
Mobil yang membawa Farah kembali membelah jalanan Jogjakarta menuju tempat tujuan berikutnya. Laki-laki mudah itu nampak pintar membawa dirinya, bahkan kini mereka sudah terlibat pembicaraan menyenangkan di dalam mobil bersama Farah.
"Kamu masih mahasiswa ya. Wah hebat banget bisa nyari uang sambil kuliah." Puji Farah pada laki-laki mudah yang masih fokus dengan kemudi di sampingnya.
Wanita cantik dengan hijab andalan itu, tidak lagi menggunakan bangku penumpang di bagian belakang, dan memilih untuk duduk di bangku penumpang depan.
"Yah begitulah Mbak, pendidikan tidak semurah yang kita bayangkan. Meskipun saat ini ada banyak program beasiswa yang dapat kita ikuti, itu hanya akan mampu menanggulangi biaya di kampus, tidak dengan biaya seharu-hari kita di rumah. Apalagi ank rantau seperti saya ini, harus benar-benar pintar membagi waktu agar bisa melanjutkan pendidikan." Jawab laki-laki mudah yang bernama panjang Rian itu.
Farah mengangguk, benar sama seperti dirinya saat Andra dan Ibunya pergi meninggalkan dunia. Ia bahkan pernah menjadi Cleaning Servis di salah tokoh.
"Sepintar-pintarnya kita dalam mengatur waktu, karena tidak setiap manusia bias terlahir dari keluarga yang beruntung." Ujar Farah dan di benarkan oleh laki-laki mudah di sampingnya.
Setelah sampai di depan butik yang menjadi tujuannya, Farah turun dari taksi tersebut bersama Rian. Laki-laki mudah itu mengatakan bosan jika menunggu di dalam mobil, jadi lebih baik ia ikut melihat-lihat toko pakaian yang terlihat lumayan besar itu.
Farah mulai mengambil satu persatu pakaian yang ia butuhkan. Tidak banyak, toh setelah di pakai akan ia cuci lagi.
"Bagus itu." Ucap Farah saat ia melewati tempat Rian yang sedang melihat-lihat kemeja.
Laki-laki mudah itu mengangguk, namu tidak tidak mengambil pakaian itu dan memilih keluar dari tokoh saat Farah sudah melangkah menuju kasir untuk membayar belanjaannya.
Farah menoleh, melihat ke belakang. Keningnya mengerinyit saat melihat Rian justru keluar dari tokoh.
"Sebentar Mbak." Ucap Farah pada petugas kasir.
Ia kembali melangkah menuju tempat kemeja pria berjejer, lalu mengambil dua buah kemeja dari gantungan itu kemudian membawanya menuju kasir.
Usai petugas kasir itu mengatakan jumlah yang harus ia bayar, Farah segera menyerahkan uang tunai yang sudah terlanjur ia tarik dari ATM nya dini hari tadi.
Kasir itu menatap heran wanita cantik di hadapannya, karena biasanya untuk pembyaran berjumlah lumayan seperti ini, kebanyakan orang akan menggunakan kartu kredit atau sejenisnya.
"Bahaya Mbak jika membawa uang tunai dengan jumlah banyak." Ucap Kasir tersebut memperingati.
Farah mengangguk, sebenarnya ia tahu akan hal itu. Namun, karena perubahan rencana, ia terpaksa membawa uang tunai yang lumayan banyak di dalam tasnya.
"Terimakasih." Ucap Farah sembari menerima beberapa buah paper bag yang di sodorkan oleh petugas kasir.
__ADS_1
***
Taksi yang di tumpangi Farah kembali melaju di jalanan. Kali ini ia tidak akan lagi mampir ke mana-mana, tujuannya hanyalah pulang ke rumah.
Mentari mulai tenggelam di, warna keemasan yang terlihat menghiasi langit sore Jogjakarta begitu indah di pandang mata.
Beberapa peninggalan sejarah di daerah istimewa Jogjakarta ini, semakin membuat senja hari ini terlihat begitu indah.
Yah inilah kota kelahirannya. Kota yang penuh kenangan saat Andra mengantar dirinya ke sekolah menggunakan motor butut kesayangan laki-laki itu.
"Ini benar rumahnya Mbak ?" Tanya Rin sembari memperhatikan rumah tua di depannya dengan seksama.
Ada banyak rumput liar yang tumbuh di pekarangan rumah tersebut, membuat Rian yakin jika rumah ini tidak lagi berpenghuni.
