
Situasi di keluarga besar Pradhana sudah kondusif. Masalah penyerangan Alice pun benar-benar dilaporkan Ayah Bisma ke pihak berwajib. Tepat seperti dugaan Ayah Bisma dan Arsyilla bahwa Alice mengalami gangguan jiwa. Untuk itu, wanita itu harus mengalami rehabilitasi untuk menyembuhkan gangguan jiwa yang dia alami.
Sementara bulan yang sudah berlalu, tidak mengira bahwa Arsyilla menerima sebuah pesan dari teman lamanya yaitu Medhina. Medhina adalah anak Om Dimas dan Aunty Metta. Bagi Arsyilla, Medhina sudah seperti saudaranya sendiri, dulu mereka sering bermain bersama. Hubungan keluarga Om Dimas dengan kedua orang tuanya juga sangat baik. Persahabatan yang justru terasa seperti keluarga.
Arsyilla cukup bingung, karena setelah dewasa dirinya memang jarang bertemu lagi dengan Medhina, hanya bertemu di acara tujuh bulan kehamilannya dulu, dan sekarang rupanya Medhina mengirimkan pesan kepada Arsyilla.
[To: Arsyilla]
[Syilla, apakah kamu memiliki waktu?]
[Aku ingin sedikit bercerita. Euhm, tepatnya meminta pertimbanganmu.]
[Sebelum hari Sabtu, bisakah bertemu sebentar?]
Tidak langsung menjawab, tetapi Arsyilla akan menunjukkan pesan itu kepada suaminya dan sekaligus meminta izin kepada suaminya untuk bisa menemui Medhina untuk sebentar saja. Jika Medhina sampai mengirimkan pesan, itu berarti ada sesuatu yang penting. Untuk itu, Arsyilla berniat untuk menemui sahabatnya untuk sesaat.
“Kak, aku mau izin sebentar boleh?” tanya Arsyilla kepada suaminya itu.
“Mau kemana Honey? Tumben banget sih,” tanya Aksara yang juga merasa tumben-tumbenan istrinya itu meminta izin. Biasanya bahkan Arsyilla hanya mengajar dan di rumah saja. Tidak pernah keluar-luar sendirian.
“Ini Kak … Medhina, anaknya Om Dimas dan Aunty Metta ngajak aku ketemuan. Boleh enggak? Kami sudah berteman sejak kecil sih, Kak … ada yang mau diceritakan,” ungkap Arsyilla kepada suaminya.
Aksara pun menganggukkan kepalanya, “Boleh saja … penting hati-hati. Mau aku antar aku gimana?” tawar Aksara kepada istrinya.
“Bawa mobil sendiri boleh Kak? Janji, aku gak akan lama-lama, paling ngobrol di coffee shop aja sih Kak … aku bawa Ara juga enggak apa-apa kok,” balasnya.
__ADS_1
Sungguh, Aksara sampai tersenyum dalam hati mendengar istrinya itu, “Pergi saja tidak apa-apa Honey … biar aku sama Ara di rumah. Penting Bunda hati-hati saja. Gak usah terburu-buru, kamu juga butuh waktu untuk dirimu. Rileks saja Honey,” balas Aksara.
Aksara pun ingin memberikan waktu bagi Arsyilla. Lagipula dia pernah bertemu Om Dimas, Aunty Metta, dan juga Medhina di acara syukurin tujuh bulanan kehamilan, jadi Aksara percaya pada istrinya. Selebihnya memang sekian bulan di rumah, Arsyilla untuk membutuhkan waktu untuk dirinya sendiri. Oleh karena itulah, Aksara tidak mempermasalahkan. Asalkan istrinya berhati-hati, urusan Ara bisa dia handle dengan baik.
"Makasih banget Ayah, nanti kalau aku pulang, aku beliin oleh-oleh buat Ayah," balas Arsyilla.
Kemudian Aksara pun tersenyum, "Oleh-olehnya kamu saja Honey, dikasih yang mantap jiwa," balas Aksara.
