
Tidak ada yang mudah dalam sebuah perjuangan. Mungkin Tuhan sengaja mempersulit langkahnya, karena memang ia belum benar-benar menebus segala dosa yang sudah ia perbuat.
"Aku sudah bilang ini tidak akan mudah untuk kita Mas. Pulanglah, dan memohon lah pada Mbak Yana agar bisa kembali meraih bahagia yang dulu pernah aku hancurkan.
Reno masih tertunduk dalam di sebuah ruangan mewah di salah satu rumah di tengah kota Lampung. Rumah yang dulu beberapa kali ia datangi setelah menikah dengan Rara. Dulu, meskipun tidak di sambut baik oleh kedua orang tua Rara, ia masih bisa masuk dan menginap di rumah ini, namun, hari ini pemilik rumah langsung memintanya untuk pulang setelah semua yang ia inginkan di tolak tanpa basa basi dari si pemilik rumah.
"Yana sudah menikah, dan hidup bahagia dengan orang yang jauh lebih baik dari aku." Jawabnya lirih.
Rara terkejut mendengar kalimat yang baru saja meluncur dari bibir Reno.
"Aku melihat senyum yang dulu sempat ia berikan untukku, saat bersama laki-laki itu. Jadi aku tidak lagi ingin memperumit keadaan." Sambung Reno lagi.
"Aku benar-benar sangat merasa bersalah dengan Mbak Yana. Aku pikir, dengan cintanya yang begitu besar untuk mu, ia bisa menerima dengan ikhlas kehadiranku. Maafkan aku Mas." Ucap Rara.
Reno menggelang.
"Ini semua salahku. Dalam hal ini, bukan hanya dirimu yang bersalah, tapi juga aku. Aku menikahi mu dua tahun lalu dalam keadaan sadar, berarti aku tahu jika yang aku lakukan itu akan menyakiti Yana, namun, aku tetap melakukannya."
"Mungkin di lain waktu, aku akan datang mengunjunginya dan meminta maaf dengan benar. Mas pulang lah ke Jakarta. Aku tidak akan memberikan harapan, tapi aku akan berusaha untuk berbicara dengan Abi setelah semuanya kembali tenang. Maafkan atas sikap Abi." Ujar Rara.
"Beliau berhak marah padaku karena sudah melukai putrinya. Tidak apa-apa Ra. Aku juga minta maaf padamu, benar-benar minta maaf."
Rara mengangguk dengan senyum terukir di wajah cantiknya.
Keduanya beranjak dari sofa mewah yang ada di ruang tamu, lalu melangkah menuju pintu depan.
"Tolong antar Pak Reno ke airport ya Mal."
Asisten yang sejak tadi belum beranjak pulang, dan memilih berdiam diri di dalam mobil menoleh, menatap dua orang yang sudah berada di samping mobilnya.
"Baik Bu." Jawab Akmal.
"Aku pergi Ra, titipkan permohonan maaf ku pada Abi dan Umi yaa."
Rara mengangguk.
Setelah mobil itu keluar dari pelataran rumah, Rara bergegas masuk untuk menemui Abi dan Umi nya.
***
Ruang keluarga terasa begitu hangat dari biasanya. Setelah makan malam s!epasang suami istri paruh baya yang ikut makan malam bersama di rumah Gerald, terus saja bercerita banyak hal dengan sangat bahagia.
Masa kecil Gerald yang terus saja membuat pria tampan itu cemberut, masih menjedi topik pembahasan di ruang makan.
"Ma, setelah menikah langsung jadi ya ?" Tanya Adelia menimpali.
__ADS_1
"Iyalah, bagaimana tidak jadi, di gempur terus." Jawab Regina bersama tawa geli di wajah tuanya saat melihat wajah sang suami yang cemberut.
"Mirip kan mereka ?" Sambungnya.
Adelia mengikuti arah tatapan Mama mertuanya, dan benar saja dua lelaki berbeda usia di ruangan itu memang begitu mirip.
"Kak Al justru lebih mirip Bunda, dan Adel mirip Papa." Ujarnya.
"Kisah mereka itu dulu membuat Mama tersentuh. Namun, begitulah semua memang sudah ada garis tangan masing-masing. Seperti Mama yang pernah naksir sama asisten Papa kamu." Kekeh Regina.
"Maksud Mama Om Rio ?" Tanya Adelia memastikan.
Regina mengangguk.
"Tapi ga dapat restu. Dan terpaksa menerima perjodohan yang di atur oleh orang tua." Jawabnya
"Jadi kamu terpaksa nikah sama aku ?" Tanya lelaki paruh baya yang ada di samping Regina.
