
"Ayo kita nikah, setelah itu akan aku pastikan mantan suami mu tidak akan berani mengganggu mu lagi." Ujar Alfaraz sembari menyodorkan satu buah kotak cincin ke arah Yana.
Yana mengalihkan pandangannya dari lampu-lampu jalan yang terlihat dari dalam restoran yang berdinding kaca tempat mereka berada.
Setelah kepergian Reno sore tadi, Alfaraz meminta izin pada Ibu Dinda untuk mengajak Yana makan malam, dan tentu saja masih ingin melanjutkan pembicaraannya yang sudah di tolak Yana siang tadi.
Yana masih bungkam, ia hanya menatap kotak cincin yang ada di atas meja lalu beralih pada wajah atasannya yang terlihat begitu serius.
"Saya sudah gagal menjaga pernikahan, dan untuk memulai hidup pernikahan yang baru, rasanya masih sangat sulit untuk saya. Maafkan saya karena belum bisa menerima tawaran Bapak." Jawab Yana sopan. Ia hanya melirik benda berwarna maron yang ada di atas meja sebentar, lalu kembali mengalihkan pandangannya pada lampu hias yang ada di depan restoran.
"Bagaimana jika aku memintamu menikah, hanya karena ingin terbebas dari ikatan rumit ku di masa lalu ?" Tanya Alfaraz.
"Meminta bantuan saya ?" Yana balik bertanya.
"Anggap saja begitu." Ucap Alfaraz.
Yana kembali menatap wajah Alfaraz
"Tanpa banyak tuntutan ?" Tanyanya
Alfaraz mengangguk.
"Tapi tetap harus publish, karena aku membutuhkan status." Ujarnya.
Yana menggeleng.
"Saya tidak bisa membuat karir yang saya bangun selama bertahun-tahun hancur hanya karena membantu Bapak." Ucapnya.
"Itu perusahaan ku, dan tidak ada satu orang pun yang mampu menghancurkan karir dari seorang istri pemilik perusahaan." Ujar Alfaraz.
"Bapak tidak jatuh cinta dengan saya kan ?" Tanya Yana.
Alfaraz terbahak mendengar pertanyaan Yana.
"Kenapa bertanya seperti itu ?"
"Tidak apa-apa. Saya hanya terlalu muak dengan kata cinta yang justru memberi luka." Jawab Yana.
"Berarti kita memiliki pemikiran yang sama. Aku pun sudah muak mencintai seseorang yang pada akhirnya orang itu juga yang melukai." Ujar Alfaraz.
Yana tersenyum, lalu menatap lekat wajah atasannya.
"Kalau begitu, datang dan minta langsung pada Ibuku." Ucapnya.
"Terimakasih sudah membantu." Ucap Alfaraz.
"Sepertinya aku pun membutuhkan pernikahan ini."
Setelah pembicaraan dengan hasil yang baik, keduanya kini menikmati makan malam di restoran itu.
"Kamu tidak ingin bertanya mengapa aku berpisah dengan mantan istri ku ?" Tanya Alfaraz.
"Saya tidak ingin bertanya, namun, jika Bapak mau menceritakan saya siap mendengarkan." Jawab Yana.
"Zyana.." Panggil Alfaraz.
__ADS_1
Yana mengalihkan fokus nya dari makanan lalu menatap wajah Alfaraz dengan tatapan datarnya.
"Jangan pakai bahasa formal jika kita sedang berada di luar kantor."
Yana mengangguk, lalu kembali melanjutkan makan malamnya.
"Baiklah,
"Alfaraz, kamu bisa memanggil saya Al."
"Baiklah Al." Ujar Yana.
"Kalau kamu, kenapa sampai berpisah dengan mantan suami mu ?" Tanya Alfaraz.
"Ini dan itu, dan aku tidak ingin membicarakannya lagi. Menutup luka dan mengubur masa lalu perlu di lakukan, agar bisa melangkah dengan tenang di masa depan." Ujar Yana.
"Baiklah akan lebih baik seperti itu, aku takut cemburu jika mendengar bagaimana kamu mencintai mantan suami mu itu di masa lalu." Ujar Alfaraz.
"Nah itu." Ucap Yana lalu terkekeh pelan.
Alfaraz pun ikut tersenyum menanggapi tawa lucu yang terdengar dari bibir wanita yang entah mengapa mampu membuatnya nb terpengaruh sampai seperti ini.
Setelah menikmati makan malam yang begitu panjang, Alfaraz kembali mengantar Yana pulang ke rumah Ibu Dinda.
Yana membicarakan awal karirnya di perusahaan, dan bagaimana perlakuan Zidan terhadap dirinya. Kerja keras Yana yang di apresiasi dengan baik oleh Direktur yang lama, padahal dirinya masih merupakan mahasiswi saat memulai karir di perusahaan keluarga Prasetyo.
"Papa sering membicarakan mu. Penanggung jawab bidang keuangan yang selalu beliau bangga-banggakan. " Ujar Alfaraz.
"Pak Zidan hanya berlebihan. Beliau selalu memperlakukan semua karyawan dengan baik."
