
Aura di dalam kafe terasa begitu mencekam. Nara yang terlihat geram, sedangkan Yana nampak begitu tenang, namun, tetap mengintimidasi. Alfaraz mengedarkan pandangannya, beruntung di jam seperti ini, kafe yang selalu menjadi langganannya, masih terlihat sepi. Ini pertama kalinya ia di hadapkan oleh dua wanita, dan ia tidak tahu harus memulai pembicaraan ini dari mana.
"Jadi kamu benar-benar selingkuhan suamiku ?" Tanya Nara memulai percakapan. "Dasar pembohong." Sambungnya sambil menatap sinis wanita yang terlihat begtu tenang di hadapannya.
Alfaraz menatap Yana yang terlihat tidak terpengaruh. Baru saja ia ingin menanggapi kalimat yang keluar dari mulut Nara, Yana sudah lebih dulu bersuara.
"Kapan aku berbohong padamu ?" Yana melipat tangannya di dada sambil menatap wajah cantik yang terlihat geram di hadapannya.
"Kamu lupa kita pernah bertemu beberapa bulan yang lalu ? Dan kamu sendiri yang bilang bahwa kalian tidak ada hubungan apapun, bahkan tidak saling kenal."
"Ya, aku ingat dan aku tidak berbohong soal itu. Kami baru memulai hubungan setelah pertemuan itu, dan jangan lupa kalian bukan lagi suami istri." Ujar Yana.
"Kami belum berpisah secara resmi."
Yana tertawa geli, ada banyak hal yang ia ketahui tentang Nara dari calon adik iparnya.
"Karena pernikahan kalian tidak sah di mata hukum, kamu lupa soal itu ? Bagaimana bisa kamu ingin bercerai secara resmi, sedangkan pernikahan kalian tidak resmi.." Ujarnya remeh.
"Kau...
"Jangan berani menyentuh ku." Ujar Yana cepat saat melihat Nara sudah meraih tas branded yang ada di atas meja dan bersiap memukul nya.
"Kamu harus tahu, aku bukanlah wanita gampangan yang tidak punya hati merebut suami orang. Kalian sudah berpisah lebih dari empat tahun lamanya, kamu sendiri yang meninggalkan Alfaraz, jadi jangan melimpahkan kesalahan yang kamu buat pada orang lain." Sambungnya.
Nara tidak lagi bisa berkata-kata, tangan yang ingin sekali menghancurkan wajah Yana, hanya bisa meremas kuat tas mahalnya.
"Oh iya, seminggu lagi pernikahan kami. Jadi aku harap ini yang terakhir kalinya kita bertemu. Apapun alasannya, jangan pernah datang lagi, dan memaksa bertemu dengan calon suamiku." Ujar Yana. "Ayo sayang kita pergi." Ajak nya.
Alfaraz hanya melongo takjub. Masalah yang ia pikir begitu rumit, semudah ini di selesaikan. Ternyata selain membuat dirinya mati kesal, Yana juga memiliki keahlian dalam meneyelesaikan masalah.
"Aku punya bukti tentang pernikahan kami yang belum tercatat di Negara. Dan aku rasa kamu tidak bodoh, aku hanya tinggal mendaftarkan pernikahan itu agar sah di mata hukum." Kalimat Nara kembali menghentikan langkah kaki Yana dan Alfaraz yang hendak pergi dari kafe itu. "Oh mungkin tidak, tapi besok wajah Alfaraz akan menjadi headline news di berbagai media karena sudah menikahi gadis di bawah umur." Ancam Nara.
Yana berbalik, lalu kembali melangkah dan duduk di kursi yang ia duduki tadi. Sedangkan Alfaraz segera meraih tangan Yana dan menggenggamnya dengan erat. Ia menatap takur-takut pada wajah cantik yang masih saja terlihat tenang.
"Kalau begitu lakukanlah agar semuanya selesai, termasuk karir kamu. Tapi sensasi yang akan kamu buat itu tidak akan mengganggu berlangsungnya pernikahan kami." Ucap Yana. "Aku rasa kamu tidak lupa siapa Alfaraz dan dari keluarga mana ia berasal. Untuk masalah se kecil itu, akan sangat mudah di tangani oleh keluarganya, tapi bagaimana dengan karir yang sudah susah payah kamu bangun. Dan yaa, bagaimana jika publik tahu, seorang Nara adalah wanita yang rela di nikahi secara sirih, di bawah umur pula." Ujarnya lagi dengan nada meremehkan.
