Aksara Untuk Arsyilla

Aksara Untuk Arsyilla
Semua Perjalanan Cinta Istimewa


__ADS_3

Berkumpul dengan keluarga besar membuat Arsyilla dan Aksara pun menyadari bahwa setiap pasangan memiliki kisah cinta yang istimewa. Sama seperti Papa Radit dan Mama Khaira yang bertemu kembali di Old Trafford Stadium. Pinangan yang dimulai tanpa cinta, nyatanya justru membuat Papa Radit sampai terbang ke Manchester. Meluluhkan hati istrinya, dan memulai semuanya kembali dari nol.


Sementara Ayah Bisma yang mau menerima Bunda Kanaya yang sebelumnya sudah pernah menikah dengan Darren Jaya Wardhana. Ayah Bisma justru membuktikan bahwa dia akan selalu ada untuk Bunda Kanaya, menggenggam tangan Bunda Kanaya dan terus mendampingi sampai sekarang ini. Ketika hari berselimut mendung menghampiri mereka, genggaman tangan Ayah Bisma terus menguat. Ketika hari dengan sinar matahari yang cerah, Ayah Bisma juga selalu menggenggam tangan Bunda Kanaya.


“Semua keluarga memiliki kisah cintanya, sama seperti Papa Radit dan Ayah sendiri. Ayah juga yakin kamu dan Syilla juga mulai menapaki kisah cinta kalian berdua,” ucap Ayah Bisma kali ini.


Perlahan Aksara pun menganggukkan kepalanya, “Iya Ayah … hanya saja kami masih harus belajar dari Ayah dan Papa. Perjalanan kami masih sangat dini, masih perlu menimba pengalaman dari Ayah dan Papa,” sahut Aksara.


“Dalam berumahtangga kalau Papa dan Mama selalu melakukan filosofi lima lilin,” ucap Papa Radit kali ini.


“Bagaimana itu Pa?” tanya Aksara yang merasa begitu tertarik dengan apa yang hendak diucapkan Papanya itu.


"Jadi rumah tangga itu seperti perumpamaan empat lilin, Mas. Di mana masing-masing lilin memiliki filosofi tersendiri. Lilin yang pertama adalah damai sejahtera, lilin ini bisa padam karena manusia tidak bisa menjaganya. Lilin yang kedua adalah iman, lilin ini bisa padam karena menjaga iman itu sangat sulit. Lilin yang ketiga adalah cinta, tetapi cinta pun bisa padam karena tidak adanya kepercayaan dan pengkhianatan. Lilin yang keempat adalah harapan. Harapan inilah satu-satunya hal yang bisa tetap hidup dan menghidupkan ketiga lilin yang lain. Rumah tangga nanti hendaknya dimulai dengan perasaan damai sejahtera dari dalam hati kita berdua, dilandasi dengan iman, dan dijalani dengan cinta. Ketika damai, iman, dan cinta mulai goyah, ingatlah kita masih memiliki harapan untuk menghidupkan kembali damai, iman, dan cinta itu. Pengharapan tak akan musnah, pengharapan tak akan sia-sia, karena pengharapan itu laksana sauh. Dan siapa yang bisa menjaga keempat lilin ini bisa menyala dan tidak akan padam?"


Papa Radit menjelaskan semuanya dengan panjang dan lebar. Sementara banyak yang mendengarkan penjelasan Papa Radit yang begitu serius itu.


Aksara juga merepons dengan menganggukkan kepalanya, pria itu terlihat serius saat Papa Radit menjelaskan filosofi lilin itu.

__ADS_1


"Yang bisa menjaga lilin-lilin itu menyala adalah suami dan istri," sahut Aksara.


"Benar, tepat sekali. Kalian berdua yang harus bekerja sama dan menjaga nyala api itu untuk bisa terus menyala. Jangan sampai padam," balas Papa Radit.


"Pak Radit hebat keren sekali sampai bisa berfilosofi," sahut Ayah Bisma yang saat itu turut mendengarkan penjelasan dari Besannya itu.


Perlahan Papa Radit pun menggelengkan kepalanya, "Itu Istri yang pertama menjelaskannya kepada saya, Pak Bisma. Bukan dari saya sendiri. Terkadang saya tuh berpikir untung saya bertemu dengan Mamanya anak-anak. Seorang wanita yang setia dan selalu mensupport saya. Seorang Ibu yang lemah lembut dan begitu bijak untuk kedua anak-anak saya," balas Papa Radit.


