Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 44


__ADS_3

Farah semakin tercengang mendengar kata rindu yang baru saja tercetus dari bibir anak mantan kliennya ini.


"Pulang ke rumahmu dan lanjutkan mimpimu itu." Ujar Farah, seketika membuat dua orang muda mudi yang ada di sana terbahak. "Kamu ngapain ke sini ?" Tanya Farah sambil memandang Rio dengan heran. Laki-laki ini terlihat mengenakan baju olahraga lengkap dengan hadset yang menempel di telinganya.


"Aku sedang berolahraga, dan tidak lewat depan rumah kamu." Jawab Rio sambil mengotak Atik benda pipih miliknya.


"Ga salah kamu. Rumah ku ini kan jauh dari rumah kamu, kok bisa kamu lari sampai kesini ?" Tanya Farah tidak percaya.


"Kan tadi aku bilang, aku rindu padamu." Ujar Rio sembari mengecilkan volume suara di ponselnya. Mungkin setelah ini akan tuli permanen, karena terus mendengar umpatan seseorang di dalam ponselnya.


Farah menatap Rio dengan tatapan tidak percaya, sejak kapan laki-laki ini bisa berbicara seperti ini padanya.


"Ibuku juga rindu padamu, kapan kamu bisa main ke rumah ?" Tanya Rio lagi.


"Ini benaran kamu ? Ga lagi kemasukan setan kan ?" Tanya Farah.


Laki-laki aneh itu sontak tertawa, jika saja bukan untuk membalaskan dendamnya pada laki-laki yang masih terhubung di ponselnya ini, ia tidak akan bersikap tidak sopan seperti ini terhadap Farah.


"Tentu saja ini benaran aku." Jawab Rio.


"Ini pacar Mbak Farah ?" Tanya Tari.


"Bukan." Jawab Farah sembari menggeleng.


"Jahat banget sih sayang, sama pacar sendiri kok gitu." Rio segera melepaskan earphone dari telinganya, usai mengucapkan kalimat yang membuat orang lain di ujung ponselnya terus berteriak memarahinya.


"Kita pulang ke Jakarta ya Sayang, kok tega banget sih ninggalin aku di rumah sendirian." Ujar Rio lagi. Ia tidak menghiraukan bosnya yang terus mengumpat di ujung sana. Salah sendiri mengganggu mimpi indahnya pagi ini.


***


Di dalam kamar yang biasa Farah tempati, Zidan terus mengumpat pada karyawannya. Ponselnya masih terhubung panggilan dengan laki-laki yang kini sudah berada di dekat wanita yang ia rindukan.


"Lihat saja nanti, aku tidak akan menaikkan jabatan, tapi akan langsung memecatmu." Geram Zidan saat laki-laki yang ia minta untuk datang ke rumah Farah pagi ini terus saja mengatakan rindu pada istrinya.


"Sekali lagi kamu bilang Rindu padanya, jangan pernah kamu menginjakkan kakimu lagi lagi di kantor ku." Ancam Zidan. Namun, laki-laki itu terus saja menggombli istrinya.

__ADS_1


"Papa." Gumam seorang bocah yang kini mulai terjaga di sampingnya, karena ia terus saja memarahi Rio.


"Sayang, maaf ya Papa ganggu tidur kamu." Ucap Zidan. Lelaki itu segera meletakkan gawai yang ada di tengahnya ke atas nakas di samping ranjang, lalu ia segera membawa tubuh putranya ke dalam dekapan.


.


"Unda." Ucap Alfaraz lagi.


Zidan menatap sedih wajah putranya, entah sudah berapa kali bibir mungil putra nya ini menyebutkan sang Bunda, dan sampai hari ini Zidan belum juga mendapatkan jawaban yang pas perihal kepergian Farah.


Zidan semakin mengeratkan pelukannya di tubuh Alfaraz, lalu berulang kali mengecup puncak kepala putranya dengan penuh rasa bersalah.


Benar kata Zia, sekuat apapun Nadia memohon dulu, seharusnya ia menolaknya dan tidak menikahi Farah. Dirinyalah yang paling salah dalam hal ini, bukan Farah. Meskipun Farah menerima permintaan Nadia saat itu, tetap saja dirinyalah yang memutuskan semuanya. Dan kini, bocah laki-laki yang tidak sepantasnya merasakan rindu, harus ikut menanggung akibat dari keputusannya.


Zidan mengurai pelukan di tubuh Alfaraz, saat suara sang Ibu sudah terdengar di balik pintu kamar yang masih tertutup rapat.


Dua lelaki berbeda usia itu, turun dari ranjang lalu melangkah menuju pintu kamar.


