
Setelah kepergian Diana dan Rehan, Zidan kembali menutup ruang perawatan yang di tempati Farah. Hening masih mengambil alih, tidak ada yang berani memulai percakapan.
Mendengar kalimat terakhir Nadia, juga masuk dari Diana sebelum berpamitan pulang, membawa pikiran Farah kembali menerawang jauh ke beberapa tahun silam, saat sebelum pernikahan menyesakkan dada ini terjadi.
Saat pertama kali ia bertemu dengan wanita yang begitu mengenalnya, namun sama sekali tidak ia kenali.
Flash back
Sedikit mentari pagi mulai menembus tirai tipis lalu masuk ke dalam kamar melalui celah jendela yang di biarkan terbuka. Gadis yang masih saja bertemankan sepi selepas kepergian dua orang penting dalam hidupnya beberapa tahun silam, masih bergelut manja di ranjang sederhana yang selalu menjadi tempatnya untuk melepas penat setelah belasan jam menghabiskan waktunya untuk membantu orang-orang yang membutuhkan pembelaan.
Alarm yang terus saja berdering dari benda kecil bulat yang ada di atas nakas samping tempat tidur, sama sekali tidak bisa membuatnya untuk segera beranjak dari ranjang.
Bukan bunyi alarm dari jam weker ini yang ia inginkan, tapi suara sang ibu yang sangat dia rindukan saat ini.
"Nak bangun, kamu akan telat berangkat kuliah nanti." Suara lembut yang seakan masih terngiang di telinganya mulai mengganggu mimpi panjangnya.
"Ra bangun, mas akan terlambat ke kantor jika harus menunggumu bangun." Satu lagi suara yang dulu selalu mengisi pagi nya kembali terdengar dengan jelas.
Drrrrtttt..... drrrtttttt
Kali ini getaran ponsel yang tergeletak di atas ranjangnya mulai mengganggu lelapnya, dan mengakhiri mimpi indah tentang bagaimana bahagia kehidupannya dulu.
Walaupun hidup dengan seadanya, dari perah keringat sang kakak yang banting tulang di kantor Firma Hukum milik sahabatnya, namun ia begitu bahagia melewati hari.
Setelah kesendiriannya sekian tahun lamanya, barulah ia menyadari, jika tidak ada jam weker di samping ranjangnya, karena dulu ada dua suara berbeda yang selalu membuatnya terjaga dari mimpi panjangnya.
"Assalamualaikum." Ucapnya setelah mengusap layar ponsel miliknya.
"Sudah sarapan ?" Tanya suara bariton di ujung ponselnya
"Iya ini aku sedang sarapan." Bohongnya.
"Jangan bohong aku kutuk jadi guling baru tahu rasa kamu." Suara kesal di ujung ponselnya membuat Farah terkekeh.
"Iya maaf, aku akan segera kesana."
Hijab instan yang ada di kursi kerja di dalam kamar, di raihnya lalu memakai kain berbahan wolfis itu untuk menutupi auratnya kemudian bergegas keluar dari dalam kamar menuju pintu apartemennya.
Ceklek...
__ADS_1
Pintu flat sederhana itu terbuka, menampakkan sosok laki-laki tampan dengan anak kecil dalam pelukannya..
"Bunda.. hiks hiks.." Gadia kecil yang di beri nama Liana itu mulai terisak meminta Farah untuk segera meraih tubuh mungilnya.
"Loh kenapa nangis ?" Tanya Farah sambil mengelus lembut pipi gadis kecil yang baru berusia tiga tahun itu.
Tubuh kecil itu sudah berpindah ke dalam pelukan Farah, sedangkan Rehan menyelonong masuk ke dalam dapur sederhana yang ada di dalam tempat tinggal Farah untuk menyiapkan sarapan yang sempat dia beli di jalanan pagi ini.
"Kenapa nangis ?" Tanya Farah lagi.
Namun gadis kecil itu tidak menjawab dan hanya semakin membenamkan tubuhnya di dalam pelukan Farah.
"Hari ini Nana harus di imunisasi, Diana ngga bisa nemanin dan meminta kamu untuk membawanya ke Rumah Sakit." Jawab Rehan sambil membawa dua mangkuk bubur ayam menuju ruangan tempat Farah dan putrinya berada.
"Lalu apa maslahnya ? Memang setiap bulannya aku yang membawanya ke pos pelayanan kan ?" Tanya Farah heran.
"Masalahnya pelayanan itu harusnya kemarin, aku sampai marahin Diana karena terlalu sibuk dan melupakan jadwal imunisasi Nana." Kesal Rehan.
"Ya udah lah Kak, masalah kecil ngga usah di besar-besarin. Sekarang kan imunisasi boleh langsung ke dokter anak." Ucap Farah. "Nana duduk situ dulu ya, Bunda mau sarapan lalu kita pergi ketemu dokter." Sambungnya.
Gadis kecil itu mengangguk patuh lalu berpindah dari pangkuan Farah dan duduk di samping wanita yang menjadi ibu kedua nya itu.
***
Mobil Sedan berwarna hitam metalik itu mulai membelah jalanan, tiga orang berbeda usia yang ada di dalam mobil terlihat begitu menikmati lagu anak yang terdengar dari audio mobil.