Arsyilla hanya tertawa saja mendengar ucapan suaminya itu. Untuk urusan permodusan, suaminya itu memang nomor satu.
***
Menjelang Akhir Pekan ….
Dengan membawa mobil sendiri, Arsyilla kini menelusuri jalanan di Ibukota dan dirinya hendak menemui sahabatnya yaitu Medhina. Terlebih waktu yang diberikan suaminya, sehingga akan dia manfaatkan dengan baik.
Di dalam Coffeeshop itu, sudah terlihat Medhina yang terlebih dahulu tiba di saat. Arsyilla pun segera menghampiri tempat duduk sahabatnya itu.
"Hei, Dhin … sudah lama?" tanyanya.
"Lumayan, sendirian saja? Si Princess Aurora mana?" tanya Medhina.
"Di rumah me time Si Princess sama Ayahnya," balas Arsyilla dengan terkekeh geli.
"Pesan aja Syilla, kamu mau minum apa?" tawar Medhina kepada Arsyilla.
__ADS_1
Lantaran tidak meminum Coffee, Arsyilla pun memilih memesan Es Cokelat saja. Sudah segar meminum Cokelat Strawberry di sore hari.
Banyak yang mereka bicarakan, sampai akhirnya Arsyilla pun bertanya apa yang hendak diceritakan oleh Medhina itu.
"Jadi, gimana Dhin? Ada apa, tumben sih ngajak ketemuan. Biasanya juga jarang banget ketemu," ucap Arsyilla.
"Cowok aku pergi ke London, Inggris, Syilla … dia kuliah S2 di sana," jawab Medhina dengan tertunduk lesu.
Arsyilla menghela nafas dan mencoba mendengar cerita dari sahabatnya itu. "Jadi, kalian Long Distance Relationship?" tanyanya.
Ada gelengan samar dari Medhina, "Kurang tahu juga. Sudah sebulan, dan tidak ada kabar darinya. Namanya Andreas, putra pemilik Saputra Grup, pemilik sejumlah hotel berbintang di Indonesia. Dia ke Inggris untuk menyelesaikan S2," cerita Medhina dengan menundukkan wajahnya.
Ah, rupanya Medhina meminta untuk bertemu karena kekasihnya yang telah pergi ke London, Inggris. Arsyilla tahu, tidak mudah menjalani hubungan jarak jauh. Terlebih sekarang, sudah sebulan tidak ada komunikasi.
"Sabar Dhina … kalau jodoh pasti bertemu," ucap Arsyilla.
Tampak Medhina men de-sah pasrah, "Cuma, kami gak bisa bersatu, Syilla. Bunda dan Ayah rencananya mau menjodohkanku. Baru sebatas rencana sih. Cuma enggak tahu nanti," balas Medhina.
"Dengan siapa, Dhina?" tanya Arsyilla.
"Kurang tahu, aku bahkan tidak mengenalnya. Hanya saja, Bunda dan Ayah bilang karena dia adalah pria yang baik," balas Medhina.
Rasanya wajah Medhina kian sendu. Kekasih yang pergi begitu saja ke London, dan juga wacana dari Ayah dan Bundanya untuk mengenalkannya dengan pria lain.
Arsyilla begitu simpati dengan sahabatnya itu. Walau sekarang setelah dewasa mereka juga tidak jarang bertemu, tetapi bagaimanapun mereka dekat secara hati.
__ADS_1
"Sabar ya Dhina … aku cuma bisa mendengarkan dan berdoa untuk kebahagiaanmu," balas Arsyilla.
Mungkin dengan sedikit bersabar, semuanya bisa berjalan dengan baik. Hanya saja yang Arsyilla harapkan adalah sahabatnya itu akan tetap mendapatkan kebahagiaannya. Bisa saja, pria yang akan dikenakan Om Dimas dan Aunty Metta memang adalah seorang pria yang baik dan bisa membahagiakan Medhina.