
Apa yang kamu tabur, itu pula yang akan kamu tuai nanti. Sebaik apapun menyembunyikan suatu kebusukan, pasti akan tercium juga. Jangan patah semangat untuk membawa kebusukan itu ke tempat yang sebenarnya.
Di dunia, kita tidak bisa membuat semua orang menjadi baik, akan tetapi kita bisa menempatkan orang-orang yang tidak mau berubah itu ketempat yang sebenarnya agar tidak lagi merugikan orang lain.
Di salah satu ruang private yang ada di restoran mewah di Jakarta, empat orang yang pernah terlibat hubungan rumit di masa lalu tengah menikmati makan siang mereka bersama seseorang yang sudah terlihat berumur dari mereka.
Makan siang itu begitu hangat, padahal semalam Alfaraz mengumpat kesal pada Reno yang sudah berani mengganggu kesenangannya. Ah mungkin saja karena ada orang lain di sini, jika tidak dia pasti sudah memukul mantan terjelek istrinya ini.
Di sisi lain meja, Reno menahan tawa karena Alfaraz seakan ingin memakannya hidup-hidup. Dia bisa menebak jika malam panjang dari rival nya di masa lalu ini tidak berakhir dengan baik seperti malam panjang nya.
Beberapa saat kemudian, makan siang itu usai. Dua orang pelayan datang membersihkan meja tempat mereka berada. Setelah semuanya terlihat bersih, lelaki yang tidak lagi semuda mereka itu mulai membahas kasus yang ia tangani di masa lalu.
Berkas yang ia simpan sejak lama, mulai ia keluarkan dari dalam tasnya.
"Kami mengambil alih kasus penyerangan di pesta pernikahan adik anda di masa lalu karena memang tersangkanya sedang terlibat kasus dengan atasan kami. Nona Nara adalah anak yang tidak sah dari pemilik perusahan, namun, melayangkan gugatan terhadap putra pemilik yang sah. Untuk itu, kami menggunakan kasus penyerangan itu untuk membawanya masuk ke dalam penjara seumur hidup." Jelas lelaki itu.
"Saya mengetahui hal itu.Karena yang menangani kasus penyerangan itu, adalah ibu mertua dari adik saya. Yang ingin saya ketahui hari ini, apakah putra dari pemimpin perusahaan juga bekerja sama dengan Nara saat penculikan bayi kecil saya di masa lalu ?" Tanya Alfaraz.
Lelaki itu menyerahkan dokumen perjanjian yang di tanda tangani oleh Nara.
"Sayang sekali wanita dengan masa depan yang cerah seperti dia harus rela melakukan apapun hanya karena sebuah rasa cinta." Ujar lelaki itu setelah dokumen itu sudah berpindah di tangan Alfaraz.
__ADS_1
Bibir Alfaraz tertarik saat membaca surat perjanjian di antara Nara dan orang itu di masa lalu. Dia sudah bisa menebak, jika Nara akan melakukan apa saja untuk membuat Yana menderita, termasuk menghabisi nyawanya sendiri.
"Itu bukan cinta, tapi obsesi." Ujar Alfaraz. "Keluarga mereka adalah keluarga yang penuh obsesi. Entah itu karena cinta atau harta. Saya harap anda di bayar dengan setimpal karena mengurusi hal seperti ini." Alfaraz mengangkat wajahnya menatap lelaki yang sudah terlihat lebih tua darinya itu, kemudian menyerahkan dokumen itu pada Reno.
"Seperti yang kalian lihat. Meskipun tanpa uang yang banyak, saya jauh lebih baik karena terlepas dari keluarga itu." Jawab lelaki itu lagi.
Di kursi lain, Reno membaca dokumen itu, dengan tangan yang terkepal, hingga membuat kertas yang ada di dalam genggamannya kusut.
"Mama." Gumamnya dengan dada yang sesak. Ia kini tahu apa yang menjadi tujuan ibunya. Nara menjanjikan harta yang banyak, dan wanita yang sudah melahirkannya itu mau melakukan apa saja untuk mendapatkan harta itu demi dirinya.
Beberapa saat kemudian lelaki dengan jas lengkap itu meminta izin untuk meninggalkan ruang private tempat merek bertemu. Alfaraz pun berjanji akan memberikan perlindungan yang di perlukan oleh laki-laki, yang sudah bersedia membantu memuluskan semua rencananya itu. Kini tatapannya sudah berpindah pada Reno yang mulai berkaca-kaca saat membaca isi dari lembaran kertas itu.