"Benar Ian, terimakasih yaa sudah mengantar saya dengan selamat." Ucap Farah.
"Mbak yakin tinggal di sini ?" Tanya Ian memastikan.
Farah mengikuti arah tatapan Ian, ia menarik nafas berat. Banyak tumbuhan liar yang mulai menutupi halaman rumah, bahkan bunga-bunga yang ia tanam di pekarangan itu sama sekali tidak lagi terlihat. Tentu saja, lima tahun bukanlah waktu yang singkat.
Ian tidak lagi menimpali, mungkin ada sesuatu yang memaksa wanita ini untuk pulang, dan itu bukanlah urusannya.
Laki-laki mudah itu bergegas menuju bagasi mobil, lalu mulai mengeluarkan satu per satu tas besar yang berisi barang belanjaan Farah.
Sedangkan Farah sudah lebih dulu melangkah menuju pintu pagar besi dan membukanya dengan hati-hati.
"Mbak ini brang-barang nya saya taruh di mana ?" Tanya Rian.
Farah menunjuk satu kursi panjang yang ada di teras rumahnya, lalu mencari kunci rumah yang biasa ia selipkan di bawa pot bung yang sudah tertutupi rumput.
"Mbak.." Panggil Ian lagi.
Farah yang sedang berjongkok di dekat pot bunga, kembali menoleh.
"Em, jika butuh tukang bersih-bersih halaman, saya siap. Nanti bayarannya bisa di sesuaikan." Ucap Rian menawarkan diri.
__ADS_1
"Ah ketemu." Gumam Farah sembari menarik satu buah kunci dari pot yang tidak lagi memiliki bunga itu.
Wanita itu kembali melangkah untuk membuka pintu rumah. Sebelum masuk Farah kembali menoleh menatap pemisah yang masih berdiri di teras rumahnya.
"Kamu serius mau bantu saya membersihkan rumah ?" Tanya Farah.
Rian mengangguk antusias.
Farah tersenyum
"Kalau begitu, datanglah kembali besok pagi." Ucapnya.
Rian mengucapkan banyak terimakasih setelah mendapatkan bayaran lebih dari yang ia perkirakan. Juga wanita baik itu memberikan satu paper bag entah apa isinya, biarlah ia akan memeriksanya nanti setelah sampai di kostan.
Laki-lkai mudah itu menwarkan diri untuk membawa barang belanjaan Farah ke dalam rumah, namun, wanita itu menolaknya.
****
Farah menarik nafasnya yang terasa berat. Netra nya mengelilingi setiap sudut rumah yang di penuhi dengan debu juga kotoran.
Farah belum memikirkan untuk membersihkan ruangan ini, ia melangkah menuju kamar terlebih dahulu dengan paper bag yang berisi pakaian di tangannya.
Ia perlahan membuka pintu kamar yang ia tempati selama beberapa tahun setelah memilih keluar dari perusahaan Ayah mertuanya dulu sebelum ia akhirnya kembali ke Jakarta dan tinggal di apartemen sederhana.
Tangannya mulai menarik satu persatu kain yang ia gunakan untuk menutupi barang-brang pribadinya yang berada di dalam kamar. Buku-buku tebal tentang hukum, juga beberapa pernak pernik kesukaannya masih tertata rapi di dalam kamarnya.
Setelah urusan di kamarnya telah selesai, Farah kembali melangkah menuju dapur sederhana tempat biasa ibunya memasak dulu. Tangannya lebih dulu menarik kain yang menutupi kulkas, lalu mulai meriksa pendingin makanan itu dengan seksama. Lega, semuanya masih baik-baik saja, hanya perlu di bersihkan dari debu yang menempel di sana.
Setelah memastikan tempat masak-memasak itu bersih, Farah kembali ke depan, untuk mengambil barang-barang yang ia beli untuk keperluannya di dapur.
Satu persatu tas besar itu mulai ia buka, lalu memasukkan bahan-bahan makan ke dalam kulkas. Begitu pula barang-barang lainnya, ia mulai menata semua keperluan itu dengan rapi ke tempat yang sudah tersedia.
"Mandi dulu, lalu masak." Gumamnya.
Keperluan mandi yang ia beli di supermarket tadi, ia bawa menuju kamar mandi yang ada di dalam kamarnya.
__ADS_1
"Semangat Farah, memulai sesuatu memang harus membutuhkan tenaga yang banyak." Ucapnya menyemangati diri.