Aksara Untuk Arsyilla

Aksara Untuk Arsyilla
Menyambut Semester Baru


__ADS_3

Setelah menikmati hari libur semester yang cukup panjang, hari ini Arsyilla akan kembali bersiap untuk mengajar di kampus. Semester baru, jadwal mengajar mata kuliah yang baru, sekaligus ini adalah dirinya masuk perdana usai merayakan resepsi pernikahannya yang begitu mewah dan megah bersama dengan Aksara.


Sejak pagi, Arsyilla sudah bersiap untuk membersihkan dirinya, selanjutnya dia segera menuju ke dapur membuatkan sarapan untuk suaminya itu. Hanya sekadar Sup Sayuran dan Tempe Goreng yang dibuat Arsyilla untuk sarapan pagi itu.


Aroma sup yang begitu lezat seakan menguar dan memenuhi seisi dapur, mungkin sampai tercium juga oleh Aksara yang belum keluar dari kamarnya. Merasa sudah waktunya sarapan, dan Aksara masih belum keluar. Arsyilla berjalan menuju kamarnya, untuk memanggil suaminya itu.


“Kak, ayo sarapan,” ajaknya kali ini.


Pria yang sedang berdiri di depan cermin rias, tengah menyemprotkan parfum di badannya dan memakai arloji di pergelangan tangannya itu menoleh ke arah istrinya yang sudah siap dengan pakaian mengajarnya.


“Sebentar,” balas Aksara sembari menata rambutnya dengan menggunakan sebuah sisir kecil.


Persiapan Aksara kali ini tak luput dari mata Arsyilla. Pria itu terlihat mempesona ketika tengah bersiap seperti itu. Hanya sebatas menatap suaminya saja, dada Arsyilla sudah bergemuruh riuh.


Membuang sendiri pikirannya, Arsyilla memilih untuk menuju ke dapur terlebih dahulu. Menyajikan semuanya di atas meja makan. Kemudian Arsyilla memilih duduk dan menunggu suaminya itu. Tidak berselang lama, Aksara telah keluar dari kamarnya aroma maskulin berupa Sandal Wood yang segar dan menenangkan menguar begitu saja. Membuat Arsyilla menghirupi aroma parfum favoritnya itu.


Aksara tersenyum menatap istrinya, dan menundukkan wajahnya memberikan kecupan selamat pagi untuk istrinya.


“Pagi, Honey,” sapanya kali ini.


“Hmm, Pagi Kak,” balas Arsyilla sembari melirik sekilas ke arah suaminya.


“Kamu kenapa lihatin aku sampai segitunya?” balas Aksara kali ini.


Dengan cepat Arsyilla menggelengkan kepalanya, “Jangan cakep-cakep dan pakai parfumnya dikit aja Kak … aku gak mau kalau cewek-cewek di Jaya Corp terpesona sama kamu,” ucap Arsyilla kali ini.


Senyuman terbit begitu saja di sudut bibir Aksara, “Kamu cemburu? Jadi, mending aku kalau kerja kucel aja nih?” tanyanya.

__ADS_1


“Ya enggak kucel juga, cuma … ini terlalu berlebihan gak sih?” tanya Arsyilla kali ini.


“Berlebihan gimana?” tanya Aksara. “Padahal, setiap kerja aku ya seperti ini loh, Honey … cuma pakai kemeja, jeans, sepatu, udah ….”


Memang benar, Aksara setiap hari bekerja hanya mengenakan kemeja, celana jeans, dan sepatu saja. Akan tetapi, kenapa kali ini Arsyilla merasa berbeda dan cukup was-was jika ada wanita genit di luar sana yang menggoda suaminya itu.


“Ya udah deh … penting jangan macem-macem waktu kerja. Awas kalau macem-macem,” ancam Arsyilla kali ini.


“Enggak ada ceritanya aku macem-macem. Aku selalu menjaga hati dan tubuh aku cuma buat kamu,” balas Aksara.


Keduanya pun lantas menikmati sarapan yang sudah dibuat Arsyilla itu sembari membingkai pagi dengan obrolan-obrolan seputar pekerjaan Aksara di Jaya Corp dan pekerjaan Arsyilla sebagai Dosen.


“Semester baru ya Honey, kali ini akan mengajar mahasiswa semester berapa?” tanya Aksara.


“Aku semester ini minta pengurangan jam mengajar aja. Kak … Officially, aku hanya mengajar di hari Senin dan Selasa saja. Selebihnya aku libu di rumah. Hari ini mengajar mahasiswa tingkat I sih. Mahasiswa baru,” balas Arsyilla.


