
“Kamu Aksara, ya?” suara Papa Radit sore itu layaknya gemuruh yang tiba-tiba hadir di sore hari yang sejuk.
Mendengar pertanyaan yang tidak terhingga, senyuman di wajah Aksara pun pudar. Pria itu meraba saku celana jeans yang dia kenakan dan rupanya dompetnya memang jatuh. Dompet itu memang tidak ada di sana, hingga senyuman di wajah Aksara pun sirna. Tergantikan dengan kegelisahan yang menyelimutinya. Sembari menghela nafasnya, Aksara pun berbalik perlahan dan menatap Papa Radit.
“Saya Aksara, Ayah,” ucapnya dengan tenggorokannya yang nyaris tercekat. Sebutir air mata pun menetes begitu saja.
Tanpa menunggu lama, Papa Radit pun langsung memeluk Aksara dengan begitu eratnya, “Kamu Aksaranya, Ayah? Apa benar?” tanya Papa Radit yang juga terlihat emosional, beberapa kali pria paruh baya itu memeluk dan menepuk-nepuk bahu Aksara.
Pemuda itu mengangguk, “Iya, Yah,” jawabnya.
Rupanya pemandangan harus di depan rumah itu, tidak luput dari pandangan Mama Khaira. Sang Mama pun turut bergabung dengan suami dan menantunya itu, setelah itu Mama Khaira menepuk punggung Aksara dengan lembut, membuat pemuda itu mengurai pelukannya dari Papa Radit, dan menoleh ke belakang, dilihatnyalah Mama Khaira yang sedang berdiri di belakangnya.
Dalam sepersekian detik, Aksara pun benar-benar menangis dan terisak rasanya, dengan lirih dia memanggil wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dan awet muda itu, “Ibu Khaira …,” panggilnya dengan suara lirih.
Mama Khaira pun seketika menangis memeluk pria itu, rasa sesak yang sekian tahun menyelimuti rongga paru-parunya perlahan-lahan sirna.
“Kamu Aksaranya Ibu?” tanya Mama Khaira perlahan.
Aksara mengangguk dengan masih memeluk Mama Khaira, “Benar, si itik buruk rupa yang dulu ditinggalkan oleh keluarganya, terdampar di Panti Asuhan tanpa merasakan kasih sayang dari orang tua kandungnya, sekarang berdiri di hadapan Ibu Khaira dan Ayah Radit dengan rasa bangga,” ucap Aksara dengan menghela nafasnya.
Setelah itu, Mama Khaira pun menarik tangan Aksara untuk mengikutinya ke taman yang berada di serambi rumah. Papa Radit pun juga turut bergabung dengan mereka. Saat ini ketiganya duduk di bangku taman dan dipisahkan dengan meja bulat dekat dengan kolam ikan di sana.
Mama Khaira kembali meneteskan air matanya melihat sebuah foto yang tersimpan di dalam dompet Aksara itu.
“Mama akhirnya lega, bisa melihatmu saat kamu dewasa. Kamu tidak tahu Aksara, saat itu kami mencarimu, bahkan berbulan-bulan setelahnya, kami masih mengunjungi Panti Asuhan dengan harapan kami bisa melihatmu lagi. Nyatanya sia-sia, informasi yang kami dapat dari Bu Lisa pun berubah-ubah, katanya kamu berada di Singapura dan setelah itu di Jakarta, mengapa kamu tidak pernah mencari kami?” tanya Mama Khaira.
__ADS_1
“Aksara selalu mencari Ibu, Ayah, dan Syilla … tetapi, tidak pernah bertemu. Hingga akhirnya, Aksara menitipkan surat untuk Ibu dan Arsyilla.” Aksara menjawab dan meyakinkan bahwa dirinya sebenarnya pun mencari keberadaan keluarga yang sudah menyayanginya saat di Panti Asuhan dulu.
Keluarga yang menyayanginya, menerimanya, padahal mereka bukan sedarah, tetapi Aksara bisa merasakan bahwa keluarga dari mertuanya ini sangat menyayanginya. Menyekolahkannya, bahkan sampai bertahun-tahun, rupanya Mama Khaira masih mengirimkan uang setiap bulannya ke rekening miliknya.
“Maafkan Aksara, Ayah, Ibu … maafkan jika Aksara melakukan cara yang salah kepada Arsyilla, tetapi sejujurnya Aksara sangat mencintainya,” pengakuan itu keluar begitu saja dari mulut Aksara.
Ya, pengakuan yang baru berani dia buka di hadapan orang yang sudah dianggap layaknya orang tuanya.
Mama Khaira dan Papa Radit saling melemparkan pandangannya saat Aksara menyatakan permintaan maafnya dan sekaligus pengakuan bahwa pria itu mencintai putrinya, Arsyilla.
“Sejak kapan kamu mencintai, Syilla?” tanya Papa Radit kini kepada Aksara.
