
Perjalanan dari Bandara menuju kembali ke apartemen, Arsyilla memilih diam. Rasanya malas saja melihat Tiara yang sampai menyerobot hanya untuk berjalan di belakang suaminya. Jujur saja, wanita itu mendengkus sebal.
Aksara sendiri tahu bahwa Arsyilla kini tengah kesal, pria itu juga memilih diam. Pikirnya adalah memberi waktu bagi Arsyilla untuk mengelola emosinya, memberi istrinya waktu untuk mendinginkan hati dan kepalanya.
Begitu tiba di unit apartemennya, Arsyilla memilih segera mandi dan tidur. Meninggalkan Aksara begitu saja. Rasanya begitu malas dan tidak ingin berbicara dengan suaminya terlebih dahulu. Hari masih siang, tetapi Arsyilla sudah bergelung di dalam selimut.
Aksara geleng-geleng sendiri sebenarnya melihat istrinya yang tengah mode ngambek itu. Namun, Aksara tidak mempermasalahkannya karena memang dia perlu mengenal Arsyilla lebih dekat. Kali ini, Aksara agaknya tahu bahwa saat suasana hatinya sedang buruk, Arsyilla memilih diam dan malas berbicara.
Pria itu kemudian duduk di tepian ranjang, mengamati Arsyilla yang sudah tertidur lelap, “Kamu pasti sebel ya Sayang … padahal sepenuhnya juga bukan salahku,” ucap Aksara pada akhirnya.
Lantas Aksara menundukkan wajahnya dan mengecup pipi Arsyilla. “Tidurlah, kamu pasti capek … aku mandi dulu, nanti aku susul,” ucap pria itu yang kemudian bangkit dan segera membersihkan dirinya di bayarnya dinginnya air shower yang berharap bisa menenangkan dirinya.
Usai mandi, Aksara yang sudah segar pun benar-benar membaringkan dirinya dan dia melingkarkan tangannya ke pinggang Arsyilla. Memeluk istrinya itu. Membiarkan jam berlalu, keduanya pun sama-sama terlelap.
Menjelang sore barulah keduanya bangun. Arsyilla bangun terlebih dahulu. Wanita itu segera bangkit dari ranjangnya dan menuju dapur. Kepalanya terasa pening, agaknya dia membutuhkan Teh Madu hangat kesukaannya untuk menghilangkan peningnya.
Sembari menunggu Teh yang masih diseduh, rupanya ada telepon yang masuk ke dalam handphonenya. Rupanya Mama Khaira yang sedang menelponnya.
Mama Khaira
Memanggil
“Ya, halo Ma … ada apa?” tanya Arsyilla kepada Mamanya yang kini menelponnya.
“Ya, halo Syilla nya Mama … kamu sudah tiba di Jakarta, Sayang? Putri kecil Mama yang sedang bulan madu, sampai jarang kirim pesan buat Mama,” ucap Mama Khaira di seberang sana dengan tertawa.
Sementara Arsyilla hanya memasang wajah datar. Bulan madunya seakan meninggalkan bekas yang membuat hatinya kesal. Hanya terdengar helaan nafas dari Arsyilla.
__ADS_1
“Maaf Ma … Syilla baru tadi siang tiba di Jakarta, ada apa Ma?” tanyanya.
“Malam ini, ke rumah Mama bisa Sayang? Mertua kamu mau datang kemari dan sekalian makan malam. Sekarang Mama dan Bundamu akrab, beberapa hari lalu kami jalan-jalan ke Mall bersama,” ucap Mama Khaira.
Arsyilla pun tersenyum, “Syukurlah Ma … Syilla justru senang kalau Mama bisa dekat dengan Bunda Naya. Bagi Syilla, Mama dan Bunda itu sama-sama baiknya,” jawabnya.
Terdengar kekehan dari Arsyilla di sambungan telepon itu, “Ya sudah … malam ini kemari ya. Mama tunggu,” ucapnya.
Rupanya, saat Arsyilla menerima telepon dan wajah wanita itu tersenyum terlihat juga oleh Aksara. Pria itu dengan begitu saja, mendekap tubuh Arsyilla, memeluknya dari belakang, dan menaruh dagunya di bahu Arsyilla, menggerak-gerakkannya perlahan.
“Sayang, kangen …,” ucapnya dengan suara yang terdengar manja.
Sementara Arsyilla hanya diam, tidak menanggapi perkataan suaminya itu. Dia sibuk membuat Teh Madu untuknya.
“Aku juga mau Tehnya ya Sayang … jangan terlalu manis, karena sudah ada kamu yang manis,” ucapnya.
