
Di dalam kamar yang biasanya ditempati Alfaraz ketika menginap di rumah Eyang nya, Farah merutuki dirinya yang begitu bodoh. Terlalu antusias mendapat telepon dari Zidan, membuatnya tidak lagi bisa menahan diri dan menyebut nama itu dengan cepat.
Ah padahal dirinya begitu percaya diri melepaskan kartu sim yang terpasang di ponselnya.
"Aku pikir kamu menghapus kontak ku." Suara meledek di ujung ponselnya kembali terdengar.
"Iya habis ini aku hapus benaran." Ucap Farah kesal
Suara tawa yang begitu sulit ia nikmati selama empat tahun pernikahan, kini terdengar jelas di indera pendengarannya. Farah ikut tersenyum mendengar tawa lepas di ujung ponselnya.
"Apa semua sudah selesai ?" Tanyanya pelan.
"Iya, semua sudah selesai Ra. Kita tidak perlu lagi menunda apa yang sudah kita mulai."
Kalimat Zidan penuh keyakinan di ponselnya, membuat Farah menghembuskan nafas lega, lalu kalimat penuh syukur ia gumam kan di dalam hatinya.
"Terimakasih karena tidak pergi." Ucap Zidan lagi.
"Aku bilang aku akan menunggu kamu datang menjemput jika semua sudah selesai." Jawab Farah.
"Besok kita pindah ke rumah yang baru." Ujar Zidan.
Farah mengangguk sembari tersenyum manis. Meskipun ia tahu, Zidan tidak akan bisa melihat anggukan kepala serta senyuman yang baru sara tercetak di bibir tipisnya.
Keduanya hening, hanya hembusan nafas yang terdengar dari benda pipih yang menempel di telinga mereka masing-masing. Keduanya sibuk menikmati degupan jantung yang menggila.
"Ra..
"Mas..
Farah tidak lagi bisa menahan tawanya, saat mereka bersamaan menyebut nama. Oh ayolah mereka bahkan sudah punya anak dan kini akan memiliki anak kedua dalam pernikahan, tapi kenapa debaran ini masih saja sama seperti anak remaja yang sedang jatuh cinta.
"Ada apa ?" Tanya Zidan akhirnya. Kekehan lelaki itu pun terdengar jelas di telinga Farah.
"Apa semuanya sudah selesai ?"
"Iya, semua sudah selesai dan baik-baik saja." Jawab Zidan.
"Alhamdulillah." Ucap Farah.
"Kamu mau rumah yang seperti apa ?" Tanya Zidan.
__ADS_1
"Seperti apa saja tidak masalah Mas, yang terpenting aku bisa tenang dan nyaman hidup di dalamnya." Jawab Farah.
"Baiklah, kamu sama Ibu dulu yaa. Aku nanti nyusul ke sana, dan besok kita pindah ke rumah yang baru." Ujar Zidan, kemudian berpamitan untuk kembali melanjutkan urusannya.
"Mas." Panggil Farah lagi.
"Kamu sudah makan ?" Tanyanya cepat sebelum Zidan mengakhiri panggilan mereka.
"Aku akan makan nanti."
"Sekarang Mas..
"Baiklah aku akan mampir ke restoran dan makan."
"Ngga mual-mual lagi kan ?"
Farah memukul bibirnya saat kekehan dari bibir suaminya kembali terdengar.
"Aku rindu." Ucap Zidan. Lelaki itu tidak menjawab apa yang di tanyakan sang istri.
Farah tersenyum mendengar kara rindu yang terucap dari bibir Zidan.
"Kali ini tidak akan lagi Ra. Kita akan menjalani pernikahan yang sama-sama kita impikan. Percaya padaku." Ucap Zidan meyakinkan Farah.
"Baiklah, sampai ketemu nanti Mas, jangan lupa makan siang."
Farah ingin menyudahi pembicaraan yang membuat detak jantungnya menggila.
"Aku ingin pulang sekarang." Ujar Dimas.
"Jangan pulang sebelum rumahku siap di tempati." Ancam Farah.
Zidan kembali terbahak mendengar kalimat menyeramkan dari istrinya.
"Tadi kamu manis banget Ra, sekarang berubah lagi jadi jahat." Ujarnya.
Farah tertawa mendengar kalimat yang baru saja terdengar dari mulut Zidan.
"Baiklah maafkan aku. Jangan lupa makan siang, dan cepatlah pulang. Aku juga rindu. Assalamualaikum." Ujar Farah lalu segera mengakhiri panggilan yang menyita waktu itu, tanpa mendengar balasan salam dari ujung sana.
