Aksara Untuk Arsyilla

Aksara Untuk Arsyilla
Memastikanmu Pulih


__ADS_3

Semalaman Aksara terjaga dan memastikan bahwa Arsyilla dalam pengawasannya. Rasanya pria itu juga tak bisa memejamkan mata. Teringat dengan Arsyilla dan rintihan wanita itu. Membuat Aksara sama sekali tidak bisa tidur. Hingga matahari pagi perlahan menyapa, sinarnya menelisip masuk dari celah tirai jendela.


Arsyilla yang masih tertidur perlahan mengerjap, merasakan silaunya sinar matahari pagi di matanya. Hingga kelopak matanya perlahan terbuka, wanita itu bak kembali tersadar dan dalam kondisi bingung Arsyilla mengamati sekelilingnya.


“Sudah bangun Honey?” ucap Aksara begitu melihat Arsyilla yang sudah membuka kedua matanya.


Ada anggukan samar dari kepala Arsyilla, “Ii … iya Kak,” jawabnya dengan suara yang terdengar begitu lemah.


“Butuh sesuatu?” tanya Aksara lagi.


“Tanganku sakit Kak … pembuluh darahnya bengkak,” keluh Arsyilla kali ini.


Memang benar, bagian pembuluh darahnya tepat di mana jarum infus terpasang terlihat membengkak dan berwarna keunguan di sana.


“Tahan yah … kita belum tahu sampai kapan kamu harus menggunakan infus,” balas Aksara.


Hingga akhirnya ada Dokter yang melakukan visiting dan mengecek kondisi Arsyilla. Tidak lupa sebuah antibiotik kembali disuntikkan melalui selang infus.


“Bagaimana kondisi istri saya, Dok?” tanya Aksara kali ini.


“Kondisi pasien masih lemah … mungkin harus dirawat semalam lagi di Rumah Sakit. Baru besok bisa diperbolehkan pulang,” jawab sang Dokter.


“Dok, bisakah saya lepas infus saja? Pembuluh darah saya membengkak dan begitu sakit rasanya,” balas Arsyilla kali ini.


Dokter kemudian mendekat dan melihat bagian di mana jarum infus itu masuk dan memang terlihat bengkak di sana.


“Di lepas nanti siang ya Bu Arsyilla … begitu satu kantong infus ini habis, nanti bisa dilepas,” jawab Dokter. “Setelah ini akan ada sarapan, pasien bisa makan dan nanti ada obat yang harus diminum,” jelas Dokter tersebut lagi.


Usai mendapatkan visitasi dari Dokter, Arsyilla kemudian meminta tolong kepada Aksara untuk memposisikan brankarnya dalam keadaan setengah duduk. Sebab, berbaring terus membuang punggungnya panas dan tidak nyaman.


“Kak, minta tolong aturkan brankar ini Kak? Aku ingin duduk,” pinta Arsyilla.


Aksara segera mengambil remote yang dipakai untuk mengatur posisi brankar pasien. Aksara memposisikan brankar dengan posisi sesuai kemauan Arsyilla dan kemudian membantu istrinya itu untuk duduk di atas brankar dalam kondisi yang benar.

__ADS_1


“Sudah enakan?” tanya Aksara.


“Iya, makasih Kak,” balas Arsyilla.


Belum sempat Aksara kembali duduk, rupanya terdapat petugas Rumah Sakit yang mengantarkan menu sarapan untuk Arsyilla. Aksara menerima satu nampan yang berisi aneka menu sehat dan tentu dengan cita rasa khas Rumah Sakit yang hambar, dan meminta Arsyilla untuk memakannya terlebih dahulu.


“Sarapan dulu yuk Honey … sejak semalam kamu belum makan sama sekali,” ucap Aksara kali ini.


“Iya Kak,” sahut Arsyilla.


Arsyilla sebenarnya tidak menyukai menu makanan dari Rumah Sakit yang seolah-olah dimasak tanpa mengenakan rempah-rempah dan sedikit garam. Akan tetapi, karena Arsyilla menyadari bahwa semua demi kebaikannya, maka Arsyilla tidak memberikan perlawanan saat Aksara menyuapinya makan.


“Makan yang banyak … habis ini minum obat. Biar kamu segera pulih. Aku sendiri yang akan merawatmu dan memastikan kamu untuk pulih,” sahut Aksara dengan yakin.


Ya, bagi Aksara tidak ada yang lebih prioritas di hidupnya selain Arsyilla. Untuk itu, Aksara akan benar-benar memastikan bahwa istrinya itu akan tetap sehat dan segera pulang dari Rumah Sakit.


Hampir dua puluh menit, Aksara menyuapi istrinya itu makan. Sampai akhirnya perawat datang dan memberikan obat yang harus diminum hari ini. Arsyilla pun menerima obat itu dan meminumnya dengan air putih. Setelahnya, Arsyilla kembali bersandar di brankarnya.


