
Di restoran yang sama, Alfaraz kembali bertemu dengan Nara. Lelaki itu duduk dengan tenang sembari menunggu apa yang ingin di bicarakan oleh wanita di hadapannya.
"Sudah memutuskan apa yang kamu inginkan ?" Tanya Alfaraz tanpa akhirnya setelah beberapa saat bungkam. Lelaki itu sudah di dampingi oleh salah satu pengacara yang menjadi tim kuasa hukum perusahaan keluarganya.
"Keputusanku masih sama." Ujar Nara.
"Kalau begitu tidak ada yang perlu kita bicarakan. Untuk selanjutnya, kamu silahkan menghubungi pengacara keluargaku untuk membahasa apa saja menyangkut diriku." Ujar Alfaraz.
"Kak ku mohon
"Aku akan segera menikah." Sela Al cepat.
Nara mengerinyit. Ia tahu saat ini Alfaraz sedang berbohong. Oh ayolah mereka cukup lama hidup bersama, dan lelaki di hadapannya ini sangat tidak pandai dalam hal berbohong.
"Oh ya, terus mana wanita itu ?" Tanya Nara sembari melipat kedua tangannya di atas dada.
Alfaraz terdiam, tidak tahu harus menjawab apa. Dia yakin jika pasti ahu Nara jika ia sedang berbohong hari ini. Alfaraz tersenyum saat melihat karyawan yang sempat ia lihat di depan ruangan sang Papa beberapa Minggu yang lalu juga berada di restoran yang sama dengannya.
"Mau kemana sayang ?" Ujarnya pada wanita yang sedang melangkah melewati meja mereka dan hendak menuju pintu keluar.
Yana melotot tiba-tiba saja ada yang menahan tangannya dan memanggilnya dengan sebutan sayang.
Tatapannya teralih, ia menoleh pada wanita yang sedang duduk tepat di hadapan laki-laki yang kini menggenggam pergelangan tangannya. Terlihat jelas jika wanita itu sedang menahan amarah.
"Ini calon istriku." Ujar Alfaraz lagi, dan semakin membuat mata Yana terperanjat.
"Apa yang sedang kamu bicarakan ? Lepaskan tangan ku
Brakk...
Satu buah tas yang Yana tahu berharga puluhan juta kini menghantam tepat di kepalanya.
"Hei kamu salah paham
__ADS_1
Bulssh..
Jus buah yang ada di dalam gelas kini sudah berpindah di wajahnya.
Yana semakin menggeram kesal. Tidak tahan lagi, ia langsung menarik rambut wanita yang entah siapa, dengan keras.
"Sialan beraninya kamu memukulku." Teriak Yana kesal.
Beberapa pengunjung restoran mulai merekam aksinya, namun, ia sama sekali tidak perduli. Sumpah demi apapun, emosinya yang meluap beberapa Minggu ini memang ingin segera di lepaskan, dan kini ada wanita yang sedang mencari gara-gara dengannya, tentu saja itu adalah suatu keberuntungan baginya.
"Lepaskan rambutku wanita perebuat suami orang." Teriak wanita yang kini sudah membungkuk karena tarikan Yana di rambutnya.
"Apa katamu ? Aku tidak mengenalnya sialan !" Ujar Yana. Ia sudah melepaskan tangannya dari rambut Nara dan berpindah pada laki-laki yang menciptakan masalah baru untuknya. Tas kecil yang yang menggantung indah di bahu nya sudah berpindah pada wajah tampan Alfaraz. Terlihat wajah tampan itu terluka karena hantaman Yana.
"Beraninya kamu memanfaatkan orang lain untuk kepentingan mu ha. Dasar brengsek." Kesal Yana sambil memukuli kepala Alfaraz dengan tasnya.
Pengacara yang sedang menghentikan kegilaannya, ikut terkena hantaman tas Yana.
"Jangan sakiti suamiku." Ujar Nara. Tapi gadis itu hanya terdiam di tempatnya. Ia terlalu takut menghentikan wanita yang sedang mengamuk di hadapannya ini.
"Hentikan !" Kesal Alfaraz. Pipinya sudah memar, dan kini dia benar-benar menyesal karena telah memanfaatkan wanita yang salah.
