Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 155 Season 2


__ADS_3

Semua rumah tangga memiliki cobaan dan ujiannya masing-masing. Ada yang di uji dengan kekurangan materi, adapula yang di uji dengan rasa cinta yang mulai memudar seiring berjalannya waktu.


Rasa ingin memiliki seseorang muncul, saat kita sudah memiliki pendamping hidup sering dijumpai dalam kehidupan rumah tangga. Untuk itu, takwa dan iman perlu di tanamkan dalam diri agar bisa melawan sesuatu yang nantinya akan menjadi bumerang untuk diri sendiri.


Ingatlah ! Bagaimana pun modernnya dunia saat ini, tetap saja hukum tabur tuai akan selalu mengikuti langkah kaki kita. Jika kita menyakiti hati seseorang, suatu saat nanti kesakitan itu akan kita rasakan juga. Begitu pula saat kita berusaha untuk membahagiakan orang lain selama masa hidup kita, meskipun usaha kita itu tidak di balas dengan baik oleh orang yang bersangkutan, suatu saat nanti kita pasti akan memetik hasil dari apa yang sudah kita lakukan dengan ikhlas itu.


Allah maha segalanya. Tidak ada yang lebih tahu tentang kapan bahagia datang menyapa manusia, selain pencipta NYA. Bahkan saat kita tidak di beri kesempatan untuk merasakan bahagia di dunia pun, jangan pernah takut untuk berbuat baik. Bukankah kehidupan setelah kematian itu memang benar adanya ?


Tamu undangan mulai berdatangan di rumah mewah peninggalan Marlina. Setelah beberapa bulan menanti masa iddah selesai, Reno akhirnya berhasil mempersunting Rara.


Bahagia menyelimuti lelaki itu, setelah beberapa purnama harus menghabiskan waktu bolak balik ke pengadilan untuk menjadi saksi kasus penculikan Danira, bayi mungil yang membuatnya sadar, sejahat apapun dirinya di masalalu, tetap saja masih akan ada hati nurani yang tersisa.


Kali ini, ia jauh lebih bersemangat dalam segala hal, terlebih ada satu bocah menggemaskan yang harus ia beri bahagia setelah sekian purnama tidak ia ketahui keberadaanya.


Tidak yang instan, bahkan sebungkus mie dalam kemasan pun harus di masak lebih dulu barulah bisa di makan. Sulit atau mudah, semua tetaplah membutuhkan sebuah proses.


Setelah kalimat ijab dari lelaki paruh baya yang kini menggenggam tangannya berhasil ia jawab dengan kalimat kobul yang begitu lantang, kini Reno bersiap menyematkan kembali cincin yang pernah terlepas dari jari manis Rara, lalu di lanjutkan dengan kecupan penuh permohonan maaf karena sudah begitu jahat menyakiti wanita yang masih dengan tulus mencintainya hingga saat ini.


Setelah prosesi akad nikah berakhir, Reno dan Rara melangkah menuju tempat Zyana dan Alfaraz berada. Sepasang suami istri yang kini memiliki dua putri kembar yang cantik itu terlihat begitu bahagia dengan putri kembar mereka.


Tidak hanya Alfaraz yang ikut menghadiri pernikahan Reno, tapi juga seluruh keluarga besar Prasetyo termasuk Gerald dan Adelia bersama bayi mungil mereka.


"Hei ini namanya siapa ?" Tanya Yana sambil menyentuh tangan mungil Arga.


"Alga Tante." Jawab bocah laki yang hampir berumur dua tahun itu.


"Kenalin Arga, ini Danira." Ujar Zia sambil mengangkat tangan putri sulungnya untuk melambai pada bocah laki-laki di hadapannya.


Rara yang masih mengenakkan kebaya putih di padukan dengan hijab berwarna senada itu ikut membungkuk, dan meraih tangan mungil yang sedang di lambaikan oleh ibunya.


"Hai Danira, jadi gadis cantik dan kuat ya Nak." Ujarnya.


"Selamat atas pernikahan kalian Ra." Ucap Zyana sembari mengulurkan tangannya memberi selamat kepada wanita cantik di hadapannya.


"Terimakasih Mbak." Jawab Rara.

__ADS_1


"Mau ambil gambar ?" Tanya Adelia sambil menarik Alfaraz yang sedang menggendong Nadira agar lebih dekat dengan Yana.


"Boleh ikut ?" Reno yang sejak tadi sedang berbincang dengan Alfaraz juga ikut bergabung.


Adelia bersiap mengambil gambar empat orang yang pernah terlibat dengan keadaan rumit itu.


Di ruangan yang sama, Dinda tersenyum saat melihat keadaan putrinya saat ini.


