Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 165 Season 3


__ADS_3

Dua hari setelah pernikahan dadakan itu, kini Dira sedang berbaring di atas ranjang di sebuah apartemen sambil tertawa cekikikan dengan wanita yang kini terpampang di layar ponselnya.


"Jahat yaa, katanya hanya datang menghadiri pernikahan orang lain, tapi ternyata pernikahannya sendiri." Ujar Evelyn dari layar ponsel Dira.


"Aku ngga tahu Ev, ini benar-benar dadakan banget. Gadis gila itu melarikan diri, dan aku harus menyelamatkan nama baik keluarga ku." Jawab Dira menjelaskan.


"Tapi kamu senang kan dengan karena sudah menjadi pahlawan dalam keluarga, sekaligus menikahi lelaki yang memang kamu cintai.


"Itu kamu tahu.."


Dua wanita yang berada di benua berbeda itu kembali tertawa geli.


"Hm, tapi Ev kata Kak Arga, dia emang cinta sama aku sejak dulu. Benar nggak sih ?" Dira menatap wajah cantik blasteran sahabatnya yang ada di layar ponsel. Menunggu jawaban dari sahabatnya itu, untuk menambah keyakinan dalam hatinya jika pernikahan ini bukanlah kesalahan.


"Yah mana aku tahu Dir, aku bahkan ga pernah ketemu sama dia. Lihat fotonya aja ngga pernah, kamu ngga ngizinin, takut aku tertarik." Jawab Evelyn dengan tawa mengesalkan.


"Udah malas ngomong sama kamu." Kesal Dira.


"Tapi kayaknya emang benar sih, hal yang ngga mungkin jika itu bukanlah rencana mereka agar kamu pulang. Dan kakak kamu punya pacar juga kan ?"


Dira mengangguk membenarkan.


"Semoga ya Ev, aku berharap pernikahan adalah pernikahan yang bisa selamanya."


"Gimana rasanya jadi pengantin ? Senang ga ?" Tanya Evelyn mengalihkan pembicaraan yang hanya akan membuat sahabatnya sedih.


"Biasa aja.."


"Sakit nggak, kata orang sakit loh."


"Apanya ?"


"Haish, bikin kesal aja. Udah ah malas ngomong sama perawan tua."


Dira tertawa geli melihat wajah kesal Evelyn di layar ponselnya.

__ADS_1


"Lagi ngapain bahagia banget sih." Arga bergabung di atas ranjang. Lelaki itu dengan lancangnya mencium pipi Dira tiba-tiba dan membuat gadis lain yang ada di sebrang sana berteriak.


"Pasti udah begituan yaa, ih jahat banget si Dir.."


"Begituan apaan ?" Tanya Dira bingung.


Arga tersenyum, melihat tingkah istrinya.


Arga mengangkat kepalanya, lalu mengecup bibir Dira di depan gadis yang masih terhubung dengan panggilan video di layar ponsel istrinya.l.


"Akan aku bunuh kalau kamu berani balik ke Berlin." Ancam Evelyn karena sahabatnya sudah merusak mata polosnya. "Tanggung jawab Dira, otakku jadi traveling kemana-mana.. Ah..." Tut...Tut... Panggilan video itu berakhir.


Dira meremas kuat ponsel yang ada di dalam genggamannya. Jantungnya berpacu lebih kuat dari biasanya.


"Kakak ngga lihat tadi ada orang." Omel Dira dengan wajah bersemu, setelah kecupan yang berganti ciuman yang cukup panjang itu berhenti. Gadis itu menatap tajam laki-laki yang sedang tersenyum jail ke arahnya.


"Loh memangnya aku ngapain ?" Tanya Arga. "Cium istri sendiri sah-sah aja." Sambung Arga sambil menatap gemas wajah yang terlihat memerah.


Dira tidak menjawab, meskipun tubuhnya terasa lemas karena ciuman yang tiba-tiba dan panjang itu, ia memaksakan diri bangkit dari atas ranjang, dan menatap tajam laki-laki yang terlihat tidak merasa bersalah sedikitpun dengan kejadian beberapa saat yang lalu.


"Jangan ngaco, bintang madu iya." Ujar Dira kesal.


Dengan perasaan campur aduk, Dira turun dari ranjang, lalu melangkah cepat masuk ke dalam kamar mandi.


Arga hanya tertawa gemas sambil menatap tubuh mungil yang sudah berlalu di balik pintu kamar mandi yang baru saja tertutup dengan keras.


