
Benarlah apa yang disampaikan Bunda Kanaya, usai makan malam, Bunda Kanaya sendiri yang langsung menggandeng tangan Arsyilla ke dalam kamarnya. Meminta menantunya itu untuk memilih salah satu baju yang bisa Arsyilla kenakan untuk mengajar besok.
“Ini lemari Bunda, kamu ambil saja mana yang kamu suka buat mengajar besok. Blouse ada, celana panjang juga ada, setelan blazer juga ada. Semua itu seukuranmu,” ucap Kanaya dengan membukakan walk in closetnya.
Arsyilla pun tampak tertegun melihat walk in closet Bunda Kanaya yang cukup banyak dengan pakaian. Mengingat ada lebam di pergelangan tangannya, sehingga Arsyilla pun berniat mencari kemeja atau blouse yang berlengan panjang.
“Kemeja atau blouse yang berlengan panjang aja, Bunda,” ucapnya kali ini.
Setelah itu, Bunda Kanaya memilihkan beberapa kemeja dan blouse yang berlengan panjang. Bahkan di dalam walk in closet itu masih ada beberapa baju baru. Oleh karena itu, Bunda Kanaya mengambil tiga potong baju berlengan panjang yang masih baru itu dan memberikannya kepada Arsyilla.
“Ini, kemeja ini masih baru, sama sekali belum Bunda pakai, buat kamu saja,” ucapnya sembari memberikan kemeja yang masih baru tersebut.
Arsyilla pun tampak terkejut, sebab tiga kemeja yang diberikan Bunda Kanaya termasuk salah satu brand yang cukup mahal. Harga satu kemeja saja bisa mencapai jutaan Rupiah, dan sekarang Bunda Kanaya justru memberikan tiga buah kemeja kepadanya.
“Bunda, tetapi ini …” perkataan Arsyilla bak menggantung di udara, karena Bunda Kanaya segera menyelanya.
“Tidak apa-apa, nanti lain kali temani Bunda belanja ya, Bunda akan belikan baju dan dress yang cantik buat menantu Bunda,” ucap Bunda Kanaya lagi.
Seakan tidak enak menolak, Arsyilla pun mengangguk. “Makasih Bunda,” ucapnya.
Bunda Kanaya pun tersenyum, “Ya sudah, sana masuk kamar suamimu, pasti Aksara sudah menunggumu,” ucap Bunda Kanaya yang mengajak Arsyilla keluar dari kamarnya dan mengantarkannya menuju kamar Aksara.
__ADS_1
Begitu sampai di depan pintu kamar Aksara, Arsyilla pun mengetuk pintu itu terlebih dahulu.
Ttook … ttook …
Tidak menyangka Aksara pun segera membukakan pintu itu, pria itu rupanya baru saja mandi. Sebab rambutnya terlihat semi basah, wajahnya juga lebih segar.
“Masuklah,” ucap Aksara sembari membukakan pintu bagi Arsyilla.
Arsyilla segera memasuki kamar yang didominasi warna abu-abu itu, kemudian dia mulai mengedarkan matanya melihat kamar milik suaminya itu secara keseluruhan. Untuk ukuran kamar cowok, memang kamar Aksara terlihat rapi dan tidak memiliki banyak barang. Berbeda dengan kamar cewek yang didominasi dengan berbagai barang-barang koleksi pribadi.
Kemudian Arsyilla berjalan melihat ke rak buku yang ada di sudut kamar itu, dia melihat ada buku dongeng fairytale di sana. Tangan Arsyilla pun terulur untuk mengambil buku itu.
“Wah, ada dongeng anak-anak juga di sini. Pasti milik Thania ya?” tanyanya kepada Aksara.
Akan tetapi, Arsyilla justru mengernyitkan keningnya, “Bukumu? Bagaimana bisa ada buku dongeng fairytale di kamar seorang cowok?” tanyanya.
Aksara dengan cepat menyahut buku tersebut dan mengembalikannya ke tempatnya, “Bisa karena semua orang memiliki kenangannya masing-masing kan, jadi karena itulah buku ini bisa ada di sini,” sahut Aksara.
Setelah itu, mata Arsyilla kembali beredar di atas rak buku itu ada sebuah foto. Tampak sepasang orang tua yang menimang bayi dengan anak laki-laki yang duduk di antara mereka. Sontak Arsyilla pun berjinjit dan hendak meraih foto itu, tetapi nyatanya tangan Aksara yang bergerak lebih dahulu dan mengambil foto itu dan menyimpannya.
“Yah, padahal aku mau lihat, itu foto siapa sih?” tanya Arsyilla kali ini kepada Aksara.
__ADS_1
“Hanya sebuah foto,” jawab Aksara dengan menaruh foto itu ke dalam laci dan menguncinya.
Melihat Aksara yang bersikap aneh dan misterius, Arsyilla pun bertanya-tanya mengapa pria yang ada di hadapannya ini menyimpan banyak rahasia. Dan, tunggu … mengenai foto tersebut, kenapa pasangan yang ada di foto itu wajahnya begitu familiar.
“Misterius banget sih,” ucap Arsyilla kini sembari memilih duduk di tepi tempa tidur Aksara.
Aksara pun menyunggingkan senyuman di sudut bibirnya, “Tidak ada yang misterius. Lagipula, memang hanya sebuah foto,” jawabnya.
“Namun, kok pasangan di foto itu wajahnya familiar ya. Aku pernah melihat foto seperti itu di rumah Mama dan Papa. Bener gak sih? Kok mirip?” gumam Arsyilla kali ini.
Ya, seingatnya dia pernah melihat foto seperti itu di rumahnya. Pasangan muda yang menggendong seorang bayi dan anak laki-laki yang turut berfoto di foto itu.
Akhirnya pun Aksara memilih merebahkan dirinya di tempat tidurnya itu, “Sudah, tidak usah dipikirkan. Hanya sebuah foto, tidak mungkin juga mirip dengan yang ada di rumahmu,” jawabnya dengan melihat punggung Arsyilla yang masih duduk di tepi tempat tidur itu.
“Kamu tidak capek? Tidak tidur? Sini, berbaringlah di sini,” ucap pria itu sembari menepuk sisi ranjangnya yang kosong.
Arsyilla pun merotasi bola matanya dengan malas, dia tahu sekali bahwa menginap di rumah Bunda Kanaya dan Ayah Bisma sudah pasti supaya pria itu bisa tidur satu kamar dengannya.
Untuk itu, Arsyilla pun beringsut mundur, dan dia segera merebahkan dirinya dengan memunggungi Aksara.
“Aku tidur,” pamitnya kali ini.
__ADS_1
Tanpa Arsyilla ketahui, rupanya Aksara segera bergeser dan pria itu secara langsung melingkarkan tangannya di pinggang Arsyilla.
“Tidurlah, met tidur Istriku,” ucapnya dengan mengeratkan pelukannya di pinggang Arsyilla.