Bukan suara audio, Rehan justru menikmati suara Farah dan putrinya yang terasa mengisi mobilnya, hingga macet yang sering membuatnya kesal tidak lagi dia rasakan dan kini mobil mewah yang membawa mereka sudah terparkir rapi di depan salah satu rumah sakit terbaik di Jakarta.
Liana semakin mengeratkan pelukannya di leher Farah, membuat gadis yang sudah berusia hampir dua puluh enam tahun itu terkekeh lucu.
"Sama papa ya, kasian Bundanya jika kamu peluk erat seperti itu." Rehan mengulurkan tangannya untuk meraih tubuh kecil Liana namun segera mendapat gelengan tegas dari putri kecilnya itu.
Farah semakin tersenyum, setidaknya hidupnya masih memiliki warna karena kehadiran orang-orang asing tanpa ikatan darah namun sudah menganggap dirinya selayaknya keluarga ini.
Ternyata poli anak yang menjadi tujuan mereka pagi ini terlalu ramai. Banyak pasien yang entah dari jam berapa mengantri untuk mendapatkan pelayanan.
"Aku akan tinggalkan kalian di sini ngga apa-apa kan Ra ? Klien kita yang kemarin itu janjian datang dan ketemu aku pagi ini di kantor." Ucap Rehan sambil mengitari ruang tunggu yang sudah di penuhi oleh anak-anak dan orang tua mereka dengan pemandangannya.
Farah ikut melihat sekeliling ruang tunggu, lalu mangangguk.
__ADS_1
Jika Rehan menunggu sampai mereka selesai, akan banyak waktu yang terbuang percuma.
"Nana sama Bunda ngga apa-apa kan ? Papa harus ke kantor, biar bisa beli barbie yang baru." Ucap Farah sambil mengusp lembut rambut sebahu gadis kecil yang masih memeluk erat lehernya.
Terlihat kepala kecil yang bersandar di bahunya mengangguk, Rehan tersenyum lalu mencium puncak kepala putrinya.
"Terimakasih Ra, hubungi aku jika sudah selesai." Ucapnya sambil mengusap lembut puncak kepala gadis yang sudah seperti adiknya.
Farah mengangguk dan Rehan kembali melangkah keluar dari Rumah Sakit tempat Farah dan putrinya berada.
***
"Nad, wajah kamu pucat sayang. Apa tidak sebaiknya hari ini di rumah aja." Bujuk Zidan lagi padahal kini mobil mereka sudah terparkir di halaman rumah sakit tempat istrinya bekerja.
"Zi aku baik-baik saja. Hari ini ada banyak anak-anak yang membutuhkan aku. Kamu kerja sana, jangan khawatir, aku baik-baik saja." Jawab Nadia.
Zidan akhirnya mengalah dengan keras kepala sang istri yang masih saja sama seperti dulu.
Cup...
"Jangan cemberut gitu dong sayang." Kecup Nadia di pipi suaminya. "Aku jadi malas kerja jika wajah kamu jadi jelek begitu." Sambungnya sambil terkekeh pelan.
"Kamu tuh, aku khawatir banget. Dokter kan sudah bilang kamu harus banyak istirahat." Lirih Zidan. Tangannya terulur mengusap anakan rambut yang menyembul di wajah istrinya.
"Aku baik-baik saja, dan jangan lupa aku juga dokter. Jika aku mulai merasa tidak enak pasti aku istirahat kok. Sudah ah, aku terlambat nih." Ujar Nadia sambil melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Baiklah dokter Nadia." Ujar Zidan mengalah. "hati-hati sayang. Kabari aku tentang apapun okeh." Ucapnya lagi bersamaan dengan kecupan di dahi sang istri.
Nadia mengangguk lalu keluar dari mobil sang suami. Lambaian tangan masih terus mengiringi kepergian Zidan, hingga mobil berwarna silver yang di kendarai suaminya itu menghilang dari pelataran rumah sakit.
Rumah tangga yang terlihat bahagia dan baik-baik saja, namun tidak dengan Nadia. Wanita yang sudah hampir lima tahun menjadi istri itu masih berdiri mematung di tempatnya.
Rasa bersalah karena tidak bisa memberikan keturunan untuk suaminya itu kembali menyeruak. Meskipun Zidan tidak pernah membahas tentang malaikat kecil di tengah-tengah rumah tangga mereka, tetap saja Nadia merasa sangat tidak berguna.
Zidan selalu menyayanginya sepenuh hati. Laki-laki yang dulu dengan segala kebesaran hati menerima dirinya yang hanya sebatas orang asing, kini begitu mencintainya.
Begitu banyak cinta dan bahagia yang laki-laki itu persembahkan untuk hidupnya, namun sampai saat ini dia belum bisa membalas segala kebahagiaan yang di berikan suaminya itu.
Dengan fikiran juga hati yang berkecamuk, Nadia kembali melangkahkan kakinya menuju rumah sakit. Melihat anak-anak yang datang berkunjung dan bertemu dengan dirinya setiap hari, sedikit membantu mengurangi rasa sesak karena dirinya yang tidak bisa memiliki malaikat kecil menggemaskan dari rahimnya sendiri.
__ADS_1