Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 157 Season 2 Bonus Chapter


__ADS_3

"Assalamualaikum." Ucap Nadira saat memasuki ruang tamu rumah mewah milik orang tuanya.


"Waalaikumsalam.." Bocah laki-laki yang selalu saja antusias menanti kepulangannya bergegas bangkit dari sofa yang ada di ruang keluarga , lalu berlari menyambut kepulangan Kakak kesayangannya.


"Hai Dira.."


Seorang pemuda yang sedang duduk di ruang tamu bersama Danira, menyapa gadis yang kini sudah mengusap lembut kepala Abizar.


"Hai juga Kak." Balas Nadira masih tanpa ekspresi sama seperti biasanya.


Gadis yang masih menggunakan seragam sekolah di balut switer rajut itu meninggalkan ruang tamu, mengikuti langkah adiknya yang terus menyeret membawanya entah ke mana.


"Kamu sudah pulang Nak ?" Tanya Alfaraz pada putrinya.


Nadira mengangguk, kemudian melangkah menuju sofa di mana Ayah dan Ibunya berada untuk menyalami punggung tangan dua orang paruh baya itu.


"Kabar Oma gimana ?" Tanya Alfaraz lagi.


"Oma baik. Dira pamit ke kamar Yah." Pamit Dira lalu kembali membalik badannya menuju tangga untuk naik ke kamarnya bersama Abizar.


"Kamu sudah makan ?" Tanya Yana.


Nadira yang hendak menaiki anak tangga kembali berhenti, lalu menatap ibunya sebentar kemudian mengangguk mengiyakan pertanyaan sang ibu.


"Aunty Adel ada di rumah Oma ?" Tanya Yana lagi.


"Tidak Bu." Jawab Nadira.


"Ya sudah sana mandi, lalu turun ada Kak Arga." Perintah Yana.


Nadira melirik adik lelakinya yang masih setia berdiri di sampingnya.


"Dira mau bantuin Abi buat PR." Tolak Dira. "Lagipula sudah ada Kak Nira di sana." Sambungnya.


Dira melirik dua orang yang terlihat begitu akrab di ruang tamu, lalu kembali melanjutkan langkahnya menaiki satu persatu anak tangga usai berpamitan pada ayah dan ibunya.


****

__ADS_1


"Kak Arga datang mau bantuin Kak Nira masuk Universitas." Ujar Abizar.


Dira hanya mengangguk, namun, ada rasa yang sedikit tidak nyaman saat jika membahas mengenai laki-laki yang cukup dekat dengan kakak kembarnya itu.


"Kakak kapan berangkat ke Berlin ? Kak Rayan akan menjemput kakak kan ?" Kepo bocah tampan itu sambil membawa tubuhnya berbaring di ranjang Nadira.


"Belum tahu kapan datang, tapi kata Aunty El gitu. Aku di suruh tunggu aja dulu di sini biar nanti berangkat bareng sama Kak Rayan." Jawab Dira sambil merapikan barang-barangnya di atas meja belajar.


"Aku akan sendirian nanti." Lirih Abizar.


"Kok ngomong gitu sih. Kan di sini ada Kak Nira. Ada ibu dan Ayah juga." Ujar Nadira sambil membawa tubuhnya yang masih mengenakan seragam untuk duduk di atas ranjang yang sama tempat adiknya berbaring.


"Ibu sayang Kak Nira aja." Ujar Arga lagi.


"Nggak kok, ibu sayang kita semua." Bantah Dira mulai tidak nyaman dengan pembahasan mereka.


"Kalau kakak ngerasa gitu, harusnya ngga perlu jauh-jauh mengasingkan diri ke luar negeri. Di Indonesia banyak kok Universitas dengan jurusan kedokteran yang baik." Ucap Abizar.


Nadira menarik nafasnya dalam-dalam. Dia memang tidak bisa menyembunyikan banyak hal dari adik laki-lakinya ini.


"Karena nasibnya ngga sebaik kita." Sela Abizar menebak kalimat selanjutnya yang akan keluar dari bibir kakak perempuannya.


Dek,


"Ya udah lah, kakak mandi sana. Nanti datang ke kamar aku, bantuin aku buat PR. Tadi alasannya gitu kan biar ngga jadi obat nyamuk di antara Kak Arga dan Kak Nira."


Setelah mengucapkan kalimat yang langsung mengenai hati sang kakak itu, Abizar melangkah keluar dari kamar Nadira.


