
Usai pernikahan itu juga, Aksara akan memboyong Arsyilla untuk hidup bersama dengannya di apartemen miliknya.
Arsyilla yang sudah melepaskan kebayanya dan berganti begitu saja dengan celana panjang dan kemeja, tampak mengamati kamarnya. Kamar yang sudah dia tempati puluhan tahun, harus dia tinggalkan saat ini juga. Akan tetapi, kali ini Arsyilla cukup mengemas barang dengan satu koper. Sebab pikirnya, dirinya yang masih tinggal satu kota akan bolak-balik ke rumah orang tuanya.
“Papa, Mama … Aksara mohon izin untuk membawa Arsyilla tinggal bersama Aksara dan memulai hidup baru,” ucapnya yang meminta izin kepada Papa Radit dan Mama Khaira untuk memboyong sang putri dan memulai hidup baru bersama dengan dirinya.
Papa Radit pun mengangguk, “Silakan, kamu boleh membawa Arsyilla untuk hidup dan tinggal bersamamu. Kami tidak akan menghalangimu karena sekarang Arsyilla sudah menjadi hakmu, hanya saja sebagai orang tua, kami tentu tidak akan membiarkan Arsyilla begitu saja,” ucap Papa Radit dengan menatap sosok menantu yang juga belum sepenuhnya dia kenal itu.
“Baik Pa, Aksara akan menjaga Istri dengan sebaik mungkin,” jawabnya yang juga terlihat sangat serius kali ini.
Aksara tahu bahwa dia sekarang bertanggung jawab penuh atas Istrinya, dan sekaligus dia ingin menunjukkan bahwa apa pun yang terjadi dia akan menjaga istrinya itu.
Papa Radit, Mama Khaira, dan Arshaka tampak berkumpul di depan gerbang rumah mereka. Melepaskan Arsyilla yang sekaligus akan hidup bersama dengan suaminya.
“Hati-hati, Sayang …” Khaira berbicara sembari memeluk putrinya itu.
“Hati-hati, Syilla,” ucap Papa Radit.
“Hati-hati, Kak,” ucap Arshaka yang juga turut memeluk kakaknya itu.
Arsyilla pun mengangguk dan meneteskan air matanya, “Syilla masih diterima di rumah ini kan Pa, Ma? Syilla masih boleh mengunjungi Papa dan Mama kan?” tanya Arsyilla dengan terisak. Berat rasanya untuk keluar dari rumah kedua orang tuanya.
Perlahan Papa Radit dan Mama Khaira pun mengangguk, “Tentu, sekalipun anak perempuan akan menjadi tamu di rumahnya sendiri usai pernikahan, tetapi di dalam hati kami, kamu tetap putri kami yang berharga. Putri yang kami sayangi. Sering-sering tengok Mama dan Papamu ini,” ucap Khaira yang lagi-lagi memeluk putrinya itu.
“Aksa, Papa titipkan putri Papa kepadamu, jangan sakiti hatinya.” Papa Radit kembali berbicara dan menatap wajah menantunya itu.
“Baik, Pa.” Aksara menjawab dengan sepenuh hati.
Setelahnya ketiganya melambaikan tangannya kepada Arsyilla, menunggu hingga Mobil Mercedes putih itu berlalu dari pandangannya. Mama Khaira pun menangis haru dengan menaruh kepalanya di bahu suaminya. Sekalipun masih berada di dalam satu kota, tetapi semuanya tidak lagi sama. Putrinya sudah menjadi istri pria lain.
***
Beberapa saat berkendara, kini Aksara dan Arsyilla telah tiba di apartemen milik Aksara. Tinggal di lantai 15 dari sebuah apartemen, tentu akan mendapatkan view Ibukota yang indah dan penuh kerlap-kerlip lampunya.
__ADS_1
Pria itu mengeluarkan koper milik Arsyilla dan membawanya menaiki lift yang akan membawanya menuju unitnya di lantai 15.
“Kamu hanya membawa satu koper?” tanya Aksara perlahan.
“Iya,” sahut Arsyilla dengan begitu cepat.
Aksara masih diam, berusaha tidak tersulut emosi dengan suara istrinya yang terdengar ketus di indera pendengarannya itu.
Begitu sudah sampai di dalam unitnya, Aksara mempersilakan Arsyilla untuk masuk.
“Masuklah, mulai hari ini … apartemen ini akan menjadi tempat tinggal kita,” ucapnya sembari menaruh koper milik Arsyilla di dekat sofa, sebelum memasukkannya ke dalam kamar.
“Tapi, ini akan menjadi penjara bagiku,” ucap Arsyilla dengan lirih.
Apartemen mewah di pusat Ibukota ini rasanya justru akan menjadi sebuah penjara bagi Arsyilla. Satu ruangan yang menjebaknya untuk tinggal bersama dengan Aksara.
Oh, jangan lupakan satu hal. Kedua bola mata Arsyilla mengedar mencari-cari sesuatu yang sedari tadi tidak terlihat olehnya.
“Di mana Thania?” tanya Arsyilla pada akhirnya.
