
Beberapa pekan pun berlalu, Arsyilla masih menikmati masa menempati rumah baru. Di hari Senin dan Rabu, Arsyilla juga selalu mengajar. Sementara untuk Aksara sendiri pria itu bekerja keras setiap hari. Kendati demikian, Aksara tetap berusaha pulang tepat waktu dan tidak lembur supaya bisa menikmati sore bersama dengan Arsyilla.
Sore ini, Aksara yang sepulang kerja memilih untuk duduk di tepi kolam renang bersama dengan istrinya. Kedua kaki yang terendam di air, dan kemudian tampak duduk bermain dengan kaki dengan seolah bermain-main di air.
“Gimana kerjaannya hari ini?” tanya Arsyilla kepada suaminya itu.
“Lancar, Honey … seperti biasa saja,” balas Aksara.
Lantas pria itu melirik ke arah istrinya dengan perut yang sudah kian membuncit, “Kamu gimana, kecapekan enggak mengajarnya?” tanyanya.
“Enggak … aku enggak capek kok. Justru aku seneng bisa mengajar, Dedek Bayi ikut mendengarkan Bundanya mengajar,” jawab Arsyilla.
“Bener banget, Honey … biar Dedek Bayi pinter sejak dalam kandungan karena dia ngikut mengajar sama Bundanya,” balas Aksara.
Baru saja Arsyilla berhenti berbicara, wanita itu merasakan ada sesuatu yang bergerak di dalam perutnya. Sapaan pertama dari Dedek Bayi untuknya. Dengan cepat Arsyilla pun menarik tangan Aksara dan mendekatkannya ke perutnya yang sudah begitu menyembul.
“Kak, Dedek Bayinya menyapa kita,” ucapnya dengan tersenyum.
Tidak dipungkiri merasakan gerakan bayinya membuat Arsyilla begitu bahagia. Sapaan pertama dari putrinya.
“Eh, ini Honey … dia bergerak,” balas Aksara.
Pria itu turut tersenyum dan mengusapi perut Arsyilla dengan perlahan. “Ya ampun, kamu menyapa Ayah ya Sayang,” balas Aksara lagi.
Pria itu pun sangat suka karena Dedek Bayinya turut menyapanya. Entah itu tendangan kaki, atau gerakan tangan, yang pasti bisa terasa bahwa bayi di dalam perut istrinya tengah menyapanya sekarang ini.
“Luar biasa banget ya Kak … banyak pengalaman baru yang aku dapatkan selama hamil ini. Pengalaman berharga yang tidak ternilai harganya,” balas Arsyilla.
Memang kehamilan pertama akan terasa luar biasa. Merasakan tumbuh kembang janin, merasakan sapaannya, merasa perubahan bentuk tubuh, dan berbagai hal yang lainnya. Itu adalah sebuah pengalaman yang indah. Pengalaman yang tidak ternilai tentunya. Untuk semua pengalaman berharga ini, Arsyilla sangat bersyukur.
“Dinikmati kehamilannya Honey … jangan dinikmati, nanti enggak kerasa tiba-tiba udah bertambah bulan dan akhirnya sudah tiba waktunya melahirkan nanti,” balas Aksara.
__ADS_1
“Iya Kak … kamu kan juga melihat sendiri gimana aku sangat menikmati kehamilanku ini. Bersyukur juga aku sehat, tidak mual dan muntah. Udah bersyukur banget,” balas Arsyilla.
Bisa menjalani hari-hari dengan normal di saat hamil adalah anugerah tersendiri. Tidak ada masalah kesehatan, semua rutinitas bisa berjalan dengan normal. Sudah tentu itu adalah kebahagiaan tersendiri.
“Masuk yuk?” ajak Aksara kepada istrinya itu karena mengingat angin di luar kian dingin. Aksara tentu membiarkan istrinya terkena angin yang bisa membuatnya masuk angin.
“Yuk, tunggu yah,” balas Arsyilla.
Wanita hamil itu berdiri dengan memegangi pinggangnya, kemudian hendak mengikuti langkah suaminya untuk masuk ke dalam rumah. Akan tetapi, belum sempat Arsyilla berjalan. Aksara sudah terlebih dahulu menundukkan tubuhnya, pria itu segera membopong Arsyilla. Mengerahkan tenaganya untuk menggendong ala bridal style istrinya itu.
“Kak, aku berat,” ucap Arsyilla.
“Tidak masalah, Honey … aku masih kuat kok,” balasnya.