“Kamu enggak makan Kak?” tanya Arsyilla kini kepada suaminya.


“Keluarga kita tahu kalau aku masuk Rumah Sakit Kak?” tanya Arsyilla lagi.


Aksara pun menganggukkan kepalanya, “Iya tahu … aku memberitahu kepada Mama dan Papa, Bunda dan Ayah juga. Bagaimana pun kamu adalah putri Mama dan Papa. Aku akan bersalah jika tidak memberitahu kondisi kamu kepada Mama dan Papa,” sahut Aksara.


Baru saja Aksara berkata demikian, rupanya sudah ada ketukan pintu dari luar. Aksara pun segera bangkit dan membukakan pintu. Ternyata Mama Khaira dan Papa Radit yang saat ini datang.


“Mama … Papa,” sapa Aksara dengan menundukkan wajahnya ketika melihat kedatangan kedua mertuanya itu.


“Bagaimana Arsyilla, Aksara?” tanya Mama Khaira dengan khawatir.


“Sudah sadar, Ma,” jawab Aksara.


Jujur saja, Aksara juga merasa bersalah kepada Mama Khaira dan Papa Radit. Dia merasa sebagai seorang suami yang gagal untuk melindungi Arsyilla. Janjinya kepada Papa Radit bahwa dia akan selalu melindungi Arsyilla. Akan tetapi, nyatanya justru Arsyilla kendali mengalami peristiwa pahit seperti ini.

__ADS_1


Mama Khaira dan Papa Radit lantas memasuki kamar rawat inap Arsyilla. Wanita itu sudah meneteskan air matanya melihat Arsyilla yang bersandar di atas ranjang kesakitan.


“Syilla,” panggil Mama Khaira dengan lirih.


“Mama, Papa ….”


Arsyilla menyahut dan meneteskan air matanya melihat kedatangan kedua orang tuanya. Sebenarnya Arsyilla tidak ingin bertemu dengan orang tuanya dalam keadaan seperti ini. Akan tetapi, apa yang diucapkan Aksara benar adanya bahwa bagaimana pun kondisinya Mama Khaira dan Papa Radit harus tahu.


“Kenapa bisa seperti ini Syilla?” tanya Papa Radit yang wajahnya memerah. Ada rasa bersedih dan juga marah karena putrinya terbaring lemah dengan berbagai luka di badannya.


“Syilla yang kurang berhati-hati, Pa,” jawabnya dengan menangis.


“Maafkan Aksara, Ma … Pa,” sahut Aksara yang juga meminta maaf kepada Mama Khaira dan Papa Radit.


“Bukan salahnya Kak Aksara, Pa … Syilla yang kemarin ngeyel untuk pergi ke PI. Di sana, Syilla justru bertemu dengan orang yang ingin mencelakai Syilla,” jelas Arsyilla kali ini.


“Lain kali … jika kemana-mana lebih baik tunggulah suamimu. Jangan pergi sendirian. Di kota ini tidak aman, Nak,” balas Papa Radit.


“Iya Pa … maafkan Syilla,” jawab Arsyilla kali ini.


“Apa benar, yang mencelakaimu itu adalah rekan dosenmu?” tanya Mama Khaira kepada putrinya.


“Benar Ma,” sahut Arsyilla.


“Biar nanti Mama yang urus dan akan laporkan dia ke Fakultas. Tidak selayaknya seorang tenaga pendidik melakukan tindakan asusila seperti itu,” balas Mama Khaira,


Usai bertanya banyak hal kepada Arsyilla. Mama Khaira dan Papa Radit lantas mengeluarkan kotak bekal dari tasnya dan memberikannya kepada Aksara.


“Aksara, kamu pasti lapar kan? Sekarang sarapan lah terlebih dahulu,” ucap Mama Khaira.


Pria itu tampak menatap Mama Khaira dengan pandangan yang berkaca-kaca. Benarkah bahwa Mama Khaira tidak marah kepadanya?


“Mama dan Papa tidak marah kepada Aksara? Maafkan keteledoran Aksara,” ucap Aksara yang kembali meminta maaf.

__ADS_1


Perlahan Papa Radit mendekat dan menepuk bahu menantuanya itu, “Semua ini musibah Aksara … tidak seharusnya kami menyalahkanmu. Lagipula, jadikan ini sebagai pembelajaran bahwa kalian berdua akan saling menjaga satu sama lain. Kejahatan terjadi karena kalian berdua kurang waspada. Papa yakin kamu sudah melakukan tugas dan kewajibanmu sebagai seorang suami dengan baik,” ucap Papa Radit.


Sungguh Papa Radit adalah seorang Ayah yang begitu bijaksana. Bisa melihat sebuah masalah dari sisi yang berbeda. Aksara tersentuh dengan petuah dari Papa mertuanya itu. Di matanya Mama Khaira dan Papa Radit selalu menjadi orang yang baik dan selalu bisa menyentuh hatinya.


__ADS_2