Di dalam kamar mandi, Dira mencuci wajahnya yang sudah se merah tomat. Bibir yang baru saja di cium suaminya, di sentuhnya dengan perlahan sembari menikmati debaran jantung yang semakin menggila.


"Ah sial, aku benar-benar akan gila." Makinya dalam hati.


Setelah merasa sudah jauh lebih baik, Dira melangkah keluar dari dalam kamar mandi dengan wajah datar tanpa ekspresi sama seperti biasanya.


Gadis itu melangkah menuju ruang ganti untuk menukar piyamanya dengan pakaian lain. Ia mengabaikan laki-laki yang masih berbaring di atas ranjang, sambil terus menatapnya dengan wajah jail mengesalkan.


Setelah selesai memakai pakaian yang cukup layak, Dira kembali melangkah menuju kamar tidur. Dan laki-laki mengesalkan itu masih setia dia atas pembaringan.

__ADS_1


"Kakak hanya akan ada di situ ? Apa perlu aku makan malam sendiri di luar ?" Tanya Dira dingin.


Arga bergegas bangkit dari atas ranjang, lalu segera menarik tangan istri mungilnya keluar dari dalam kamar apartemen miliknya.


***


Di sebuah rumah mewah, Nira tertunduk dalam. Ini pertama kalinya ia melihat ibunya se marah ini.


"Mereka saling mencintai Bu, tapi ibu tahu kan bagaimana sikap Dira, jika tidak melakukan sesuatu maka selamanya dia akan menutup dirinya rapat-rapat." Ujar Nira membela diri.


"Itu bukan urusan mu Nira. Se cinta apapun Dira pada Arga, kamu tidak punya hak memaksanya menikah. Kamu tahu dalam sebuah pernikahan, cinta saja tidak akan cukup menjamin sebuah kebahagiaan. Dan kamu, sudah memaksa adikmu masuk ke dalam dunia yang belum tentu dia siap menjalaninya. Kamu tahu siapa Arga ? Kamu tahu siapa Om Reno ?"


Zyana semakin geram dengan sikap putri pertama nya.


Alfaraz berusaha untuk menenangkan istrinya, namun, jika sudah seperti ini akan sulit menghadapi Yana. Terlebih putri sulungnya memang bersalah.


"Bukankah Om Reno dan Tante Rara adalah sahabat baik Ibu dan Ayah ? Lalu apa yang Ibu takutkan ? Dira pasti akan baik-baik saja Bu, Arga sangat mencintai Dira sejak dulu." Nira masih berusaha menjelaskan semua penyebab rencananya dengan Arga.


"Tetap saja ini salah ! Sebuah pernikahan bukan permainan yang bisa kamu buat seenaknya. Kamu tahu bagaimana perasaan Ibu saat itu ? Saat kamu kabur dari pernikahanmu dan membuat Dira menebus semua nya ? Ibu sangat kecewa, dan merasa bersalah di waktu yang bersamaan."


"Sayang..." Alfaraz mencoba untuk kembali menenangkan istrinya.


"Maafkan Nira Bu."


"Jika terjadi sesuatu dengan adikmu, maka orang yang akan ibu mintai pertanggung jawaban lebih dulu adalah dirimu. Jika suatu saat nanti Dira tidak bahagia, maka orang yang pertama kali akan ibu salahkan adalah kamu. Jadi mulai saat ini, kamu harus harus memastikan bahwa apa yang sudah kamu rencanakan, benar-benar akan membuat adikmu bahagia. Jika tidak, maka kamu harus ikut terluka bersamanya." Ujar Zyana tegas.


Setelah mengucapkan kalimat penuh ancaman yang membuat putri pertamanya terdiam, Zyana segera beranjak dari atas sofa dan melangkah masuk ke dalam kamarnya. Suara memelas Alfaraz sama sekali tidak ia hiraukan. Hari ini, ada banyak hal yang membuat hatinya kecewa. Tidak hanya tentang sikap putri sulungnya, tapi juga sikapnya yang terlalu memanjakan Nira, hingga membuat putri pertamanya itu selalu bersikap seenaknya.


****


*Note Author


Sepertinya alurnya kurang sreg yaa, maaf ya semuanya, tapi hanya sebatas ini khayalanku πŸ₯ΊπŸ₯Ί


Semoga tetap suka dengan cerita receh aku ini πŸ™πŸ™

__ADS_1


__ADS_2