
Sore disertai gerimis manis yang begitu bergelora. Aksara dan Arsyilla masih bergelung di dalam satu selimut usai melakukan ritual panas, penuh cinta, dan tentunya berbalut kenikmatan di rumah baru mereka.
“Makasih Honey … ritual menempati rumah baru yang lebih mantap, lebih puas, dan lebih enak,” ucap Aksara sembari terkekeh dan memeluk erat tubuh istrinya itu.
Dengan cepat Arsyilla pun memukul dada suaminya itu, “Isshhh, nakal banget sih … mana ada ritual menyambut rumah baru yang kayak gitu,” gerutu Arsyilla sekarang ini.
“Ada … kita barusan. Namanya apa lagi coba?” tanya Aksara.
“Namanya modus,” balas Arsyilla.
Lagi, Aksara pun terkekeh geli dan begitu gemas dengan istrinya itu, “Tidak ada modus-modusnya kalau sama kamu, Honey. Aku selalu jujur dan apa adanya sama kamu,” balas Aksara.
“Jujur minta jatah?” tanya Arsyilla kemudian.
“Iya … jujur. Kan jujur sama istri sendiri tidak masalah. Yang penting, aku tidak akan menyakiti kamu dan dedek bayi kok,” balas Aksara dengan jujur.
Memang selama Arsyilla hamil, sering kali Aksara menahan supaya tidak menyakiti istri dan Dedek Bayi yang masih berada di dalam rahim istrinya itu. Bahkan sering kali tidak harus menyatukan dirinya dengan Arsyilla juga tidak masalah bagi Aksara. Intinya, Aksara hanya ingin menjalani penyatuan yang didasari dengan mau sama mau, bukan hanya dirinya saja yang mau.
“Aku mau pakai baju, Kak … dingin,” ucap Arsyilla kini. Memang hujan di luar sana ditambah dengan AC yang berada di dalam ruangan membuat Arsyilla merasa dingin.
Rupanya Aksara segera bangkit, pria itu kemudian membantu Arsyilla untuk mengganti pakaiannya. Pria itu tersenyum melihat jejak-jejak cinta yang dia tinggalkan di sembulan dada istrinya itu.
“Cantik banget sih,” ucap Aksara sekarang ini.
“Gombal, nanti muji-muji cantik ujung-ujungnya minta lagi,” sahut Arsyilla sembari menyipitkan matanya menatap suaminya itu. Tentu Arsyilla mengatakan semua itu bukan tanpa sebab, Arsyilla mengatakan semua itu karena dirinya sudah tahu akal-akalan suaminya itu.
__ADS_1
Aksara yang gemas langsung mencubit hidung Arsyilla, “Ihh, kamu ngerti aku banget sih, Honey … kalau kayak gini, aku gak bisa main trick-trick-an lagi dong sama kamu,” balasnya sembari tertawa.
“Aku sudah kenal kamu luar dalam, Kak,” balas Arsyilla.
“Senengnya, dikenalin luar dalam sama istrinya sendiri,” jawab Aksara.
Tentu saja jawaban Aksara terdengar ambigu di telinga Arsyilla. Hingga wanita itu menghela nafasnya.
“Apaan sih Kak … aku mau lihat hujan dari balkon Kak. Boleh enggak? ” tanya Arsyilla.
Aksara pun menganggukkan kepalanya, pria itu kemudian mengulurkan tangannya kepada Arsyilla dan mengajak istrinya itu untuk duduk di kursi yang berada di balkon kamar mereka. Di balkon itu, keduanya bisa merasakan sinar matahari pagi secara langsung, menyentuh dan merasakan hujan dengan tangan mereka, atau duduk bersama menikmati senja.
Sekarang ini, keduanya duduk bersama dan menikmati hujan deras yang turun sore itu. Arsyilla terlihat menikmati deraian hujan yang turun dengan cukup deras sore itu. Hujan yang selalu dia sukai. Hujan yang membuat Arsyilla selalu ingin menikmatinya.
“Iya, suka … suka banget. Bagiku, hujan itu romantis,” sahut Arsyilla. Wanita itu menjawab sembari menatap pada rintik-rintik hujan yang turun dari langit.
“Apa yang membuat hujan terasa romantis bagimu?” tanya Aksara kemudian.