"Gila.." Pukul Farah di kepalanya.
__ADS_1
Ia berdebar seperti anak gadis yang baru saja mendapatkan telepon dari gebetan.
***
Di dalam mobil yang masih terparkir di pelataran gedung berlantai miliknya, Zidan masih menatap layar ponsel dengan senyum yang mengembang. Ia mengusap wajah cantik Farah dengan dada yang berdebar.
Foto yang di ambil oleh Nadia saat ia mengikat Farah empat tahun lalu dalam kubangan luka, di usapnya lembut di sertai ucapan maaf dari relung hati terdalamnya.
Farahdilah Putri, gadis yang ia nikahi lebih dari empat tahun lalu begitu terlihat menawan dengan kebaya berwarna putih juga untaian melati yang menghiasi hijab yang berwarna senada dengan kebaya yang gadis itu kenakan.
"Cantik." Gumamnya. "Aku mencintaimu Ra." Ucapnya lagi. Ia masih memandangi wajah cantik di ponselnya dengan begitu lekat.
Kali ini, ia benar-benar akan memulai pernikahan yang ia inginkan sejak dulu. Rencana hidup bersama Farah yang sudah ia impikan sebelum bertemu Nadia, akan kembali ia usahakan untuk terwujud mulai hari ini.
"Ah aku ingin pulang sekarang dan memeluknya." Ujar Zidan lagi.
Mendengar kata rindu yang di ucapkan Farah di telepon tadi, membuat Zidan ingin segera pulang dan mendekap istrinya itu. Senyum manis yang terpampang di layar ponselnya semakin membuat Zidan ingin segera pulang ke rumah Ibunya.
Belum pernah ia merasa seperti ini, bahkan selama sekian tahun hidup bersama Nadia. Jatuh cinta pada satu orang, dan akan menjalani hidup bersama dengan orang sekian tahun ia cintai, bukankah semua orang menginginkannya ? Begitulah yang ia rasakan saat ini.
Hanya Allah yang tahu, bagaimana ia begitu menginginkan hidup bersama dengan Farah sejak dulu.
Zidan yang hendak memasukkan kembali ponsel itu ke dalam saku celananya terhenti, lalu mengusap ikon berwarna hijau di layar ponselnya.
"Semuanya sudah siap Pak. Petugas yang akan mendekorasi juga sudah tiba."
"Baiklah, saya akan segera ke sana usai makan siang. Suruh saja mereka mulai mengerjakannya." Perintah Zidan dan di iyakan oleh orang yang sedang terhubung dengan panggilannya. Usai mengakhiri panggilan itu, Zidan kembali melajukan mobilnya keluar dari pelataran kantor. Mencari makan siang, lalu meninjau rumah baru yang sedang dalam tahap persiapan, itulah agendanya hari ini.
Pindah ke rumah baru besok hari, menikmati Minggu yang indah dengan Farah dan Alfaraz lusa, lalu mulai bekerja kembali di perusahaan pada hari Senin.
Semoga rencana kali ini tidak akan ada lagi hambatan. Jika saja tidak ada dua wanita ular itu, pasti saat ini ia sedang menikmati waktu bersama istri dan putranya. Bahkan makan siang yang ia bawa untuk di makan bersama Ayahnya di kantor, sudah di serahkan pada karyawan yang ada di sana.
Benar-benar menyusahkan. Jika saja dua orang itu adalah laki-laki, sudah di pastikan pukulan akan mereka terima hari ini karena sudah mengganggu rencananya.
Mobil yang tadinya sudah membaur dengan kenderaan lain di jalanan Jakarta, kini menepi di sebuah restoran sederhana. Zidan keluar dari dalam mobilnya, lalu masuk ke dalam restoran untuk mengisi perutnya yang sudah keroncongan.
Tidak banyak yang ia pesan, menu sederhana dan sehat serta yang paling penting tidak memancing mual.
Kehadiran Farah membuat semuanya terasa berjalan dengan begitu baik. Mungkin saja selama dua Minggu ini, tidak hanya tubuhnya yang sakit tapi juga hatinya. Hati yang begitu merindu, namun, tidak memiliki keberanian untuk datang menyambangi. Padahal ia tahu keberadaan Farah.
Pelayan restoran datang mengantarkan pesanan Zidan, lalu mempersilahkan dengan sopan dan ramah.
__ADS_1