Aksara Untuk Arsyilla

Aksara Untuk Arsyilla
Rekonsiliasi dengan Ravendra


__ADS_3

Beberapa hari setelahnya, Arsyilla dan Aksara kini berjalan-jalan di sebuah pusat perbelanjaan di Ibukota. Sekadar mengisi waktu bersama dan juga melihat-lihat keramaian. Mungkin lantaran hamil, Arsyilla ingin jalan-jalan dan membeli makanan lezat di salah satu restoran yang berada di pusat perbelanjaan.


“Tumben sih kamu, Honey. Biasanya juga senangnya di unit aja sama aku?” tanya Aksara kali ini kepada Arsyilla.


“Pengen jalan-jalan saja, Kak … sudah berhari-hari di dalam apartemen. Pengen menghirup udara segar,” jawab Arsyilla.


Ya, selama pemulihan dan juga Arsyilla yang mengambil cuti selama sepekan dari kampusnya. Praktis, hanya dihabiskan Arsyilla dengan berada di dalam apartemen. Memulihkan dirinya dan menyembuhkan bekas-bekas luka di wajah, tangan, dan kakinya. Rasanya beberapa hari di apartemen tanpa keluar sama sekali membuat Arsyilla bosan dan ingin berjalan-jalan sebentar.


“Ya sudah … penting jangan kecapekan aja Sayang … inget, ada dedek bayi di dalam perut kamu,” balas Aksara.


Terlihat Arsyilla menganggukkan kepalanya sembari tersenyum menatap Aksara, “Iya Ayah … dedeknya baik dan selalu sehat kok. Lagian beberapa hari cuma rebahan, jadi pengen jalan-jalan deh,” jawab Arsyilla.


Wanita yang tengah berbadan dua itu berjalan sembari sesekali bergelayut manja di tangan suaminya. Rasanya bisa dekat bahkan menempel dengan Aksara membuat Arsyilla justru begitu senang. Arsyilla tampak menghiraukan mata-mata yang terkadang memandangnya aneh, justru Arsyilla berjalan dengan santai sembari melingkarkan satu tangannya di lengan Aksara.


“Tumben kamu jalannya nempel aku kayak gini?” tanya Aksara sembari melirik ke arah Arsyilla.


“Enggak boleh?” tanya Arsyilla.


“Boleh dong … boleh banget malahan. Bumilku manja deh,” sahut Aksara yang tersenyum melirik istrinya itu.


“Aku manja ya Kak?” tanya Arsyilla kemudian.


“Manja tidak apa-apa, Honey. Asalkan manjanya cuma sama aku,” balas Aksara.


Ya, Aksara sama sekali tidak mempermasalahkan dengan istrinya yang terlihat manja dengannya. Justru Aksara merasa senang bisa memanjakan istrinya itu. Terlebih Aksara membaca artikel di mesin pencarian bahwa hormon kehamilan bisa membuat seorang wanita hamil menjadi lebih manja. Sehingga, Aksara pun tidak masalah dan tidak keberatan dengan istrinya yang menjadi lebih manja.


“Cuma kalau terlalu manja kan malu juga Kak,” sahut Arsyilla.


“Enggak apa-apa. Aku juga tidak keberatan kok manjain kamu,” balas Aksara.

__ADS_1


Pria itu menegaskan bahwa dirinya tidak keberatan juga untuk memanjakan Arsyilla. Terlebih sekarang ada buah hatinya di dalam rahim Arsyilla, sehingga lebih memanjakan sang istri tidak masalah.


“Kamu mau makan apa?” tanya Aksara kemudian kepada istrinya itu.


“Kelihatannya Bebek Peking enak deh Kak … mau dong,” jawab Arsyilla yang menunjuk sebuah restoran yang menjual Bebek Peking.


Restoran Bebek yang cukup terkenal itu memang memiliki menu khas yaitu Bebek Peking. Terasa begitu menggiurkan bisa memakan Bebek Peking itu.


“Ya sudah yuk … kita makan apa yang diinginkan Bumil,” balas Aksara.


Keduanya lantas memasuki restoran itu dan memesan Bebek Peking untuk keduanya. Saat mereka menunggu pesanan mereka disajikan, terlihat seorang pria yang baru saja memasuki restoran itu dengan wanita paruh baya.


“Ma, Mama tunggu di sini dulu yah … Vendra nyamperin mereka dulu,” ucap Ravendra.


Ya, rupanya yang juga sedang berjalan-jalan di pusat perbelanjaan itu dengan Mamanya, Sandra. Pemuda itu tampak meminta izin untuk menemui Aksara dan Arsyilla terlebih dahulu.