__ADS_1
"Dasar wanita licik."
"Yaa, aku memang wanita yang sangat licik. Jadi berhentilah membuat masalah dengan ku." Yana menarik sudut bibirnya saat melihat Nara yang semakin kesal namun, tidak bisa berbuat apa-apa.
"Ini bukan masalah mu, ini masalahku dan Alfaraz."
"Masalah kalian sudah selesai, begitulah yang Al fikirkan. Jika kamu masih beranggapan memiliki masalah, itu tidak ada lagi urusannya dengan calon suamiku."
Yana beranjak dari kursi, lalu melangkah meninggalkan Nara dengan wajah yang memerah menahan luapan emosi.
***
Mobil yang di kendarai Alfaraz sudah berlalu dari pelataran kafe, menuju perusahaanya. Karena jarak kafe dan kantor miliknya tidak terlalu jauh, maka tidak membutuhkan waktu lama mobil mewah itu sudah terparkir rapi di tempat biasa.
"Aku tidak akan bertemu dengannya lagi." Ucap Alfaraz.
Yana yang hendak membuka pintu mobil, kembali mengurungkan niatnya. Ia menatap dengan kening yang berkerut.
"Maksudnya ?" Tanya Yana.
"Marah ? buat apa ?" Yana masih terlihat santai, tapi sejujurnya ia sedang menahan tawa karena melihat wajah tampan yang terlihat mulai kesal di hadapannya.
"Bikin kesal aja." Ujar Alfaraz, lalu lelaki itu membuka pintu mobil yang ada di sampingnya dan keluar dari sana.
"Hei, semangat kerjanya." Ucap Yana sambil tersenyum manis.
"Ga memapan, aku udah kesal." Jawab Alfaraz lalu keluar dari dalam mobil meninggalkan Yana yang masih terus tertawa geli.
"Gemesin banget sih." Gumam Yana lalu ikut keluar dari dalam mobil, lalu melangkah menyusul atasannya masuk ke dalam kantor.
"Jangan cemberut, nanti tampannya hilang." Ucap Yana pelan saat melewati tubuh calon suaminya, kemudian melangkah cepat menuju lift tempat para beberapa karyawan yang lain sedang menunggu.
"Ikut aku.."
Alfaraz menarik tangan Yana, lalu membawa calon istrinya itu masuk ke dalam lift khusus yang biasa ia gunakan.
__ADS_1
"Pak ga enak sama karyawan yang lain."
Alfaraz tidak perduli, ia tetap melanjutkan langkahnya masuk ke dalam lift khusus direktur sambil menggenggam tangan Yana.
"Aku masih kangen." Ucap Alfaraz.
Yana melotot tajam, lalu menarik tangannya dan menjauh dari Alfaraz.
"Jangan aneh-aneh, aku laporin polisi nanti. Ini pelecehan kepada bawahan namanya."
"Melecehkan calon istri sendiri ngga akan di pidanakan." Jawab Alfaraz acuh. Ia kembali meraih tangan Yana, dan menggenggamnya erat.
Senyum samar terlihat di bibir Yana, dadanya berdebar. Ia melirik tangan yang kini menggenggam tangannya dengan begitu erat.
"Al...
"Hm...
Hening, keduanya masih menikmati irama jantung yang terus berdebar dari dalam dada.
"Ngga jadi." Ujar Yana. "Aku keluar, sampai ketemu nanti." Sambungnya saat lift sudah berhenti di lantai dimana ruangannya berada.
Alfaraz tidak melepaskan tangan Yana, ia justru kembali menekan tombol lift menuju ruangannya.
"Pak...
"Aku masih kangen." Jawab Alfaraz acuh.
"Kangen apaan, kita itu setiap hari ketemu di kantor. Kamu juga ga pernah absen tuh ngapelin Ibu setiap hari."
Lift kembali berhenti, Yana segera mendorong tubuh Alfaraz keluar dari dalam lift, lalu bergegas menekan tombol dan turun menuju ruangannya.
"Semangat kerjanya, love you." Ucap Zyana dan pintu lift kembali tertutup rapat.
Setelah lift kembali bergerak turun, Yana bersandar di dinding lift sambil menekan dadanya yang berdebar tidak karuan.
__ADS_1