"Dan semua keluarga memiliki masalah masing-masing." Ucap Yana tidak ingin mencari tahu.
Alfaraz tersenyum mendengar tanggapan Yana.
"Sepertinya kita sudah dekat, ah cepat banget sampainya." Ucapnya sembari menghentikan mobilnya di sisi jalan depan toko bunga Ibu Dinda.
"Terlalu banyak mengobrol, jadi ngga kerasa sampainya." Ucap Yana tertawa. "Kamu mau masuk juga ?" Tanya nya saat melihat Alfaraz ikut membuka pintu mobil dan turun.
"Aku ingin membeli bunga untuk Bunda, am berpamitan pada calon Ibu mertua." Jawab Alfaraz.
Yana kembali tertawa.
"Sepertinya kamu yakin sekali jika lamaran kamu ga akan di tolak oleh Ibu." Ledek Yana.
"Yakin dulu, baru lakukan."
Yana kembali tertawa mendengar jawaban yang terdengar begitu lucu di telinganya.
"Ayo masuk, jangan terus tertawa entar aku diabetes." Ujar Alfaraz lalu melangkah masuk ke dalam pelataran toko.
"Ga usah gombal, ga akan mempan." Ujar Yana dengan wajah garang lalu melangkah lebih cepat masuk meninggalkan Alfaraz.
"Assalamualaikum Bu." Ucap Yana saat memasuki toko bunga ibunya.
"Waalaikumsalam. Kamu tuh ibu nungguin dari tadi." Omel Dinda pada putrinya.
__ADS_1
"Assalamualaikum Bu." Ucap Alfaraz.
"Eh Nak Al kok belum pulang, ini sudah malam loh." Ucap Dinda.
"Ini mau pulang Bu, hanya mampir ingin membeli bunga buat Bunda." Jawab Alfaraz.
"Yan, bagusnya yang mana ?" Tanya Alfaraz.
Yana menatap ibunya sebentar, lalu melangkah mendekati tempat bunga mawar putih berada.
"Aku suka mawar putih." Ucapnya lu meraih satu buket bunga mawar putih dan menyerahkannya pada Alfaraz. "Aku traktir, sampaikan salam ku pada Bunda kamu." Sambungnya.
"Aku minta nomor ponsel kamu boleh ?" Tanya Al hati-hati.
"Aku ngga hafal nomor ponselku yang baru. Masukkan nomor kamu di sini, biar aku kirim chat nanti." Ujar Yana sembari mengulurkan benda pipih miliknya ke arah Alfaraz.
"Terimakasih." Ucap Alfaraz saat melihat satu pesan di aplikasi chating.
Yana mengangguk.
"Hati-hati di jalan." Ucapnya.
"Bu Al pamit ya." Ucap Alfaraz sembari menatap wanita yang sedang sibuk dengan bunga-bunga di hadapannya.
"Hati-hati Nak." Ujar Dinda pada laki-laki yang mengaku sebagai teman putrinya itu.
Alfaraz melangkah keluar dari dalam toko menuju mobilnya dengan perasan berbeda. Hari ini jauh lebih menyenangkan dari hari-hari biasanya.
Mobil mewah berwarna hitam milik Alfaraz mulai melaju di jalanan, meninggalkan toko bunga yang entah mengapa mulai memberinya semnagat kehidupan baru.
Tidak ada salahnya untuk memulai sesuatu, entah bagaimana hasil kedepannya, biarlah menjadi rahasia Allah.
Lampu-lampu yang menghiasi jalanan kota Jakarta terlihat begitu indah. Gedung-gedung pencakar langit yang semakin menambah sesak kota metropolitan, terlihat begitu indah di malam hari.
Zyana, wanita yang sering di ceritakan sang Ayah dengan segala kelebihan itu, ternyata semenyenangkan ini. Beruntung saat ini mereka berdua tidak lagi terikat dengan pernikahan, meskipun mungkin perasaan keduanya masih belum melangkah pergi dari masa lalu.
Tidak masalah bukan, terkadang hubungan tanpa cinta namun, saling menghargai akan lebih indah terasa, dari pada hubungan dengan cinta yang menggebu tapi memberi luka.
Setelah memarkirkan mobilnya di dalam garasi, Alfaraz bergegas masuk ke dalam rumah mewah milik orang tuanya.
"Assalamualaikum Bun." Al mencium pipi sang Bunda lalu meletakkan satu buket mawar putih ke atas pangkuan wanita paruh baya itu.
Farah menatap heran ke arah putranya.
"Lagi kesambet kali Bun." Celetuk Adelia dari sebrang siaga sembari mengotak atik benda lipat di atas pangkuannya.
"Dari calon menantu Bunda." Ujar Alfaraz sembari tersenyum.
"Kakak punya pacar ?" Tanya Adelia penasaran.
"Bukan pacar tapi calon istri." Jawab Alfaraz.
Ia tertawa melihat tatapan aneh dari dua wanita berharga itu, lalu pamit menuju kamar tidurnya untuk membersihkan diri.
*Note Author
__ADS_1
Noveltoon lagi eror, dari semalam aku up belum lulus review 😭