“Dia kan Aksara, anaknya Kanaya,” balas Mama Sandra.


Ravendra pun berjalan dan menghampiri tempat duduk Aksara dan Arsyilla.


“Hei, kalian berdua di sini?” sapa Ravendra kepada Aksara dan Arsyilla.


“Oh, hei … lo di sini juga?” tanya Aksara.


Pemandangan yang membingungkan bagi Arsyilla karena baru kali ini dirinya melihat keakraban suaminya dengan mantan pacarnya dulu itu. Dua pria yang selalu berseteru akhirnya kini justru terlihat akrab.


“Iya … baru jalan-jalan sama Nyokap.” Ravendra menjawab sembari menunjuk Mamanya yang duduk tidak jauh dari tempat Aksara dan Arsyilla sekarang ini.


Melihat bahwa Arsyilla yang masih tampak bingung, Aksara kemudian menatap wajah istrinya dan kemudian menggenggam tangan istrinya itu.

__ADS_1


“Dia memang Vendra … dia turut menolongmu saat kamu disekap Tiara dan Bagas dulu,” ucap Aksara. Sebatas ingin memberitahu bahwa Ravendra turut menolongnya di saat penyekapan itu.


“Bagaimana bisa?” tanya Arsyilla dengan lirih.


“Aku waktu itu lihat kamu di dalam pusat perbelanjaan Ar … aku yang membuntuti mobil kamu saat Bagas membawamu. Terus aku mengirimkan lokasimu ke Aksara,” cerita Ravendra kemudian kepada Arsyilla.


Terlihat helaan nafas dari Arsyilla, kemudian wanita itu melirik sekilas ke Ravendra, “Tetapi kamu tidak terlibat bukan?” tanya Arsyilla kemudian.


Bukan perkara percaya dan tidak percaya, hanya saja pengalaman buruk di masa lalu membuat Arsyilla tidak mudah percaya kepada Ravendra. Terlebih Ravendra pun pernah melecehkannya, sehingga Arsyilla ingin mencari kebenaran yang sesungguhnya.


“Aku enggak terlibat sama sekali, Ar. Justru aku tidak ingin bersinggungan dengan hukum lagi,” aku Ravendra kali ini.


“Namun, dulu … kamu bukannya mengancam akan menghancurkan hidupku? Waktu kita ketemu di hotel dulu,” sahut Arsyilla.


Bagaimana pun masih ada kenangan di dalam otaknya ketika Ravendra mengatakan akan menghancurkan hidupnya. Untuk itu, Arsyilla pun menanyakan hal demikian kepada Ravendra.


“Aku tidak sungguh-sungguh mengatakannya Arsyilla. Aku ingin bertobat. Aku ingin melupakan semua dendam yang ada di antara kita berdua,” ucap Ravendra kali ini.


Sementara itu, Arsyilla tampak berpikir benarkah Ravendra memang telah melupakan semua dendamnya? Mungkinkah memang semudah itu melepaskan dendam?


“Aku berkata jujur Arsyilla … apa pun itu kisah masa lalu biarkanlah menjadi masa lalu. Yang pasti aku menganggap bahwa sudah tidak ada masalah antara kita. Maafkan untuk kesalahanku dulu dan aku berdoa kamu dengan Aksara akan hidup bahagia,” ucap Ravendra lagi.


Sebenarnya Arsyilla juga merasa begitu lega. Terlebih saat mengetahui bahwa Ravendra tidak lagi menyimpan dendam dengannya. Terlihat Aksara menganggukkan kepalanya, mengisyaratkan supaya Arsyilla percaya dan bisa berdamai dengan Ravendra.


“Makasih Ven … maafkan aku juga,” balas Arsyilla pada akhirnya.


Arsyilla pun menyadari bahwa sebenarnya dirinya juga bersalah. Petaka satu malam yang ternyata sebuah prank yang dilakukan Aksara membuat Arsyilla bersikukuh untuk putus dari Ravendra. Meninggalkan pria itu. Sekalipun keduanya putus dengan cara yang tidak baik-baik. Akan tetapi, Arsyilla tetap meminta maaf juga.


“Iya … ya sudah, bahagia ya kalian berdua. Gue duluan ya Aksara,” pamit Ravendra kemudian.

__ADS_1


Melepaskan dendam di dalam hati, bisa saling terbuka untuk memaafkan membuat hati terasa begitu lega. Arsyilla berharap bahwa Ravendra memang tidak terlibat dalam petaka yang dibuat Tiara dan Bagas. Semoga saja dendam itu benar-benar telah hilang di dalam hati Ravendra.


__ADS_2