
"Ada apa sih teriak-teriak." Jawab wanita paruh baya yang berada di ruang keluarga.
"Ma, Mama kan sudah janji ngga akan bawa Rara ke Jakarta."
"Loh kenapa ? Dia itu istri kamu juga, dan sekarang sedang hamil. Rara lebih butuh kamu Ren, dan karena pekerjaan mu di Jakarta tidak bisa di tinggal, ya udah Mama bawa dia kemari." Ujar Lina acuh.
"Kan aku sering ke sana Ma, bahkan bulan ini aku sudah dua kali meninggalkan Yana sendirian." Ucap Reno memelas.
"Cih wanita yang tidak jelas asal-usulnya itu yang terus saja kamu pikirkan."
"Ma.. !"
Reno mengacak-acak rambutnya yang sudah rapi pagi ini, karena menahan kesal.
"Pokoknya hari ini juga Mama harus antar Rara pulang, aku ngga mau ambil resiko." Tegas Reno.
"Dia mau periksa kandungan nya juga Ren, kan hari ini Mama mau cek up, ya udah sekalian kita bawa dia pergi ke rumah sakit."
"Nggak Ma, aku ga mau. Yana akan terluka jika dia mengetahui hal ini."
Ibu Lina mendengus kesal
"Yah udah kalau kamu ngga mau, Mama yang akan membawa Rara ke Rumah Sakit. Kamu ngga usah anterin biar aja Mama sendiri yang pergi." Rajuk nya.
Reno kembali mengusap wajahnya, ia mengalihkan tatapannya dari wanita yang terlihat santai dengan masalah yang dia ciptakan, beralih pada wanita yang kini tertunduk dalam di sofa yang tidak jauh dari tempat ia dan sang Mama duduk.
"Kenapa kamu mau di ajak Mama ke mari ? Ini sangat berbahaya Rara. Jika istriku tahu, aku akan hancur." Ucap Reno memelas. Ia menatap wanita yang semakin tertunduk dalam tidak jauh darinya itu.
"Maafkan aku Mas." Ucap Rara pelan.
Reno menghembuskan nafas yang terasa begitu berat, lalu beranjak dari sofa tempat ia duduk.
"Aku mau pergi kerja. Mama ke rumah sakitnya bersama Rara saja, aku akan transfer uangnya nanti." Ucap Reno lalu melangkah keluar dari rumah sang Mama.
Rara masih tertunduk dalam, ia bahkan begitu takut menatap punggung yang baru saja berlalu dari ruangan tempat ia berada.
Lelaki yang menikahinya secara sirih beberapa bulan yang lalu masih saja sama. Tidak ada tatapan hangat atau apapun di sana, hanya ada tatapan dingin dan terkesan biasa saja. Bahkan lelaki itu tak segan menyebut nama Yana dengan lantang tanpa memikirkan perasaan nya.
"Kita ke rumah sakit, periksa cucu mama."
Suara Mama mertua menyadarkan Rara dari lamunan, wanita itu mendongak, menatap wajah Ibu Lina dengan mata berkaca.
"Loh kenapa ?" Tanya Ibu Lina saat melihat mata menantunya berembun.
"Mas Reno masih belum mencintai Rara Ma." Ucap wanita itu pelan.
__ADS_1
"Nanti setelah anak kalian lahir, dia pasti akan mencintai kamu juga." Ucap Ibu Lina sambil mengusap lembut punggung menantunya.
"Apa Mbak Yana ga akan marah Ma ?" Tanya Rara hati-hati.
"Yang penting jangan ketahuan." Ujar Ibu Lina. "Udah sana kamu bersiap, kita ke rumah sakit." Sambungnya mengajak.
Rara mengangguk mengerti, gadis berhijab itu segera masuk ke dalam kamar dan merapikan pakaiannya untuk memeriksa kan kandungannya.
***
Perusahaan besar tempat Yana bekerja, masih seperti biasanya. Wanita yang kini menjabat sebagai penanggung jawab divisi keuangan itu, akan di sibukkan dengan digit-digit angka di dalam komputernya.
"Permisi Bu." Ketuk seseorang di pintu ruangan Yana.
"Masuk Vi." Jawab Yana masih belum mengalihkan fokusnya dari layar komputer di hadapannya.
"Makan siang dulu Bu." Ucap gadis cantik itu lagi.
"Iya Vi, taruh aja di meja nanti aku makan." Ucap Yana masih belum mengalihkan tatapannya dari layar komputer.
Melihat atasannya yang masih sibuk dengan pekerjaan, Vivi memohon undur diri keluar dari ruangan itu, dan meminta Yana memberitahu jika memerlukan sesuatu.
Beberapa menit berlalu, Yana masih betah duduk di kursi putar nya dengan mata yang masih terus fokus memeriksa setiap angka yang masuk ke email divisi keuangan hari ini.
