Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 99 Season 2


__ADS_3

Rapat tahunan yang rutin di adakan sedang berlangsung. Yana masih duduk dengan tenang di kursinya, meskipun jantungnya seakan mau copot dari tempatnya saat mengetahu lelaki yang ia pukul dengan membabi buta beberapa hari yang lalu adalah Direktur baru di perusahaan tempat ia bekerja.


Berulang kali ia merutuki kebodohan karena sudah meluapkan kekesalannya pada orang lain. Seharusnya ia mengamuk pada mantan suami dan si wanita sok alim itu, atau akan lebih baik pada wanita paruh baya yang tidak tahu berterima kasih.


"Tidak banyak yang ingin saya sampaikan. Hanya ada satu permintaan saya yang terakhir, untuk penanggung jawab keuangan, jangan hanya mengandalkan diri sendiri. Rekan kerja harus di ikut sertakan dalam penyusunan laporan perusahaan." Ujar Alfaraz sebelum akhirnya ia menutup rapat tahunan yang pertama kali di pimpin olehnya.


"Bu Yana, setelah rapat ini selesai ikut ke ruangan saya sebentar, ada beberapa hal yang harus saya sampaikan." Ujar Alfaraz lagi.


"Baik Pak." Jawab Yana sopan, sembari mengutuk dirinya sendiri yang mungkin sebentar lagi karirnya akan berakhir.


Setelah semua peserta rapat yang hadir sudah keluar dari dalam ruangan, Yana masih saja duduk diam di tempatnya.


"Mbak Ayo." Ajak Mia yang sudah ikut berjalan di belakang Alfaraz.


Yana menarik nafasnya sembari berpasrah dengan karirnya yang sebentar lagi akan habis di tangan Direktur muda itu.


Yana melangkah pelan, lalu masuk ke dalam lift khusus karyawan menuju ruangan Direktur berada. Meskipun harus mengantri dengan karyawan lain, ia tetap melakukannya dan memilih mengabaikan Mia yang sedang memanggilnya agar ikut masuk ke dalam lift khusus direktur bersamanya saja.


Melihat tatapan mengintimidasi di ruang rapat tadi saja sudah membuat nyalinya menciut. Apalagi harus masuk ke dalam lift yang sama. Tidak, ia tidak sebodoh itu hingga harus melakukan hal senekat itu. Alfaraz sedang geram pada dirinya saat ini.


***


Di dalam ruangannya, Alfaraz sedang menahan tawa agar tidak pecah di dalam ruangannya itu. Meskipun terlihat begitu tenang, akan tetapi raut terkejut sekaligus ketakutan tetap saja nampak terlihat di wajah Yana, dan itu terlihat menggemaskan.


Lelaki itu melangkah menuju kursi kebesarannya, lalu mengambil benda lipat dan membukanya saat suara Yana sudah terdengar di luar ruangan.


Gila, ini pertama kalinya ada wanita lain yang mampu mengalihkan pikirannya dari Nara. Mencoba memulai kehidupan baru sepertinya tidaklah buruk, dan ia ingin mencobanya hari ini.


***


"Hai Mia." Sapa Yana saat sudah berada di depan ruangan Alfaraz.


"Oh hai Mbak, masuk aja Bapak sudah menunggu di dalam." Ujar sekretaris Alfaraz.

__ADS_1


Yana kembali melanjutkan langkahnya mendekati pintu ruangan itu dan mengetuknya pelan.


"Permisi Pak." Ucapnya hati-hati.


"Masuk." Suara balasan dari dalam ruangan terdengar, Yana mendorong pintu itu dengan pelan lalu melangkah masuk ke dalam ruangan.


Sejenak Yana menghentikan langkahnya, ia menatap bosnya yang sedang sibuk dengan benda lipat di atas meja kerja.


"Silahkan duduk." Ucap Alfaraz tanpa menatap wanita yang entah mengapa membuat pikirannya terganggu.


Yana kembali melangkah, lalu duduk dengan patuh di sebuah kursi yang ada di depan meja kerja Alfaraz.


Alfaraz masih belum mengangkat wajahnya dari benda lipat yang ada di meja kerjanya, meskipun tidak ada apapun di sana.


"Pak..."


"Menikahlah dengan saya." Ucap Alfaraz membuat Yana terdiam. Ia sangat terkejut mendengar kalimat yang terdengar santai itu, akan tetapi ia masih berusaha untuk terlihat biasa-biasa saja.


