
Waktu begitu cepat berlalu. Pagi yang indah kembali menyapa kediaman Prasetyo. Aira begitu telaten membantu ibu mertua dan asisten rumah tangga yang sudah bekerja selama bertahun-tahun di rumah itu, menyiapkan sarapan untuk mereka.
Zyana tidak pernah menuntut menantunya untuk mengerjakan pekerjaan rumah, karena memang sejak dulu sudah ada beberapa asisten rumah tangga yang di sediakan Alfaraz untuk membantunya. Hanya saja, mungkin Aira adalah gadis yang begitu mirip dengannya, hingga membuat keduanya selalu sama dalam hal urusan rumah.
Beberapa kali asisten yang sudah bekerja bersamanya selama bertahun-tahun, mengaku tidak enak dengan menantunya yang terlampau pintar dalam hal pekerjaan rumah, hingga tidak perlu bantuan dari para asistennya.
Beberapa kali ia mendengar putranya protes dengan kebiasaan Aira, namun, sepertinya laki-laki muda yang ia lahirkan dua puluh enam tahun yang lalu itu tidak mampu berkutik jika menyangkut gadis kesayangan mereka itu.
"Aira pamit ke kamar ya Bu, mau bersiap ke kampus." Pamit Ara setelah memastikan semua makan yang mereka masak bersama, sudah tertata rapi di atas meja makan. Wanita yang masih terlihat begitu muda untuk menyandang status sebagai seorang istri itu, meminta izin kembali ke kamar untuk bersiap ke kampus sekaligus membantu Abizar, sang suami yang sebentar lagi akan berangkat bekerja. Dia sangat hafal dengan kelakuan suami tampannya itu, yang tidak akan mau bersiap tana bantuannya.
Dan benar saja, setelah memasuki kamar mewah milik mereka, Aira mendapati suaminya, masih duduk di sofa di mana ia tinggalkan setelah mereka shalat subuh berjamaah pagi tadi.
"Kamu belum mandi ?" Tanya Aira sambil melangkah menuju laki-laki yang terlihat begitu fokus dengan benda lipat di atas pangkuannya.
"Nunggu kamu." Jawab Abizar masih sambil menatap deretan angka yang ada di layar laptopnya. Beberapa saat setelah Aira duduk di sampingnya, ia segera menutup benda lipat itu kemudian meletakkannya di atas meja.
"Kerjaan kamu sudah selesai ?" Tanya Aira.
"Belum." Jawab Abi singkat.
"Lalu kenapa di tutup ?" Tanya Aira heran.
Abizar tersenyum jail.
"Kerjaan itu nanti aja, aku lanjutin di kantor, masih ada pekerjaan yang lebih penting dari itu." Jawab Abizar dengan tatapan jail bercampur mesum yang berhasil membuat Aira menatap khawatir sekaligus curiga.
Dan benar saja, perasaan tidak enak yang sejak tadi hinggap di dalam hat terbukti, saat tubuhnya sudah terhimpit di sandaran sofa yang ada di dalam kamar mereka.
__ADS_1
"Abizar aku.. hmmmppp...." Bibir merah tanpa polesan sudah di bungkam dengan kasar.
"Sudah ku bilang jangan menyebut nama ku lagi." Ujar Abizar sambil mengusap bibir yang sudah memerah akibat perbuatannya.
"Maaf Mas." Jawab Aira pelan.
"Nah kan itu pintar.." Ucap Abizar sambil tersenyum geli, terlebih melihat wajah Aira yang seakan malu usai memanggilnya dengan sebutan itu.
"Ayo mandi." Ajak Abizar sambil menggenggam tangan Aira dan menariknya masuk ke dalam kamar mandi yang ada di dalam kamar mereka.
"Aku siapin baju kerja kamu dulu Mas." Cegah Aira agar dirinya tidak ikut masuk ke dalam kamar mandi mewah itu dan berakhir mengenaskan di sana.
Mandi plus plus di pagi hari, sudah sering ia alami dan berakhir dengan tubuhnya yang kelelahan karena kata sebentar yang sering di ucapkan oleh suaminya tidak bisa di percaya begitu saja.
"Nanti saja, setelah selesai mandi." Jawab Abizar dan menarik paksa tubuh mungil istrinya masuk ke dalam kamar mandi.
