
Malam hari menjelang akhir pekan ini, Aksara terlihat duduk di sofa. Mulut pria itu terlihat tengah komat-kamit tanpa bersuara. Pemandangan yang aneh, biasanya setiap malam Aksara setidaknya bergulat dengan Drawing Pad miliknya, menggambar desain bangunan atau menggoda Arsyilla. Sementara kali ini, pria itu tampak membawa sebuah buku catatan.
Arsyilla yang melihat tampak tertawa. Wanita itu memilih duduk di meja makan, sembari mengamati suaminya yang sedang komat kamit itu. Untung saja Aksara bukan Mbah Dukun, kalau Aksara adalah Mbah Dukun sudah pasti pria itu sedang komat-kamit membaca mantra.
Setelah cukup beberapa menit mengamati Aksara dari jarak beberapa meter, Arsyilla lantas mengambil tempat duduk di dekat suaminya itu.
"Baru ngapain sih Kak?" tanyanya perlahan.
Setelahnya Arsyilla justru tertawa, "Aku amati dari jauh kok mulutnya komat-kamit gitu. Kakak tidak sedang membaca mantra kan?"
Tawa wanita itu kembali pecah, tak mengira bisa menggodai pria yang adalah suami sekaligus mahasiswanya itu.
"Haa, baca mantra gimana maksud kamu?" tanya Aksara sembari menyipitkan matanya.
Sementara Arsyilla masih ketawa, wajahnya memerah dan perutnya berguncang teringat ekspresi serius, tapi sekaligus lucu suaminya itu. Melihat Aksara yang menunggu jawabannya, Arsyilla pun perlahan menahan tawanya.
"Itu, dari tadi aku amati Kakak bibirnya komat-kamit gitu. Ngapain sih?" tanyanya lagi.
Aksara lantas mengangkat buku catatan yang dia pegang, menunjukkannya kepada Arsyilla.
"Nih, demi ini aku komat-kamit kayak Mbah Dukun," jawabnya dengan cemberut.
Tawa Arsyilla pun sirna saat mengetahui bahwa suaminya ternyata tengah belajar Perencanaan dan Desain Arsitektur.
"Oh, baru belajar ya," tanyanya perlahan.
Kali ini tidak ada lagi tawa karena Arsyilla tampak mengamati wajah serius Aksara. Kendati demikian, dalam hatinya Arsyilla merasa bahwa benar apa yang diucapkan Ayah Bisma bahwa Aksara ini adalah tipe mahasiswa yang membutuhkan dorongan. Jika didorong, pasti akan maju.
__ADS_1
"Demi loh ini, demi dapat hadiah," ucapnya kemudian.
Arsyilla lantas mengernyitkan keningnya, menatap tajam pada pria itu, "Maksudnya hadiah gimana? Kan ya belajar itu dari tidak tahu terus menjadi tahu. Learning to know," jawab Arsyilla.
Akan tetapi, Aksara justru menggelengkan kepalanya, "Ada hal lain yang ingin ku dapatkan. Kalau sebatas mengetahui, aku sudah mengetahui. Cuma, aku menginginkan hal yang lebih," ucapnya dengan menatap Arsyilla.
"Apa yang kamu inginkan lebih?" tanya Arsyilla kemudian.
"Kamu," sahut Aksara dengan cepat. Pria itu kemudian menatap tajam pada Arsyilla. Seolah memaku gadis itu dengan kedua sorot matanya.
Tiba-tiba saja seolah hawa dingin merasuki tubuh Arsyilla, membuat wanita itu untuk membawa kedua tangan bersidekap di depan dada. Pria itu menjawab dengan begitu serius dan juga sorot matanya yang dalam, benar-benar ancaman bagi Arsyilla.
"Jangan belajar untuk itu. Orientasinya sudah berbeda. Lakukan apa pun dengan segenap hatimu, hasilnya akan mengikuti," ucap Arsyilla kemudian. Seolah kali ini Arsyilla seperti tengah menasihati mahasiswanya sendiri.
Akan tetapi, Aksara menggelengkan kepalanya, "Aku harus memiliki goal yang mau aku capai sendiri. Demi itu, aku akan belajar sungguh-sungguh," jawabnya kemudian.
