
** Yang belum nikah harap bijak yaa !! Oh iya, aku nitip dosa ku nulis bab ini, kalian patungan lah nanggung nya !! **
Happy Reading Guys
*****
"Malam ini yaa ?" Tanya Arga.
Dira terdiam, gadis itu masih belum beranjak dari hadapan Arga. Bahkan saat wajah tampan suaminya semakin memangkas jarak, dia masih berdiri diam di tempatnya. Hanya jantungnya yang seakan ingin copot dari tempatnya, terlebih kini, satu kecupan manis mendarat sempurna di atas bibir tipisnya.
"Love you." Dua kata yang terucap dari bibir Arga semakin menambah debaran yang semakin tidak menentu di dalam dada Dira. Namun, tak ada kata yang terucap dari bibir nya, bahkan saat tubuh mungil nya sudah di tuntun menuju ranjang king size yang ada di dalam kamar itu, ia masih setia menutup mulutnya rapat-rapat.
Arga memberanikan diri untuk berbuat lebih, hijab yang selalu menutupi rambut panjang Dira ia lepas perlahan dan meletakkan kain itu di atas ranjang. Rambut panjang terikat asal, ia lepas perlahan dan membiarkan rambut panjang itu terurai indah di punggung istrinya.
satu kecupan kembali mendarat di atas bibir tipis Dira, karena tidak ada tanda-tanda penolakan dari istrinya, Arga kembali melancarkan aksinya. Tidak hanya kecupan singkat, tapi ciuman panjang yang mampu membuat Dira kehabisan stok oksigen di dalam paru-parunya.
Arga melepaskan ciumannya, dahi keduanya saling menempel. Dira tersenyum dengan nafas yang terengah-engah. Wajahnya merona dengan apa yang baru saja ia lakukan.
"Manis banget." Ujar Arga lagi, seakan tidak pernah lelah memuji Dira, walaupun tidak ada jawaban apapun dari bibir istri nya ini. Ia mengelus lembut pipi yang memerah milik Dira, lalu ibu jarinya berpindah pada bibir yang baru saja ia cicipi beberapa saat yang lalu.
Beberapa saat kemudian, Bibir Arga kembali melanjutkan aktivitasnya. Kening, kedua mata dan seluruh wajah Dira ia kecup dengan lembut. Hingga doa yang sudah ia hafal berhasil ia lafadzkan di puncak kepala Dira. Namun, saat bibirnya kembali melanjutkan aktivitas yang menyenangkan itu, tiba-tiba....
Tok... Tok...
Pintu kamar nya di ketuk, Dira terkejut dan segera melepaskan diri dari pelukan suaminya dan melangkah cepat menuju kamar mandi.
"Ngga apa-apa." Arga menahan tangan Dira agar tidak perlu masuk ke dalam kamar mandi.
Namun, gadis cantik itu segera melepaskan genggaman di tangannya lalu melangkah cepat menuju kamar mandi.
Arga tertawa melihat pintu kamar mandi yang sudah tertutup rapat. Ia lantas melangkah menuju pintu kamar untuk memeriksa siapa yang berada di balik pintu itu.
"Mama." Ucap Arga saat membuka pintu kamar tidurnya.
"Dira mana ?" Tanya Rara pada putranya saling mengedarkan pandangannya, mencari keberadaan menantunya.
__ADS_1
"Di kamar mandi." Jawab Arga.
"Kalian sudah makan ?" Tanya Rara.
"Sudah Ma." Jawab Arga.
Rara mengangguk, tapi masih belum berniat keluar dari kamar putranya. Wanita paruh baya itu hanya terus menatap pintu kamat mandi yang masih tertutup rapat.
"Mama belum mau keluar dari dalam kamar Arga ?" Tanya Arga heran karena cinta pertamanya ini masih belum keluar dari dalam kamarnya.
"Kok Dira lama yaa.. Mama kan pengen ketemu sama dia." Ujar Rara masih terus menatap pintu kamar mandi yang belum juga terbuka.
"Besok aja ketemu Dira." Pinta Arga.
"Tapi Mama maunya sekarang." Rengek Rara.
"Besok aja ya Ma, ini sudah malam." Bujuk Arga lagi.
"Ngga apa-apa Mama tunggu aja di sini sampai d keluar." Jawab Rara kekeuh. Wanita paruh baya itu hendak melangkah menuju sofa yang ada di dalam kamar.
"Ada apa sih ?" Rara tidak ingin keluar dari dalam kamar putranya.