"Mama kamu ingin memberikan kebahagiaan padamu dengan taruhan nyawa." Ujar Alfaraz.
"Aku mendengar rencana mereka, tapi bukan melaporkan pada pihak kepolisian aku malah menggunakan caraku sendiri untuk menggagalkan rencana itu." Ujar Reno.
Zyana menatap mantan suaminya itu dengan sedih. Ia tahu sebesar apa kasih sayang Reno terhadap mantan Mama mertuanya dulu.
"Mama memintaku untuk menggunakan Danira agar kamu kembali padaku." Ucap Reno lagi. "Yang tidak Mama ketahui, saat aku sedang berusaha menebus kesalahanku pada Rara." Sambungnya menjelaskan mengapa saat itu si bayi Danira berada di tangannya.
"Aku tahu kamu orang yang baik Ren. Kamu menyayangiku dengan tulus, akan tetapi ada hal yang tidak bisa aku paksakan di masa lalu. Meskipun saat itu aku tidak bertemu dengan Alfaraz, aku tidak akan pernah kembali lagi. Pernikahan tidak hanya menikahkan dua orang, akan tetapi mempersatukan dua keluarga, dan pernikahan kita tidak bisa melakukan hal itu." Lirih Zyana.
__ADS_1
Reno mengangguk menyetujui kalimat yang baru saja terucap dari bibir Yana. Ia tahu bagaimana perlakuan sang Mama terhadap mantan istrinya ini.
"Jangan mengingat hal itu lagi. Sekarang kita hanya perlu memastikan, bahwa orang yang paling bertanggung jawab dalam kasus ini akan menerima ganjaran yang setimpal atas perbuatannya. Dan aku membutuhkan bantuan mu untuk membuat semua itu berjalan lancar tanpa hambatan." Ujar Alfaraz. Baginya hubungan rumit anatar mereka sudah terurai sejak lama. Terlebih saat ini, Arga sudah menjadi bagian dari keluarganya.
Reno mengangguk mengerti. Yah, semuanya akan segera berakhir.
"Lalu bagaimana dengan kekacauan di hari pernikahan putra kalian beberapa hari yang lalu ?" Tanya Rara.
"Itu murni rencana Melisa sendiri. Gadis itu tertarik dengan Abizar, dan tidak terima dengan pernikahan itu. Beberapa hari yang lalu saat menantuku masih di rumah sakit, seseorang masuk ke dalam ruang perawatan dan mencoba melukai. Beruntung orang itu tidak sampai melakukan hal buruk, dia hanya membuat Aira tidak sadarkan diri, lalu melumuri tempat tidur Aira engan darah nya sendiri. Yang lebih membuat kami tercengang, orang itu datang dan menemui kami untuk meminta maaf, sekaligus menjelaskan alasannya melakukan hal itu." Ujar Yana.
"Aku ga nyangka ada orang-orang seperti ini." Ucap Rara.
Zyana tersenyum mendengar kalimat singkat itu.
"Ada banyak alasan yang menjadi dorongan untuk melakukan hal buruk terhadap orang lain. Bahkan kita yang sekarang pun, tidak bisa di pastikan jika kemudian hari tidak akan melakukan hal yang sama." Ujar Zyana.
Rara terdiam. Otaknya kembali berkelana di masa lalu. Yah, meskipun tidak sampai membuat Yana mati, tetap saja luka hati yang ia torehkan di masa lalu sudah mampu membuat wanita yang terlihat tenang di hadapannya ini menjerit sakit.
"Maafkan aku." Lirihnya.
Yana tersenyum. Tangannya kemudian terulur, dan mengusap lembut punggung tangan Rara.
__ADS_1
"Kita akhiri semuanya di sini. Aku ingin kita sama-sama menantikan cucu pertama kita tanpa bayang-bayang masa lalu. Dan kalian berdua.." Zyana menatap dua laki-laki yang ada di sana secara bergantian. "Urus masalah ini secepatnya. Dan aku mau menikmati hidup tanpa takut mendapat gangguan dari orang lain seperti semalam." Ujarnya sambil tertawa geli.