Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 267 Season 4


__ADS_3

Setelah hujan dan badai semalam, kini mentari indah kembali menyapa kota metropolitan. Di sebuah gedung perusahaan yang bergerak di bidang pemberitaan nampak begitu sibuk. Seluruh karyawan yang bertugas di gedung berlantai tiga itu, terlihat sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing, termasuk Tiara. Dan karena kesibukannya itu, membuat Tiara seakan lupa jika tiga hari yang lalu ia baru saja kehilangan laki-laki terbaik dalam hidupnya.


Tiara Permata Putri, gadis cantik dengan rambut sebahu itu terus menatap serius layar komputer di hadapannya dengan jemari yang terus sibuk di atas keyboard.


Gadis cantik itu menjadi satu-satunya teman Aidar di dalam gedung berlantai ini. Untuk itulah, ia menjadi gadis yang paling tidak di suai oleh karyawan wanita yang bekerja di sana.


Namun, bagi Tiara semua itu bukan lah sesuatu yang harus ia permasalahkan. Baginya jika ada yang tidak menyukai kehadirannya, itu adalah urusan mereka. Yang menjadi urusannya hanyalah tetap menjadi gadis yang baik.


Beberapa tahun berlalu keduanya menjadi sahabat yang sangat dekat. Berulang kali Aidar mengajaknya untuk melangkah ke jenjang yang serius, namun, berulang kali pula ia menolak ajakan itu.


Tidak pantas ? Dua kata itulah yang terus tertanam di otak Tiara. Ini dunia modern, tidak aada cerita cinderella berakhir bahagia di dunia modern seperti saat ini, untuk itu ia hanya ingin bekerja dan membahagiakan orang-orang di sekitarnya.


"Serius banget sih." Lelaki usil bin tengil sudah duduk di atas meja kerjanya.


Tiara melirik satu buah key card yang sudah berada di dekat papan ketik di mana jemarinya di mana sedang menari.


"Ini apa ?" Tanya Tiara.


"Key Card apartemen. Tinggalkan rumah kontrakan itu, yah." Mohon Aidar.


Tiara melipat tangannya di dada, lalu menatap laki-laki tengil yang sedang tersenyum manis di sampingnya.


"Ini bukan dari aku, tapi Mas Daren yang membelinya karena kamu sudah membantu meyakinkan Niza waktu itu." Jelas Aidar masih dengan senyum jail mengesalkan.


"Jangan bohong yaa." Tiara menatap wajah tampan itu dengan tatapan penuh ancaman.


"Sebenarnya aku yang membeli, tapi pakai uang Mas Daren." Ujar Aidar. Ah sungguh ia benar-benar tidak bisa berbohong di depan gadis yang ada di hadapannya ini.


"Pasti bohong." Tuduh Tiara masih belum percaya. Gadis itu kembali melanjutkan pekerjaannya yang tertunda karena laki-laki yang masih duduk di atas meja kerjanya.


Aidar menarik satu kursi lalu duduk lebih dekat dengan sahabatnya.


"Ini tuh sebenarnya bayaran karena Daniza sudah melangkahi ku. Ini salah kamu, coba aja kalau kamu mau aku ajak kawin lari sejak dulu, pasti Niza ga akan melangkahi aku dan apartemen ini tidak akan pernah ada." Ujar Aidar tegas.


Tiara kembali menghentikan jemarinya, lalu menatap laki-laki yang sedang melipat tangannya di dada sambil menatapnya kesal.


"Loh kok aku ? Kan banyak banget gadis yang tergila-gila padamu di gedung ini." Jawab Tiara tidak mau di salahkan karena nasib jomblo ngenes yang di derita sahabatnya ini selama ini.

__ADS_1


"Aku maunya kamu, gimana dong ?" Kali ini Aidar sudah memohon.


"Ai, apak kata dunia kalau kita nikah. Tri adalah kaka ipar kamu loh, terus aku ? Ah aku bingung. Ga usah aneh-aneh deh." Tiara kembali berfokus pada komputer yang ada di hadapannya, tapi Aidar langsung menarik kursi yang di duduki Tiara agar menghadap ke arahnya.


"Kita akan tinggal di apartemen ini. Mau yah ?" Aidar kembali memohon.


