Aksara Untuk Arsyilla

Aksara Untuk Arsyilla
Parents To Be


__ADS_3

Sekadar melakukan medical check up saja Aksara dan Arsyilla rasanya begitu bahagia. Pasangan muda-mudi itu terlihat kembali ke unit apartemennya dengan perasaan lega. Keduanya dalam keadaan yang sama-sama sehat dan siap untuk memiliki buah hati. Secara usia, mental, dan finansial keduanya sudah sama-sama siap.


“Jadi sudah siap menjadi orang tua?” tanya Aksara kini kepada istrinya.


“Siap tidak siap harus siap sih Kak … gak mungkin kita berdua seperti ini terus. Ada kalanya kita akan benar-benar mengharapkan buah hati yang akan semakin menyemarakkan kehidupan rumah tangga kita berdua,” sahut Arsyilla.


Aksara pun merespons dengan memberikan anggukan, “Benar Sayang … dulu aku memintamu menunda, bukan karena aku ingin menikmati momen sebagai pengantin baru. Hanya saja, dulu aku masih menjadi mahasiswa dan skripsi. Sekarang, aku bisa sepenuhnya fokus ke kamu dan calon buah hati kita nanti. Aku juga sudah ingin menjadi seorang Ayah,” balas Aksara kini.


“Iya Kak … tidak apa-apa. Lagian setiap pasangan suami istri kan punya pertimbangan sendiri-sendiri. Ada yang usai nikah langsung memiliki anak, ada pula yang menundanya. Semuanya wajar dan sesuai dengan perencanaan masing-masing pasangan,” balas Arsyilla.


Sekalipun anak adalah karunia dari Sang Pencipta, hanya saja ada beberapa orang yang membuat perencanaan dan pertimbangan sendiri-sendiri. Sama halnya dengan Aksara dulu yang masih mempertimbangkan dirinya masih menjadi seorang mahasiswa dan hendak mengerjakan skripsi. Sehingga Aksara memang meminta kepada Arsyilla untuk menunda terlebih dahulu. Kini setelah dirinya selesai dengan pendidikannya, Aksara pun mulai serius untuk memiliki buah hati bersama Arsyilla.


“Dulu Mama dan Papa juga menunda kok Kak,” ucap Arsyilla kali ini.


“Serius Honey, karena apa Mama dan Papa kok malahan menunda?” tanya Aksara kali ini.


“Ceritanya Mama tuh, dulu Mama mendapatkan beasiswa S2 di Manchester. Terus Papa nyusulin Mama ke sana. Mereka berpikir tinggal di luar negeri, di apartemen yang cuma satu petak, terus tidak ada keluarga sama sekali tentu akan susah untuk memiliki anak. Terlebih Mama dan Papa masih sangat awam, sehingga selama dua tahun Mama dan Papa menunda punya anak. Setelah kuliah Mama selesai dan kembali ke Jakarta, baru deh Mama hamil,” cerita Arsyilla kepada suaminya itu.


Aksara mendengarkan cerita dari Arsyilla dengan sepenuh hati. Dia juga tidak mengira jika Mama dan Papa mertuanya menunda untuk memiliki momongan terlebih dahulu.


“Kalau Mama dan Papa tidak menunda punya anak, kamu mungkin hampir seusia denganku dan malahan mungkin kita enggak ketemu, Sayang,” balas Aksara kali ini.


“Ya belum tahu juga Kak … jodoh, maut, dan rezeki kan Allah yang mengatur. Aku saja sama sekali tidak mengira bisa menikah denganmu. Pria asing yang ternyata adalah sosok Kakak bagiku sejak kecil,” aku Arsyilla kali ini.


Perlahan Aksara pun tersenyum mendengar ucapan istrinya itu. “Benar Sayang … semuanya sudah dalam pengaturan Allah. Hanya saja, tetap ada usaha manusia kan? Jadi, ya semua ini terjadi karena Allah yang sudah mengaturnya,” balas Aksara.


“Iya … jadi sekarang kita serius untuk program hamil ya Kak? Jaga kesehatan Kak, karena kamu harus sehat juga,” ucap Arsyilla yang terdengar seakan menggoda suaminya itu.


“Aku selalu sehat, Honey … kamu tidak tahu kalau aku selalu makan sehat dan berolahraga. Sudah pasti kualitas terjamin,” sahut Aksara kali ini.

__ADS_1


Arsyilla nyatanya justru terkekeh geli dengan jawaban dari suaminya. Jawaban yang terkesan lebay, tetapi selalu berhasil membuatnya tertawa. Sikap dan guyonan dari Aksara seperti ini yang membuatnya betah berduaan dengan Aksara dengan tinggal di unit apartemen ini.


“Aku sebenarnya takut menjadi orang tua sih Kak … tanggung jawabnya besar. Bukan sekadar melahirkan dan membesarkan anak saja. Namun, harus jadi figur teladan untuk anak itu yang susah,” ucap Arsyilla kali ini.


“Tidak ada orang tua yang sempurna, Honey … masing-masing orang tua memiliki pedomannya masing-masing. Hanya saja, kita bisa kok sama-sama belajar dan menjadi teladan yang baik untuk anak-anak kita. Aku yakin, kamu akan menjadi Ibu yang baik,” jelas Aksara.


