Aksara Untuk Arsyilla

Aksara Untuk Arsyilla
Kabar dari Ravendra


__ADS_3

Sementara itu di Lembaga Pemasyarakatan, seorang pemuda tengah duduk menjalani piket dengan mengepel lantai mushola yang berada di dalam Lapas. Pemuda itu terlihat tidak bersemangat, dan rasanya ingin segera keluar dari Lapas. Sehari berada di dalam Rutan rasanya seperti waktu berjalan lebih lambat.


"Gue terbiasa hidup enak di rumah. Di sini, gue harus memegang kain pel yang kotor seperti ini. Semua ini gara-gara Arsyilla. Inget saja, Arsyilla. Usai keluar dari Lapas ini, gue akan membuat perhitungan kepadamu," ucapnya sembari mengepel lantai di Mushola itu.


"Hei, Vendra ... pel yang bersih. Lihat tuh, lantainya masih basah. Anak baru di dalam tahanan sini, jangan belagu loe ya," teriak salah seorang tahanan yang lainnya.


Akan tetapi, seolah Ravendra tidak mengindahkan ucapan tahanan yang lebih dahulu menghuni rumah tahanan itu. Ravendra dengan arogannya justru melemparkan alat pel di tangannya.


"Berengsek, belagu loe. Kalau ngerasa lantai ini masih basah, kenapa enggak loe sendiri aja yang bersihin," sahut Ravendra.


Ya, Ravendra berpikir bahwa di dalam penjara dirinya tetap adalah seseorang yang spesial. Merasa kekuasaan yang dimiliki orang tuanya bisa melindunginya. Akan tetapi, dia sepenuhnya salah karena di dalam Lembaga Permasyarakatan ini, para narapidana bisa bertindak bengis bahkan kejam. Tidak peduli bagaimana kekuasaan yang dimiliki di luar sana, para narapidana memiliki hukum tersendiri.


Merasa bahwa Ravendra bersikap arogan, yang ada justru terjadi adu jotos antara Ravendra dan narapidana itu. Merasa dirinya benar dan Ravendra hanya anak bau kencur di sini, maka dengan mudahnya narapidana itu memukuli Ravendra hingga pemuda itu mengeluarkan darah merah segar di sudut bibirnya.


"Berengsek loe yah. Anak bau kencur aja, berani di dalam ini. Ingat ya, setinggi apa pun posisi loe di luar sana, di dalam sini loe gak ada apa-apanya," teriak narapidana berbaju oranye itu dengan masih menjatuhkan pukulannya yang kali ini mengenai perut Ravendra.


Nyaris saja tubuh Ravendra roboh. Untung saja pertikaian itu berakhir karena bunyi tiupan peluit yang ditiupkan salah seorang penjaga Lapas yang memberikan isyarat ada tahanan yang mencoba berkelahi dan adu jotos.


"Stop! Stop! Berhenti!" teriak petugas Lapas siang itu.


Merasa bahwa keduanya menimbulkan keributan, Ravendra dan seorang narapidana itu dibawa untuk menghadap kepala Lapas. Berbagai arahan diberikan oleh petugas Lapas bahwa sesama narapidana tidak diperkenankan untuk bertengkar dan memicu keributan dan kekerasan fisik. Saat itu, Ravendra hanya diam. Tidak memberikan jawaban apa pun.

__ADS_1


Usai mendapat arahan, pria itu mendapatkan perawatan untuk luka di sudut bibirnya. Saat petugas medis di Lapas memberikan salep di sudut bibirnya, pria itu mendesis.


“Sssshhss, aw,” ucapnya saat merasakan perih di sudut bibirnya itu.


Setelahnya, Ravendra kembali ke dalam sel penjara. Pria itu duduk dengan menyandarkan punggungnya di dinginnya tembok penjara.


“Semua ini gara-gara Arsyilla … jika bukan karena dia, aku gak akan merasakan semuanya ini. Selepas aku keluar dari tempat ini, aku akan membuat perhitungan dengan wanita itu, aku membuat dia membayar untuk semua luka yang aku rasakan sekarang ini,” ucapnya dalam hati.


Hanya beberapa saat berlalu, rupanya salah seorang petugas datang dan mengatakan ada yang datang menjenguknya. Pria itu kembali keluar dari sel penjaranya, dan berjalan gontai menemui siapa yang datang untuk menjenguknya.


“Ravendra, bagaimana kabarmu, Nak?” tanya seorang wanita paruh baya yang datang untuk mengunjungi Ravendra.


“Untuk kamu kemari?” sahut Ravendra. Pemuda itu tidak senang mendapatkan kunjungan, yang ada justru Ravendra kian merasa kesal.