Regina tertawa geli melihat wajah kesal suaminya.
"Iya kan dulu kita sama-sama terpaksa, sama seperti Adel juga. Tapi yakinlah Nak, kadang pernikahan yang tidak di awali dengan cinta yang menggebu, akan berjalan dengan sangat baik, terlebih kita sama-sama pandai dalam menepatkan diri." Ujar Regina.
Adel mengangguk mengiyakan.
"Kata Tante Zia, terkadang di perlakukan dengan baik setelah menikah itu, jauh lebih baik dari pada di cintai tapi tidak di hargai." Jawab Adelia.
Adelia tersenyum, membenarkan. Bahkan belum sebulan berjalan ia dekat dengan Gerald, namun, dadanya sudah bisa berdebar untuk lelaki yang masih diam di sampingnya.
"Mama mau cucu berapa ?" Tanya Adel riang.
Gerald menoleh, menatap wajah Adelia yang juga sedang menoleh ke arah nya.
"Harus banyak, ngga enak jika punya satu aja. Empat atau lima mungkin. Semampu kamu ajalah." Jawab Regina.
Adelia mengangguk.
Gerald terperangah.
"Banyak banget Ma." Protesnya.
"Ngga apa-apa, kan kamu rajin buatnya." Adelia mengedipkan matanya menggoda.
Dua orang paruh baya di hadapan mereka tertawa.
"Pantas jalan kamu susah tadi." Ujar Regina.
__ADS_1
"Anak Mama nakal, ga mau berhenti." Jawab Adelia.
"Sama Papa kamu dulu begitu. Di awal-awal nikah, Mama bahkan ga mau keluar kamar karena malu sama keluarga. Di ledekin terus Del."
Adelia tertawa..
"Untung Adel di sini, kalau di rumah pasti Mbak Yana ga akan berhenti meledek." Ucapnya.
"Dia hamil ya ? Semoga kamu cepat nyusul ya Nak. Ah Mama sudah lama ngga momong bayi."
"Aamiin Ma, do'akan semua di permudah."
Regina melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Lalu berpamitan pada Putra dan menantunya untuk pulang ke rumah.
"Nanti asisten rumah tangga yang tadi akan datang pagi hari. Tapi tenang aja, dia ngga akan sampai ganggu waktu pagi kalian kok, dia sudah punya kunci cadangan." Ujar Regina memperingati.
"Jangan bosan ya, Mama dan Papa akan selalu datang berkunjung ke sini setiap hari."
"Tentu saja, tinggal di rumah ini juga ngga apa-apa kok." Jawab Adelia.
"Nggak, nanti aja kalau cucu Mama sudah lahir ke dunia baru deh, Mama akan tinggal di sini." Jawab Regina.
Adelia tersenyum sambil mengaminkan kalimat Mama mertuanya di dalam hati.
Setelah mengantar sepasang suami istri itu ke mobil, Adelia dan Gerald kembali duduk di sofa yang tadi mereka duduki.
Gerald menarik tubuh mungil Adelia agar bersandar di dadanya.
"Dengar ga ?" Tanyanya.
Adelia mengangguk, bersama senyum terlihat di bibirnya.
"Aku ngga tahu sejak kapan jatuh cinta pada gadis sekecil kamu, tapi itulah yang terjadi. Untuk permintaan Mama tadi, ga usah di ambil pusing. Kita masih bisa menundanya kalau kamu belum siap." Ujar Gerald.
Adelia melepaskan diri dari dekapan, lalu menatap wajah suaminya heran.
"Kamu ngga suka ?"
"Apanya ?" Tanya Gerald tidak mengerti.
"Kamu ngga suka punya anak dari aku ? Lalu kenapa kau tiduri aku tadi ?" Wajah Adelia sudah terlihat geram.
"Apaan, dasar otak mu aja yang geser pikirannya buruk terus. Aku mau lah, mau banget malah. Aku mau kalahkan Kakak kamu. Sepertinya sofa ini bagus di coba." Ujar Gerald.
"Nggak, masih sakit. Aku mau periksa beberapa dokumen yang harus aku kirim ke kantor besok."
__ADS_1
Adelia beranjak dari sofa, meninggalkan lelaki yang sudah memasang wajah mesum di sana.
"Sayang, ayo dong kita coba sofa ini." Gerald masih merengek, namun Adelia tetap melanjutkan langkahnya menuju kamar mereka.