Dengan perlahan Aksara melangkah kakinya, menyisir jalanan di area kolam renang itu dan hendak membawa masuk Arsyilla ke dalam rumah. Arsyilla pun tersenyum menatap wajah suaminya itu dengan kedua tangan yang melingkari leher suaminya.
“Padahal aku bisa loh jalan sendiri,” balas Arsyilla.
“Beneran? Padahal kalau kehamilanku 9 bulan, tubuhku akan kian membengkak deh Kak … sekarang saja pipiku sudah chubby,” balas Arsyilla.
Itu memang karena Arsyilla sudah mengalami kenaikan berat badan sebesar 5 kilogram, dan angka itu akan terus bertambah tentunya sampai menjelang masa melahirkan nanti.
“Tidak apa-apa Honey … Dedek bayinya di dalam rahim kamu kan juga terus bertumbuh. Jadi dia juga membutuhkan asupan nutrisi seimbang,” balas Aksara.
Begitu sudah di dalam rumah, dan hendak menaiki anak tangga, Arsyilla meminta Aksara untuk menurunkannya. Dengan alasan menggendongnya dengan posisi menaiki tangga akan membuat Aksara kecapekan. Akan tetapi, Aksara tidak menurunkan Arsyilla. Pria itu terus mengerahkan daya dan upaya untuk menaiki satu per satu anak tangga, dan membuka pintu kamarnya, kemudian menurunkan Arsyilla dengan perlahan di atas ranjang.
“Tuh, bisa kan,” ucap Aksara dengan nafas yang terengah-engah.
Arsyilla yang melihat suaminya itu pun segera menyeka buliran keringat di kening suaminya yang kini sudah duduk di sampingnya dan bersandar di headboard itu.
“Aku itu berat Kak … malahan kamu naik anak tangga sambil gendong aku. Aku ambilkan minum yah,” balas Arsyilla.
__ADS_1
Akan tetapi, Aksara dengan cepat menggelengkan kepalanya, “Aku tidak butuh minum, Honey,” ucapnya.
“Lalu, kamu butuh apa?” tanyanya.
“Give me a kiss,” ucap Aksara sembari membawa jari telunjuknya mendekat ke bibirnya.
Arsyilla pun tersipu malu mendengar permintaan dari suaminya itu. Kemudian Arsyilla mengikis jarak wajahnya. Wanita itu mencuri sebuah kecupan di bibir suaminya.
Chup!
“Udah,” ucap Arsyilla dengan wajah yang terlihat merona-rona.
“Kurang,” balas Aksara lagi.
Arsyilla kembali mendekat, wajahnya mendekat ke arah Aksara. Arsyilla memiringkan sedikit kepalanya dan mengecup bibir suaminya itu.
Chup!
Akan tetapi, baru saja Arsyilla hendak menarik kembali wajahnya. Aksara segera melu-mat bibir Arsyilla. Membuka bibirnya dan segera memberikan hisapan demi hisapan di lipatan bawah bibir Arsyilla, mencumbu bibir yang merekah laksana cherry itu dengan begitu lembut, memberikan usapan dengan ujung lidahnya yang membuat Arsyilla pun menghela nafas sepenuh dada.
Sebab, bagi Aksara dari kecupan saja tidak akan pernah cukup. Satu kecupan harus dilanjutkan dengan ciuman yang menggetarkan jiwa mereka. Menyulut gelenyar asing yang membuat keduanya begitu mabuk dengan pesona nektar cinta.
Saat Aksara mendaratkan tangannya di pinggang Arsyilla, sembari memperdalam pagutannya di bibir Arsyilla, sontak saja Aksara terkesiap saat merasakan pergerakan samar di perut istrinya. Pergerakan yang membuat Aksara menarik bibirnya dengan nafas yang terengah-engah.
“Dedek Bayi menyapa lagi,” ucapnya.
Arsyilla pun tersenyum dan dia segera memeluk suaminya itu. “Iya, dia bergerak lagi,” balas Arsyilla.
“Harusnya Ayahnya nengokin Dedek Bayi? Siapa tahu dia sudah kangen sama Ayahnya,” ucap Aksara dengan tiba-tiba.
Entah itu hanya kemodusan seorang Aksara ataukah motif yang lain? Yang pasti secara medis tidak ada hubungannya antara pergerakan janin dan juga seorang Ayah yang hendak menengokin janinnya. Arsyilla hanya tertawa, karena dia sangat tahu akal-akalan nakal suaminya itu.
__ADS_1