Akan tetapi, Ravendra menggelengkan kepalanya.


“Enggak … terima kasih,” sahutnya.


Melihat perilaku Ravendra yang keras kepala, wanita paruh baya itu tampak menatap Ravendra dan memberikan sedikit senyuman.


“Kenapa Vendra? Mama juga Mamamu,” jawabnya.

__ADS_1


“Bukan … Mamaku itu Mama Sandra, bukan kamu, Tante,” sahut Ravendra.


Rupanya yang datang siang itu untuk menjenguk Ravendra adalah Mama Tirinya, yaitu Tante Dini. Akan tetapi, tampaknya hubungan antara Ravendra dengan Mama Tirinya tidaklah baik, sehingga Ravendra justru kesal dengan kunjungan yang dilakukan Tante Dini.


“Lebih baik Tante Dini pergi saja dari sini. Jangan pernah menemui Ravendra di sini, cukup Tante urusi saja anak-anak Tante karena Ravendra bukan anak Tante,” ucap Ravendra dengan begitu kesal.


“Kenapa kamu berkata seperti itu Ravendra? Mama juga menyayangi kamu, sama seperti kasih sayang Mama kepada adik-adikmu yang lain. Kalian sama untuk Mama. Tidak ada anak tiri dan anak kandung. Kalian sama berharganya buat Mama,” ucap Tante Dini yang masih berusaha memberikan penjelasan kepada Ravendra.


Akan tetapi, Ravendra dengan cepat menggelengkan kepalanya, “Tidak. Sampai kapanpun Mama Ravendra hanya Mama Sandra, tidak ada Mama yang lain. Lagipula, yang Tante sayangi hanyalah Papa dan anak-anak Tante. So, tidak perlu menyayangi Ravendra. Hanya Mama Sandra yang sayang kepada Ravendra,” ucap pria itu.


Kedua mata Tante Dini pun tampak berkaca-kaca. Tidak menyangka bahwa putra tirinya itu tetap tidak bisa menerima dirinya. Tante Dini merasa bahwa dia menyayangi Ravendra, menganggap Ravendra seperti putra kandungnya sendiri. Akan tetapi, tidak dengan Ravendra. Perceraian antara Papanya dan Mama Sandra tetap menggoreskan luka di hati pria itu. Sekian tahun berlalu, Ravendra tetap tidak bisa menerima perpisahan kedua orang tuanya.


Secara perlahan, Ravendra pun berdiri, “Silakan Tante Dini pergi dari sini. Sampaikan kepada Papa terima kasih. Tidak perlu memikirkan Ravendra di sini,” ucap pemuda itu.


“Dengarkan Mama, Nak … jangan seperti ini. Kenapa kamu selalu menganggap Mama sebagai orang asing?” tanya Tante Dini dengan berlinangan air mata.


Ravendra kemudian menatap tajam pada Tante Dini, “Tante mau tahu? Itu semua karena Tante yang sudah membuat Papa untuk meninggalkan Mama dan menceraikan Mama. Apa belum cukup Tante merusak rumah tangga orang? Apa belum cukup Tante mendapatkan Papa sepenuhnya? Jadi, jangan mengganggu Ravendra, Tante,” ucap Ravendra.


Merasa bahwa Tante Dini masih tidak beranjak dari tempat itu, Ravendra memilih pergi. Ya, Ravendra memilih meninggalkan Tante Dini. Pria itu nyatanya justru merasakan hatinya kian bergemuruh melihat kedatangan Mama Tirinya itu. Jika, bisa meminta justru lebih baik dia tidak bertemu dengan Tante Dini saja.


“Sampai kapan pun, Ravendra tidak akan menerima Tante Dini sebagai Mama bagi Ravendra. Sudah cukup semuanya terjadi, sudah cukup Tante Dini membuat Papa meninggalkan Mama. Sudah cukup semua, dan Ravendra tidak akan menerima Tante Dini,” pria itu berteriak dalam hatinya.

__ADS_1


Terasa sesak. Tidak mengira satu hari ini justru berjalan sangat kacau baginya. Bukan hanya luka di sudut bibirnya, tetapi kedatangan Tante Dini nyatanya justru membuka lagi luka lama di dalam hatinya. Ya, perpisahan kedua orang tuanya benar-benar membuat Ravendra menjadi anak yang broken home. Sekali pun hubungannya dengan sang Papa masih baik, tetapi dia tidak bisa menerima pasangan Papanya sebagai Mamanya. Bertahun-tahun berlalu, tetapi bagi Ravendra, Mamanya tetap hanyalah satu dan itu adalah Mama Sandra.


__ADS_2