Aksara Untuk Arsyilla

Aksara Untuk Arsyilla
Aksara Mode Silent


__ADS_3

Baru beberapa menit berlalu, Arsyilla merasa benar-benar lelah. Wanita itu berniat untuk rebahan sebentar, kemudian barulah mandi dan turun untuk makan malam nanti. Akan tetapi, niat hati nyatanya tak sejalan dengan kenyataan.


Ya, handphone Arysilla lagi-lagi berdering dan itu adalah panggilan dari suaminya. Sembari mendengkus, Arsyilla pun menggeser ikon telepon berwarna hijau di layar handphonenya.


“Halo Kak, ada apa?” tanyanya melalui sambungan telepon itu.


“Kamu ada di kamar nomor berapa Sayang? Aku kangen,” ucap Aksara.


Baru juga hanya kurang dari satu jam berlalu sejak turun dari kereta api di Stasiun Tugu Jogjakarta, pria itu sudah mengakui jika dirinya sudah kangen dengan istrinya. Tentu saja mendengarkan pengakuan dari Aksara membuat Arsyilla tertawa.


“Baru beberapa menit, masak juga udah kangen aja sih?” tanya Arsyilla kepada suaminya.


Dengan cepat Aksara pun mengangguk, “Iya … kangen banget sama istriku ini. I Miss U,” ucapnya dengan terdengar helaan nafas dari sambungan seluler itu.


“I Miss U too, Kakak,” balas Arsyilla.


“Tuh kamu juga kangen sama aku kan, gitu aja enggak mau ngaku,” sahut pria itu.


Arsyilla lantas tertawa, gadis itu kembali memilih merebahkan dirinya dan beristirahat sejenak, “Iya … aku juga kangen kamu, Kak. Euhm, tetapi … aku capek Kak, boleh enggak aku tidur sebentar? Tadi kan pagi juga bangun subuh, udah ngantuk dan kecapekan sekarang,” balas Arsyilla.


“Iya … kalau udah bangun jangan lupa kirimi aku pesan yah. Aku mau sambil bekerja dulu. Mau dipesankan makanan atau sesuatu?” tanya pria itu.


“Nanti saja ya Kak … aku tidur dulu. Satu jam saja,” jawabnnya.


Panggilan seluler keduanya pun terhenti karena Arsyilla yang meminta izin kepada suaminya untuk tidur terlebih dahulu. Tadi memang dia telah bangun lebih pagi, sehingga sekarang matanya terasa begitu berat dan ingin tidur terlebih dahulu.


Beberapa jam berlalu, nyatanya tidak hanya satu jam. Akan tetapi, Arsyilla tidur hingga nyaris 2,5 jam. Mungkin dirinya benar-benar kecapean, sehingga baru bisa sekarang sekarang. Begitu bangun, Arsyilla memilih mandi terlebih dahulu, supaya capeknya hilang dan dirinya menjadi lebih segar.


Menjelang jam 19.00, Arsyilla turun ke restoran karena seluruh rombongan akan makan malam bersama di restoran hotel. Tampak beberapa rekan dosen yang menyapa Arsyilla, mereka adalah Bu Nila, Pak Bagas, dan juga Bu Ratna.

__ADS_1


“Baru kelihatan Bu Arsyilla,” sapa Pak Bagas yang merupakan salah satu dosen di fakultas arsitektur juga. Dosen yang masih muda dan lulusan dari Singapura.


“Iya Pak Bagas, tadi istirahat dulu,” jawab Arsyilla.


“Berada di kamar lantai berapa Bu Arsyilla?” tanya Bu Ratna.


“Di lantai 6,” sahut Arsyilla dengan cepat.


“Enggak terlalu tinggi yah, saya di lantai 8. Bu Nila dan Pak Bagas juga berada di lantai 8,” ucap Bu Ratna.


Mendengar perkataan rekan-rekannya, Arsyilla tampak berpikir kenapa bisa kamarnya berada jauh dari rekan-rekan sesama dosennya. Mungkinkah kali ini juga karena data yang sudah dia input?


“Mari Bu Arsyilla, makan dulu,” ucap Pak Bagas yang kemudian mengambil tempat di hadapan Arsyilla.


