
“Kamu beneran yang membuat rancangan bangunan itu tadi?” tanya Arsyilla.
Kali ini keduanya tengah sama-sama di dalam mobil dan hendak pulang, kembali ke apartemennya.
Aksara pun mengangguk dan tersenyum, “Tentu dong, aku tetap profesional dong mengerjakan tugas dari Dosenku.”
Sementara Arsyilla justru mengedikkan bahunya, “Kamu sengaja kan?” tanyanya dengan wajahnya yang terlihat jutek.
“Sengaja gimana?” tanya Aksara dengan bersikap acuh tak acuh.
“Sengaja biar bisa konsultasi sama aku pas PPL,” sahutnya yang seolah mencium akal-akalannya suaminya itu.
Aksara justru tertawa, tidak mengira bahwa istrinya bisa memikirkan hal demikian, “Enggaklah, tanpa konsultasi sama kamu, aku juga sudah bisa. Lihat aja nanti,” jawabnya dengan penuh percaya.
“Cckk, terlalu percaya diri,” sahut Arsyilla yang menganggap pria itu termasuk orang yang terlalu percaya diri.
Kemudian, Arsyilla membuang wajahnya dan melihat pada panorama jalanan dengan gedung-gedung pencakar langit dan bias matahari yang masih terasa terik sekalipun hari sudah beranjak sore.
“Bisa kita mampir ke rumah Mama?” tanya Arsyilla dengan lirih. Baru dua hari dia tinggal di apartemen suaminya, tetapi dia sudah merasa kangen dengan Mama dan Papanya.
Aksara pun mengangguk, “Oke … boleh, menginap satu malam juga tidak masalah.”
“Makasih,” balas Arsyilla pada akhirnya. Sekalipun dia menunjukkan wajah datarnya, tetapi dia bahagia karena bisa mampir ke rumah Mama dan Papanya.
Perjalanan menuju rumah Mama Khaira setidaknya membutuhkan waktu 20 menit, pria itu lantas menepikan mobilnya di salah satu toko roti ketika hendak menuju perumahan yang ditempati oleh mertuanya.
“Ayo turun, belikan Mama dan Papa kue kesukaannya, untuk Shaka juga,” ucapnya sembari turun dari mobil.
Arsyilla hanya mengangguk dan mengikuti suaminya itu untuk memasuki toko kue.
“Mama dan Papa sukanya kue apa?” tanya Aksara kepada Arsyilla.
__ADS_1
“Brownies panggang,” jawab Arsyilla dengan cepat.
“Kalau Shaka suka apa?” tanya Aksara lagi. Ya, dia memang anggota keluarga baru bagi mertuanya, oleh karena itu dia pun juga tidak mengetahui apa yang disukai oleh keluarga mertuanya dan adik iparnya.
“Kue Bolen, biasanya Shaka akan suka.” Arsyilla menjawab sembari mengambil satu kotak berisi kue Bolen pisang dengan varian cokelat dan keju.
Aksara memperhatikan istrinya yang tengah mengambil kue, kemudian dia pun mendekati Arsyilla lagi.
“Kalau kamu sukanya kue apa?”
“Menurutmu?”
Kalau tidak salah Arsyilla menyukai Caramel, jadi tentu saja dia menyukai kue dengan rasa Caramel.
Pria itu hanya bergumam dan tidak menjawab, tetapi tanpa sepengetahuan Arsyilla, dia membeli Caramel Shortbread untuk Arsyilla. Membayarnya dan membungkusnya terpisah.
Begitu sudah sampai di dalam mobil, pria itu memberikan paper bag dari kue yang sudah dibelinya untuk Arsyilla.
“Buat kamu, kuharap aku tidak salah tebak,” ucapnya.
“Caramel Shortbread?” tanyanya sembari mengangkat kemasan kue itu.
Arsyilla lantas melirik pada Aksara yang siap untuk melajukan kembali mobilnya, di dalam hatinya Arsyilla bertanya-tanya bagaimana bisa Aksara tahu kalau Caramel Shortbread adalah kue kesukaannya.
“Bagaimana tebakanku benar?” tanya Aksara kali ini.
Tidak menjawab, Arsyilla pun hanya berkata, “Makasih,” kepada Aksara.