"Kamu mau bawa anak istri kamu tinggal di apartemen pemberian orang ? Ga punya modal banget sih." Ledek Tiara sambil tertawa geli.


"Terus mau kamu gi mana ? Aku beliin kamu pasti nolak." Aidar cemberut. "Eh, istri dan anak ? Tia kamu mau nikah sama aku ?" Tanya Aidar.


"Aku ga bilang gitu yaa." Tiara kembali membalik kursi putarnya dan menghadap ke layar komputer.


"Pulang kerja nanti kita ke sana ya ? Mau malam pertama lebih dulu juga ga apa-apa.. Aduh,,aduhh,,, iya aku pergi.." Aidar segera kabur dari bilik itu, sebelum di amuk sahabatnya karena mulut mesumnya.


*****


Di rumah mewah milik Arion, Trias sedang menyiapkan makan siang yang akan di bawa ke kantor Azam. Wajahnya memerah saat membaca pesan singkat yang masuk ke dalam ponsel pintarnya. Entah apa yang terjadi dengan Azam, hingga membuatnya baper sesiang ini.


"Apa tuh ? Ciee.." Ledek Danira saat mengintip layar ponsel menantunya.


"Mami.." Trias terkejut saat Mami mertuanya sudah berdiri di sampingnya dengan tatapan jail.


Mata Trias melotot mendapati pertanyaan aneh dari Mami mertuanya.


"Tapi enak kan ?"


Trias tercekat dengan wajah memerah menahan malu. Ya Allah, terbuat dari apa bibir Mami mertuanya ini.


"Semoga cepat jadi yaa.." Danira masih gencar menggoda menantunya yang terdiam tanpa kata di samping meja makan.


Beberapa saat kemudian panggilan video masuk ke ponsel Trias. Tanpa permisi, Danira segera mengusap ikon hijau di layar ponsel menantunya itu.


"Ciee ada yang rindu kejadian semalam." Danira meledek laki-laki yang kini terpampang di layar ponsel menantunya.


"Azam khawatir banget, Tri ga bales pesan Azam. Semua baik-baik saja kan Mi ?" Tanya Azam.


"Tuh, dia lagi mikirin kejadian semalam makanya lupa balas pesan kamu." Danira menghadapkan kamera ke arah Trias.

__ADS_1


"Apa sih Mi, jangan ledekin Tri terus. Sana urusin Papi." Usir Azam.


Danira tertawa geli.


"Kalau dia ngajakin kamu begituan di kantor, jangan mau. Baal tambah sakit nanti." Ujarnya memperingati lalu meletakkan ponsel menantunya ke atas meja makan dan segera melangkah keluar dari dalam ruangan itu sebelum mendapatkan protes dari putranya.


Trias melirik asisten rumah tangga yang sedang menyiapkan makan siang untuk keluarga dengan wajah merona.


"Jangan dengarin Mami." Suara yang masih tersambung di ponselnya membuat Trias segera mengambil ponsel itu. "Datang jam berapa ?" Tanya Azam lagi.


"Bentar lagi Mas, ini mau siap." Jawab Trias.


"Minta di anterin sopir Papi ya." Ujar Azam lembut.


Trias mengangguk.


"Aku menunggumu, jangan lama-lama." Ujar Azam lagi.


Trias menatap wanita paruh baya yang sedang tersenyum di depan wastafel.


"Mas, sudah dulu yaa.. Nanti aku kabari kalau sudah di kantor." Pamit Trias.


"Cepat ya, aku kangen.


Tut...tut...tut...


Trias segera mengakhiri panggilan itu.


"Kenapa di matiin Non ?" Tanya asisten rumah tangga sambil tertawa geli.


Trias semakin memerah menahan malu.


"Mbak Niza ke mana Mbok ?" Tanya Trias mengalihkan pembicaraan.


"Non Daniza akan tinggal di rumah mertuanya." Jawab wanita paruh baya itu.


Trias bernafas lega karena wanita paruh baya ini berhasil ia buat teralih dari pembahasan malam pertamanya.

__ADS_1


"Dandan yang cantik Non, sofa di dalam ruangan Bang Azam bagus loh.."


Trias melotot mendengar kalimat menakutkan itu.


__ADS_2