Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 127 Sesason 2


__ADS_3

Alfaraz kembali melanjutkan langkahnya sambil menggenggam tangan Yana tanpa menghiraukan tatapan menyedihkan yang sedang tertuju padanya dari ujung sana.


"Al...


"Kita ke kamar." Sela Alfaraz cepat.


Yana tidak lagi bersuara. Ia hanya mengikuti langkah kaki suaminya menuju lift, sambil sesekali melirik wanita yang masih mengikuti mereka dengan tatapan yang terlihat menyedihkan.


"Kak Al." Suara Nara terdengar, namun, Alfaraz tetap melanjutkan langkahnya hingga mencapai lift hotel.


Tidak ingin semakin menambah pikiran suaminya, Yana hanya ikut melangkah dengan patuh, sambil membalas genggaman tangan Alfaraz dengan erat.


Setelah melalui malam yang panjang semalam, sungguh ia pun mulai merasakan takut kehilangan Alfaraz.


"Kak Al.. Nara melangkah mendekati pintu lift yang hampir tertutup rapat, namun, seseorang segera menariknya keluar dari dalam hotel menuju parkiran.


"Lepaskan.." Nara masih meronta minta di lepaskan. Tapi tangan kokoh itu enggan untuk melakukannya, dan membawa Nara masuk ke dalam mobil.


"Kenapa kamu melakukan ini ? Jika tidak ingin bekerja sama, maka jangan menghalangiku ! Teriak Nara. Gadis itu tidak peduli beberapa orang yang ada di dalam lobi hotel sedang mengabadikan kehancurannya.


Reno tidak peduli dengan teriakan Nara, ia membawa wanita yang datang menawarkan kerja sama untuk merusak kebahagian mantan istrinya itu ke dalam mobilnya.


"Bukannya kamu masih mencintai mantan istrimu itu ?" Nara menatap Reno dengan geram.


"Karena aku sangat mencintainya, jadi aku tidak akan membiarkan siapapun merusak kebahagiaannya." Jawab Reno. Ia lantas ikut masuk ke dalam mobil nya tanpa menghiraukan kekesalan wanita yang tidak ia ketahui siapa ini.


Nara tertawa mengejek bersamaan dengan air mata yang tidak bisa ia tahan jatuh menetes di pipinya.


"Nih, jangan mengotori mobilku dengan ingus mu itu." Reno mengulurkan kotak tisu ke arah Nara.


"Kamu tidak tahu bagaimana rasanya mencintai seseorang tapi begitu banyak penghalang." Ucap Nara di sela- sela isakkannya. "Sampai hari ini aku masih membenci ibuku yang telah tiada karena memisahkan kami." Sambungnya.

__ADS_1


Reno tidak menanggapi, ia hanya membawa mobilnya keluar dari pelataran hotel.


"Rumah kamu di mana ? Aku akan mengantarmu." Ujar Reno tanpa ingin menanggapi kalimat yang keluar dari bibir Nara. Ia tahu bagaimana rasanya terjebak di antara dua orang yang sama berharganya. Namun, apapun yang ia lakukan saat ini, hati Yana tidak akan pernah ia miliki lagi.


"Dasar bodoh, aku bisa membantumu mendapatkan mantan istrimu itu kembali. Dan kamu menyia-nyiakannya." Ujar Nara. Ia kembali merapikan penampilannya yang kusut di dalam mobil Reno. Air mata yang sempat mengalir di pipinya tadi, ia bersihkan kembali.


Reno hanya tersenyum miris melihat wanita yang kembali terlihat baik-baik saja di sampingnya. Akting yang sangat luar biasa, begitu pikirnya. Reno yakin, jika Alfaraz tidak langsung membawa Yana pergi dari lobi hotel tadi, mantan istrinya itu pasti akan ikut terpengaruh dengan wanita licik di sampingnya ini.


"Rumah kamu di mana ?" Tanyanya lagi.


"Ren, nama kamu Reno kan ? Kita bisa membicarakan rencana yang telah aku buat dengan baik. Aku yakin ini akan berhasil, dan Yana pasti akan kembali ke dalam pelukan kamu." Bujuk Nara.


"Rumah kamu di mana ? Apa perlu aku turunkan di sini ?" Tanya Reno kesal.


"Cih, ternyata di dunia ini masih ada orang sebego dirimu." Ujar Nara.


Mobil yang di kendarai Reno memasuki pelataran rumah yang cukup mewah, dan berhenti di sana. Lelaki itu lantas keluar dari dalam mobilnya dan masuk ke dalam rumah ibunya.