"Ayah dan Ibu akan menunggu Mas, dan kamu akan terlambat ke kantor nanti." Rengek Aira agar Abizar menghentikan rencana jahat bin mesum yang kini bersarang di otak suaminya itu.
Aira tidak lagi mencegah, ia pasrah dengan apa yang akan terjadi di dalam kamar mandi. Dengan penh semangat, tangan nakal suaminya mulai melepaskan helaian demi helaian benang yang menutupi tubuhnya. Dress selutut yang terpasang cantik di tubuhnya, suah teronggok begitu saja di atas lantai kamar mandi, menyisakan set kain berenda berwarna hitam yang melekat di tubuh mungilnya.
"Tenang aja, aku hanya akan membantu mu membersihkan diri." Ucap Abizar yang tentu saja tidak lagi di percaya oleh Aira.
Terlebih bibir nakal milik laki-laki gila itu mulai terasa di pundak polosnya.
"Mas jangan di leher, ga enak di liat orang. Hari ini aku ke kampus." Mohon Aira ketika bibir nakal milik Abizar mulai menjelajahi leher jenjangnya.
"Jangan lama-lama, Ayah dan Ibu akan menunggu." Ucap Aira lagi saat tubuhnya sudah tersandar di dinding kamar mandi.
__ADS_1
"Iya, ini tidak akan lama." Jawab Abizar sambil terus melanjutkan kegiatan yang paling ia sukai di dalam kamar mandi itu.
"Jangan kuat-kuat, perut aku keram." Ujar Aira lagi.
Abizar menghentikan aktivitas nakalnya, lalu menatap wajah istrinya yang memang terlihat letih itu dengan lekat.
"Kan sudah aku bilang Ra, ga usah kerja di rumah ini. Kamu tuh mirip banget sama Ibu sih, bikin kesal aja. Aku dan Ayah sudah menyiapkan banyak asisten agar kalian cukup diam di rumah saja ga usah ikut-ikutan kerja ke sana kemari." Omel Abizar.
"Aku sama Ibu ga kerja banyak kok, hanya bantuin menata makanan di atas meja. Ayo lanjutkan lagi biar cepat selesai." Jawab Aira.
Abizar tidak lagi melanjutkan dan hanya menatap wajah cantik istrinya itu dengan tatapan hangat penuh cinta.
"Jangan sakit Ra, aku takut banget kalau kamu kenapa-napa." Ucapnya memohon.
Aira hanya menanggapi kalimat yang selalu saja membuat hatinya menghangat dengan senyum termanisnya. Hingga beberapa saat kemudian, bibir yang selalu tersenyum manis saat pertama kali memasuki keluarga ini, sudah menempel sempurna di bibir suaminya.
Abizar membalas ciuman itu dengan penuh semangat. Hingga akhirnya sarapan pagi yang selalu ia nantikan di dalam kamar mandi, kembali ia cicipi.
"Pelan-pelan." Pinta Aira saat gerakan mulai terasa kuat hingga perutnya mulai terasa tidak enak.
"Maaf, aku benar-benar ga bisa nahan." Bisik Abizar dengan nafas memburu.
Aira tidak lagi menanggapi. Ia hanya membiarkan apa yang ingin di lakukan oleh suaminya itu, dan menahan sedikit nyeri yang terus saja terasa di perut bagian bawah miliknya.
Beberapa saat kemudian, aktivitas panas singkat namun mampu membuatnya kelelahan itu berakhir. Aira masih tersandar di dinding kamar mandi, hingga akhirnya tubuhnya di tarik dan masuk ke dalam pelukan hangat yang selalu saja membuat nya nyaman.
"Maaf yaa, aku benar-benar ga bisa nahan kalau lagi sama kamu." Ucap Abizar penuh sesal.
__ADS_1
"Ga apa-apa, aku baik-bak aja. Nnti temani aku ke dokter ya biar tahu mengapa akhir-akhir ini selalu saja terasa nyeri kalau lagi berhubungan intim." Jawab Aira.
"Tentu, kita akan ke dokter jam makan siang nanti." Ujar Abizar. Keduanya lalu mandi, dan kali ini benar-benar mandi tanpa plus plus.