"Benar Pak Radit ... saya pun demikian. Saya bersyukur sekaligus beruntung memiliki Kanaya di hidup saya. Wanita yang hebat, menjadi istri, partner, dan juga Bunda untuk Aksara dan Rangga. Walau di masa lalu, hidup kami jatuh bangun terkhusus saat kami kehilangan Aksara waktu kecil dulu, kami bisa bertahan sampai sejauh ini semata-mata karena Allah saja. Rumah tangga jika bisa saling memahami dan bergandengan tangan rasanya akan lebih mudah dijalani," ucap Ayah Bisma kali ini.


Sementara anak-anak yang masih muda seperti Aksara, Arshaka, dan juga Airlangga tampak mendengar cerita yang penuh nasihat dan nilai kehidupan itu.


“Maafkan kami Pak Radit … karena tidak memberitahu bahwa Aksara sudah bersama kami,” balas Ayah Bisma.


“Tidak apa-apa Pak Bisma. Dibalik semua itu saya dan istri bersyukur karena Aksara sudah bertemu dengan orang tua kandungnya,” balas Papa Radit.


“Papa Radit dan Ayah sudah kenal sejak dulu yah?” tanya Rangga secara tiba-tiba.

__ADS_1


“Tidak juga, Rangga … sebenarnya saat Mas Aksara hilang dulu, keluarga Papa Radit lah yang begitu menyayangi Mas Aksara dan menyekolahkan Masmu itu sampai Sekolah Dasar, bahkan bertahun-tahun setelahnya Papa Radit dan Mamanya Mbak Arsyilla masih memberikan uang bulanan untuk Mas Aksara,” cerita Ayah Bisma kali ini.


“Oh, begitu … jadi Mas Aksara sudah kenal Mbak Arsyilla dari kecil dong yah?” tanya Rangga lagi.


“Dari Mbak Arsyilla sekecil Ara itu,” balas Ayah Bisma.


Rangga terkejut. Tidak mengira jika pertemuan Kakaknya dan Kakak Iparnya sudah terjadi bahkan saat mereka masih begitu kecil. Bagaimana mungkin Kakaknya bisa menemukan Arsyilla lagi saat dewasa dan menikahinya.


“Keren banget sih, Mas,” sahut Rangga kali ini.


Sementara Aksara tampak menganggukkan kepalanya, dan juga sedikit malu saat masa lalunya dengan Arsyilla kembali diceritakan. Yang dikatakan Ayah Bisma ada benarnya, dia sudah melihat dan mengenal Arsyilla saat istrinya itu seumuran Ara sekarang.


“Mungkin itu memang perjalanan cinta kami berdua. Bertemu saat masih anak-anak, dan bersatu dalam pernikahan setelah dewasa. Dari kisah kami berdua dan juga sih Ayah dan Papa, Aksara yakin bahwa perjalanan cinta masing-masing orang itu berbeda. Ada yang penuh kebahagiaan, ada yang penuh perjuangan, lika-likunya berbeda-beda. Namun kuncinya bisa selalu bersama dan menghadapi setiap permasalahan itu,” sahut Aksara.


“Benar Aksa, jika hanya melihat kekurangan dan masalah kita. Yang kita lihat adalah besarnya masalah itu. Namun, jika mau mengubah sudut pandang kita, melihat masalah adalah sesuatu yang Tuhan izinkan untuk kian mempererat hubungan suami dan istri, mencari solusi dan memecahkannya, itu jauh lebih baik bukan?” sahut Papa Radit.


“Setuju Pa … karena semua rumah tangga memiliki permasalahan sendiri-sendiri. Mereka yang bisa mempertahankan rumah tangga adalah mereka yang mau berjuang, memecahkan masalah, bergandengan tangan untuk selalu bersama adalah setiap musim hidup kita,” sahut Aksara.

__ADS_1


Sepenuhnya tepat apa yang Aksara ucapkan bahwa cinta memiliki jalannya sendiri-sendiri. Ada yang jalannya lurus dan tanpa hambatan, tetapi ada juga yang memiliki jalan terjal dan berliku. Yang utama adalah semua jalan itu adalah menghadapinya, menjalaninya, dan berupaya untuk melalui perjalanan yang kita tempeh seumur hidup dalam sebuah jalan yang bernama Rumah Tangga.


__ADS_2