"Dira malu Ma." Jawab Arga frustasi. "Sudah ya, besok aja ketemu sama Dira." Sambungnya memohon.
"Lagi buat cucu untuk Mama yaa." Goda Rara.
"Itu mama tahu, udah yaa. Besok aja ketemunya." Ujar Arga.
"Semangat." Ucap Rara, kemudian berlalu dari kamar putranya.
Arga kembali menutup pintu kamarnya, lalu melangkah menuju kamar mandi dan mengetuknya.
Pintu kamar mandi terbuka. Dira berdiri di depan Arga dengan wajah merona. Terlebih saat melihat senyum jail di wajah suaminya.
"Kak.." Tegur Dira saat tubuhnya sudah berada dalam pelukan suaminya. "Aku bisa jalan sendiri Kak." Mohon Dira saat tubuhnya sudah di bawa menuju ranjang.
__ADS_1
Arga tidak menghiraukan rengekan Dira, ia terus membawa tubuh istrinya menuju ranjangnya.
"Doanya sudah terucap, jadi aku tidak berniat untuk menunda malam ini." Ujar Arga saat sudah berhasil membaringkan Dira di atas ranjang.
"Maaf jika malam ini sedikit memaksa." Ucap Arga terkekeh. Lelaki itu sudah ikut berbaring di atas ranjang dengan sedikit menindih tubuh istrinya.
Dira tidak menjawab. Ia membawa tangannya, lalu mengusap lembut pipi Arga.
"Aku tidak terpaksa kok, bukankah ini juga bagan dari kewajiban ku." Jawab nya.
"Aku mencintai mu. Sangat ! Bersiaplah untuk bosan, karena aku akan terus mengucapkan kata ini berulang kali." Ujar Arga.
"Aku akan menunggunya." Ujar Dira.
Ia menyambut ciuman panjang yang mendarat di atas bibir tipisnya dengan hati yang membuncah.
Semua orang ingin menghabiskan malam pertama yang panjang dan indah bersama seseorang yang di cintai dan juga mencintai kita bukan ?
Terusan panjang yang selalu menutupi tubuhnya dari pandangan laki-laki yang bukan muhrim sudah teronggok di atas lantai, bersama dengan kemeja yang terbalut di tubuh atletis Arga. Kini berganti selimut tebal berwarna abu-abu yang menutupi tubuh polos keduanya dari sapuan pendingin ruangan.
Suara-suara yang semakin menambah gelora dari keduanya mulai terdengar jelas di dalam ruangan. Beruntung kamar mewah ini sudah terpasang kedap suara, jika tidak suara keduanya pasti sudah terdengar hingga ke ruangan lain yang ada di rumah mewah ini.
Tidak hanya suara rintihan dan ringisan Dira karena menahan perih di inti tubuhnya yang terdengar di dalam kamar Arga, tapi juga suara lenguhan dari sang pemilik kamar ikut memenuhi ruangan luas itu.
Arga masih terus memacu apa yang ingin di raihnya malam ini. Terbesit rasa bersalah saat mendengar suara ringisan dari bibir Dira karena perbuatannya, Namun, ia sama sekali tidak bisa berhenti dari aktivitas yang sudah membuatnya candu.
Rambut panjang Dira sudah berhamburan di atas bantal. Suhu dingin yang keluar dari pendingin ruangan sama sekali tidak mampu menghalau peluh dari tubuh keduanya.
Arga mengusap lembut anak rambut yang terlihat lembab di dahi Dira, sambil terus memacu sesuatu yang sebentar lagi akan mencapai puncaknya. Buliran bening yang terlihat di sudut mata Dira, di kecupnya dengan penuh kasih sayang sembari menggumamkan kata maaf, karena sudah menyakiti istrinya.
Dira menutup matanya, dan tak berniat membukanya meski Arga meminta hal itu. Ini pengalaman pertama, dan aktivitas ini terlalu memalukan baginya.
"Love you Dira." Tiga kata yang entah sudah ke berapa kalinya kembali terdengar dari bibir Arga, di sertai lenguhan panjang sebagai pertanda bahwa malam panas ini sudah berakhir.
Arga masih belum beranjak dari atas tubuh Dira. Ia hanya terus mengusap lembut rambut Dira, sambil berusaha menetralkan kembali nafasnya yang terengah-engah. Dira pun sama, dengan mata yang masih tertutup rapat, ia berusaha meraup oksigen yang ada di sekitar kamar untuk mengisi paru-parunya.
__ADS_1