Aku tahu kamu menyukai Karamel. Sudah pasti, tebakanku benar.
Hingga akhirnya, mobil yang dikemudikan Aksara pun berhenti di depan rumah dengan gaya minimalis yang terlihat sejuk dan asri itu. Lantaran bahagia bisa pulang ke rumah orang tuanya, Arsyilla pun segera turun dari mobil terlebih dahulu. Dia membuka pintu gerbang dengan menenteng kue untuk keluarganya.
__ADS_1
“Mama, Papa … Syilla datang,” ucapnya sembari sedikit berteriak ketika memasuki rumahnya.
Rupanya Mama dan Papanya tengah duduk berdua dengan saling menyandarkan kepalanya sembari melihat saluran televisi. Usia boleh semakin bertambah, tetapi nyatanya api cinta Mama Khaira dan Papa Radit terus membara.
Aksara pun melihat bagaimana mertuanya itu yang terlihat saling menyayangi dan terlihat mesra. Setengah menunduk, pria itu pun tersenyum dalam hatinya. Dia merasa bahagia melihat pasangan yang harmonis, sama seperti Bunda Kanaya dan Ayah Bisma.
Hingga akhirnya, Mama Khaira dan Papa Radit pun melihat ke arah pintu, di mana putrinya datang menantunya.
“Eh, kamu datang kemari, Sayang?” Mama Khaira segera berdiri dan memeluk putrinya itu.
Arsyilla pun mengangguk, “Iya, Syilla sudah kangen sama Mama dan Papa.” Ucapan wanita yang berprofesi sebagai Dosen tak hayal seperti anak kecil yang begitu merindukan induknya.
Sementara Aksara pun menyalami Mama mertua dan Papa mertuanya itu, “Sore Ma, Pa …” sapanya dengan sopan.
“Iya, dari kampus atau dari kantor?” tanya Radit kepada menantunya itu.
“Dari kampus tadi, Pa …” jawabnya sembari menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal. Sesungguhnya dia malu menjawab jika dirinya pulang dari kampus, seolah-olah dirinya adalah remaja yang masih kuliah. Padahal usianya sudah matang, tetapi nyatanya belum selesai kuliah. Ada rasa malu yang menyeruak, hingga membuat Aksara menunduk dan tersenyum malu.
“Kue buat Mama dan Papa,” ucap Arsyilla yang memberikan kue yang sudah dibelikan suaminya itu untuk Mama dan Papanya.
“Makasih, sebenarnya kalian tidak perlu repot-repot. Datang tanpa buah tangan pun tidak masalah, pintu rumah ini akan selalu terbuka bagi kalian berdua,” ucap Khaira dengan lembut.
Sebagai seorang Mama, dia tidak mempermasalahkan jika Arsyilla dan Aksara datang tanpa buah tangan. Kehadiran mereka yang masih mau mengunjungi orang tua jauh lebih bermakna dan berharga.
“Tidak apa-apa, Ma … tidak repot kok,” sahut Aksara kali ini. Dirinya memang sama sekali tidak repot, tetapi juga bahagia bisa membelikan sekadar buah tangan untuk mertuanya.
“Shaka mana Ma?” tanya Arsyilla kini kepada Mama dan Papanya, dia tidak melihat keberadaan adiknya itu, sehingga dia pun menanyakan keberadaan adiknya itu.
“Dia masih di kantor, Shaka sudah mulai bekerja di kantor Papa,” jawab Papa Radit kepada Arsyilla.
Arsyilla pun mengangguk, tidak mengira juga adiknya sudah memasuki dunia kerja. Dia juga senang, karena Arshaka bisa bekerja di perusahaan finance milik Papanya. Itu artinya Arshaka juga sudah mulai dipersiapkan di perusahaan itu.
__ADS_1
“Apa kalian buru-buru pulang? Bagaimana kalau malam ini menginap di sini?” tanya Mama Khaira kepada Arsyilla dan Aksara.
Saat Arsyilla belum menjawab, Aksara yang terlebih dahulu mengangguk, “Baik Ma, kami akan menginap di sini semalam,” jawabnya dengan enteng. Tidak mempermasalahkan jika harus menginap di rumah mertuanya untuk pertama kalinya.