"Hei, sialan. Kamu mau ke mana ? Antar aku ke apartemen ku sekarang juga." Teriak Nara.


"Kamu lagi berdebat sama siapa sih ?" Tanya Lina saat mendengar suara putranya di depan rumah. "Wah kamu Maria yang ada di TV itu kan ?" Lina terkejut saat melihat wanita yang selalu ia lihat di TV, kini sedang berdiri di depan rumahnya.


Reno tidak perduli dengan keterkejutan ibunya, ia melangkah masuk ke dalam rumah meninggalkan wanita yang sudah tidak lagi sedekat dulu dengannya. Yah, setelah perpisahannya dengan Yana, sudah terbentang jarak yang sangat jauh antara dirinya dan sang ibu.


***


Lift hotel tempat Yana dan Alfaraz berada, terus naik menuju lantai tempat kamar mereka berada. Beberapa saat kemudian, dentingan lift berbunyi dan mereka melangkah keluar setelah pintu lift terbuka.


Alfaraz masih menggenggam tangan Yana dengan erat, seakan tidak ingin istrinya ini pergi menjauh darinya. Saat mereka sudah memasuki kamar, barulah genggaman tangan itu terlepas. Alfaraz masih diam, ia melangkah menuju telepon dan meminta petugas hotel untuk mengantarkan sarapan ke kamar mereka.


Sedangkan Yana, ia hanya berdiri dengan diam, sambil memperhatikan apa yang sedang Alfaraz lakukan di dalam kamar hotel yang mereka tempati.

__ADS_1


"Jangan pergi. Siapapun yang datang dan mengganggu kehidupan kita, jangan pernah beranjak dari hidupku." Ujar Alfaraz. Ia sudah membalik tubuhnya, lalu menatap Yana dengan khawatir. Sungguh dia mulai takut, jika kehadiran Nara akan membuat Yana tidak lagi ingin bersamanya.


Yana tersenyum, ia melangkah mendekati Alfaraz, lalu memeluk Alfaraz dengan begitu erat.


"Enak aja, ga bakalan aku beri kesempatan untuk mantan kamu itu datang dan merebut mu." Ujarnya sambil tertawa geli dengan kalimatnya sendiri.


"Zyana.." Kalimat Alfaraz terhenti, ia membalas pelukan Yana dengan erat di sertai kecupan berulang kali di puncak kepala istrinya.


"Tapi Al, aku kasian banget melihat keadaannya tadi." Ucap Yana tulus.


Alfaraz mengurai pelukannya, lalu memegang bahu istrinya.


"Nara seorang aktris. Membuat orang lain bersimpati padanya adalah hal yang sangat mudah baginya." Ujar Alfaraz.


"Maksud kamu dia hanya berpura-pura ?" Tanya Yana.


Alfaraz melepaskan bahu Yana, ia lantas melangkah menuju sofa dan duduk di sana.


"Ayo duduk sini." Alfaraz menepuk ruang kosong di sampingnya.


Yana melangkah, lalu ikut duduk di samping Alfaraz. Ia masih menanti jawaban dari pertanyaannya tadi.


"Selama kami berpisah, dia baik-baik saja. Dia memiliki banyak teman di sampingnya. Sedangkan aku, masih harus berusaha keras untuk melupakan semua tentang kami, dan mendapatkan maaf dari Papa." Jawab Alfaraz.


Jangan terpengaruh dengan penampilannya. Nara akan melakukan apa saja agar keinginannya terwujud dan aku tahu itu sejak lama, hanya saja cinta yang aku punya untuknya, mampu membuatku buta akan kenyataan." Sambungnya menjelaskan.


"Sebesar itu cinta kamu untuknya hingga mengabaikan kebenaran yang di katakan keluarga mu ?" Tanya Yana.


"Saat itu aku belum benar-benar menjadi dewasa, sehingga masih sulit menggunakan logika dengan baik. Aku hanya terus mengikuti kata hatiku, tanpa mempertimbangkan apa yang ada di dalam pikiranku. Yang aku tahu, saat itu aku mencintai Nara, dan ingin hidup bersamanya. Tapi itu dulu, sekarang tidak ada lagi yang tersisa di antara kami." Ujar Alfaraz.


Yana tidak lagi ingin mencari tahu, ia memilih untuk mengerti. Bukankah dirinya pun pernah mencintai seseorang dengan sangat dalam ? Untuk itu ia mengerti, bagaiman perasaan Alfaraz saat itu.

__ADS_1


"Jangan tinggalkan aku." Alfaraz bergumam lirih.


Yana tidak menjawab, ia hanya membawa tubuhnya dan terbenam dalam pelukan suaminya.


__ADS_2