Laporan keuangan dari beberapa anak cabang perusahaan yang ada di Indonesia, akan langsung masuk ke email divisi, untuk di periksa olehnya terlebih dahulu, barulah akan di laporkan pada direktur utama. Membutuhkan ketelitian untuk memeriksanya, dan itu tidak bisa di lakukan asal-asalan.
Beberapa orang staf yang membantunya, juga sibuk mengetik di papan keyboard mereka masing-masing. Yana menyerahkan satu buah flash disk kepada salah satu rekannya, dan meminta laporan itu segera di print.
"Nanti seperti biasa ya Vi, antar laporannya ke ruangan Pak Dirut." Pintanya pada sang asisten.
Vivi mengangguk mengiyakan, kemudian Yana melanjutkan langkahnya masuk ke dalam ruangan untuk menikmati makan siang.
Yana mengikat rambutnya tinggi, lalu meraih kotak makanan yang di belikan oleh asistennya tadi. Sebelum itu, ia lebih dulu menghubungi suaminya melalui panggilan video. Senyum manis langsung terlihat di bibir tipisnya saat panggilan yang ia lakukan, begitu cepat di jawab oleh laki-laki yang sudah membuatnya rindu itu.
"Kok baru makan siang sih Na, ini sudah lewat loh." Omelan yang memelas langsung terdengar dari ponsel Yana.
Yana menatap wajah yang terlihat begitu kelelahan itu, sambil tersenyum manis.
"Nanggung Mas, kalau ga di lanjutin nanti aku ulang lagi dari awal." Jawabnya.
Yana mulai menyuap kan sendok demi sendok makanan masuk ke dalam mulutnya. Lelaki yang ada di layar ponselnya tidak bersuara, hanya terus menatap istrinya yang begitu lahap menikmati makanan.
"Kok aku jadi rindu." Gumam Reno, membuat Yana yang sedang fokus dengan makanannya mengalihkan pandangannya sejenak, lalu menatap wajah tampan suaminya yang terpampang di layar ponselnya.
"Rindu banget Na."
__ADS_1
Yana hanya tersenyum mendengar kalimat itu, lalu kembali fokus mengisi nutrisi dalam tubuhnya.
Setelah makan, Yana kembali meraih ponselnya yang ia sandarkan di vas bunga di atas meja lalu menyandarkan punggungnya di sandaran sofa.
"Aku juga rindu, ga enak makan siang tanpa kamu Mas." Ucapnya jujur.
"Na,
"Hm..
"Kesalahan apa yang tidak akan pernah kamu maafkan ?" Tanya Reno hati-hati
"Ga ada kesalahan yang tidak bisa di maafkan, aku akan memaafkan sebesar apapun kesalahan itu. Hanya seperti biasa, aku akan memilih menjauh pada siapapun yang membuat kesalahan." Jawab Yana.
"Meskipun itu aku ?" Tanya Reno lagi.
"Ya tergantung kesalahannya yang seperti apa, jika hanya sekedar merokok di dalam kamar mandi aku tidak akan menjauh." Ujar Yana terkekeh.
Terdengar Reno menarik nafas dalam, membuat Yana mengerinyit heran.
"Apa terjadi sesuatu di kantor ?" Tanya Yana.
Terlihat Reno menggeleng.
"Lalu apa yang membuatmu terlihat jelek seperti itu ?" Tanya Yana sembari tersenyum lucu.
"Aku mau kirim uang ke rekening Mama Na." Ucap Reno pelan.
"Terus apa yang salah di situ ? Kirim aja Mas, memangnya uang kamu ga cukup ya ?" Tanya Yana.
"Bukan gitu, uang aku cukup kok, aku mau izin aja sama kamu."
Yana tertawa mendengar kalimat suaminya.
"Kirim aja sebanyak yang Mama butuhkan Mas, aku kan juga sering kasih uang ke Ibu. Kalau ga cukup, bilang aku, nanti aku transfer ke rekening kamu." Ujar Yana.
Melihat Reno yang terdiam di layar ponselnya, Yana yakin telah terjadi sesuatu. Namun, ia memilih untuk tidak bertanya dan menunggu biar Reno yang nanti memberitahu seperti sebelum-sebelumnya.
"Aku cinta kamu Na."
"Aku juga Mas, aku lebih cinta lagi." Jawab Yana kembali terkekeh. Wanita itu mengusap lembut wajah tampan yang ada di layar ponselnya.
"Nanti kita bicara di apartemen ya, aku harus memeriksa beberapa laporan lagi. Malam ini mau di masakin apa ? Lingerie ataukah yang lain ?" Tanya Yana lagi.
"Mau peluk kamu aja, ga usah pake baju laknat itu." Jawab Reno sontak membuat Yana terbahak.
__ADS_1
"Ya udah. Udang saus tiram, bonus pelukan." Ujar Yana.
Setelah berpamitan, Yana menutup panggilan itu lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.