
Beberapa menit usai kegiatan panas itu terjadi, Arsyilla benar-benar badannya yang remuk redam. Rasa sakit dan panas yang terasa di pangkal pahanya, membuat wanita itu tidak bisa bergerak rasanya.
Sementara Aksara turut diam, sekali pun pria itu beberapa kali melabuhkan kecupan di kening Arsyilla dan mengusapi lengannya yang masih polos, nyatanya Aksara hanya diam. Pria itu seolah kehilangan kata-katanya. Hingga beberapa saat berlalu, Aksara kemudian membuka suara.
“Syilla, boleh aku membuat satu pengakuan kepadamu?” tanyanya kali ini.
Wanita itu kemudian mengangguk, dia sedikit beringsut guna bisa menatap wajah Aksara. Saling berhadapan dalam keadaan sama-sama terbaring di atas ranjang hanya selimut putih yang menutupi tubuh polos keduanya.
“Dengarkan ceritaku kali ini,” ucap Aksara lagi.
***
Pada Petaka Satu Malam itu …
Ada seorang pemuda yang tampak memperhatikan Arsyilla dari jauh. Pemuda dengan wajah tampan itu tampak menatap Arsyilla dengan sendu. Ada rasa tidak terima yang menyelimuti hatinya saat melihat pria yang mendampingi Arsyilla kali itu adalah Ravendra.
Pemuda itu adalah Aksara. Ya, Aksara sudah mengenal Ravendra cukup lama. Sehingga Aksara tahu bahwa pria itu memiliki sepak terjang yang tidak baik. Lantas, Aksara terhenyak saat Ravendra mengenal Arsyilla kepada teman-temannya dan menyebut nama lengkap gadis itu. Aksara mengerjap, dia mengepalkan kedua tangannya saat mendengar nama lengkap Arsyilla disebutkan.
“Arsyilla Kirana Putri Raditya,” gumamnya lirih.
Bagaimana bisa Aksara lupa dengan nama yang selalu dia sebutkan hampir setiap tarikan nafasnya. Satu nama yang membuat Aksara bersikap dingin pada semua teman wanitanya. Sekali pun berkali-kali bertemu wanita cantik, bahkan Ayahnya berniat mengenalkannya dengan anak temannya yang juga seorang Dokter, nyatanya Aksara menolak. Pria itu terlihat enggan untuk mengencani wanita. Dalam hidupnya dan usianya yang sudah 29 tahun, Aksara masih berharap suatu saat bisa kembali dengan Arsyilla.
Kini, Aksara tidak menyangka bahwa Tuhan dengan begitu mudahnya mempertemukannya dengan Arsyilla setelah puluhan tahun berlalu dan Aksara hanya menyebutkan nama Arsyilla dalam doanya.
Melihat Ravendra yang memberikan Orange Juss kepada Arsyilla, sebenarnya Aksara ingin menghentikan aksi itu. Perasaannya menjadi tidak tenang, terlebih Aksara mencurigai bahwa itu Orange Juss yang sudah dicampuri dengan alkohol.
Lantas Aksara menegak sebuah sampanye di hadapannya. Pria itu benar-benar mengepalkan tangannya kali ini. Aksara berjanji dalam hatinya bahwa jika Ravendra macam-macam dengan Arsyilla, maka dia tidak akan segan-segan menghajar Ravendra.
Rupanya usai meminum Orange Juss itu, Arsyilla berjalan dengan terhuyung dan memegangi dadanya. Aksara dalam diam mengikuti Arsyilla. Bahkan pria itu turut menunggu di depan toilet wanita, berjaga-jaga jika terjadi sesuatu dengan gadis itu.
Sekian menit berlalu, akhirnya Arsyilla keluar, tetapi badannya terjatuh begitu saja ke lantai. Aksara dengan sigap membawa Arsyilla. Ya, dia membawa gadis itu dan tanpa berpikir panjang langsung melakukan cek in di tempat itu. Memesan sebuah kamar untuk mereka berdua.
Menyadari bagian kemeja Arsyilla yang basah. Aksara lantas berpikir, jika tidur dengan baju yang basah dan kamar hotel ini ber-AC sudah pasti gadis ini akan masuk angin keesokan harinya. Sehingga terpikirkan sebuah ide dalam kepala Aksara.
__ADS_1
“Kita lakukan segera, Arsyilla … aku tidak akan membiarkan kamu jatuh dalam pelukan Ravendra,” ucapnya.
Setelahnya Aksara mematikan seluruh lampu di dalam kamar hotel itu. Memberanikan hati dan tekadnya dia melepaskan seluruh pakaian yang dikenakan Arsyilla. Aksara menahan nafas dan menggeram, “Maafkan aku, Arsyilla,” ucapnya. Memastikan semua pakaian Arsyilla telah terlepas. Aksara lantas melucuti pakaiannya sendiri. Pria itu benar-benar polos mutlak saat ini. Dia menarik selimut untuk menutupi tubuh keduanya. Kemudian pria itu menggerak-gerakkan telapak tangannya di depan wajah Arsyilla, rupanya si gadis benar-benar terlelap.
Aksara kemudian menyibak untaian rambut Arsyilla, dia menundukkan wajahnya dan kemudian mengigit kecil area leher Arsyilla, membuat tanda merah di leher itu. Aksara kemudian menelan salivanya dengan susah payah, saat dia mengecup tulang selangka Arsyilla, sedikit membuat selimut di area dada gadis itu hingga merosot turun, dan dia kembali menggigit sembulan buah persik yang ranum itu. Beberapa tanda merah, sengaja dia buat di sana. Bukan hanya satu tanda, tetapi beberapa tanda merah dia buat di sana.