Hati Arsyilla rasanya begitu menghangat saat Aksara mengatakan bahwa dirinya akan menjadi Ibu yang baik. Sebuah ucapan dan doa tentunya, karena Arsyilla sendiri juga sayang ingin menjadi seorang Ibu yang baik bagi anak-anaknya kelak.


“Iya Kak … kita belajar bersama-sama. Kamu juga akan menjadi Ayah yang baik bagi anak-anak kita,” balas Arsyilla.


Perlahan Aksara pun menganggukkan kepalanya, “Iya Honey … semoga tidak lama lagi akan ada suara tangisan bayi yang menyempurnakan rumah tangga kita yah … ada Syilla atau Aksara Junior,” balas Aksara.


Arsyilla tersenyum membayangkan bagaimana lucunya anak-anak mereka kelak. Anak-anak yang akan mewarisi semua hal tentang dirinya dan Aksara.


“Kamu mau punya anak laki-laki atau perempuan, Kak?” tanya Arsyilla kali ini.


Lagi-lagi mendengar ucapan Aksara, Arsyilla justru tertawa tidak mengira ternyata suaminya itu masih mengingat dirinya waktu kecil dulu. Padahal itu sudah begitu lama berlalu.


“Ah, kamu ini … emang kamu ingat aku waktu kecil dulu?” tanya Arsyilla.


“Iya … inget dong. Kamu secantik dan manis kayak gini, mana mungkin aku lupa. Bahkan dulu, aku pernah berdoa kepada Tuhan. Waktu Bunda hamil Rangga, dalam diam aku berdoa kepada Tuhan semoga bayi yang dikandung Bunda itu cowok, jadi adik cewek bagiku tetap hanya kamu,” cerita Aksara kini kepada istrinya.


“Tuh, nakal kan … padahal kalau jodoh, bagaimana caranya kita tetap bertemu kok Kak. Lagian punya adik cewek kan gak apa-apa,” balas Arsyilla.


“Enggak Honey, bagiku adik cewek yang paling kusayangi ya cuma kamu. Arsyillanya Aksara. Tidak ada yang lain,” balas Aksara dengan yakin.


“Rupanya Tuhan dengar doa kamu, dan adik kamu pun cowok loh Kak … tetapi kamu menyayanginya kan?” tanya Arsyilla.


Aksara tampak diam dan memikirkan sesuatu. Hingga sampai pada akhirnya, pria itu menganggukkan kepalanya secara samar, “Iya, sayanglah sama dia. Bisa punya temen main. Hanya saja selisih usia hampir 8 tahun, jadinya Rangga malahan recokin aku,” balas Aksara kini.

__ADS_1


Sebab, persaudaraan kandung bukan sebatas tentang saling menyayangi, tetapi ada juga konflik dan berbagai kisah yang menyertainya. Sama seperti Aksara yang beberapa saat justru menganggap Rangga merecokinnya.


“Sabar … besok kalau mau jadi Ayah yang lebih sabar. Ayah Bisma tuh kelihatan kalau sabar banget. Semoga kamu bisa sabar seperti Ayah Bisma,” harapan Arsyilla kali ini untuk suaminya.


Aksara pun tertawa mendengar istrinya yang menilai Ayahnya adalah sosok yang sabar. “Iya sih … Ayah Bisma itu sabar banget. Bahkan saat Rangga melakukan kesalahan di SMA, Ayah Bisma bisa menerima dan menghadapinya dengan kepala dingin,” jelas Aksara kali ini.


Kisah-kisah dari kedua orang tua mereka agaknya memotivasi mereka untuk menjadi orang tua yang baik bagi anak-anaknya nanti. Mengambil yang baik dan menerapkannya, dan juga membuang hal-hal yang buruk.


“Kamu pun akan menjadi pria yang sabar dan penyayang. Masalah anak-anak kita mungkin nanti akan berbeda dengan kamu atau pun Rangga zaman dulu. Akan tetapi, kita bisa mempersiapkan untuk mengelola masalah dan mencari jalan keluarnya,” balas Arsyilla.


“Iya benar, Honey … tidak apa-apa. Yang penting kita siap sejak sekarang. Aku dan kamu sudah sama-sama siap untuk memiliki buah hati. Tinggal usaha dan berdoa, Honey.” sahut Aksara.


“Iya Kak … semoga saja tidak lama lagi,” balas Arsyilla.


Aksara lantas menatap wajah istrinya itu dengan sorot mata yang berbeda, tangannya bergerak dan menelisipkan untaian rambut Arsyilla ke belakang telinganya.


“Kamu capek tidak malam ini, Honey?” tanya Aksara dengan tiba-tiba.


“Hmm, kenapa Kak?” tanya Arsyilla.


“Usaha sekarang yuk … makin cepat makin bagus. Bisa masukin kamu tanpa ada gesekan dengan plastik,” ucap Aksara dengan frontal.


Refleks, Arsyilla memukul lengan suaminya itu. “Isshss, bicaranya itu loh … horor banget,” balas Arsyilla.


“Yuk, Honey … InsyaAllah usaha tidak akan mengkhianati hasil. Kita usaha maksimal, pasti nanti ada benih-benih cinta kita yang bersemi di dalam rahimmu,” balas Aksara.


Pria itu seakan otaknya laksana bola lampu pijar yang bisa dengan mudah mencari cara untuk bisa menyatu dengan istrinya. Sementara Arsyilla hanya bisa menatap horor kepada suaminya itu.


Happy Reading ^_^

__ADS_1


__ADS_2