Tidak berapa lama, manager Nara sudah berlari cepat masuk ke dalam dan langsung menutup wajah Nara menggunakan kain, kemudian keluar dari restoran itu menuju mobil mereka.
Sedangkan Yana sudah berhenti memukul Alfaraz dengan tasnya dan melangkah keluar dari dalam restoran itu tanpa merasa bersalah. Puas, ah ia sangat puas karena sudah memukul orang. Seharusnya sejak beberapa Minggu yang lalu dia sudah melakukan ini pada mantan suaminya. Melampiaskan kekesalan itu memang sedikit membuat ia merasa lebih baik.
Alfaraz kembali duduk di kursinya. Ia membiarkan Yana berlalu dari sana, meskipun pengacara memintanya untuk membawa Yana ke kantor polisi.
"Anda terluka Pak." Ujar pengacara itu.
"Semua ini kesalahan saya. Tidak apa-apa, kembalilah ke kantor, saya harus ke rumah sakit." Perintah Alfaraz.
"Oh iya, sebelum kamu kembali beritahukan pada pengunjung yang mengambil gambar tadi, jika ada yang berani mengunggah nya ke media sosial maka bersiap untuk di jebloskan ke dalam penjara. Jangan sampai Papa tahu kejadian hari ini." Perintahnya lagi.
__ADS_1
Lelaki yang mungkin masih seumuran dengannya itu mengangguk mengerti, dan Alfaraz beranjak kemudian ikut keluar dari dalam restoran itu.
***
Mobil Yana kembali melaju di jalanan menuju Toko Bunga ibunya. Terik mentari siang ini masih saja sama, sama seperti keadaan luka hatinya saat ini.
Tenanglah ini baru sehari, masih akan ada hari-hari panjang berikutnya untuk di pakai menyembuhkan segala luka. Masih akan ada hari-hari panjang berikutnya, yang akan di gunakan mencari kebahagiaan. Hidup tidak berhenti di sini, jangan lagi menangisi hak yang tidak pantas untuk di tangisi.
Seandainya apa yang ada di dalam pikirannya saat ini, mudah untuk di terapkan. Seandainya proses menghapus kenangan indah di masa lalu itu semudah untuk merencanakan. Sayangnya, semua tidaklah semudah yang di pikirkan.
Yana memarkirkan mobilnya di depan toko bunga sang ibu, lalu turun dari sana dan masuk ke dalam. Wanita paruh baya yang tidak pernah luntur cintanya, kini sedang menyambutnya dengan senyum hangat.
Dinda merentangkan tangannya, menanti putri kecilnya masuk ke dalam dekapan hangatnya.
Yana tidak lagi menunggu lama, ia semakin mempercepat langkah, dan menghambur memeluk tubuh wanita yang tidak pernah lelah memastikan kebahagiannya selama ini.
Wanita paruh baya yang sudah mendedikasikan seluruh hidup untuk memastikan ia hidup dengan baik kini mendekap tubuhnya erat. Usapan lembut terasa di punggung, dan Yana semakin mengeratkan pelukannya..
"Semua akan baik-baik saja." Ujar Dinda.
Yana mengurai pelukannya, lalu menatap wajah tua sang Ibu. Ia mengusap lembut sudut mata ibunya, dan menghapus setetes cairan bening yang keluar dari mata tua itu.
"Jangan lagi ada air mata Bu, Yana ingin bahagia bersama Ibu sama seperti dulu sebelum memutuskan menikah dan hidup dengannya." Ujar Yana. "Maaf selama ini belum menjadi gadis manis yang ibu inginkan." Sambungnya.
Dinda menggeleng.
"Kamu yang bisa sekuat ini menghadapi ujian, sudah membuat ibu bangga." Ucap Dinda.
Mendengar kalimat ibunya, hati Yana menghangat. Ia tahu, wanita yang berdiri tegar di hadapannya ini juga ikut sedih dan kecewa dengan keadaannya saat ini.
"Bu aku lapar." Rengek nya mengalihkan suasana.
"Kita makan siang, ibu sudah masak." Ajak Dinda.
__ADS_1
Yana mengangguk, lalu merangkul lengan sang Ibu menuju sofa.