
Berjuta warna pelangi meledak di mata keduanya yang masih sama-sama terpejam. Tak ada lagi yang bisa mereka ucapkan selain diam dan menikmati sensasi yang selalu saja tak terdefinisikan itu. Baik Aksara dan Arsyilla sama-sama saling memeluk, dan menetralkan nafas keduanya yang masih memburu.
Beberapa saat keduanya diam, Aksara kemudian berguling dan kini merebahkan diri di samping Arsyilla dan masih memeluk istrinya itu. Aksara tersenyum, vitamin booster yang sungguh tiada taranya untuknya. Seakan kembali mendapatkan suntikan energi dari istrinya.
“I Love U, Honey,” ucap Aksara dengan tersenyum.
Pria itu begitu puas usai menggapai nirwana dengan berpacu dalam hujaman, lesakan, dan cengkeraman yang begitu memabukkan.
“I Love U too,” balas Arsyilla dengan membenamkan kepalanya di dada suaminya.
“Kamu sampai berkeringat kayak gini,” balas Aksara yang tangannya bergerak meraih tissue yang berada di atas nakas dan mengusap keringat di kening istrinya itu.
“Yang bikin aku sampai kayak gini siapa coba?” sahut Arsyilla.
Lagi, Aksara terkekeh dengan memeluk erat tubuh polos tanpa busana milik istrinya itu. Arysilla pun menikmati pelukan suaminya itu. Namun, beberapa saat tampaknya ada sesuatu yang Arsyilla lupakan. Dengan cepat Arsyilla menghalau tangan suaminya di tubuhnya.
“Ayah, kelihatannya aku melupakan sesuatu deh,” ucapnya dengan nada suara yang terdengar panik.
“Hmm, apa Honey?” balas Aksara.
“Aku kan baru saja selesai haid, bisa-bisa ini masa subur dong. Sepuluh sampai tujuh hari setelah haid kan masa subur. Nanti kalau terjadi pembuahan di sini gimana dong?” tanya Arsyilla. Tiba-tiba saja Arsyilla merasa panik.
Terlalu asyik merasakan aneka warna pelangi yang begitu menawan, kini kilauan cahaya itu lenyap sudah, berganti dengan rasa panik. Ada sesuatu yang dia lupakan.
“Tidak apa-apa, Honey … kan nanti aku tinggal tanggung jawab,” balas Aksara dengan begitu entengnya.
__ADS_1
Ya Tuhan, Arsyilla begitu sebal dengan jawaban yang diberikan suaminya itu. Bukan masalah tanggung jawabnya, tetapi masalah mereka yang sudah terbiasa merencanakan semuanya, termasuk kehamilan.
“Enggak gitu juga Ayah … issh, bikin sebel deh,” balas Arsyilla.
Wanita itu memilih menyingkap selimut yang masih mengcover tubuhnya, dan kemudian memilih untuk membersihkan tubuhnya di kamar mandi. Bukan itu jawaban yang Arsyilla mau, hingga usai percintaan yang panas dan menggelora, kini yang tersisa hanya rasa sebal di dada.
Arsyilla memilih mengguyur badannya di bawah dinginnya air shower, tapi tak menjelang lama Aksara pun menyusul istrinya itu. Turut bergabung di bawah siraman air shower itu. Tangan Aksara merengkuh tubuh Arsyilla, memeluknya dengan erat. Akan tetapi, merasakan tangan suaminya yang sudah melingkari pinggangnya, Arsyilla mengurai pelukan itu.
Aksara hanya geleng kepala sendiri, melihat istrinya yang tiba-tiba ngambek itu. Begitu Arsyilla keluar dari kamar mandi, dan memilih duduk di sofa, Aksara pun menyusul istrinya itu. Membawa wajah Arsyilla untuk menatapnya.
“Honey, kenapa sih marah? Semuanya bisa dibicarakan dengan baik-baik. Bagiku kamu mau hamil lagi tidak masalah, justru Ara kan punya teman di rumah,” balas Aksara.
Arsyilla masih memilih diam, masih sebal dengan suaminya itu. “Apa yang membuat kamu marah coba? Sini cerita sama aku, enggak diam, dan nanti tiba-tiba nangis. Aku enggak mau kayak gitu,” balas Aksara.