Arsyilla kemudian tertawa, "Terserah kamu saja Kak, aku mau tidur ya ... udah mengantuk," ucapnya sembari buru-buru berlari memasuki kamar Aksara.
Aksara pun mengangguk, "Jangan kunci pintunya, sebentar lagi aku menyusul," ucapnya sedikit berteriak.
Rupanya tidak menunggu jarak tenggang waktu, nyatanya Aksara turut mengekori Arsyilla memasuki kamarnya. Pria itu terlihat lesu begitu masuk ke dalam kamar dan segera bergabung dengan Arsyilla yang tengah bersandar di head board. Seketika Aksara menyandarkan kepalanya di bahu Arsyilla.
"Syilla ...," dipanggilnya nama istrinya itu.
"Hmm, apa?" sahut Arsyilla sembari sedikit menunduk, melihat wajah lesu suaminya itu.
"Kenapa sih mendapatkanmu begitu berat? Aku harus susah payah," ucapnya.
__ADS_1
"Maksudnya?" tanya Arsyilla yang merasa kurang paham dengan ucapan Aksara.
Pria itu lantas kembali menarik kepala, matanya kini beradu dengan bola mata Arsyilla, "Rasanya aku harus susah payah untuk mendapatkanmu," ucapnya lirih.
Seketika Arsyilla hanya diam, ingin merespons apa pun rasanya juga kurang tepat. Akan tetapi, kini wanita itu tetap menatap wajah Aksara.
"Bukankah untuk mendapatkan sesuatu setiap orang juga harus berusaha?" tanya Arsyilla kini.
Ya, tanpa bekerja keras rasanya memang sangat mustahil mendapatkan apa yang kita inginkan. Sama halnya dengan Aksara yang benar-benar harus berjuang untuk mendapatkan Arsyilla.
Pria itu kemudian mengangguk, "Huhh, baiklah. Aku akan berusaha. Selama hayat masih dikandung badan, aku akan berusaha," ucapnya sembari mengepalkan tangannya. Benar-benar layaknya dia sedang berusaha dengan keras saat ini.
Sementara Arsyilla justru kembali tertawa, "Kenapa kadang kamu bisa selucu ini sih," ucapnya yang lagi-lagi tertawa.
"Aku tidak lucu, Syilla ... aku serius," ucapnya lagi. "Ada bocoran soal mid semester nanti enggak?" tanya Aksara kini dengan tiba-tiba.
Arsyilla dengan cepat menggelengkan kepalanya, "Tidak ada bocoran. Lagipula kisi-kisi sudah aku sampaikan ke kelas kan, jadi ya pelajari saja."
"Buat suami sendiri enggak ada bocoran ya?" tanya Aksara dengan lesu.
"No, gak ada. Suaminya kan ya mahasiswanya, jadi semangat belajarnya, Kak," ucap Arsyilla.
Sekali pun pria itu adalah mahasiswanya, Arsyilla tidak akan membagikan soal ujian yang sebenarnya sudah dia buat. Menjadi suami bukan berarti harus mendapatkan kemudahan, termasuk bocoran soal ujian. Arsyilla justru akan bangga jika suaminya bisa belajar giat, mengerjakan soal dengan sebaik mungkin, dan memperoleh nilai yang maksimal tanpa intervensinya.
"Kamu hebat, Sayang... kelihatannya, rayuanku pun tidak berdampak bagimu," ucap Aksara kini.
Memang sebenarnya Aksara hanya mencobai istrinya saja. Apakah hubungan pribadi bisa mengalihkan status Arsyilla sebagai Dosennya. Menyadari bahwa Arsyilla tetap pada pendiriannya, Aksara justru bangga, dia juga tidak ingin diperlakukan spesial.
__ADS_1
"Oke, baiklah ... sekarang lebih baik kita tidur, rasanya aku ingin segera menghadapi Mid Semester pekan depan supaya aku bisa menggapai dirimu lebih dari ini," ucap Aksara yang kemudian berbaring.
Pria itu membawa Arsyilla untuk turut berbaring dengannya, di sisinya. Mengecupi keningnya dengan bibirnya yang hangat. Melingkupinya dengan pelukannya yang erat.