Tanpa Arsyilla ketahui, ada sepasang mata yang memperhatikan Arsyilla dan rekan dosennya itu. Sementara Arsyilla sendiri bersikap santai, karena memang dirinya tidak ada apa-apa. Hubungannya dengan rekan dosennya ya terbilang biasa saja tidak ada yang spesial.


“Bu Arsyilla sudah punya pacar?” tanya Pak Bagas dengan tiba-tiba.


“Sudah Pak,” jawab Arsyilla.


Wanita itu menggigit bibir bagian dalamnya, “Bukan pacar, Pak … tetapi, saya sudah bersuami,” batin Arsyilla dalam hati.


“Oh … saya kira masih single,” sahut Pak Bagas lagi.


“Kapan diresmikan Bu Arsyilla?” tanya Bu Ratna kini.


“Mungkin awal tahun nanti Bu Ratna,” jawab Arsyilla dengan gugup.


“Pak Bagas sudah punya pacar?” tanya Bu Ratna kini kepada pria yang baru saja bergabung menjadi dosen di Fakultas Teknik Arsitektur itu.

__ADS_1


Pria itu rupanya menggeleng, tetapi terlihat jelas bahwa Bagas melirik ke arah Arsyilla. “Ada yang disuka sih Bu, cuma ya gitu saja,” balasnya.


Sebelum perbicaraan akan melebar kemana-mana, Arsyilla memilih untuk menyelesaikan makannya dan segera kembali ke kamar. Tidak enak jika harus berada dalam situasi seperti ini. Hingga akhirnya, Arsyilla benar-benar menyudahi makan malamnya.


“Permisi Bu Nila, Bu Ratna, dan Pak Bagas, saya duluan yah. Masih harus menilai kuis dari mahasiswa dan menyiapkan acara untuk besok,” ucap Arsyilla. Wanita itu sedikit menunduk sebagai bentuk menyapa dan segera berjalan kembali ke dalam kamarnya.


Saat Arsyilla berdiri menunggu lift yang akan membawanya ke lantai 6, rupanya di sampingnya sudah berdiri suaminya yang menunjukkan wajah yang datar, membawa kedua tangannya bersidekap di depan dada.


“Kak,” sapa Arsyilla dengan lirih.


Berharap pria yang dia sapa akan membalas sapaannya atau sebatas tersenyum, ternyata tidak. Aksara menunjukkan wajah datarnya dan sama sekali tidak menatap Arsyilla.


Akan tetapi, Aksara terlihat cuek dan tidak menggubris Arsyilla. Jujur saja, sikap Aksara yang dingin seperti ini membuat Arsyilla takut. Keduanya pun sama-sama menaiki lift, sama-sama diam, dan menuju ke kamar masing-masing.


“Di lantai nomor berapa Kak?” tanya Arsyilla.


Namun, pria itu lagi-lagi hanya diam dan tidak menjawab pertanyaan Arsyilla. Wanita itu merasa harus meluruskan sesuatu. Mungkin saja Aksara telah mendengar perbincangannya dengan rekan-rekan dosennya tadi. Akan tetapi, menurut Arsyilla tidak ada yang aneh dengan pembicaraannya. Bahkan Arsyilla memilih kembali lebih dahulu ke dalam kamarnya.


Memilih diam, Arsyilla memasuki kamarnya. Mengecek handphone miliknya mungkin saja ada Aksara yang mengirimkan pesan untuknya, tetapi nihil. Sama sekali tidak ada pesan mau pun panggilan telepon dari Aksara.


Untuk itu, Arsyilla memilih mengirimkan pesan kepada suaminya terlebih dahulu.


[To: A]


[Kak, tadi kenapa diam saja sih?]


[Apa aku salah?]


[Mau bicara dulu sebelum tidur?]

__ADS_1


Dengan cepat Arsyilla mengirimkan pesan-pesan tersebut dan berharap bahwa suaminya akan segera membalas pesannya. Dulu, di awal pernikahan biasa saja Arsyilla ngambek dan cuek dengan suaminya. Akan tetapi, setelah hubungan keduanya sama-sama sudah baik, Arsyilla justru resah jika suaminya itu tiba-tiba dalam mode diam.


Di dalam kamarnya Arsyilla berharap bahwa Aksara akan segera membalas pesannya dan hal-hal yang tidak diinginkan bisa diluruskan bersama. Ya, dengan saling berbicara semua permasalahan dalam rumah tangga bisa dibicarakan dengan baik-baik.


__ADS_2