“Aku kan masih masa subur, nanti kalau tiba-tiba positif gimana? Ara masih kecil, baru mau 12 bulan. Terus kalau kebronjolan gimana?” tanya Arsyilla kini.
“Kak, bukan itu … biasanya kan kita merencanakan semuanya dengan matang. Terus tiba-tiba hamil lagi gimana?” tanya Arsyilla.
Aksara pun menghela nafas, sembari menggenggam tangan istrinya itu, “Lah, terus kalau tiba-tiba positif, kamu tidak mau? Bukan begitu juga Honey. Kalau positif ya sudah, kita besarkan dan asuh bersama-sama,” balas Aksara lagi.
Aksara kemudian memeluk tubuh istrinya itu. Dengan rasa sebal yang masih menyelimuti dada, Aksara memberikan pelukan dan juga usapan di punggung istrinya itu.
“Sudah … enggak usah dipikirkan. Semuanya dijalani. Kalau kebobolan, ya kita rawat dan asuh dengan baik. Untuk Ara yang masih ASI ya nanti kita cari jalan keluarnya. Jangan membebani diri sendiri. Masak, habis dapat yang enak-enak, terus ngambek kayak gini sih,” balas Aksara.
Bibir Arsyilla masih manyun, benar yang suaminya katakan, jika kebobolan ada suaminya yang sudah pasti akan bertanggung jawab. Hanya saja, mengingat Ara yang tiba-tiba harus dilepas ASI-nya membuat Arsyilla kasihan.
__ADS_1
“Sudah enggak usah dipikir … dijalani saja. Peluangnya berapa persen kan kita tidak tahu, Honeyku,” balas Aksara lagi.
“Ya, aku tahu … hanya saja kalau bisa sih jangan,” balas Arsyilla.
“Kenapa kok jangan?” tanya Aksara lagi.
“Punya anak satu aja enggak apa-apa Kak … lagian aku masih trauma melahirkan kemarin. Dari pembukaan sampai bersalin sakit banget. Luar biasa banget sakitnya,” balas Arsyilla.
Jika, teringat dengan fase demi fase pembukaan sampai melahirkan Ara dulu rasanya memang benar-benar sakit. Seluruh tulangnya rasanya diremukkan, dengan inti tubuh yang terasa panas dan begitu sakit. Luar biasa, sebuah kesakitan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
“Maaf yah … untuk melahirkan Ara, kamu sampai merasakan kesakitan seperti itu,” balas Aksara.
“Enggak apa-apa, Ayah … demi putri lucu dan secantik Ara, aku tidak keberatan kok,” sahut Arsyilla.
Aksara mengurai pelukannya, kemudian kembali memeluk istrinya itu, “Tenang saja … kalau positif ya positif. Kalau tidak ya tidak apa-apa. Jangan panik duluan. Lagian gimana, kamu mau aku yang memakai pengaman?” tanya Aksara kemudian.
“Kamu keberatan enggak memakai pengamanan?” tanya Arsyilla.
Aksara pun menggelengkan kepalanya, “Enggak … enggak keberatan. Gesekan sama plastik kayak zaman aku masih kuliah dulu tidak apa-apa kok,” balasnya.
Arsyilla pun tiba-tiba tersenyum, mengingat dulu suaminya yang selalu membeli pengaman supaya menunda kehamilan terlebih dahulu. Aneka merek dengan berbagai varian pernah dibeli mereka saat ke apotek. Mengingat itu, membuat keduanya geli.
“Sensasinya sama atau beda sih Kak?” tanya Arsyilla kemudian.
“Ya beda, Honey … cuma enggak masalah. Atau kamu yang memasang IUD tidak apa-apa. Mau anak cuma satu, aku juga enggak keberatan kok. Asalkan kita berdua sudah punya buah hati satu,” balas Aksara.
__ADS_1
Sungguh, Aksara tidak mempermasalahkan dengan Arsyilla yang berkeinginan hanya memiliki satu anak saja. Kendati demikian, jika sampai pada akhirnya Arsyilla kebobolan dan positif duluan, maka mereka berdua akan menerima semuanya, karena mendapatkan anak sama halnya dengan sebuah anugerah. Dengan sukarela mereka akan menerima anugerah yang tak ternilai harganya dari Tuhan itu.