“Kenapa kamu menanyakan Thania? Sudah pasti dia bersama Mamanya.” Aksara menjawab dengan menatap Arsyilla, menegaskan bahwa Thania bersama dengan Mamanya.
Arsyilla pun mengangguk, dia pun memikirkan mungkin saja Thania memang masih memiliki Mama dan sekarang gadis kecil itu tinggal bersama dengan Mamanya.
“Tunggu dulu, kenapa kamu menganggap apartemen ini penjara?” tanya Aksara kepada Arsyilla.
“Ya, karena ini bukanlah tempat tinggal. Ini adalah penjara,” sahut Arsyilla dengan ketus.
Aksara seketika mengusap wajahnya, tidak mengira baru sekian jam menjadi suami istri dan kini keduanya sudah terlibat dalam sebuah perdebatan.
“Bagaimana bisa apartemen semewah ini, kamu anggap sebagai penjara?” tanya Aksara lagi.
“Apa namanya jika bukan penjara? Karena malam petaka itu, sekarang aku harus terkurung di sini, terpenjara di sini bersamamu,” dengkusnya kesal.
__ADS_1
Lagi-lagi Arsyilla merutuki satu malam yang membuatnya kehilangan kesadarannya hingga berakhir dalam pernikahan dengan mahasiswanya sendiri.
“Tidak, aku tidak akan mengurungimu di sini. Sebab, aku tentu memberi kebebasan untuk istriku. Kamu masih bisa berkarier dan mengejar cita-citamu,” sahut Aksara yang seolah tidak terima jika dia mengurungi Arsyilla di sini.
Sayangnya, Arsyilla tetap menganggap bahwa hidup bersama dengan Aksara layaknya dia terkurung di dalam penjara dengan nama apartemen ini. Tidak mengenal, tidak ada cinta, apa namanya jika bukan penjara?
“Kenapa sih, kamu tega menodaiku? Kenapa kamu tega sama aku? Padahal kita tidak saling mengenal sebelumnya, untuk apa kamu membawaku ke ranjang dan menodai aku?” Tersulut emosi, Arsyilla pun mengucapkan semua pertanyaannya itu.
Hatinya sesak, maka dari itu dia meminta jawaban dari Aksara.
Aksara justru berdecak, “Cckk, tega? Tega bagaimana? Bukanlah sebuah hubungan terjadi karena kesepakatan dua pihak? Tidak saling mengenal, bukan berarti kita tidak bisa beradu di ranjang bukan?” jawab Aksara.
Sayangnya, jawaban itu kian membuat Arsyilla membelalakan matanya. Apa maksudnya beradu di ranjang? Pria apa yang sekarang ada di hadapannya saat ini.
“Setidaknya, kesalahan semalam itu tidak terjadi. Jika, itu tidak terjadi, semua ini juga tidak akan terjadi,” sahut Arsyilla. Air matanya pun luruh. Tak kuasa menahan sesak di dada.
Namun, semuanya sudah terjadi. Menangisinya pun tidak ada gunanya, karena sekarang dirinya sudah resmi menjadi istri dari Aksara Adhinata Pradana. Seorang Dosen yang menjadi istri dari mahasiswanya sendiri. Kenyataan ini benar-benar membuat Arsyilla tak mampu bertahan, hanya air mata yang berlinangan dan membanjiri wajahnya begitu saja.
Perlahan Aksara mendekat dan mencoba merangkul bahu dari Arsyilla. Akan tetapi, dengan cepat Arsyilla menepis tangan suaminya.
“Jangan sentuh aku,” ucap Arsyilla dengan menepis tangan Aksara.
Aksara menghela napasnya yang terasa berat, pria itu menggelengkan kepalanya, tidak mengira bahwa istrinya itu akan bereaksi sedemikian rupa.
“Seperti itukah sikap seorang istri kepada suaminya?” tanya Aksara perlahan.
“Ya, lagi pula, pernikahan ini hanya atas dasar kesepakatan orang tua kita kan? Tidak ada cinta,” sahut Arsyilla lagi.
Impiannya sejak kecil adalah bisa menikah dengan pria yang dicintainya, tetapi semua itu sirna. Pernikahan ini terjadi karena kesepakatan orang tua yang menyatukan mereka berdua dengan dalih untuk pertanggungjawaban usai kesalahan satu malam.
“Kamu boleh menganggapnya demikian, tetapi tidak bagiku. Sebab, aku tidak pernah menganggap pernikahan ini sebagai kesepakatan. Ada takdir Allah yang sedang berupaya menyatukan kita berdua,” jawab Aksara dengan menatap Arsyilla.
Menghindari perdebatan yang mungkin saja bisa terjadi lebih keras, Aksara memutuskan untuk masuk ke dalam kamarnya. Meninggalkan Arsyilla yang masih berapi-api emosinya di ruangan tamu apartemennya itu.
__ADS_1
Pria itu mengacak kasar rambutnya, bagaimana bisa istrinya sendiri beranggapan demikian terhadap dirinya dan terhadap pernikahan ini. Sekali saja, Aksara tidak pernah menganggap pernikahan keduanya adalah sebuah kesepakatan. Pernikahan ini terjadi memang karena Tuhan yang sudah menggariskan pernikahan ini untuk keduanya.