
Usai pulang dari Kepolisian, Aksara tidak langsung membawa Arsyilla untuk kembali ke apartemennya. Pria justru menghentikan mobilnya di area Pantai Karnaval Ancol. Menurut Aksara, pantai dengan deburan ombaknya dan ditambah hari akan menuju senja bisa merilekskan Arsyilla. Aksara tahu, secara psikis Arsyilla masih terguncang, maka pria itu memilih membawa Arsyilla ke Pantai Karnaval Ancol.
"Kenapa kita ke sini?" tanya Arsyilla yang tampak bingung karena meraka tidak kembali ke apartemen, melainkan mereka berada di Pantai Karnaval Ancol.
Aksara mengangguk, "Iya, kita bisa jalan-jalan sebentar di sini. Ayo, turunlah."
Arsyilla mengangguk dan dia mengikuti langkah kaki Aksara di depannya. Tidak menyangka sekarang pria itu berjalan menuju kawasan Pantai Bende yang terkenal dengan jembatan Dermaga Cinta yang melengkung.
Saat rona jingga mulai menghiasi angkasa, lampu-lampu yang gemerlapan, pantai yang menatap langsung ke Laut Jawa itu terlihat begitu indah dan romantis. Ditambah banyak pasangan muda-mudi yang tampak memadu kasih di Jembatan Dermaga Cinta itu.
Angin yang bertiup kencang membuat Arsyilla sesekali memeluki tubuhnya sendiri. Membawa kedua tangannya bersidekap di depan dada. Rambut panjang gadis itu yang terurai justru melambai-lambai diterpa angin pantai.
Sementara Aksara hanya berdiri di samping Arsyilla, memberikan waktu bagi Arsyilla untuk menikmati alam yang begitu indah. Jika pun dia tidak bisa merangkai kata-kata untuk menghibur Arsyilla, biarkan kemolekan senja yang berpadu dengan birunya pantai sore itu yang akan menghibur Arsyilla.
"Terima kasih," ucap Arsyilla pada akhirnya dengan sedikit menoleh guna melihat wajah Aksara.
"Sama-sama," jawab Aksara.
Sekali pun hanya mengamati dengan kedua matanya, Aksara yakin bahwa Arsyilla sudah jauh lebih tenang saat ini. Memang dirinya, tidak bisa menerka kata hati Arsyilla, tetapi Aksara percaya panorama yang indah dan tenang ini cukup menenangkan Arsyilla.
__ADS_1
Setelah itu, Aksara melepas jaket yang saat dia kenakan, pria itu berdiri di belakang Arsyilla dan mengenakan jaketnya untuk Arsyilla.
“Pakailah, anginnya kencang. Jangan sampai kamu masuk angin,” ucapnya dengan memakaikan jaket berwarna hitam itu untuk Arsyilla.
Mengerjap, sontak kedua netra Arsyilla bersitatap dengan Aksara, “Ini?” tanyanya sembari memegangi jaket Aksara yang menggantung di bahunya. “Kamu?” tanyanya lagi.
Aksara mengangguk, “Tidak apa-apa, pakailah … anginnya kencang,” ucapnya dengan pandangan lurus ke depan, tanpa menoleh kepada Arsyilla.
Kenapa dia sangat baik dan terlihat perhatian padaku?
Dibalik sikap acuh tak acuhnya, justru itu menggambarkan dengan jelas kepeduliannya.
Sebenarnya siapa pria yang ada di hadapanku ini?
Aku menjadi curiga, untuk ingin tahu siapa dia sebenarnya?
Rasanya Arsyilla tenggelam dalam pikirannya sendiri, baginya Aksara justru terlihat peduli dengannya. Sesekali Arsyilla mencuri pandang kepada Aksara, guna menerka sebenarnya siapa pria bernama Aksara ini? Mereka yang terlibat cinta satu malam dan sama-sama tidak mengenal satu sama lain, tetapi gelagat Aksara justru mengatakan bahwa pria itu mungkin saja mengenalnya.
Senja di langit sana telah memudar, langit berwarna jingga itu perlahan tergantikan dengan kegelapan. Deburan ombak yang kian kencang dan angin yang bertiup lebih kencang, beberapa Arsyilla justru tampak memejamkan matanya. Berharap deburan ombak di bawah sana akan membersihkan lukanya. Angin yang berhembus kencang berharap bisa menyapu semua pilu dan kesedihan yang ada di sana.
__ADS_1
“Kamu ingin berdiri di sini sampai berapa lama?” tanya Aksara perlahan hingga akhirnya Arsyilla pun langsung menoleh kepadanya.
“Haa, apa?” tanyanya karena memang Arsyilla tidak fokus, dia sedang merelaksasi dirinya sendiri.
Aksara sedikit mendekat, kedua tangannya berpegangan di Jembatan Dermaga Cinta yang terbuat dari kayu itu, lengannya hingga berdempetan dengan lengan Arsyilla. “Kamu ingin berdiri di sini terus?” tanyanya lagi.
Arsyilla justru mengangguk, “Iya, rasanya indah di sini. Aku masih ingat dulu waktu kecil sering kali Papa membawa kami ke pantai untuk refreshing. Setelah aku dan Shaka dewasa dan memiliki rutinitas sendiri-sendiri, ke pantai menjadi begitu jarang. Sehingga Papa dan Mama yang jalan-jalan sendiri berdua,” cerita Arsyilla kali ini.
“Bunda dan Ayah juga begitu, bahkan sebelum mereka menikah, pernah saat Bunda bersedih, Ayah membawanya ke pantai untuk menenangkan Bunda,” cerita Aksara kali ini.
“Benarkah?” tanya Arsyilla yang tampak terkejut karena ada kesamaan antara orang tuanya dengan mertuanya.
Aksara mengangguk, “Iya, Ayah yang banyak bercerita kepadaku,” jawab Aksara.
Arsyilla pun menatap lurus pada pantai dengan buih ombaknya di bawah sini, wanita itu tersenyum pias, “Sangat menyenangkan bila bisa berbagi waktu dengan pasangan yang saling mencintai, seolah waktu yang dihabiskan adalah momen terindah dalam hidup kita,” ucapnya.
Dalam hatinya, sejujurnya Arsyilla ingin bisa seperti Papa dan Mamanya yang selalu menghabiskan waktu dan menciptakan momen indah berdua. Hanya saja, mungkin saja Arsyilla tidak seberuntung kedua orang tuanya.
Aksara pun mendengarkan suara lirih Arsyilla yang sering kali menghilang karena deburan ombak yang lebih kencang. Kemudian Aksara menolehkan wajahnya guna bisa menatap Arsyilla.
__ADS_1
“Benar, siapa tahu waktu yang kita jalani sekarang akan menjadi momen indah dalam hidup kita di kemudian hari,” ucapnya dengan memandang Arsyilla lekat-lekat.
Dalam benaknya, Aksara yakin bahwa Arsyilla akan menemukan dan menjalani setiap momen indah dan berharga dalam hidupnya dengannya. Untuk itu, tugas Aksara adalah terus menjaga Arsyilla. Membuat wanita itu mengenalnya dengan caranya.