"Apa yang ingin anda bicarakan mengenai divisi saya ?" Tanya Yana seakan ia tidak mendengar tiga kata yang baru saja di ucapkan oleh bosnya ini.


"Menikahlah dengan saya." Ucap Alfaraz lagi, dan itu membuat Yana semakin tidak tahan berada di ruangan ini.


"Jika tidak ada yang ingin Bapak sampaikan mengenai pekerjaan, saya mohon pamit permisi Pak." Ucap Yana sopan. Ia sudah beranjak dari atas kursi yang ia duduki, lalu hendak kembali melangkah keluar dari ruangan yang sedikit lagi akan membuatnya terkena serangan jantung dadakan.


"Menikahlah dengan saya Bu Yana." Ujar Alfaraz lagi, dan itu berhasil menahan langkah Yana.


"Kenapa ?" Tanya Yana.


"Kita punya masalah yang sama, ayo kita saling membantu melepaskan diri dari masalah itu." Jawab Alfaraz.


Yana tertawa, lalu kembali menatap datar laki-laki teraneh yang ia temui selama menjadi karyawan di sini.


"Tapi saya tidak butuh bantuan orang lain untuk melepaskan diri dari masalah. Saya sudah biasa mengatasi setiap masalah dalam hidup saya, tanpa bantuan dari siapapun." Ujarnya.

__ADS_1


"Kalau begitu bantu saya untuk menyelesaikan masalah saya." Pinta Alfaraz, namun, segera mendapat gelengan kepala dari Yana.


"Ada ratusan wanita mudah dan belum menikah di kantor ini, dan sepertinya memang lebih cocok dengan Bapak. Kalau begitu saya permisi Pak." Pamit Yana sopan.


"Pikirkanlah Bu Yana, saya punya alasan sendiri kenapa saya meminta kamu padahal ada ratusan wanita singel di kantor saya ini."


Yana tidak lagi mendengarkan kalimat Alfaraz, Wanita itu kembali melanjutkan niatnya yang ingin segera keluar dari ruangan direktur itu.


Dengan jantung berdebar, Yana menutup pintu itu perlahan lalu melangkah menuju lift setelah melambaikan tangannya pada sekretaris bosnya.


***


Di dalam ruangan, Alfaraz bersandar di kursi kebesarannya. Apa dirinya tidak terlihat begitu menarik di mata wanita itu, hingga tanpa berpikir panjang, Yana langsung menolak permintaannya.


Melihat ada wanita lain yang mampu mengalihkan perhatiannya, membuat Alfaraz begitu penasaran dengan sosok wanita yang bernama Yana itu. Mereka baru beberapa kali bertemu, akan tetapi wanita itu sudah mampu mengalihkan pikirannya dari Nara. Untuk itu, hari ini ia mengambil.sedikit peluang, dan ternyata langsung di tolak tanpa pikir panjang.


"Ah bodoh banget si aku." Ujar Alfaraz pada dirinya sendiri.


***


Di dalam lift yang sedang membawanya turun menuju ruangan, Yana bersandar di dinding kotak besi itu. Ia sedang berusaha menetralkan degupan jantung yang terdengar menggila dari dalam sana.


Mendengar kalimat ajakan menikah dari bosnya tadi, membuatnya tidak nyaman. Pasalnya, menikah adalah kata hang sedikit membuatnya sedikit takut saat ini. Pengkhianatan Reno masih begitu membekas, dan belum ingin menambah daftar penderitaan dalam hidupnya karena menerima laki-laki yang sedang di gilai banyak karyawan permpuan itu.


Dentingan lift sudah berbunyi, Yana keluar dari dalam kotak besi yang membawanya turun itu, lalu melangkah masuk menuju ruangannya. Ia terkejut saat melihat rekan kerjanya berdiri dengan raut cemas di depan ruangan mereka.


"Kalian ngapain di sini ?" Tanya Yana saat melihat rekan-rekannya sedang berdiri tepat di pintu ruangan.


"Nunggu Ibu Yana." Jawab Nia pelan.


"Buat apa ?" Tanya Yana mengerinyit.


"Kita tidak di pecat kan Bu ? Tanya Vivi asisten nya.

__ADS_1


Yana menggeleng


"Kita akan baik-baik saja. Ucapnya.


__ADS_2