Aksara menyadari, dirinya hanya pria biasa yang bisa saja goyah. Apalagi di depannya Arsyilla tak sadarkan diri dan dalam keadaan polos mutlak. Aksara hanya berbaring miring, pria itu tersenyum menatap wajah Arsyilla, membelainya perlahan.
“Kupastikan setelah malam ini aku akan memilikimu, tidak aku biarkan Ravendra berengsek itu memilikimu. Kamu adalah Arsyillaku … Arsyilla hanya untuk Aksara,” ucapnya.
Sekali pun gelombang hasrat menerpa dirinya, tetapi Aksara berusaha menahan keras. Dia hanya mengamati wajah Arsyilla yang tertidur. Bahkan sepanjang malam, mata Aksara benar-benar tak terpejam, dia seakan terpesona dengan wanita yang berbaring di sisinya.
Hingga pagi pun tiba, Arsyilla yang mengerjap dan kemudian tangisannya pecah menyadari dirinya dalam keadaan polos mutlak bersama pria asing.
***
Kini …
“Jadi, maafkan aku, Syilla,” ucapnya kali ini.
“Jadi, saat itu aku dijebak?” tanya Arsyilla.
Aksara kemudian merapikan rambut Arsyilla, menelisipkan rambut itu ke belakang telinga Arsyilla, “Menurutmu kamu dijebak atau terjebak bersamaku malam itu?” tanya Aksara. Tidak menjawab, pria itu justru bertanya seperti itu kepada Arsyilla.
Hingga akhirnya, tangan Arsyilla mengepal dan memukul dada Aksara, “Kamu jahat banget sih, Kak … kamu tidak tahu betapa takutnya aku saat itu. Aku sangat hancur, bukan hanya untuk kesucianku yang hilang, tetapi karena aku menjadi anak yang mencoreng nama baik Papa dan Mamaku,” ucap Arsyilla kali ini. Wanita itu nyatanya justru menangis.
Tidak menyangka, kejadian satu malam itu adalah skenario dari Aksara.
Aksara lantas menyeka air mata di wajah Arsyilla.
“I am so sorry, Syilla … caraku mendapatkanmu memang salah. Sepenuhnya kuakui itu, tetapi perasaan cintaku kepadamu tidak pernah salah.” Aksara mengakui satu fakta itu. Ya, dia cukup gentle mengakui bahwa caranya mendapatkan Arsyilla benar-benar salah, tetapi perasaan cintanya tidak pernah salah untuk Arsyilla.
“Aku tidak akan membiarkanmu jatuh ke pelukan pria tengik itu,” geram Aksara kini.
__ADS_1
“Lalu, noda di sprei itu?” tanya Arsyilla lagi.
Ya, saat itu Arsyilla meyakini bahwa mahkotanya telah terenggut karena noda merah layaknya kelopak bunga di sprei hotel berwarna putih itu.
“Aku sengaja menumpahkan sedikit minuman di malam itu, untuk lebih meyakinkan,” aku Aksara dengan jujur.
Arsyilla lantas menatap tajam Aksara, “Jadi, dulu itu kamu ngeprank aku Kak?” tanyanya kini.
Kepala Aksara mengangguk samar, “Ya, itu adalah prank paling gila yang perlu aku buat dalam hidupku,” ucapnya.
Satu tangan Arsyilla lantas terangkat ke udara dan dia memukuli pria itu, “Kamu tega banget sih Kak … kamu ngeprank gak tanggung-tanggung banget,” ucapnya dengan masih memukuli dada Aksara.
Akan tetapi, lantaran Arsyilla banyak bergerak, selimut yang mencover dadanya pun merosot nyaris menunjukkan buah persiknya yang ranum. Dengan cepat Aksara menarikkan selimut itu, menyelimuti Arsyilla dan segera merengkuh wanita itu dalam pelukannya.
“Maaf … cuma kupikir itu adalah cara supaya aku bisa mendapatkanmu,” ucap Aksara dengan jujur.
Arsyilla diam, memikirkan benarkah hanya dirinya saat itu sesungguhnya dijebak, diprank oleh suaminya sendiri. Arsyilla kemudian menengadahkan wajahnya menatap Aksara, “Kamu jahat, Kak … kamu tega, jangan lakukan seperti itu lagi. Nyaris saja aku ingin melenyapkan diriku sendiri karena takut dengan Mama dan Papa. Bahkan usai itu, hubunganku dengan Papa memburuk. Gadis yang kehilangan mahkotanya benar-benar mengalami penyesalan yang dalam,” ucap Arsyilla kini.
Aksara kemudian mengangguk, “Iya … maaf,” jawabnya lagi.
Setelah itu Aksara merapikan rambut Arsyilla yang berantakan dan mendaratkan kecupan di keningnya, “Makasih Arsyilla … semuanya ini tidak akan sia-sia. Aku akan selalu bersamamu. Aksara hanya untuk Arsyilla,” ucapnya.
“Hmm,” sahut Arsyilla dengan singkat.
“Cuma itu balasanmu?” tanya pria itu.
Arsyilla mengangguk, kemudian dia membaringkan dirinya dan menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya bergelung dalam selimut itu dan memunggungi Aksara.
“Jangan tidur dong, Sayang … ayo, sekali lagi,” ajaknya kali ini.
Sontak Arsyilla memalingkan wajahnya, menatap Aksara dengan mata yang membola sepenuhnya, “Apanya yang sekali lagi Kak?” tanyanya.
Aksara mendekat pada Arsyilla, Arsyilla mengerjap saat merasakan sesuatu yang menegang di bawah sana.
__ADS_1
“Lagi yah … usai ini tidur,” rayunya lagi.
Akan tetapi Arsyilla dengan cepat menggelengkan kepalanya, “No, Kak … aku capek. Perih semua,” keluhnya saat ini.