Nadira tidak lagi membantah, ia hanya menatap pintu kamar yang baru saja tertutup itu dengan perasaan yang sulit di jelaskan.


Karena tidak ingin berlama-lama dan membuat bocah tampan itu menunggu, Nadira segera melangkah masuk ke dalam kamar andi untuk membersihkan dirinya.


****


Bathrobe sudah membungkus tubuh mungilnya, juga satu handuk berwarna putih sama seperti warna bathrobe sudah membungkus rambut panjangnya yang basah. Ia lantas melangkah keluar dari dalam kamar mandi menuju ruang ganti. Namun, baru saja beberapa langkah, ia di buat terkejut karena gadis yang serupa dengannya sudah duduk di atas kursi depan meja belajarnya.


"Apa yang kau lakukan dengan barang-barang milikku ?" Teriaknya geram saat melihat Danira dengan lancangnya membuka file yang ada di dalam komputernya.

__ADS_1


Nadira melangkah cepat, lalu mendorong kursi putar yang sedang di duduki oleh kakak kembarnya dengan sangat keras hingga membentur ujung ranjangnya.


"Aku ngga sengaja membuka komputer mu, karena password kita sama." Ujar Danira merasa bersalah.


Nadira tidak menghiraukan kalimat Danira, gadis itu hanya menatap nanar beberapa gambar masa kecil yang tersimpan di file pribadi penuh kenangan miliknya. Hingga beberapa saat kemudian, layar komputer itu menggelap.


"Dan sekarang aku benar-benar menyesal punya tanggal lahir yang sama dengan mu." Ujar Nadira dingin setelah mematikan komputer miliknya tanpa melalui prosedur yang seharusnya.


"Dir.."


"Keluar dari kamar ku sekarang juga." Suara dingin dan tajam itu kembali terdengar.


"Ada apa ini ?" Suara wanita yang tidak lain adalah ibu mereka sudah terdengar di dalam kamarnya.


"Nira salah, ngga sengaja buka komputer milik Dira." Ucap Danira.


Nadira tidak lagi bersuara.


"Hanya karena itu, hingga membuat kalian bertengkar. Ngga enak di dengar orang, suara kalian itu sampai terdengar di lantai bawah padahal masih ada Arga di sana." Omel Yana pada kedua putrinya.


Nadira sama sekali tidak membalik tubuhnya untuk melihat kedua orang tuanya yang sedang berdiri di ambang pintu kamarnya. Ia hanya kembali melanjutkan langkahnya menuju ruang ganti dengan hati yang kembali sakit.


Hanya ? Melanggar privasi seseorang itu sudah sangat keterlaluan meskipun mereka memiliki ikatan darah yang sama. Namun, kata sang ibu itu hanya sesuatu yang tidak perlu di permasalahkan. Dan yah, selalu seperti itu jika menyangkut Danira.


"Seharusnya kamu ngga boleh buka-buka komputer orang lain semabarangan tanpa meminta izin lebih dulu pada pemiliknya." Ujar Alfaraz. "Punya kamu kan ada, kenapa harus mengotak atik punya adik kamu." Sambungnya memberi nasihat.


"Maafkan Nira Ayah." Ucap Danira tulus.


"Minta maaf pada adikmu nanti." Tegas Alfaraz.


Danira menatap pintu ruang ganti yang baru saja tertutup rapat dengan tatapan penuh rasa bersalah.


Setelah mendengar pintu kamarnya sudah tertutup, Nadira duduk di kursi yang ada di dalam ruang ganti miliknya. Air mata yang sama sekali tidak pernah terlihat di sudut matanya, kini mulai menetes membasahi pipi. Entahlah apa yang terjadi dengan dirinya hingga memiliki hati yang sensitif seperti ini.


"Sialan." Makinya pada dirinya sendiri.


Dia yang payah dan tidak bisa menjadi gadis sebaik Danira, hingga semua yang ingin sekali dia miliki justru di miliki oleh kakak kembarnya itu. Buat apa otak yang pintar ini, jika tidak memiliki teman yang banyak seperti Danira. Untuk apa memiliki nilai tertinggi di sekolah, jika Arga pun terlihat enggan mendekati dirinya. Semua terasa percuma, hingga ia merasa hidup sendirian jauh lebih baik.

__ADS_1


__ADS_2