Rupanya Arsyilla masih diem, tetapi tangannya terlihat mengambil satu mug lagi dan membuatkan Teh Madu untuk suaminya itu. Aksara tertawa dalam hati, sekalipun Arsyilla ngambek rupanya wanita itu masih perhatian padanya. Untuk itu, Aksara menggerakkan sisi wajah Arsyilla menghadapkannya ke wajahnya, pria itu segera mencium bibir Arsyilla dengan nafas yang memburu. Menyesap lipatan bawah bibirnya dengan begitu dalam, lidahnya menelusup dan menerobos masuk menggoda rongga mulutnya dan membelit lidahnya. Arsyilla seolah tak merespons, membiarkan pergerakan bibir dan lidah suaminya itu, tetapi wanita itu tak membalasnya.
“Masih marah?” tanyanya lagi.
Dari wajahnya yang sedari tadi datar, bisa terlihat bahwa Arsyilla masih marah.
Arsyilla justru segera menyesap Teh madu miliknya, dengan tergesa-gesa menghabiskan hampir satu gelas mug Teh Madu hangat. Setelahnya dia mengurai dekapan tangan suaminya di pinggangnya, “Aku mau ke rumah Mama,” ucapnya.
“Aku antar,” jawab Aksara pada akhirnya.
Aksara memilih meminum Teh Madu miliknya, pria itu kemudian menyusul masuk ke dalam kamar untuk mengganti pakaiannya. Sementara Arsyilla yang sudah mengganti baju, tampak membongkar koper miliknya dan mengeluarkan oleh-oleh khas Lombok seperti Dodol Rumput Laut, Songket dari Desa Sukarara, dan Kalung Mutiara untuk Mama Khaira dan Bunda Kanaya.
__ADS_1
Memasukkannya dalam dua paper bag yang akan dia bagikan untuk orang tua dan mertuanya. Setelah itu, Arsyilla keluar dari kamar. Menunggu Aksara di ruang tamunya. Hingga beberapa menit berlalu, Aksara keluar dari kamarnya.
“Ayo, kita berangkat sekarang,” ucap pria itu.
Arsyilla hanya mengekori Aksara, keluar dari unitnya dan menuju ke parkiran basement. Mereka akan menuju ke kediaman Mama Khaira dan Papa Radit.
Berkendara kurang lebih dua puluh menit, sekarang keduanya tiba di kediaman Mama Khaira dan Papa Radit.
“Wah, yang honeymoon baru saja pulang,” celetuk Papa Radit sembari memeluk putrinya itu.
Arsyilla pun tersenyum, “Papa bisa saja sih, Pa,” sahutnya.
Rupanya di dalam rumah sudah ada kedua mertuanya yang terlihat sedang mengobrol di ruang tamu. Arsyilla pun memberikan salam dan memeluk Mama Khaira, Bunda Kanaya, dan Ayah Bisma.
“Terima kasih untuk hadiah bulan madunya, Bunda dan Ayah,” ucap Arsyilla pada akhirnya. Sebab, dia masih ingat bahwa bulan itu adalah hadiah dari mertuanya. Oleh karena itu, Arsyilla pun mengucapkan terima kasihnya.
“Sama-sama Sayang … gimana suka ke Lombok?” tanya Bunda Kanaya.
“Suka Bunda … pengalaman pertama bagi Syilla naik Pinisi Boat,” ucapnya.
Bunda Kanaya dan Ayah Bisma pun tersenyum, “Bunda dan Ayah lega kalau kamu suka, sering-sering liburan bersama biar makin cinta. Lagipula, masih belum ada baby. Nanti kalau sudah ada baby mau kemana-mana susah,” ucap Bunda Kanaya.
Kemudian Arsyilla menyerahkan paper bag yang dibawanya satu untuk Mama Khaira dan satu untuk Bunda Kanaya.
“Sedikit oleh-oleh dari Syilla dan Kak Aksara untuk Mama dan Bunda,” ucapnya.
“Terima kasih Sayang … makasih Aksara,” ucap Mama Khaira yang tersenyum menerima oleh-oleh dari putri dan menantunya itu.
__ADS_1
Aksara pun mengangguk, “Sama-sama Mama,” jawabnya.
Dalam hatinya, Aksara masih mencoba mengamati Arsyilla. Akan tetapi, melihat wanita itu yang terlihat bisa mengelola emosinya, Aksara lega. Itu berarti memang Arsyilla sebal hanya kepada dirinya. Dengan orang tua dan mertuanya, Arsyilla bisa mengelola emosinya dengan baik.