“Iya … aku sengaja mengurangi jadwal supaya tidak kelelahan, soalnya kita mau punya dedek kan?” respons Arsyilla sembari menatap wajah suaminya.


“Iya, enggak apa-apa. Yang penting sekalipun di rumah, jangan kecapekan saja. Tidak harus semua pekerjaan rumah tangga kamu kerjakan. Beri waktu untuk beristirahat dan baca-baca buku untuk mengedukasi diri menjadi orang tua,” sahut Aksara kali ini.


Arsyilla pun menganggukkan kepalanya, terasa begitu senang karena suaminya itu sangat pengertian dan juga sangat mendukungnya. Rasanya Arsyilla benar-benar bahagia memiliki Aksara sebagai suaminya. Bahkan kali ini Arsyilla memiliki penilaian bahwa suaminya itu memiliki karakter mirip dengan Papanya.


“Kak, karena jadwal mengajarku berkurang … ada dampaknya loh. Dampaknya ya gajiku tidak akan sebesar dulu. Jadi, tidak apa-apa kan?” tanya Arsyilla kali ini.


Aksara pun menggenggam tangan istrinya itu, “Tidak masalah Honey, untuk finansial aku bisa mencukupi semuanya. Yang penting kamu bisa tulus menerima dan menjalani ini. Setiap keputusan yang kita ambil pasti ada konsekuensinya kan? Jadi, kalau aku tidak masalah. Justru aku berterima kasih karena kamu mau mengurangi jam mengajarmu untuk memprioritaskan rencana kita berdua,” ucap Aksara dengan sungguh-sungguh.


Masalah finansial, Aksara sama sekali tidak mempermasalahkannya. Dirinya mampu untuk mencukupi semua kebutuhan finansial istrinya. Bahkan tabungannya pun begitu besar karena pria itu rajin menabung dan bekerja dari usia muda.

__ADS_1


“Ya sudah … aku lega. Semoga saja tidak lama lagi, segera ada baby di dalam sini,” sahut Arsyilla sembari mengusapi perutnya.


“Amin, semoga Allah dengar doa kita,” balas Aksara.


Setelah menikmati sarapan, Aksara lantas mengantar istrinya terlebih dahulu ke Fakultas Teknik Arsitektur, di salah satu universitas terkemuka di Jakarta. Jika biasanya mereka kucing-kucingan karena takut akan terpergok. Kali ini justru Aksara menurunkan istrinya di depan pintu masuk gedung fakultas.


“Hati-hati yah mengajarnya … nanti aku jemput. I Love U, Honey,” ucap Aksara kali ini.


Arsyilla pun mencium punggung tangan suaminya itu, “Selamat bekerja juga ya Kak … I Love U too, Hubby,” balas Arsyilla.


Lantas Arsyilla pun segera turun dari mobil suaminya, wanita itu tersenyum dan melambaikan tangannya. Menunggu hingga mobil suaminya itu perlahan menjauh keluar dari area Fakultas Teknik Arsitektur.


“Wah, pengantin baru masih mesra-mesranya ya Bu Arsyilla.” Sebuah suara tampak mengalihkan atensi Arsyilla kali ini.


Siapa lagi jika bukan Pak Bagas yang rupanya pagi itu juga ada jam mengajar di kampus.


Arsyilla pun memberikan anggukan kecil, “Iya Pak,” balasnya singkat.


“Menikahi mahasiswa sendiri rasanya gimana Bu Arsyilla?” tanya Pak Bagas lagi.


Arsyilla mengangkat wajahnya guna sedikit melirik ke arah Pak Bagas, “Alumnus, Pak … lebih tepatnya dia sudah bukan lagi mahasiswa tetapi adalah alumnus di kampus ini,” jawab Arsyilla.


Setidaknya Arsyilla ingin menegaskan bahwa Aksara kini bukan mahasiswa. Status keduanya sudah berbeda sekarang. Aksara adalah alumnus di fakultas tersebut.


Mendengar jawaban Arsyilla, Pak Bagas pun tersenyum kecut dan melenggang terlebih dahulu meninggalkan Arsyilla.


Sementara Arsyilla memilih berjalan dengan santai dan memasuki ruangan dosennya. Biarlah bagaimana anggapan rekan-rekan dosennya yang mencibir atau justru menggosipkannya karena dirinya menikahi mahasiswanya sendiri dulu. Semua tindakan ada risikonya dan kali ini Arsyilla akan menghadapinya. Perkara nyaris diberhentikan sebagai Dosen saja bisa Arsyilla hadapi, terlebih dengan omongan dan cibiran dari orang-orang, Arsyilla lebih kuat dan bisa menahan semuanya.

__ADS_1


__ADS_2