Sejenak terdiam, Aksara pun lantas kembali bersuara, “Mungkin sejak Aksara masih kecil. Aksara pikir, hanya sebatas perasaan suka dan sayang sebagai sosok adik. Akan tetapi, tahun-tahun yang Aksara lewatkan tanpa sekali pun melihat Arsyilla justru membuat Aksara berusaha dan berjuang, Aksara ingin menjadi pria yang dicintai oleh Arsyilla,” jawab Aksara dengan yakin.
“Maaf Ayah, tetapi saat itu Arsyilla dijebak oleh Ravendra, Orange Juss yang dia minum telah dicampuri dengan alkohol. Sementara, mungkin saat itu Aksara sedikit minum sehingga kesalahan satu malam itu terjadi begitu saja,” jawab Aksara dengan gugup sebenarnya. Harus mengatakan layaknya pengakuan dosa di hadapan orang-orang yang dia kasihi.
“Ah, jadi Arsyilla tidak sadar usai dari toilet itu karena Vendra?” tanya Mama Khaira.
Aksara mengangguk, “Iya, hanya saja justru dia berakhir dengan saya, Ibu … maaf. Lagipula, saya tahu kalau Ravendra memiliki niat busuk kepada Arsyilla, tetapi Ayah dan Ibu jangan khawatir karena Ravendra ditangkap Polisi saat ini, karena dia berusaha melakukan tindak kekerasan kepada Syilla,” ungkap Aksara.
“Kenapa masalah serius ini kamu tidak memberitahu Papa?” tanya Radit lagi.
“Maaf, Pa … Aksara pikir menempuh jalur hukum lebih baik daripada bermain tangan sendiri. Aksara akan selalu menjaga Syilla dan memastikan dia aman di sisi Aksara,” ucapnya lagi.
Mama Khaira lantas menghela nafasnya, “Jadi, Arsyilla sudah tahu jika kamu adalah Aksara, kakaknya yang dulu dia cari sejak kecil?” tanyanya.
__ADS_1
Aksara justru menggelengkan kepalanya, “Tidak Ma, Aksara baru berani jujur kepada Mama dan Papa,” jawabnya.
“Kenapa tidak kamu beritahu?” tanya Mama Khaira lagi kepada Aksara.
“Aksara ingin, Arsyilla mencintai Aksara sebagai apa yang dia lihat sekarang ini. Mungkin saja dia sudah melupakan Aksara karena memori seorang anak kecil berusia 3 tahun saat itu bersifat parsial (sementara). Aksara tidak keberatan jika dia melihat Aksara hanya sekarang ini saja,” jawab Aksara.
Akan tetapi, Papa Radit segera menyanggah ucapan Aksara, “Lebih baik kamu jujur, dulu Papa dan Mamamu itu juga saling mengenal saat kecil dulu. Justru saat memori kami bertemu, rasanya justru rasa cinta kami semakin dalam. Suatu saat, jujurlah juga kepadanya.”
“Baik Pa, berikan Aksara waktu ya Pa … hanya saja, Aksara benar-benar mencintai Syilla,” lagi pemuda itu mengatakan bahwa dia benar-benar mencintai Arsyilla.
Papa Radit dan Mama Khaira pun mengangguk, “Baiklah … kami akan mendukungmu. Kepadamu juga, Mama dan Papa percayakan dan titipkan Arsyilla, hanya saja tetap kabari kami jika membahayakan Arsyilla. Bagaimana pun, kami juga orang tuanya kan?”
Perbincangan serius di antara ketiganya usai karena Arsyilla yang tampak berjalan menuju taman di serambi rumah itu.
“Mama, Papa, Syilla cariin loh …” gerutunya sembari memilih duduk di samping Papanya.
“Kami nyore di sini, Sayang,” jawab Papa Radit dengan lembut dan terdengar penuh kasih sayang kepada putrinya itu.
“Kan Syilla kangen sama Papa dan Mama, malahan di sini sih …” ungkapnya lagi.
Aksara pun menatap wajah Arsyilla itu, jika demikian dia benar-benar layaknya putri yang begitu disayangi oleh Mama dan Papanya.
“Aku juga kangen kamu, Syilla,” balas Aksara tiba-tiba yang membuat Papa Radit dan Mama Khaira pun menggelengkan kepalanya mendengar ucapan spontans dari menantunya.
Wajah keduanya tampak lega saat menyadari bahwa Aksara yang menjadi menantunya, rupanya adalah Aksara kecil yang dulu mereka temui saat di Panti Asuhan. Aksara yang adalah bocah kecil yang bisa mengetuk hati Mama Khaira hingga Mama Khaira ingin menyekolahkan bocah kecil itu dan berharap dia menjadi orang yang berguna dan berhasil suatu hari nanti.
__ADS_1