Memaafkan memang tidak semudah di ucapkan, tapi jika ingin meraih bahagia yang sebenarnya, maka yang harus di lakukan lebih dulu adalah memaafkan. Entah itu memaafkan orang lain, atau memaafkan diri kita sendiri.


"Ayo." Farah menarik tangan besannya lalu ikut bergabung bersama para orang tua baru yang sedang asik mengambil kenangan.


Dan akhirnya, tidak hanya Farah dan Dinda yang ikut berpose dengan para orang tua muda itu, tapi Zidan yang sedang membahas bisnis dengan orang orang tua Rara pun beranjak bersama dua orang paruh baya itu untuk mengambil momen yang mungkin tidak akan mereka dapati lagi di masa depan.


****


Malam yang indah. Bintang seakan ikut merasakan bagaiman bahagianya dia saat ini. Yana berdiri di balkon kamar nya sambil menatap taburan bintang yang terlihat begitu indah di pandang mata. Setelah sekian lama, ia bisa benar-benar bernafas lega.


Tidak ada lagi yang perlu ia khawatirkan, karena semua oang yang selalu membuat hatinya tidak tenang sudah Allah bawa pergi jauh dari hidupnya.


"Indah ya bintangnya." Ujar Yana.


"Iya, tapi tetap aja masih kamu yang terindah." Jawab Alfaraz sambil terkekeh geli dengan kalimatnya sendiri.


"Jangan gombal, ingat status." Ujar Yana sembari membalik tubuhnya agar bisa menatap wajah yang masih saja membuat dadanya berdebar itu.


"Kerjaan kamu sudah selesai ? Tanyanya sambil menatap lekat wajah tampan milik suaminya.


Alfaraz mengangguk sambil merapikan helaian rambut yang biasanya tertutup hijab itu dengan hati-hati.


"Aku cinta kamu Zyana." Ucapnya sambil mengecup bibir yang selalu saja mampu membuatnya gila.


"Aku juga." Jawab Yana cepat lalu membuat keduanya tertawa geli.


"Cepat banget sih jawabnya.." Ucap Alfaraz lalu segera mengangkat tubuh yana dan bersiap membawanya ke dalam kamar.

__ADS_1


"Sayang..." Ucap Yana terkejut saat tubuhnya sudah berada di dalam pelukan Alfaraz, dan segera di bawah masuk ke dalam kamar.


"Sepertinya, Nadira dan Danira membutuhkan seorang adik." Ujar alfaraz saat sudah berhasil membawa istrinya ke atas ranjang mewah mereka.


"Yah, kita khianati peraturan negara. Sepertinya tiga anak jauh lebih baik sayang.." Jawab Yana sambil tersenyum manis menggoda, dan akhirnya membuat bibir yang selalu tidak sabaran berhasil mendarat sempurna di atas bibirnya.


Dan acara membuat adik untuk si kembar pun akhirnya di mulai. Di saksikan taburan bintang yang terlihat begitu indah dari pintu balkon yang di biarkan terbuka lebar.


****


Berbeda di dalam sebuah kamar lain di Jakarta. Lelaki dengan wajah masam, terus saja bolak balik sambil menahan kesal, pasalnya acara membuat adik untuk putranya yang masih bayi terus saja gagal.


"Ayo lanjutkan lagi." Adelia mengulurkan tangannya, meminta Gerald mendekati ranjang.


Suaminya itu baru saja kembali dari kamar putra mereka yang terus saja mengganggu acara membuat bayi malam ini.


"Ngga ah, aku kesal. Pasti si pengganggu itu nangis lagi kalau aku naik ke atas ranjang." Jawab Gerald kesal.


Adelia terkekeh geli.


"Kali ini kayaknya dia sudah tidur, ayo cepatan sebelum dia bangun lagi." Ajaknya.


Gerald melangkah cepat menuju ranjang, namun, ia belum langsung melancarkan aksinya karena takut bayi pengganggu itu kembali berteriak.


"Lama banget sih." Adelia langsung bangkit dari ranjang dan naik ke atas tubuh suaminya yang sudah berhasil terlentang di atas ranjang.


Dan acara membuat bayi akhirnya terjadi di dua kamar pengantin lama. Sedangkan dikamar pengantin baru tidak terjadi apa-apa.


End


****


*Note Author


Untuk kisah Zyana dan Alfaraz berakhir disini ya readers kesayangan.

__ADS_1


Mulai malam ini kita akan masuk chapter bonus, prolog si kembar yaa.. Kumohon jangan bosan dengan kisah yang tak berujung ini. Sebenarnya mau buat novel baru, tapi udah nyaman banget nulis di sini


__ADS_2