“Dentingannya yang mengalun begitu indah, airnya yang mempesona dan basah, dan juga pretikor yang merupakan semerbak bau tanah yang dihasilkan dari percikan hujan. Semuanya sangat romantis,” balas Arsyilla.
Wanita itu kemudian melirik ke arah suaminya, dan melingkarkan tangannya di lengan suaminya sembari menyandarkan kepalanya di sana. “Lebih romantis, karena aku menikmati hujan pertama di rumah baru kita ini bersama dengan kamu,” ucap Arsyilla kemudian.
Aksara yang mendengarkan perkataan Arsyilla pun tersenyum, pria itu menunduk dan mengecupi kening Arsyilla dengan bibirnya yang hangat.
Chup!
__ADS_1
“Kamu pinter banget sih bikin jantungku dag-dig-dug seperti ini,” balas Aksara.
Nyatanya Arsyilla tertawa, wanita itu kian mencerukkan wajahnya di lengan suaminya. Sebab, bagi Arsyilla memang hujan yang dia lihat dan nikmati sore ini bersama dengan Aksara membuat suasana kian romantis.
“Kak, boleh bilang sesuatu?” tanya Arsyilla kepada suaminya.
“Iya, boleh dong, Honey,” sahut Aksara.
“Euhm, dulu tuh Mama Khaira pernah cerita bahwa rumah itu bukan hanya sekadar bangunan. Rumah yang sejati adalah di mana cinta kita berdua ada. Because Home is where the love is. Sebab rumah yang sebenarnya adalah saat cinta itu ada. Ku harap, di rumah yang baru ini. Cinta kita berdua bisa membuat rumah yang sebenarnya. Rumah yang bukan sekadar bangunan yang mewah, megah, dan indah ini, tetapi rumah di mana tangki air cinta itu selalu disirami dengan penuh,” ucap Arsyilla.
Mendengar ucapan Arsyilla, Aksara pun menganggukkan kepalanya, “Benar Sayang … Mama Khaira hebat banget sih bisa mengajarkan hal-hal yang sifatnya filosofis dan dalam gitu kepada kamu. Aku yakin banget, kamu menjadi wanita yang hebat karena Mama dan Papa yang hebat,” jawab Aksara.
“Bukan juga Kak … aku hanya wanita biasa. Kamu dan cintamu yang membuat wanita yang biasa ini menjadi spesial dan luar biasa,” jawab Arsyilla dengan tersipu malu.
Aksara lantas merangkul bahu istrinya dan membawa kepalanya di dadanya. “Kamu pinter banget sih, Honey … bagiku kamu tetap wanita yang hebat dan luar biasa. Wanita pertama yang kucintai, dan kuperjuangkan. Aku tidak menyesal melakukan semuanya untuk mendapatkan kamu,” balas Aksara.
Pengakuan yang begitu jujur dari Aksara bahwa untuk semua yang telah dia lakukan, hanya demi mendapatkan Arsyilla, Aksara tidak pernah menyesalinya.
"Kamu boleh percaya, boleh tidak. Kamu datang di hidupku dengan pesonamu. Pesona yang terus kuingat sepanjang waktu. Pesona yang membuatku tak bisa mencintai wanita lain, belasan tahun berlalu, tetapi aku tetap mencarimu," ucap Aksara.
Lantas Arsyilla tersenyum dan menatap wajah suaminya itu, "Hujan harus bertemu dengan hujan agar keduanya sama-sama basah. Aku harus bertemu dengan kamu, agar kita bisa bersatu. Aku yakin Because home is where the love is. Rumahku yang sesungguhnya ada pada dirimu. Hati yang tulus mencintaiku, menerima semua kekuranganku, dan juga melindungiku."
"Iya Honey. Kamu juga adalah rumah bagiku. Rumah untukku berlabuh seumur hidupku. Jadi, jangan bosan denganku. Berdirilah di sampingmu seumur hidupmu, dampingi aku selamanya," pinta Aksara dengan tulus.
Di sore yang penuhi dentingan hujan, ketika semerbak pretikor menguar dengan begitu harumnya, Aksara dan Arsyilla mengurai sebuah makna terdalam bahwa rumah adalah tempat yang dipenuhi cinta. Cinta yang sumber dari mereka berdua dan akan mereka salurkan kepada anak-anaknya nanti.
__ADS_1