membebaskannya dari rekan dosennya yang sejak tadi mengajaknya mengobrol itu. Arsyilla tentu harus menjaga perasaan suaminya juga.
“Syilla …,” terdengar suara sang Papa yang datang menghampirinya.
Sekilas Pak Bagas tampak tertegun melihat Papa Radit yang terlihat masih muda, masih keren, bahkan seolah Papa Radit tidak menua. Arsyilla pun melambaikan tangannya kepada sang Papa.
__ADS_1
“Papa, Syilla nungguin,” balasnya.
Papa Radit tampak melirik pada sosok pria yang berdiri di hadapan Arsyilla sedikit mengangguk, sebagai tanda menyapa setelahnya Papa Radit segera membawa Arsyilla dan menuju ke mobilnya yang sudah terparkir di depan stasiun.
“Duluan ya Pak Bagas,” pamit Arsyilla.
Setelah berjalan beberapa meter, Papa Radit tampak menanyai putrinya itu.
“Dia siapa, Syilla?” tanya sang Papa.
“Rekan dosen, Pa … Syilla malas sebenarnya sama dia. Nanya-nanya melulu,” keluh Arsyilla kepada sang Papa.
“Aksara tahu? Jangan sampai membuat suamimu sendiri cemburu,” nasihat dari sang Papa kepada putrinya itu.
“Iya … Kak Aksara tahu sih Pa. Cuma kan harus sopan, teman dosen juga. Arsyilla sudah kasih penjelasan kepada Kak Aksara kalau Arsyilla hanya cinta sama Kak Aksara saja,” balas Arsyilla.
Mendengar ucapan putrinya, Papa Radit tersenyum sekilas melirik ke arah putrinya itu. Rupanya waktu memang berlalu begitu cepat, dulu sang putri yang hanya bisa ‘i love u’ kepada Papa dan Mamanya, sekarang bisa mengakui perasaan cintanya untuk suaminya.
“Di mobil sama Mama kamu,” sahut Papa Radit.
Lega rasanya hati Arsyilla karena suaminya menunggu di dalam mobil bersama dengan Mamanya. Tentu kedatangan Papa Radit justru menyelamatkannya dari Pak Bagas.
Memasuki mobil, Arsyilla pun memeluk dan mencium Mamanya terlebih dahulu.
“Mama … Syilla kangen,” akunya.
“Iya Sayang … capek yah pasti dari Solo ke Jakarta naik kereta api,” balas Mama Khaira.
“Ya capek sih Ma … cuma duduk sama Kak Aksara, jadi enggak capek,” sahut Arsyilla.
Aksara yang duduk di sampingnya hanya bersikap biasa saja. Sekalipun pria itu tentu sangat merasa bahagia sekarang ini.
__ADS_1
“Kalian bisa duduk satu kursi?” tanya Papa Radit yang mulai melajukan mobilnya.
“Iya Pa … bahkan Kakak bisa dapat connecting room juga,” balas Arsyilla.
Aksara sebenarnya merasa malu, tetapi rupanya istrinya itu adalah sosok yang terlampau jujur kepada orang tuanya. Hingga perkara connecting room saja diceritakan sang istri kepada Mama Khaira dan Papa Radit.
“Pria memang banyak akal,” sahut Mama Khaira.
Papa Radit refleks pun tertawa, sedikit melirik sang istri yang duduk di kursi co-driver, di sampingnya.
“Itu karena pria mau berusaha, Sayang … memperjuangkan apa pun,” sahut Papa Radit. “Benar kan Aksara?” tanya Papa Radit kepada menantunya itu.
“Iya Pa,” jawab Aksara dengan cepat.
“Kamu harus segera lulus, Aksara … agaknya ada rekan dosen yang mendekati istri kamu. Lebih cepat lulus, lebih baik. Bisa mengumumkan pernikahan kalian berdua,” ucap Papa Radit.
Mendengar ucapan Papa Radit, Mama Khaira pun melihat kepada suaminya itu. “Emang iya Pa?” tanyanya.
“Iya … Papa tahu aja gelagat pria yang suka sama anak Papa,” sahut Papa Radit.
“Tuh dengerin, Aksara … cepet lulus. Cepat mengklaim secara mutlak kalau Arsyilla itu istri kamu. Sabar ya Aksara kadang lingkungan antar dosen seperti itu. Mama yakin Arsyilla akan jaga hati dan jaga diri baik-baik,” jelas Mama Khaira.
“Iya Ma … Aksara akan segera lulus. Biar tidak kucing-kucingan di kampus. Rasanya di kampus, Aksara ini seperti suami rahasia gitu,” keluh Aksara kepada Mama dan Papa mertuanya.
Mendengar ucapan Aksara, sontak saja Mama Khaira, Papa Radit, dan Arsyilla pun tertawa bersama. Tidak mengira bahwa Aksara akan terang-terangan mengatakan bahwa di kampus pria itu layaknya seorang suami rahasia saja bagi Arsyilla.
Hingga tidak terasa, mobil yang dikemudikan Papa Radit sudah tiba di rumahnya. Mengingat bahwa Arsyilla dan Aksara baru saja datang dari luar kota, Mama Khaira menyuruh keduanya untuk beristirahat terlebih dahulu.
“Ya sudah … kalian istirahat dulu saja. Nanti jam 19.00 kita makan bersama yah … Arshaka ngajak barbeque-an di taman nanti malam,” jelas Mama Khaira.
“Iya Ma … Syilla istirahat sebentar ya Ma. Capek banget punggungnya, pengen rebahan sebentar,” sahut Arsyilla.
__ADS_1
Tidak menunggu waktu lama, Arsyilla menggandeng tangan suaminya itu dan menaiki anak tangga menuju lantai dua ke kamarnya. Mengistirahatkan diri sejenak sebelum merayakan ulang tahun adiknya nanti malam.