Anisa tersenyum mendapati cucunya dengan wajah menggemaskan dan tubuh mungilnya masih terbungkus piyama.


"Sama Eyang ya, kita mandi terus sarapan. Papa harus ke kantor sayang." Ujar Anisa.


"Terimakasih Bu, dan maafkan Zidan." Ucapnya.


" Farah pantas untuk di perjuangkan, jadi jangan berhenti untuk berjuang." Ucap Anis memperingati.


Zidan mengangguk, memang itulah yang menjadi prioritas nya saat ini. Namun, untuk sementara waktu, ia akan memberikan waktu dan ruang yang cukup untuk Farah menangkan diri.


Anisa seger berlalu dari kamar yang bisanya di tempati Farah, lalu melangkah menuju kamar Alfaraz untuk membersihkan tubuh cucunya.


Sedangkan Zidan kembali masuk kedalam kamar, untuk mengganti pakaian yang ia gunakan untuk shalat subuh tadi dengan stelan kantor seperti biasanya.


Zidan melihat ruang ganti di kamar Farah, sebuah lengkungan tercetak jelas di bibirnya. Seharusnya sejak dulu ia melakukan hal ini.


Setelah kepergian Farah, Zidan di bantu asisten rumah tangga, mulai memindahkan barang-barang pribadinya ke dalam kamar Farah. Semua sudah tertata rapi di dalam ruangan tempat barang pribadi Farah berada.

__ADS_1


Hijab-hijab, serta blezer yang sering Farah kenakan di sentuhnya dengan hati-hati. Wanita itu pergi, tanpa membawa apapun dari kamar ini, dan tidak salahkan jika ia berharap Farah akan kembali lagi.


"Aku pasti akan datang Ra, tunggu aku." Ucap Zidan.


Lelaki itu kembali membawa langkah kakinya keluar dari ruang ganti. Sebuah notifikasi masuk ke dalam ponselnya, Zidan melangkah menuju ranjang lalu meraih benda pipih itu dan memeriksanya.


Beberapa foto Farah masuk ke dalam aplikasi chat, Zidan kembali tersenyum sambil menikmati wajah yang masih saja terlihat cantik itu dari layar ponselnya.


"Siapa mereka ?" Tanyanya setelah ponsel sudah terhubung dengan laki-laki yang kini sedang duduk di dalam rumah Farah.


Zidan terdiam, ia menyimak semua kalimat yang di laporkan Rio hari ini padanya. Sedikit merasa lega, karena saat ini Farah tidak sendirian.


"Baiklah, terimakasih untuk hari ini. Kamu pulanglah, besok kamu sudah bisa kembali ke Jakarta dan melanjutkan pekerjaanmu yang tertunda." Perintah Zidan lagi kemudian mengakhiri panggilan.


Yang tidak Zidan ketahui, laki-laki yang baru saja ia perintah ini dan itu, terus mengumpat kesal.


Zidan kembali menatap dirinya di depan cermin. Stelan Jas sudah melekat di tubuhnya, ia bersiap untuk berangkat kerja hari ini.


Yah, ia pun harus baik-baik saja, agar kedepannya akan punya lebih banyak tenaga yang akan ia gunakan untuk memperjuangkan hati Farah.


"Aku rindu Ra." Ujarnya sambil menatap dua bingkai foto yang ada di atas nakas.


Zidan melangkah menuruni satu per satu anak tangga menuju ruang makan, senyum hangat kembali terlihat di wajahnya kalah mendengar celotehan Alfaraz bersama Ibu dan Ayahnya di ruang makan.


Meskipun kecewa padanya, namun, sepasang suami istri paruh baya itu, tidak mengabaikan dirinya dan Alfaraz.


Zidan tidak menyempatkan diri untuk sarapan bersama, laki-laki itu hanya masuk dan berpamitan pada kedua orang tuanya yang asik mengajak Alfaraz bercerita.


"Al jadi anak baik ya." Kecup Zidan di puncak kepala putranya. Bocah laki-laki itu sudah terlihat tampan dan rapi.


"Bawa Unda ya." Ucap Alfaraz.


Zidan mengangguk.


"Nanti akan Papa bawa pulang, tapi belum hari ini. Bunda masih perlu beristirahat." Jawabnya.

__ADS_1


Bocah laki-laki itu mengangguk patuh. Setelah berpamitan pada dua orang yang sudah membesarkannya itu, Zidan melangkah keluar dari rumahnya menuju tempat ia bekerja.


Semua hanya perlu waktu, Farah dan dirinya sama-sam memerlukan waktu untuk menata kembali semua yang berantakan selama empat tahun ini. Yang terpenting saat ini, Farah baik-baik saja.


__ADS_2